BAB 12 - Istirahat

1791 Words
“Loh, kok Mas masih ada di sini? Saya kira sudah pergi ...” demikian tanya si pemilik gerobak es campur saat melihat Surya sudah ada di belakangnya lagi. “Iya, Pak. tadi hanya pergi sebentar melihat keramaian di sana,” jawab si lelaki sambil menunjuk ke arah segerombolan aparat yang baru saja berhasil menghalau bus-bus kota yang mengangkut iring-iringan pendemo. Waktunya memang sangat tepat. Surya Kelana bisa dengan cepat keluar kembali dari Kantor Kecamatan tersebut dengan berjalan lenggang kangkung melewati pintu gerbang depan. Dan sekalipun ada yang melihatnya, hal itu juga tak akan membuat curiga. Dengan keluar melalui pintu, orang lain akan menganggapnya biasa saja serta mengira bahwa dirinya merupakan karyawan di tempat itu.  Saat perhatian orang-orang masih terkonsentrasi pada  perdebatan masa mahasiswa dengan aparat, laki-laki itu dengan mudah telah berhasil menyelinap keluar tanpa ada seorangpun yang melihat. Hanya sebuah kunci gembok yang menghalanginya, dan itu sebuah hambatan yang bisa diatasi hanya dalam hitungan detik. Kemudian tanpa memancing kecurigaan siapapun, ia sudah duduk kembali di tepi trotoar. ---   “Ohhh ... sebenarnya ada apa, to? Kok sepertinya mereka berdebat panjang dengan tentara di sana?” tanya si tukang es campur lagi dengan penuh rasa ingin tahu. “Aparat mengarahkan mereka untuk berbalik arah, sementara mahasiswa bersikeras jalan terus,” demikian jawab singkat si lelaki muda. “Terus?” “Akhirnya mereka sepakat untuk berbelok ke arah kanan,” jawab Surya dengan sekenanya. Karena ia sempat melihat jika rombongan tadi memang berbelok ke arah kanan. “Wah ... untungnya nggak pada bikin ribut di sini. Padahal kata orang-orang, di kota bagian sana malah banyak pembakaran dan penjarahan.” “Iya, betul. Semoga saja di sini tetap aman. Lagipula, pusat demonstrasi memang terletak agak jauh dari tempat ini.” “Betul, Mas ... rakyat sudah susah, harga-harga naik nggak kira-kira. Kalau sampai kena rusuh, kita mau cari makan dengan cara bagaimana lagi?” Demikian, bapak tukang es buah menimpali kata-kata Surya Kelana dengan wajah prihatin. ***          Tak berapa lama, lelaki muda berparas tampan itu sudah kembali ke warung makan tempat dimana Meillyana menumpang beristirahat. Suasana warung masih sepi, kerana belum nampak ada satupun pembeli. “Sudah dapat tempat indekos, Mas?” tanya si ibu warung dengan segera setelah melihat Surya memasuki warung tempatnya berjualan. “Belum, Bu ... rata-rata mereka menyuruh saya membawa foto copy KTP dan Kartu Keluarga sebagai persyaratan indekos. Selain itu, semuanya juga meminta pas foto,” jawab Surya dengan kalem. “Lho, kok aneh? Biasanya hanya foto copy KTP saja. Kenapa harus foto segala?” tanya sang ibu warung dengan wajah heran. “Entahlah, katanya demi keamanan dan foto itu akan digunakan untuk melaporkan ke aparat terkait. Karena keadaan sekarang memang sedang kurang aman.” “Ohhh ... mungkin saja mereka takut kalau yang indekos itu adalah buronan pemerintah. Dengan melampirkan foto terbaru, semuanya akan menjadi lebih mudah bagi aparat untuk mencari orang-oang tersebut. Sudah punya fotonya?” “Justru itu, Bu ... kami belum memiliki pas foto,” jawab Surya dengan pura-pura bingung. “Gampang, Mas ... di pojokan sana ada kios kecil yang biasa melayani foto kilat, lima belas menit saja sudah jadi kalau hanya foto hitam-putih.” Wanita paruh baya itu memberi solusi dengan bersemangat. “Oh, begitu ... baiklah, nanti akan saya ajak istri untuk segera ke sana. Terima kasih, Bu ...” jawab laki-laki itu dengan wajah gembira. ---   “Kita sudah punya identitas baru,” kata Surya saat sudah minta ijin pada pemilik warung untuk menyusul Meillyana ke kamar. Dalam ruang yang cukup sempit itu, si gadis sedang rebahan saat pemuda tersebut memasuki pintu yang hanya tertutup kain korden. “Ohh ... secepat itu?” tanya si gadis dengan sedikit surprise. “Hanya mengambil arsip dari orang yang mengurus dokumen kepindahan. Ini milikmu, tinggal mengganti foto dan proses laminating kembali, semua akan jadi asli.” Si lelaki menjawab sambil menyerahkan selembar KTP untuk sang gadis. “Foto yang di sini dicopot, gitu? Terus pengesahannya? Stempel kecamatan?” tanya Liana dengan kritis. “Ada. Aku sudah mengambilnya sebagai tindakan berjaga apabila dibutuhkan nanti.” “Mmmm ... maksudmu, semua ini kau ambil dari kantor kecamatan? Hi-hi ...” tak terbendung, sang gadis tertawa kecil saat menyadari kecerdikan serta ‘kenakalan’ teman barunya tersebut. “Hmm ... semua arsip kependudukan kan, ada di sana ...” jawab Surya Kelana dengan santai tanpa memperdulikan komentar ‘miring’ Meillyana. “Andini ... nama yang bagus. Aku suka itu. Sayang fotonya nggak mirip. Hmmm ... tanggal lahirnya bisa diganti?” tanya Liana sedikit memprotes, tanpa menanggapi pembelaan diri laki-laki itu. “Kalau kita sudah aman, kamu boleh mengganti datanya sesuai keadaan yang sebenarnya. Tapi itu nanti, kalau kita sudah menemukan rental komputer untuk mencetak ke dalam blanko kosongnya. Atau, nanti dikoreksi saat kita sudah bisa membuat kartu identitas asli di tempat yang baru,” jawab si lelaki menjelaskan. “Ohh ... kau punya juga? Ahh ... aku jadi salut dan merasa menemukan orang yang tepat untuk kuikuti. Terima kasih, Surya ... engkau begitu baik dan sudah mau direpotkan oleh seseorang yang sama sekali tidak kau kenali,” dengan suara haru, Meillyana mengucap terima kasih. “Dan satu lagi, ini ...” Dengan sedikit canggung, lelaki itu memperlihatkan beberapa buku nikah kosong yang telah berhasil diambilnya dari KUA. “Hi-hi ... berarti, sah ...” komentar si gadis sambil tersenyum menggoda. “Sah?” “Iya ... kita udah nikah. Punya bukunya juga, kan. Lengkap stempel dan lain-lain?” “Emm ... ini hanya formalitas. Untuk berjaga jika nanti ada yang menanyakan. Lagipula, semua masih kosong, belum tercatat apapun di dalamnya.” “Sekalian saja kita buat fotonya. Tukang foto itu pasti paham bagaimana membuat foto untuk persyaratan nikah. Isinya kan bisa kita tulis sendiri dengan ballpoint.” “He-em ... boleh saja nanti sekalian.” Tanpa ekspresi, si lelaki menjawab. Bahkan, ia tak menanggapi sedikitpun godaan yang dilontarkan oleh Meillyana. Kemudian, ia melanjutkan perkataannya, “Bersiaplah, kita akan pergi ke ujung jalan sana untuk membuat pas foto,” tanpa menanggapi tatapan si gadis yang terlihat masih ingin bicara ngelantur karena iseng, laki-laki itu mengatakan rencananya. “Baiklah ... jadi, statusku di KTP ini menikah. Mmm ... kau jadi suamiku?” ternyata si gadis belum selesai untuk mengomentari identitas barunya. “Hmmm ... itu untuk sementara agar memudahkan perjalanan saja. Besok bisa kau ganti status identitasmu menjadi lajang kembali,” jawab Surya dengan singkat. “Ohh ... jangan. Aku lebih menyukai status ini. Bersamamu, menjadi istrimu ... aku pasti akan lebih aman selama dalam persembunyian. Lagi pula ... hmmm, ada buku nikah juga,” dengan nakal, Meillyana masih saja berusaha memancing komentar dari si lelaki. Tanpa mau menanggapi sedikitpun, laki-laki pendiam itu hanya mengangguk. Kemudian ia memberikan beberapa instruksi agar Meillyana cepat berdandan tanpa mencolok untuk pengambilan foto nanti. Setelah itu, mereka meninggalkan warung makan tersebut untuk menuju kios ‘foto kilat’ yang bisa mencetak foto mereka dalam waktu setengah jam saja. ***    “Terima kasih untuk semua bantuannya, Bu ... kami mohon pamit untuk pergi mencari pondokan lagi.” Demikian kata Meillyana kepada sang pemilik warung saat mereka akan meninggalkan tempat tersebut. “Sama-sama, Nak ... semua sudah beres? Berarti kalian akan kembali ke tempat indekos yang tadi sudah dilihat suamimu?” tanya sang ibu warung. “Benar, Bu ... kami akan kembali kesana dan menempatinya. Semua persyaratan yang dibutuhkan sudah ada, berarti pemilik pondokan akan mengijinkan kami untuk tinggal,” jawab Surya dengan lugu. “Ohhh ... baiklah. Sering-sering mapir kemari. Oh ya, Ibu lupa belum menanyakan nama kalian. “Saya Joko Putranto, Bu ...” jawab si lelaki. “Saya Andini.” Sang ‘istri’ ikut memperkenalkan diri. ***       Sore hari, tampak sepasang pria dan wanita keluar dari dalam sebuah warung makan kecil. Kelihatannya, mereka seperti umumnya muda-mudi yang baru saja menikah dan tengah menikmati masa bulan madunya.   Hanya memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit saja, telah cukup bagi pasangan muda tersebut untuk memiliki sebuah identitas baru. Kini, mereka telah merasa sedikit aman dan lebih percaya diri untuk terjun dalam keramaian masyarakat luas. Seperti sepasang pengantin baru yang tengah melakukan perjalanan, mereka berdua berjalan perlahan untuk menuju pinggir jalan dimana tampak beberapa becak sedang parkir mencari penumpang. Dengan barang bawaan yang terlihat cukup merepotkan, mereka memutuskan untuk menaiki becak menuju penginapan terdekat sementara menunggu pagi hari tiba. Tadinya, Surya sudah akan memutuskan agar mereka berdua segera pergi meninggalkan Jakarta. Namun ia mengurungkan niatnya, saat mengingat kondisi tubuh yang lelah serta barang-barang berharga yang masih tertinggal di gedung terbengkalai itu. Lima ribu rupiah sudah merupakan ongkos yang cukup banyak bagi sang penarik becak untuk mengantarkan pasangan tersebut ke hotel terdekat. Dan setelah menyerahkan upah tersebut beserta tambahan bonus, mereka berdua bergegas memasuki hotel yang terlihat bersih serta aman. ---  Memang tak salah rekomendasi yang diberikan sang abang becak. Karena, hotel tersebut benar terlihat begitu asri serta bersih luar dalam. Istilah tersebut, adalah untuk menggambarkan jika tempat itu bukanlah merupakan penginapan sembarangan yang biasa digunakan untuk menampung para penjaja seks dan lelaki hidung belang. Segera setelah disambut oleh seorang resepsionis pria, Surya Kelana mengeluarkan tanda pengenalnya untuk dicatat. Karena membayar tunai di depan, sang petugas hotel langsung mengembalikan KTP asli tersebut setelah sebelumnya membuat selembar foto copy-nya. “Abang orang sekitar sini saja?” tanya sang petugas dengan rasa ingin tahu. Sebenarnya Ia tidak heran, karena karena hari itu sudah banyak penduduk sekitar kota yang perlu menginap di dalam hotel tak jauh dari rumah. “Iya, Bang ... tadinya. Tapi rumah kontrakan saya sebelumnya, sudah habis dirusak orang. Karena sang pemilik rumah juga ikut pergi mengungsi, saya harus cari kontrakan baru. Sementara saya menginap di sini saja, sebelum pulang ke tempat asal kembali.” Demikian jawab Surya dengan sedikit nada sedih. “Ohh ... begitu. Itu istrinya?” tanya lagi sang resepsionis dengan sedikit curiga. “Iya, Bang ... eh, Sayang ... siniin KTP kamu," jawab Surya sekaligus memangggil Andini yang berdiri tak jauh di belakangnya. “Oh ... perlu KTP-ku juga?” jawab si gadis dengan tersenyum penuh pengertian. “Oh, enggak ... enggak perlu, saya percaya kalau anda berdua ini suami istri, kok ...” jawab petugas tersebut dengan malu. Tapi, tak urung ia juga menerima kartu pengenal yang diserahkan kepadanya. “Oh, iya ... cukup. Nyonya Andini, terima kasih. Maaf, ini sebuah prosedur yang harus saya lakukan.” Demikian kata petugas tersebut sambil menyerahkan kembali kartu tersebut kepada Surya. “Sama-sama, Bang ... kami mengerti, itu memang sudah menjadi tugas anda.” Kini, giliran Meillyana yang menjawab. “Iya, iya ... silakan ikut menuju kamar anda ... di hotel ini, banyak orang yang menginap untuk menyelamatkan diri. Kita sama-sama tahu, keadaan di beberapa bagian kota memang sedang rawan.” Demikian akhirnya si petugas resepsionis menjelaskan setelah mempersilakan kedua orang tersebut mengikuti petugas lain yang akan menunjukkan kamar. ***       
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD