Melihat pintu gerbang yang hanya setengah terbuka, Surya Kelana segera turun untuk berusaha membentangkannya lagi agar cukup sebagai jalan masuk Ambulance yang dibawanya. Setelah kendaraan bisa disembunyikan, ia bergegas untuk menutup kembali gerbang besi tadi. Kemudian, diajaknya si gadis untuk menjauhi kendaraan sambil membawa semua barang bawaan mereka.
Dengan bantuan cahaya senter, mereka naik ke lantai dua dan menemukan sebuah sudut dari ruangan mirip kamar belum jadi yang terlihat bersih. Tampaknya bangunan terlantar tersebut biasa digunakan oleh tuna wisma sebagai tempat berteduh dari panas dan hujan. Namun kini, tak terlihat ada seorang pun di sana.
Pria itu menduga jika semua tuna wisma telah pergi akibat kerusuhan yang terjadi pada bagian lain kota. Bukan dugaan buruk; tapi penjarahan yang kini tengah marak, tentu saja akan menjadi sebuah magnet yang menarik sebagian orang untuk turut berpesta mendapatkan apapun yang dapat diambil.
---
Menggunakan penerangan cahaya seadanya, lelaki misterius tersebut meneliti sekitar ruangan. Ia berjalan ke sebuah sudut, lalu kembali mewaspadai sekitarnya. Tak memakan waktu lama menyelidik, ia terlihat merasa cukup puas dengan tempat persembunyian tersebut. Ruang itu memang cukup strategis, dan memungkinkan mereka untuk menghindar dengan cepat tanpa diketahui bila sewaktu-waktu ada kejadian tak terduga.
“Sementara, kita beristirahat di sini sampai matahari keluar," kata lelaki tersebut kepada si gadis sambil membentangkan gulungan matras yang sedari awal sudah terselip dan menyatu pada tali ransel kanvas besarnya.
“Ini tempat apa?” Meillyana bertanya
“Bangunan kosong yang belum jadi,” jawabnya singkat.
“Di daerah mana?”
“Aku mengenal tempat ini. Kita tak berada jauh dari Taman Mini,” jawab Surya dengan singkat. Lalu ia menyambung kembali, “istirahatlah, aku akan meneliti sekeliling. Mungkin bisa kutemukan air untuk minum dan sekedar mencuci muka.”
“Jangan jauh-jauh ... a-aku takut di tempat asing dan gelap ini ...” gadis itu berbisik lirih seakan tak berdaya.
“Ohh ... pakai ini. Gunakan sesekali saja, jangan terus dinyalakan. Kita harus menghemat energi, siapa tahu akan dibutuhkan nanti.”
Surya Kelana berdiri dan memandangi sang gadis selama beberapa detik. Tanpa bicara, ia membuka tas yang tadi diletakkan di lantai. Lalu, lelaki tersebut tampak mencari-cari sesuatu di dalam ransel. Setelah menemukan beberapa barang, ia memilah-milah dan menyerahkan sesuatu yang ternyata berupa dua potong pakaian atas dan bawahan.
“Pakai ini, mungkin kebesaran atau terasa kasar. Tapi, kurasa akan lebih nyaman menggunakan ini dibanding pakaian tipis kamu yang sudah robek.” Selesai mengatakan hal itu, ia segera pergi meninggalkan sang gadis dalam kegelapan sambil membawa benda-benda yang tampak seperti kemasan atau wadah kaleng.
---
Meillyana segera melepaskan jaket besar yang membungkus tubuhnya, kemudian menanggalkan baju tidur yang kini telah menjadi lembab, kumal serta kotor akibat peristiwa yang ia alami tadi.
Dalam kegelapan, ia meraba pakaian yang diberikan oleh si lelaki misterius. Setelah itu, ia langsung saja mengenakan sebuah kaus yang ukurannya memang terlalu besar untuk tubuhnya yang ramping. Begitu selesai membungkus tubuh atasnya dengan baju bersih, ia kembali mengambil sepotong pakaian lagi. Spontan, ia bersyukur saat mengetahui bahwa pakaian lainnya adalah berupa sepotong celana pendek seukuran panjang bawah lutut laki-laki dewasa.
Senyum pertama dalam penderitaan malam ini, tersunggging di bibir sang gadis yang tak terlihat dalam kegelapan. Bibirnya memang merekah dengan sendirinya saat mengetahui apa yang diberikan si lelaki adalah sebuah celana pendek. Karena, tadinya ia sempat membayangkan betapa repot jika harus mengenakan sepotong celana panjang yang terlalu besar untuk ukuran tubuhnya.
---
Setelah merasa hangat dan sedikit nyaman, sang gadis baru sempat bisa menganalisa serta mengingat semua hal tentang malam ini yang telah terjadi dengan sangat cepat. Semengerikan apapun, sudah sepatutnya ia bersyukur karena masih terselamatkan dari sebuah pembunuhan atau bahkan perkosaan. Kejadian yang bertubi-tubi menimpanya, kini berakhir dalam sebuah pertolongan seseorang misterius yang tampaknya memiliki sifat baik serta tidak punya maksud atau itikad jahat.
Ia langsung bisa menyimpulkan hal tersebut. Meskipun terlihat ‘dingin’ dan tak perduli, tapi ternyata lelaki tersebut sangat memikirkan kondisi Meillyana. Bahkan dengan sopan, lelaki itu bergegas meninggalkan tempat agar si gadis merasa nyaman saat berganti pakaian. Bukankah itu menunjukkan sebuah pribadi yang penuh etika dan baik?
Si gadis cantik, tampaknya begitu terpukul dan masih merasa shock. Karena, belum pernah sekalipun dalam hidupnya merasakan kehidupan berat seperti yang dialami sekarang. Semua yang terjadi secara beruntun menimpa dirinya, sepertinya belum bisa ia cerna dengan utuh.
Apa yang ia alami malam ini, adalah sebuah mimpi buruk yang bahkan untuk membayangkan saja sudah begitu mengerikan. Dan, ia belum sepenuhnya percaya jika hal itu telah benar-benar menimpa dirinya!
---
Setelah menunggu selama hampir lima belas menit, si gadis melihat pendar cahaya yang diikuti suara langkah menaiki tangga. Sekilas ia melihat bayangan si lelaki melewati depan jalan masuk, namun ternyata sosok itu terus saja berjalan tanpa menengok ke dalam.
Meillyana menduga jika Surya tersesat, hingga sampai melewatkan pintu ruangannya. Namun tiba-tiba, ia mendengar suara gemeretak perlahan dari sebelah luar tembok yang memisahkan mereka. Tak lama kemudian, ia melihat ruangan yang berada diluar sana mendadak berubah menjadi terang benderang oleh sinar yang nampaknya berasal dari jilatan api pembakaran.
Merasa penasaran, si gadis memutuskan untuk menyusul ke arah lelaki tersebut pergi. Baru saja keluar dari tempatnya berlindung, ia segera melihat sesosok lelaki yang tengah berjongkok sambil menghidupkan perapian. Tanpa ragu, Meillyiana segera melangkah mendekat untuk melihat kesibukan di sana untuk membantu seperlunya apa yang tengah dilakukan.
Tiba di sebelah Surya Kelana, si gadis ikut berjongkok dan mendapati sebuah tungku darurat sudah menyala. Sepertinya, benda tersebut memang biasa digunakan untuk membuat perapian oleh penghuni sebelumnya.
“Ada yang bisa ku bantu?” dengan perlahan, gadis itu bertanya.
Si lelaki tampaknya tidak terkejut, karena sedari awal ia sudah mendengar langkah kaki yang menandakan jika seseorang yang sedang mendekatinya.
“Boleh, kamu bisa menuangkan air di botol plastik itu ke dalam panci untuk kita masak,” jawab Surya dengan singkat. Lalu, tanpa bicara lagi ia meraih beberapa kaleng yang ternyata merupakan makanan kemasan yang biasa dibawa sebagai bekal para kombatan untuk beraksi di lapangan.
---
Sementara Lian menuangkan air pada sebuah panci buruk yang berwarna kehitaman, si lelaki membantu mengatur batu-bata yang akan dipakai untuk menumpangkan air saat memasak nanti. Setelah itu, ia kembali sibuk membuka tutup kemasan kaleng dan meletakkannya di samping api yang berkobar.
Tak berhenti disana, Surya meraih sebuah cangkir besar dari alumunium yang sebelumnya sudah ia ambil dari ransel, lalu memasukkan dua bungkus plastik kopi instan ke dalamnya. Panci telah tertumpang di atas bara api, dan kaleng-kaleng juga telah dengan rapi berjajar dipinggiran tungku ... lalu, keduanya kembali diam sambil menunggu air mendidih serta makanan dihangatkan.
---
“Semoga kamu bisa menelan rangsum instan ini ...” kata Surya pada Meillyana setelah mereka berdua mulai menyantap makanan yang ia ‘masak’ tadi.
“Enak, kok ... terima kasih karena sudah menyediakan ini. Terus terang saja, aku sangat kelaparan,” jawab si gadis dengan malu-malu.
“Sama-sama ... meskipun sebenarnya itu untuk konsumsi orang-orang yang berada di tempat terpencil dan jauh dari sumber makanan,” jawab si lelaki dengan sopan.
“Maaf kalau aku lancang ... apakah kamu seorang tentara atau sejenisnya?” dengan agak gugup, Meilliyana menanyakan hal tersebut pada si lelaki.
“Kenapa kamu menduga seperti itu?” jawab Surya kelana sambl tak acuh.
“Karena semua gerak-gerikmu yang begitu sistematis, terkontrol serta penuh kewaspadaan. Bukan itu saja ... maksudku ... eh, kamu bisa menguasai semua medan dan tekanan seberat apapun semenjak aku melihatmu. Dan ... satu lagi tentang makanan ini. Bukankah yang kita makan sekarang ini, biasanya jadi konsumsi pasukan tempur di lapangan?” tanya si gadis dengan cerdas.
Surya Kelana terdiam untuk beberapa saat. Kemudian, ia memutuskan untuk memberikan informasi sedikit saja agar sang gadis tak mepertanyakan dirinya lagi.
“Bukan ... aku bukan tentara, polisi, atau pasukan tempur apapun. Tapi, iya ... aku memang pernah mendapatkan sebuah pelatihan untuk bertempur,” jawab Surya dengan tegas.
“Hmm ... tampaknya kamu masih belum mempercayaiku. Baiklah, tak masalah bagiku. Dan ... terima kasih untuk semua pertolonganmu kepadaku,” kata si gadis dengan tulus. Kini ia yakin jika dirinya berada dalam sebuah kondisi yang cukup aman bersama lelaki asing itu.
“Sama-sama. Mungkin memang sudah digariskan seperti ini. Kau dan aku bertemu di saat yang benar-benar tak wajar bagi orang lain ...” demikian jawab Surya tanpa menanggapi kata pertama dari sang gadis.
***