Pagi buta, tampak dari kejauhan dua orang laki-laki tengah melakukan sebuah pertarungan sengit. Saat didekati, ternyata mereka adalah dua orang ayah dan anak yang sedang berlatih fisik dengan menggunakan gerakan ilmu bela diri.
Sangat bersemangat, keduanya saling bertukar pukulan serta tendangan. Sesekali, masing-masing melakukan gerakan-gerakan kuncian hingga salah satu dari mereka terjatuh atau menyerah. Jika dilihat lagi secara lebih cermat; bahkan oleh pandangan mata awam, tak akan bisa disangkal lagi untuk dikatakan bila mereka memang sangat ahli di bidang itu.
Setelah merasa cukup, dua laki-laki tersebut berdiri berhadapan dan saling memberi hormat dengan membungkukkan badan. Lalu, mereka duduk bersila diatas rerumputan sambil mengatur pernapasan untuk menyongsong sinar matahari pagi yang baru terbit dari arah timur.
Setiap hari selama hampir tiga bulan ini, hal itulah yang dilakukan oleh kedua ayah dan anak tersebut. Tentu saja, selain memperdalam ilmu teknologi informasi. Dengan tekun mereka melatih diri, saling ajar dan mengajari hingga si anak lelaki semakin mendapatkan banyak tambahan bekal untuk perjalanannya merantau ke ibu kota nanti.
---
Sampai saat itu, beberapa cerita masa lalu sudah mulai diceritakan oleh sang ayah. Dari latar belakang dari mana ia dibesarkan dengan nama Surya Kelana, hingga sampai pada kekacauan yang memaksa Joko Putranto untuk bersembunyi dari keramaian.
Hanya saja ... maksud serta tujuan sang ayah melatih anaknya dengan begitu keras, sampai saat ini belum juga disampaikannya. Ia masih menunda hal tersebut karena merasa jika saatnya belum tepat.
Apalagi sang istri, Andini; juga belum memiliki kesempatan untuk menceritakan latar belakang kehidupannya dulu. Namun, tentu saja pembicaraan lebih serius harus mereka lakukan, karena itu semua merupakan inti dari keseluruhan maksud. Yaitu, mempersiapkan sang anak sebagai seorang pemuda berkemampuan istimewa.
***
Jakarta, Mei 1998.
Dengan cepat, Ambulance tersebut meluncur melewati daerah yang kini telah menyerupai sebuah kota mati. Suara sirine dibunyikan dalam kode mendesak yang berarti membawa seorang pasien dalam keadaan gawat serta genting.
Di sana sini, nampak asap dari sisa kebakaran di beberapa bangunan. Para aparat bersenjata juga terlihat berjaga di beberapa tempat strategis untuk siaga setiap saat mengamankan potensi kerusuhan yang kian meluas. Sementara, beberapa kali mereka juga menjumpai segerombolan orang yang terlihat seperti tengah membawa barang-barang hasil jarahan atau temuan.
Sedikit mengherankan. Karena aparat keamanan yang berjaga itu, seolah tak memperhatikan pergerakan para perusuh yang terlihat jelas dan sangat kentara. Mungkin saja, keterbatasan personel keamanan telah menyebabkan terjadinya pembiaran seperti itu. Atau bisa jadi, perintah dari atasan hanya mewajibkan pasukan tersebut untuk menjaga obyek penting beserta orang-orang penting saja.
---
Di sebelah Surya Kelana, duduk si wanita yang sepanjang jalan terus menutupi wajah dengan kedua tangan. Tampaknya, ia masih merasa tegang dan ketakutan, karena sesekali terlihat bahunya bergerak tergetar seperti menahan tangis yang dengan sekuat tenaga dibendungnya.
Hingga di suatu jalan yang hendak membawa mereka menuju wilayah pingggiran kota, mereka melihat dari kejauhan jika ada barikade yang menutup laju mobil tersebut. Wilayah Jakarta timur yang menjadi tujuan mereka, sepertinya memang akan menjadi tempat yang cukup aman untuk sementara bersembunyi.
Sesuai dengan berita radio yang dibawa oleh si lelaki, kerusuhan besar terjadi secara sporadis di wilayah barat dan utara hingga mengarah pusat. Tampaknya, pilihan Surya kelana untuk menuju timur adalah sebuah keputusan tepat. Selain aman, mereka juga akan lebih mudah jika selanjutnya hendak pergi menuju luar kota.
Dan sebenarnya memang ada satu urusan. Yang jika memungkinkan nanti, akan berusaha untuk ia lakukan di daerah tersebut. Karena, wilayah itu adalah area yang merupakan tempat dimana sebuah markas besar akan menjadi sasarannya. Entah mengapa, tiba-tiba saja ia ingin menyambangi simbol besar yang dulu pernah menjadi sebuah kebanggaan dalam hidupnya.
Mungkin saja, ia akan sekedar pamit dan sedikit merekam semua kenangan terakhir sebelum meninggalkan untuk selamanya. Atau bisa jadi, ia menginginkan sebuah ‘kenangan’ dari dalam sana. Entahlah ...
---
Spontan ... Surya meraih tombol pengatur sirine untuk mengubah nada, lalu ia mengambil head microphone yang tergantung disana dan mendekatkan ke mulutnya,
"Beri jalan ... beri jalan ... doble star, Bravo doble star, emergency ... Velvet India Papa ... Velvet India Papa ... beri jalan ... menuju Mabes ... menuju Mabes ... "
Dalam volume yang kencang, suara laki-laki itu melengking melalui speaker sirine. Dan saat melakukan hal tersebut, ia sama sekali tak mengangkat injakan kaki sedikitpun dari pedal gas.
Ambulance terus melaju dan mengarah langsung pada barikade disertai jerit sirine genting yang memaksa. Bersamaan dengan itu, suara teriakannya terdengar berulang seolah memerintahkan suatu hal yang tak dapat ditolak.
“Beri jalan ... VVIP, Bravo dua ... bravo dua ... beri prioritas jalan ...”
Wanita yang berada di kursi penumpang tampak terbelalak saat melihat aksi nekad pria yang ada di kursi pengemudi. Mulutnya terbuka lebar seperti ingin menjerit ... lalu, ia menutup wajahnya rapat-rapat saat mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki wilayah perempatan yang dipasangi barikade.
---
Para penjaga di bagian depan, dengan sigap membuka barikade untuk memberi jalan pada ambulance tersebut. Hingga kendaraan tersebut telah semakin dekat, mereka baru menangkap dengan jelas teriakan mikrofon yang memberi kode bahwa dalam kendaraan tersebut terdapat seseorang dengan pangkat bintang dua ataupun mungkin anggota keluarganya ...
***
Perlahan, sang wanita membuka kedua telapak tangannya saat menyadari bahwa tak terjadi hal apapun setelah menunggu sekian lama dengam menahan histeris.
"Syukurlah ..." Hanya kata-kata itu yang terucap dari bibir wanita tersebut. Saat itu, mereka sudah melewati jalanan sepi yang terlihat tenang dan agak menjauh dari pusat kerusuhan. Wilayah tersebut, memang merupakan area yang belum sepadat belahan ibu kota yang lain.
Sekilas, Surya menoleh ke sisi kiri. Disana, ia mendapati sebuah wajah cantik yang sedemikian mempesona. Dalam keadaan sedih, berantakan dan kotor; pesona dari wanita tersebut tetap memancar dengan kemilaunya. Dan ia menaksir jika sosok tersebut adalah seorang gadis yang memiliki usia tak lebih dari 25 tahun.
Saat itulah, si lelaki baru sadar jika wanita yang telah ditolongnya itu ternyata merupakan seorang wanita yang begitu menarik. Dalam waktu bersamaan, ia juga baru melihat jika hampir seluruh pakaian wanita yang merupakan baju tidur itu juga sudah robek di sana-sini.
Sigap, mobil ditepikan ke pinggir jalan. Lalu tanpa bicara, lelaki tersebut meraih ke bagian belakang ambulance. Ia menyeret tas yang diletakkan diatas brankar, lalu membuka tutup bagian atas untuk mengeluarkan sebuah jaket.
“Pakai ini... kamu pasti kedinginan,” kata lelaki itu dengan suara lembut dan menenangkan.
Sang gadis menerima tanpa keberatan sebuah jaket tebal berwarna hitam yang segera saja menghangatkan tubuhnya. Ukurannya memang agak terlalu besar. Namun malah menjadi sebuah kebetulan, karena bisa menutupi pahanya yang juga telah begitu terbuka akibat percobaan perkosaan tadi.
---
“Siapa namamu? Aku Surya ... Surya Kelana,” tanya sang lelaki sambil memperkenalkan dirinya.
“Namaku Meilyana, lengkapnya Indira Meillyana,” jawab si gadis dengan masih menyisakan kesedihan mendalam.
“Baiklah ... kita sudah berkenalan. Aku rasa, prioritas utama saat ini adalah untuk sementara menyingkir dari semua kekacauan. Lalu ... tujuanmu kemana?” tanya sang lelaki sambil menjalankan kendaraan yang kini tak lagi secepat tadi.
“Entahlah ... aku tak tau harus kemana ...” Seketika itu juga, gadis yang bernama Indira tersebut langsung menangis sesunggukan.
Surya membiarkan si gadis menangis, karena ia juga tak tahu harus mengatakan apa. Seumur hidupnya, ia memang belum pernah memiliki pengalaman sedikitpun terkait para gadis. Apalagi, yang dihadapinya kini adalah seorang wanita cantik yang baru dikenal selama beberapa menit lalu.
Tujuan utama si lelaki saat itu, adalah menemukan sebuah tempat aman untuk menyusun rencana berikutnya. Dan mau tak mau, ia harus membawa wanita bernama Meillyana itu. Karena, gadis itu sudah mengatakan dengan gamblang jika tak memiliki tempat untuk dituju.
---
Ambulance tersebut berjalan dengan senyap dan perlahan. Surya Kelana memang menghindari jalan-jalan besar yang memiliki potensi besar untuk bertemu patroli keamanan serta penjagaan yang ketat. Hingga kini, mereka telah tiba di sebuah tempat yang cukup sunyi. Saat dari kejauhan melihat ada sebuah bangunan setengah jadi, sang pengemudi membelokkan kendaraan yang saat ini menjadi tak aman lagi karena terlalu mencolok dan memancing kecurigaan.
***