BAB 3 - Perjumpaan

1806 Words
Setelah menjadi semakin dekat, Ia segera melihat jika bayangan yang ada di depannya adalah dua sosok manusia yang sedang melakukan sebuah perbuatan tak wajar. Sejenak ia mengamati mereka dalam temaram lemah lampu yang menyela  tanaman liar di pagar besi tersebut. Sementara, bayangan tersebut itu terus saja bergerak-gerak seperti sedang bergumul di atas rerumputan. “Toloongg ... mmmfftt ...” kembali terdengar jerit suara seorang perempuan. Lalu, PLAKKK!! ... Terdengar sebuah tamparan keras yang akhirnya membungkan mulut yang tadinya berteriak. “Diam!! Atau aku akan benar-benar membunuhmu!” ancam suara seorang lelaki. Setelah menampar kepala sang wanita dengan keras, laki-laki tersebut segera berlutut dan menggerakkan tangannya untuk melepaskan celana yang dipakainya dengan terburu-buru. Sementara si korban yang sepertinya hendak diperkosa, kini hanya bisa memandang dengan mata terbelalak dan ekspresi ketakutan yang sangat. Wanita yang tergeletak di atas rumput dengan tidak berdaya, kini sudah tak berani mengeluarkan sepatah katapun suara. --- Mendadak ... sebuah bayangan gelap menghampiri dengan setengah berlari tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Dengan cepat, tubuh tegap namun lincah itu merangkulkan lengan kanannya pada leher si pemerkosa. Terkejut, laki-laki yang akan berniat jahat tersebut meronta saat sebuah tangan bagai baja menjepit lehernya hingga tak bisa digerakkan. “Toolo ... mmmffftt’” teriakannya terbungkam oleh gerakan tangan kiri bayangan hitam dibelakangnya yang segera membungkan mulut dengan jemarinya, serta langsung mencengkeram dagu dengan sangat kuat. Lalu, saat sang penjahat c***l itu hendak menggerakkan badan untuk bangkit dari berlututnya ... KREEEKKK !!! Suara keras yang menandakan gemeretak tulang terdengar, saat tangan sang bayangan gelap memelintir dagunya dengan cepat ke arah kiri. Berbarengan dengan itu, tangan yang menjepit leher melakukan kerjasamanya. Sigap, bayangan itu memeluk tubuh berat yang kini lemas tak berdaya. Lalu ia meletakkannya ke samping sambil menyeret agak menjauhi tubuh wanita yang terlentang di bawahnya. --- Sang korban yang hampir saja kehilangan kehormatannya, kini hanya mampu terbelalak saat tanpa diduga sama sekali telah mendapatkan sebuah pertolongan ajaib. Dengan cepat, wanita itu bangkit dan langsung membenahi pakaian tidurnya yang telah robek di beberapa bagian. Lalu, ia bersiap untuk melarikan diri dari tempat tersebut. Tak dinyana, sebuah pelukan kuat mendekap wanita yang baru saja akan mengayunkan kaki dengan panik. “Jangan ... Ohhh ... mmmfftt ...” kembali mulutnya terbungkam saat sebuah tangan kuat membekapnya. Lalu, ia menangkap sebuah  suara berat seorang lelaki yang terdengar bisa dipercaya, “Sssttt ... jangan takut. Jangan terburu-buru keluar. Di depan sana ada orang yang sedang menunggu ... kamu paham?” Wanita itu mengangguk. “Akan kulepaskan pelukanku kalau kamu berjanji untuk tidak berteriak atau lari ... mengerti?” Kembali wanita itu mengangguk. Lalu, si lelaki kembali berkata, “Ini demi keselamatan kita berdua. Karena orang tadi masih memiliki seorang kawan di depan sana.” Wanita itu kembali mengangguk-angguk dengan cepat. Kemudian, si bayangan hitam perlahan melepaskan tangannya ... --- Menggunakan sebuah isyarat tanpa suara, sang lelaki memegang lengan  wanita itu sebagai isyarat untuk mengikuti di belakangnya. Sang calon korban tadi, kini hanya mengangguk menurut saja karena tidak tahu harus melakukan apa. Sesaat, wanita itu meraba-raba kegelapan dengan panik. Setelah tangannya menyentuh sebuah bungkusan kain, ia tampak menghembuskan napas lega. Dengan terburu-buru, sang wanita bertubuh tinggi dan langsing itu segera mencangklong benda tersebut. Ternyata, itu merupakan sebuah tas kain yang terlihat cukup berat. Dengan buntalan yang ia letakkan di belakang; tubuh yang lemas dan terasa luluh lantak itu kini sepenuhnya memasrahkan diri pada sang dewa penolong. Ia mengikuti si laki-laki yang juga menggendong sebuah buntalan besar dengan tanpa suara. Ketika  keduanya tiba di depan pagar roboh yang menjadi akses keluar masuk darurat, Surya Kelana menoleh dan memegang puncak kepala di belakangnya agar menunduk. Mereka lalu mendekam dalam samar-samar kegelapan sambil mengamati sosok lain yang tengah berdiri dipinggir jalan sambil menghisap sebatang rokok. ---      Dalam keremangan, si wanita menatap wajah penolongnya dan menemukan sebentuk ukiran gagah serta tampan di sana. Rahangnya terlihat kokoh, menyangga bibir terkatup rapat yang menggambarkan sebuah kejujuran dan kekerasan hati. Sesaat kemudian laki-laki tersebut menoleh, lalu memberi isyarat dengan jari yang ia lekatkan pada bibirnya, “ sssttt ... kamu diam disini. Jangan bergerak sedikitpun,” demikian bisiknya sebelum ia meletakkan bawaannya, lalu meloncat lincah ke satu kegelapan lain.      Tak berapa lama dalam kebisuan, tiba-tiba terdengar teriakan perlahan dari laki-laki yang baru saja membuang puntung rokok ke tengah jalan, “Heeii ... sudah selesai belum? Ayo gantian, sekarang giliranku ...” teriak laki-laki bertubuh gempal itu sambil berjalan mendekati jalan masuk menuju halaman belakang bangunan tersebut. “Heiii ... kamu dimana? Jangan mau enaknya sendiri. Aku sudah menunggu dari tadi. Cepat! Waktu kita tidak banyak!” kembali, laki-laki itu berteriak. Tampaknya ia sudah tidak sabar lagi menunggu temannya yang dikiranya masih berasyik masyuk dengan wanita cantik yang mereka temukan tadi. Baru saja ia memasuki bagian pagar roboh yang sedikir terbuka ... Ughhhh ...  Hekkkk ... