BAB 6 - Kebersamaan Yang Mulai Membuka Hati

1459 Words
Sesaat keduanya kembali terdiam. Tampaknya mereka sangat kelaparan, karena terlihat sebegitu lahap menikmati hingga isi masing-masing kaleng makanan tandas. Walau hanya merupakan ransum darurat, tapi apa yang mereka nikmati sebagai menu makan malam itu benar-benar terasa nikmat. Terlebih penting lagi, perut  keduanya telah menjadi hangat setelah selarut itu belum kemasukan apapun untuk mengganjalnya. “Kopi? Tapi, maaf ... aku hanya punya satu tempat minum saja. Kalau mau, kau boleh minum duluan.” Surya menawarkan secangkir alumunium besar kopi yang telah ia seduh tadi pada Meillyana. “Terima kasih ... sepertinya nikmat sebagai penghangat perut. Sebaiknya, kau duluan saja yang meminumnya,” jawab si gadis dengan sopan. “Lady first ...” Surya sedikit memaksa. “Mmm ... baiklah. Tapi, aku nggak bisa minum sekaligus dalam tegukan besar,” kilah si gadis kembali. “No problem, selesaikan semampu kau bisa. Sedikit demi sedikit juga tak masalah,” si lelaki kembali menjawab. “Bagaimana kalau kita minum bersama saja? Kau bersedia?” balas si gadis karena merasa tak enak dengan lelaki yang begitu baik tersebut. Meillyana sangat tergoda saat menghirup harum dari kopi yang dibuat dengan ala kadarnya itu. Kebiasaannya di rumah, setiap malam ia memang selalu menyeduh secangkir kopi sebelum tidur. Mungkin aneh dan lucu, karena sebagian orang menganggap jika meminum kopi akan mengakibatkan sulit tidur. Tapi bagi si gadis, kopi hangat adalah suatu pengantar tidur yang membuat rileks tubuhnya. “Baiklah kalau maumu begitu. Minumlah ...” Surya menyodorkan cangkir seng khas bekal para kombatan tersebut, yang langsung diterima oleh gadis tersebut dengan senang hati. Suasana kembali hening saat mereka mereguk kopi dalam cangkir yang sama secara bergantian. Masing-masing tampak menerawang sambil merenungkan kembali apa yang telah dialami selama beberapa jam terakhir. ---   Dalam keremangan temaram cahaya redup senter kecil yang kini dipakai sebagai penerangan, Surya bisa menangkap dengan jelas betapa cantik dan memesonanya si gadis. Ia menebak, Meillyana bukanlah seorang anak gadis dari keluarga biasa-biasa saja. Kulitnya yang halus, nampak begitu sangat terawat. Begitu juga wajahnya yang rupawan ... rasanya tak mungkin jika orang dari keluarga biasa-biasa saja memiliki penampilan yang seperti itu. Semua yang ada dalam diri sang gadis, masihlah menjadi sebuah misteri yang besar baginya. Karena, ia ingat persis bagaimana jawaban gadis itu saat ia bertanya tentang tujuan dan rencana selanjutnya. Meillyana tak memiliki tujuan. Dan Surya dapat menduga, bahwa gadis tersebut pasti telah mengalami sebuah kejadian luar biasa yang mendadak jadi membuat dirinya bingung. Mengingat kembali tangis si gadis dalam ambulance tadi, ia yakin jika itu juga bukanlah sebuah ratapan tentang peristiwa perkosaan yang gagal.    Tapi ... untuk menanyakan dengan lebih detil, ia merasa belum cukup memiliki waktu berlebih. Tak lama lagi, hari akan segera berganti pagi. Jika malam berganti, hal apapun bisa saja terjadi tanpa ia duga. Sementara, Surya sendiri harus sebaik-baiknya menggunakan sisa waktu untuk bersiap menyingkir sejauh mungkin dari ibu kota. Bukan tak mungkin jika dua orang yang hendak memperkosa Meillyana tadi sudah ditemukan. Dan dugaan  terburuknya, aparat penegak hukum pasti akan segera bergerak untuk melacak keberadaan ambulance palsu yang mereka pakai untuk melarikan diri. Jadi, mereka harus bergegas pergi dari tempat tersebut jika ingin tetap aman dan selamat. ---   “Tidurlah, biar kubuang semua sisa kaleng makanan ini agar tak meninggalkan jejak." Surya berkata kepada Meillyana setelah semua makanan serta minuman mereka habiskan. “Kau sendiri? Beristirahatlah juga, agar tidak sakit,” jawab si gadis cantik pada sang lelaki dengan wajah khawatir. “Aku bisa istirahat sambil duduk. Sekalian berjaga, siapa tahu kita ditemukan orang lain yang lewat.” “Tapi ...” si gadis tampaknya berkeberatan karena kembali merasa tak enak. “Tidurlah ... semua akan baik-baik saja. Pagi nanti, kita harus bergerak cepat untuk pergi meninggalkan tempat ini. Kau butuh istirahat untuk mengumpulkan kembali energi,” tukas Surya dengan sedikit memaksa. “Ohh ... apa rencanamu nanti? Mau pergi kemana?” si gadis malah bertanya. “Entahlah ... yang jelas, aku akan menyingkir jauh dari ibu kota ...” jawab Surya dengan gamang.   Mendengar perkataan itu, Meillyana tampak tercenung dan merasakan kegundahan yang mendalam. Dilema dalam dirinya muncul, antara ingin mengikuti pergi karena tak tahu arah yang ia tuju ... tapi, rasanya ada satu hal mengganjal tentang lelaki asing yang belum dikenalnya dengan baik. Meillyana juga ingin menyingkir untuk sementara karena merasa jiwanya terancam jika masih berada di ibu kota. Namun di sisi lain, ia menjadi ragu dengan tanggapan lelaki yang ada dihadapannya kini. Bukan meragukan tentang baik serta buruknya, namun lebih pada merepotkan atau tidaknya jika ia mengikuti si lelaki entah kemana. Tapi, tuntutan untuk tetap bisa bertahan hidup telah membuat si gadis membulatkan tekad untuk mencoba mencari pertolongan dari si lelaki. “Mmm ... ma-maaf, bolehkah aku ikut denganmu?” tanya Meillyana dengan setengah ragu. “Kemana?” Surya terperangah mendengar pertanyaan si gadis, dan hanya bisa bertanya alasan gadis itu untuk mengikutinya. “Kemana saja kau pergi ... eh, yang ku maksud adalah sampai sebuah tempat aman dimana aku bisa memutuskan untuk bersembunyi,” jawab si gadis dengan sedikit membuka permasalahannya. ---   Mendengar apa yang dikatakan oleh si gadis, Surya jadi lebih paham lagi. Dugaannya memang tak salah, jika si gadis masih menyembunyikan sebuah cerita sebenar tentang pelarian malamnya. Gadis cantik dari keluarga berada, semalam itu berkeliaran dan tengah berada dalam ancaman dua pria yang berniat buruk padanya. Hanya dengan mengenakan baju tidur tipis dan membawa sebuah tas, rasanya tak mungkin apa bila kepergian Meillyana sudah direncanakan. “Kenapa?” tanya Surya Kelana kembali. Sebenarnya, si lelaki juga masih bingung dengan perkembangan situasi saat itu. Tadinya ia berharap bisa pergi dan menghilang dengan cepat tanpa diketahui oleh seorangpun. Tapi kini, bersamanya telah ada seseorang yang sangat membutuhkan pertolongan. Bukan itu saja yang menjadi masalah. Karena, gadis itu juga akan menjadi masalah baru seumpama ia tertangkap atau mengalami sebuah peristiwa lain. Sebab, keberadaan Surya Kelana sendiri pasti akan bisa dilacak jika waktunya dirunut ke belakang. Peristiwa di basement dimana si gadis hendak diperkosa, itu semua adalah merupakan sebuah simpul yang dapat membuka rahasia diri Surya Kelana. Penyimpanan perlengkapan operasi dan TKP percobaan perkosaan adalah tempat sama. Dengan demikian, aparat manapun akan mudah menghubungkan dirinya dengan organisasi tempatnya bernaung yang kini sudah dimusnahkan. Lalu petugas yang mungkin saja telah terbunuh atau mengalami luka fatal, adalah sebuah pemicu penyelidikan dan operasi keamanan lainnya. Dan tentu saja, semua akan dilacak melalui petunjuk utama tentang ambulance yang hilang dari tempat bersama terlukanya dua orang pemerkosa. Berarti ... si gadis adalah sebuah kunci utama yang bisa menunjukkan keberadaan Surya Kelana, satu-satunya anggota tim yang masih selamat. Kesimpulannya, Meillyana tidak boleh tertangkap atau diketahui keberadaannya oleh pihak yang berwajib! Karena, gadis itu adalah satu-satunya saksi yang mengetahui jika orang yang berada di basement malam itu adalah sang komandan tim. Juga, gadis itu pula yang bisa menjadi saksi mata langsung jika Surya Kelana adalah penyusup yang membawa sebuah bungkusan berat dari gudang penyimpanan peralatan operasi tim. ---   “Karena aku harus lari dari sini. Sekarang, aku tak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi. Keluargaku dibunuh, rumah dan seluruh harta benda terbakar musnah ...” bersama jawaban yang ia ungkapkan, terdengar isak lirih dari sang gadis yang tengah menahan tangisnya. Kembali, Surya kelana merasakan sebuah pukulan yang menohok dalam hatinya. Matanya kembali terbuka jika kerusuhan dan semua kekacauan yang terjadi telah membawa sebuah dampak yang begitu besar bagi hidup banyak orang. Dengan mata kepala sendiri, ia menyaksikan sembilan orang anak buahnya menemui ajal bersama ratusan orang lainnya. Belum lagi, ia juga melihat betapa orang-orang menjadi liar saat menggiring serta mengganggu para gadis di jalanan. Si lelaki berpikir masygul. Tadinya, ia adalah salah satu dari sebagian orang yang ditugaskan untuk mengamankan ibu kota dalam bagian kerjanya sendiri. Lalu, tiba-tiba keadaan berubah menjadi sebuah kekacauan besar. Dan ia melihat dengan terang benderang, jika seakan kondisi chaos tersebut memiliki sebuah rencana sistematis yang ia sendiri tak mengetahuinya. Pembakaran hotel, swalayan dan permusuhan terhadap etnis tertentu; sepertinya memang terjadi karena sebuah kesengajaan. Karena saat inipun,  di depan matanya sendiri  ia telah bertemu langsung serta menyaksikan salah satu korban yang kebetulan bisa ia selamatkan. ---   Antara kasihan, keamanannya sendiri dan si gadis, juga pertimbangan gerak langkah tak leluasa jika gadis tersebut mengikutinya nanti ... kini menjadikan sang lelaki harus berpikir dengan keras. Surya tak mau jika sang gadis harus menderita karena kebingungan serta ketakutan tanpa tempat tujuan. Meskipun ia belum bisa mendengarkan cerita seutuhnya, namun kini ia sudah merasakan sebuah simpati mendalam tentang kondisi Meillyana. Begitu juga, faktor keamanan apabila gadis tersebut terlepas dari pengawasannya. Mungkin saja, kronologis beberapa jam keberadaan Meillyana malam itu bisa membongkar rahasia pelarian yang akan dilakukannya. Bagi Surya Kelana, membawa pergi sang gadis adalah sebuah keharusan yang kini tak dapat ia nafikan lagi. Bersama gadis tersebut; seluruh misteri tentang adanya seorang anggota tim yang masih hidup, cepat atau lambat pasti akan terungkap. Namun, agaknya ia masih harus menimbang semua keuntungan dan kerugian. ***   -            
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD