BAB 13 - Saling Membuka Rahasia

1968 Words
 “Beristirahatlah ... semalam, kau pasti kurang tidur. Setelah melalui hari berat kemarin, badanmu pasti sangat merasa lelah.” Demikian kata Surya kepada Meillyana saat mereka sudah memasuki kamar. “Kau juga ... karena justru engkaulah yang paling capek sejak kemarin,” jawab si gadis dengan penuh rasa terima kasih. “Nanti saja. Aku akan pergi mengambil barang-barangku dulu,” jawab Surya dengan tegas. “Oh, iya ... dengan apakah kau mau menuju kesana?” “Sebentar nanti aku mencari informasi. Biasanya, dalam hotel seperti ini ada orang-orang yang bisa dihubungi untuk menyewakan kendaraannya.” “Mobil?” “Aku rasa, sepeda motor saja sudah cukup. Mungkin malah lebih baik, karena akan terlihat tak mencolok.” “Ah, iya ... dan alasanmu pasti untuk mencari kontak teman yang lain,” jawab si gadis sambil tersenyum simpul. “Ya, benar ... itu engkau tahu. Tapi, aku mungkin juga akan mengatakan kalau sekalian mau ambil sisa barang yang bisa diselamatkan.” “Hi-hi-hi ... aku juga mau ngomong seperti itu ... mungkin, pikiran kita sekarang sudah makin selaras.” “Bisa jadi. Baiklah, kau istirahatlah ... sebentar setelah berganti pakaian, aku akan pergi.” “Baiklah ... berhati-hatilah ...” ***  Mungkin akibat situasi serta kondisi beberapa tempat di Jakarta yang kurang aman, ternyata petugas hotel  memang menanyakan kepentingan Surya yang mendadak bertanya tentang rental sepeda motor. Dan setelah pemuda itu menjawab serta menerangkan dengan jelas, barulah ia bersedia menghubungi pemilik kendaraan yang biasa disewa. Apalagi pada saat mengobrol, Surya juga mengatakan jika sang istri tidak akan ikut pergi, maka semakin mantaplah pihak hotel untuk merekomendasikan dirinya. Singkat kata, sore itu juga si pemuda sudah bisa meluncur dengan sepeda motor sewaan yang akan membawanya menuju tempat persembunyian sebelumnya. Hanya memakan waktu kurang lebih satu jam saja, Surya Kelana sudah berada di hotel lagi untuk mengembalikan kendaraan yang ia sewa. Ia bisa menempuh perjalanan dengan cepat, karena jalan raya memang sepi dari lalu lalang kendaraan. Mengingat, saat itu masih saja terjadi gejolak pada beberapa bagian kota. Semua barang berharga miliknya, ternyata masih aman dan utuh seperti saat ditinggalkan. Dan sesaat setelah mengambil semua harta bendanya, lelaki muda itu juga sempat meneliti keadaan mobil ambulance yang ia sembunyikan tak jauh dari tempat persembunyiannya. Surya Kelana lega, saat mendapati ambulance tersebut masih aman tanpa diketahui orang. Ia memang ingin memastikan itu, karena siapa tahu akan dibutuhkannya kembali. ---   “Oh, kau sudah kembali. Bagaimana? Amankah? Semuanya beres?” tanya si gadis sambil membukakan pintu kamar. “Di sana sudah ada beberapa orang, mungkin penghuni yang biasanya tinggal disitu,” jawab Surya dengan singkat. “Tapi, bagaimana reaksi mereka saat melihat kedatanganmu? Tidakkah mereka curiga?” “Tadinya iya, atau malah mereka mungkin terlihat takut melihat aku datang. Tapi akhirnya mereka jadi tenang, setelah aku ingatkan untuk menjaga kebersihan di sana ...” kali ini, si lelaki menjawab sambil sedikit tersenyum simpul. ---   Bagi Meillyana sendiri, itu adalah sebuah senyuman juga sekaligus merupakan ekspresi relaks pertama yang ia lihat pada si lelaki untuk pertama kalinya. Sejak mereka bertemu, ia sendiri merasa segan meskipun akhirnya tahu jika Surya adalah orang baik. Bukan hanya baik, tapi juga penuh perhatian meskipun cenderung pelit berbicara. Apalagi tersenyum ... hal tersebut seakan jauh dari keseharian si lelaki yang tampaknya telah terbiasa hidup dalam dunia yang keras serta kaku. “Aha ... Mereka pasti mengira jika engkau ini seorang aparat keamanan tanpa seragam.” “He-he ... iya, sepertinya begitu,” jawab lelaki itu kembali sambil mulai sibuk membenahi barang bawaannya di sebuah sudut yang ia perkirakan agak jauh dari pandangan mata si gadis. Saat memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh lelaki tersebut, Meillyana seperti menangkap sebuah gestur yang agak kembali menegang. Seakan,  pria gagah itu ingin menyembunyikan apa yang sedang ia lakukan. Atau mungkin saja, benda berat di dalam tas besar tersebut adalah sesuatu yang sangat rahasia dan tak boleh diketahui oleh orang lain. ***          “Bisa aku bantu?” tanya sang gadis pada si lelaki. Sepersekian detik, Meillyana melihat Surya menjadi terkejut saat mendengar pertanyaannya tadi. Tanpa ia duga, seketika saja tubuh tegap itu langsung bertambah menegang ketika menngetahui bahwa ia melontarkan kalimat yang bernada ingin mencampuri urusan pemuda itu. Namun, semua itu terjadi hanya dalam waktu sangat singkat. Karena, ketenangan lelaki itu segera saja bisa kembali lagi dengan cepat. Beberapa saat, Surya Kelana terdiam. Dan setelah  nampak berpikir sejenak, wajah tegang yang terlihat hanya satu sisi itu jadi mengendur dan biasa kembali. ---   Perlahan, Surya Kelana membalikkan badan. Ia tetap dalam posisi berjongkok seperti tadi, tapi kini telah terlihat santai menatap wajah sang gadis yang juga tengah memandanginya. Beberapa saat kemudian, lelaki itu merubah posisinya untuk duduk bersila di atas lantai. Pandangan matanya yang tajam, tepat menghujam ke arah bola mata si gadis. Meillyana bahkan tidak merasakan takut sedikitpun saat si lelaki menatapnya dengan penuh selidik. Entah kenapa, hatinya segara menangkap jika tatapan yang terarah kepadanya itu bukanlah sesuatu yang beraroma jahat atau penuh ancaman. Mata itu hanya menghujam kritis, seolah tengah mengukur kedalaman hati si gadis.  Dan kemudian, kata-kata yang diucapkan oleh Surya Kelana telah membuka kesadaran akan kondisi dirinya sendiri. Tutur kata yang halus namun tegas, adalah sebuah kebenaran yang tak bisa ia abaikan begitu saja. Karena bagaimanapun, mereka berdua memang harus saling membuka diri dengan menceritakan latar belakang masing-masing. Kedua orang yang kini berada dalam sebuah kamar, adalah dua orang asing yang sebelumnya bahkan belum pernah saling melihat sedikitpun. Jadi, akan sangat wajar apabila ada sebuah kecurigaan maupun keraguan dalam hati masing-masing. “Baiklah ... Engkau boleh membantuku. Tapi sebelum itu, aku akan menceritakan sebuah kisah tetang diriku sendiri. Kau berhak mengetahui siapa diriku, agar tak menjadi tanda tanya disaat kita berdua melakukan perjalanan nanti.” Dengan tenang, Surya mulai berbicara. Kemudian ia melanjutkan perkataannya kembali, “Jika nanti kau menjadi meragu atau takut dan bahkan tak percaya padaku ... kau boleh memutuskan untuk berpisah kapanpun kau mau. Tapi paling tidak, aku harus bercerita jujur tentang keadaan diriku. Sebab, apa yang kukatakan kemarin, adalah bukanlah sebuah basa-basi belaka.” “Kau katakan kemarin? Tentang apa?” tanya si gadis sambil mengingat-ingat kata yang dimaksud. “Tentang betapa berbahayanya jika dirimu melakukan perjalanan bersamaku,” jawab Surya dengan tegas. “Ohh ... itu. Baiklah, akan kujawab langsung saat ini juga. Aku tidak akan pernah takut dan mundur selangkahpun untuk mengikutimu. Kau boleh percaya, karena hati kecilku mengatakan bahwa kaulah orang paling tepat untuk kuikuti.” Dengan bersemangat, Meillyana menjawab keraguan si lelaki. “Tapi kau belum tahu siapa aku sebenarnya.” “Bagiku, itu tak penting lagi. Karena, aku sudah berhutang kehormatan dan nyawa  padamu. Dan kini ... nyawa yang hanya satu lembar ini akan aku serahkan padamu. Terserah dirimu, aku akan mengikuti kemanapun kau pergi.” Kini, yang terucap dari bibir si gadis hanylah berupa bisikan lemah yang segera akan disusul dengan isak. “Kenapa?” “Apakah kau terlalu keberatan untuk menerima jiwa yang telah kuserahkan ini?” “Bukan begitu ... kau belum tahu bahaya yang mungkin bisa menghadang.” “Dengar ... bahkan jika engkau adalah seorang penjahat besar buronan polisi, aku akan menyatakan sumpah setiaku ...” Dengan cepat, si gadis menukas perkataan Surya Kelana. “Kenapa bisa begitu?” “Karena, saat ini hanya engkaulah satu-satunya orang yang bisa aku percaya. Dan ... sekarang ini, hanya engkau seorang yang aku miliki. Oh, maaf ... aku tidak berhak untuk mengatakan itu. Engkau bukan milikku ... maaf.” Dan, airmata mulai menetes ke pipi si gadis cantik. Dalam kata yang diucapkan, ia mengingat betapa nasibnya kini yang sebatangkara. ---   Surya Kelana terdiam. Ia sama sekali tak menyangka akan mendengarkan perkataan seperti itu dari seorang gadis yang baru saja dikenalnya. Bukan karena masih asing, tapi lebih disebabkan karena terkejut oleh kejujuran kata si gadis yang cantik mempesona. Dan, kini ia malah seperti mengira sedang bermimpi saat mendapati kenyataan sekarang tersebut. Dari ketulusan tutur kata lembut tadi, Surya mendapatkan kenyataan baru. Bahwa nantinya ia akan pergi menuju pelarian, tetapi dengan ditemani seorang dewi yang telah menyatakan sumpah setianya. Pada satu sisi, itu pasti  akan merupakan beban dengan semua konsekuensinya. Namun untuk hal yang lain, tentu saja hati kecilnya merasa tersanjung menerimanya. “Yakinkah dirimu?” hanya kata itu yang mampu keluar dari bibir si lelaki, setelah ia bisa kembali menenangkan debar hatinya. “Yakin, seyakin-yakinnya.” Dengan tegas, si gadis menjawab. Sesaat, suasana menjadi sedikit hening. Beberapa detik menimbang, akhirnya Surya Kelana memantapkan hati untuk menceritakan sedikit kisah hidupnya. Walaupun, ia belum sepenuhnya bisa mengatakan sanggup untuk membawa serta gadis tersebut dalam pelarian yang sudah direncanakannya. “Jika memang demikian, aku akan menyampaikan sedikit cerita kepadamu. Penawarannya tetap berlaku ... kau boleh pergi kapanpun jika merasa tak nyaman dengan keadaanku yang sebenarnya,” Sang gadis mengangguk tanpa bersuara, lalu sebuah kisah singkat segera saja mengalir memasuki telinga, isi kepala, dan juga hatinya ... ---   “Aku terlahir dari seorang ibu yang sampai saat ini belum pernah ku kenal ...” demikian si lelaki mulai bercerita tentang kisah hidupnya. Secara singkat, ia menuturkan kehidupan masa kecil di dalam