Setelah mengorek beberapa informasi tanpa terlalu mencolok, Surya membayar es yang sudah diminumnya. Seperti layaknya orang yang banyak uang, ia menyuruh sang pedagang untuk tidak usah memberikan kembalian. Tapi setelah itu, ia malah mengatakan pada si pedagang jika jadi bingung mau pergi kemana. Dan, lelaki itu meminta ijin untuk sementara duduk-duduk di belakang lapak, yang merupakan taman selebar satu setengah meter di sepanjang depan pagar kantor.
Tiba-tiba ...
Serombongan bis kota yang berjumlah sekitar sepuluh kendaraan, lewat dalam hiruk pikuk teriakan yel-yel penggelora semangat. Dari pakaian yang mereka kenakan, rombongan tersebut tampaknya merupakan segerombol mahasiswa yang telah berhari-hari melakukan demonstrasi.
Entah bagaimana ceritanya, bus-bus kota yang sarat penumpang hingga sampai ke atas itu bisa menyasar melewati daerah yang agak jauh dari pusat demonstrasi. Dan, sontak saja semua yang ada di sekitar tempat itu menjadi agak sedikit terkejut.
Aparat dari Polsek dan Koramil di dekat sana terlihat berhamburan keluar untuk bersiaga di depan. Sementara toko yang tadinya buka, mendadak menutup gerainya lagi dengan cepat. Semua sudah mendengar berita kerusuhan, dan saat ini seolah momok tersebut telah mendatangi. Walau terlihat jika rombongan tersebut bukan merupakan masa beringas, tetap saja masyarakat sekitar harus melakukan sebuah tindakan antisipasi.
Dan hal-hal seperti itulah yang tengah ditunggu oleh sesosok lelaki yang kini tengah berlari dengan cepat ke dalam bayangan gedung kantor kecamatan. Menggunakan momentum keterkejutan akan sebuah kehebohan, Surya tak menyia-nyiakannya dengan segera melompati pagar dan mengendap-endap mendekati pintu belakang gedung.
---
Membuka kunci standar semacam itu, hanyalah merupakan permainan kanak-kanak bagi Surya Kelana. Semua pelatihan yang selama ini didapatkan, bahkan hingga termasuk juga ilmu pembobolan kunci brankas yang sangat rumit.
Hanya dalam hitungan detik, dua batang besi sebesar tusuk gigi sudah bisa dipakai oleh si lelaki untuk membuka pintu tersebut. Dengan rapi, ia kembali memasang kunci pengaman agar bisa berjaga-jaga apabila ada orang lain yang berniat memasuki tempat itu. ---
Dengan sekali pandang, mata tajam lelaki tersebut langsung menemukan tulisan: RUANG ADMINISTRASI & ARSIP. Bergegas, ia menuju kesana. Beberapa kali lagi, batang-batang besi berukuran kecil beraksi. Lalu terbukalah semua kunci pintu, laci serta lemari yang akan menjadi tempat pencarian sebuah identitas baru untuknya dan si gadis cantik yang sedang menanti.
Menggunakan kecerdasan serta pikiran taktisnya, Surya memang secara sengaja hanya akan mencari data kependudukan dari warga yang mengurus surat kepindahan. Karena itulah, ia mempersempit pencariannya dari sebuah lemari yang bertuliskan ARSIP. Selanjutnya, lelaki itu mengambil satu bundel map hard cover yang memiliki catatan kecil MUTASI DAN SURAT KEPINDAHAN.
Setelah menemukannya, ia segera mengambil sekelompok file yang menunjukkan pengarsipan pada bulan itu. Kemudian dengan teliti, Surya Kelana membongkar map arsip tersebut di atas meja. Satu persatu, ia mulai memilah untuk menemukan dua nama yang sekiranya cocok untuk menjadi penyamarannya bersama Meillyana. Karena, waktunya memang terlalu sempit dan berbahaya jika ia harus menghidupkan komputer untuk mencetak data baru sebagai nick name untuk pelariannya.
---
Lelaki tersebut memang menguasai hampir segala macam pemalsuan surat. Sebab hal itu adalah termasuk dalam keahlian yang harus dimiliki oleh seorang agen penyusup, yang selalu bekerja sendiri dengan cara berbaur dalam masyarakat. Namun dalam keadaan seperti itu, ia memang tidak akan memaksakan dirinya dengan membuat dokumen baru sebagai identitas palsunya.
Ia berpikir akan lebih aman jika menggunakan sebuah identitas yang nyata dengan alamat sebenarnya. Tentang pemilihan surat kepindahan sebagai identitas, tentu saja hal tersebut sudah ia perhitungkan dengan matang. Sebab apa bila ada yang mengkonfirmasi hal itu, sudah barang tentu semua datanya benar-benar ada. Yang ia perlukan hanyalah mengganti foto dalam identitas yang bersangkutan dengan foto dirinya.
---
Hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit, lelaki itu sudah bisa menemukan apa yang ia cari. Satu map arsip yang berisi identitas serupa dengan usia dan kondisi mereka saat ini, langsung menjadi pilihan utama Surya Kelana.
Dalam kartu keluarga serta KTP asli yang ditinggalkan dalam arsip, tertera nama sepasang suami istri yang tampaknya belum lama menikah. JOKO PUTRANTO adalah nama sang suami, usia 28 tahun. Sedangkan identitas istrinya memiliki nama ANDINI, usia 25 tahun. Keduanya memohon surat kepindahan dari kantor kecamatan tersebut dengan alasan untuk bekerja sekaligus pindah secara kependudukan dari Jakarta.
Lazimnya memang seperti itu. Seseorang yang mengurus surat-surat kepindahan dan memutuskan untuk menjadi warga daerah lain, secara otomatis akan meninggalkan surat identitas asli di kantor asal dimana ia menjadi warga pada tempat lamanya. Dan hal itulah yang sengaja disasar oleh Surya. Karena, semua identitas yang akan didapatkan adalah asli serta legal. Bedanya, ia akan ‘meminjam’ nama orang lain sebagai penyamaran asal-usulnya.
---
Dari pengalamannya, laki-laki tersebut paham tentang masalah administrasi. Dan peluang tersebut memang dimanfaatkan dengan baik olehnya. Namun, faktor identitas yang mirip dari segi umur dan data lainnya adalah merupakan sebuah kebetulan. Dan hari itu, ia ternyata telah menemukan keberuntungannya.
Jika hanya mencari ‘pinjaman’ kartu tanda kependudukan secara perseorangan, itu bukanlah hal yang sulit. Tapi menemukan identitas sebagai pasangan suami istri beserta kartu keluarganya, hal tersebut adalah sebuah kemujuran. Karena dengan menyamar sebagai pasangan menikah, maka gerakan mereka akan menjadi lebih bebas serta leluasa tanpa masalah lainnya lagi.
---
Sekarang, ia dan Liana telah memiliki sebuah identitas untuk membawa mereka kemanapun tujuannya nanti. Hanya memerlukan selembar foto sebagai pengganti sang pemilik asli, mereka akan langsung memiliki dokumen resmi yang tak diragukan keasliannya.
Setelah puas dengan penemuannya, Surya Kelana mengembalikan semua file tersebut ke dalam tempatnya. Tak lupa, ia juga mengambil beberapa lembar formulir yang mungkin akan diperlukan dihari depannya. Blangko KTP serta Kartu Keluarga asli yang masih kosong, berikut pengantar kepindahan dan surat keterangan lainnya memang sengaja ia ambil untuk berjaga-jaga bila diperlukan.
Ia memang telah merencanakan untuk membuat identitas baru di tempat yang akan ia tuju nanti. Dengan demikian, Surya akan membutuhkan berbagai macam formulir agar tak menimbulkan kecurigaan apapun di tempat yang baru nanti.
Terakhir, sebuah stempel kecamatan dan bantalannya juga ia masukkan dalam tas yang dibawanya. Semua beres; dan ia kembali mengunci seluruh kabinet, lemari serta laci ke dalam posisi sebelumnya. Tak terlewatkan, si lelaki juga mengelap jejak-jejak yang mungkin telah tertempel oleh sidik jarinya.
---
Tinggal satu langkah lagi. Dan ternyata, Surya Kelana hanya membutuhkan waktu kurang dari lima belas menit saja untuk mendapatkan apa yang ia cari. Dengan melompati pagar tembok samping, ia berhasil masuk ke kantor KUA dan mengambil barang-barang yang ia butuhkan di sana. Beberapa buku kosong kartu nikah berikut stempel pengesahannya sudah bisa ia kantongi untuk ia jadikan keabsahan surat nikah jika dibutuhkan nantinya.
***