sebuah panti asuhan. Lalu, cerita itu berlanjut pada kisah dimana Surya Kelana memasuki kehidupan sebagai seorang rekrutmen sebuah lembaga negara. “Aku sudah menyangka demikian ... kau gagah dan terlihat sangat terlatih.” Sang gadis mengomentari cerita tersebut dengan sebuah bisik perlahan yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Tanpa mau menanggapi, si lelaki terus berbicara. Hingga akhirnya, ia sampai pada kisah kemarin sebelum pertemuannya dengan Meilyana, “Jujur saja, sampai saat ini aku masih belum paham. Dulu, aku yang tak pernah melakukan kesalahan apapun harus diberhentikan secara tidak hormat dari kesatuan dengan alasan yang dicari-cari. Setelah akhirnya didatangi oleh seseorang yang mengaku sebagai pelatih dan perekrut sebuah agency, akhirnya aku jadi paham bahwa ternyata semuanya memang sudah diatur oleh orang-orang yang berkuasa dalam negara ini.” Demikian Surya Kelana melanjutkan. Sampai disitu ia terdiam sesaat, seolah mengingat kembali masa-masa itu. Lalu ia kembali bertutur, menceritakan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada saat tiga tahun yang lalu. Setelah paham jika ia ternyata telah direkrut dalam sebuah badan rahasia, tentu saja Surya Kelana menjadi sangat berbangga hati. Sekian lama, ia menjalani pelatihan yang merupakan sebuah penggodokan semua keahlian tingkat tinggi yang diperlukan oleh seorang agen kelas atas. Bersama kesembilan temannya, si lelaki akhirnya terpilih menjadi pemimpin tim. Tentu saja, itu semua berkat kecerdasannya yang berada jauh diatas semua rekan. ---   Dan ... akhirnya cerita tersebut ditutup dengan bisik perlahan yang terdengar sedih. Si lelaki menuturkan dengan nada duka tentang kejadian yang menewaskan kesembilan orang anak buahnya di hari kemarin. “Entah mengapa, aku merasa seolah-olah semua itu adalah kesengajaan.” Demikian pungkas si lelaki dengan galau. “Kenapa engkau berpikir seperti itu?” “Karena, semua anggota tim adalah merupakan orang-orang sebatangkara yang tak memiliki keluarga, itu yang pertama ...” “Lalu alasan lain?” “Kepentingan. Mungkin ada pihak yang memang berniat dengan sengaja untuk membubarkan kelompok kami. Situasi politik, sepertinya telah merubah arah angin dari peta kekuatan atasanku. Dan aku rasa, pasukan kami akan menjadi sebuah skandal berbahaya jika tidak segera dimusnahkan.” “Kenapa bisa begitu?” “Karena, keberadaan kelompokku tidak diakui secara resmi oleh negara. Kami hanyalah semacam lembaga yang bekerja secara rahasia demi kepentingan kelompok tertentu ... dan mungkin, pasukan kecil kami dibentuk hanya sebagai sebuah project percobaan.” “Ohh ... seperti hantu?” “Ya, benar ... hantu atau bahkan malaikat. Karena tugas kami sebetulnya, adalah menangani masalah yang tak bisa dilakukan oleh sebuah lembaga resmi.” “Agen rahasia?” tanya si gadis dengan mata nanar. “Semacam itu, tapi bukan resmi milik negara.” “Maksudmu?” “Aku menebak, kami direkrut oleh seorang petinggi agar bisa dipergunakan sebagai senjata rahasia untuk kepentingan tertentu. Dan dugaan selanjutnya ... kami harus segera disingkirkan karena pemimpin tertinggi saat ini sepertinya sudah tidak bisa mempertahankan kedudukannya lagi. Dan ... boom!! Semua jejak hitam harus dihilangkan. Termasuk aku dan teman-temanku!” ***     
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD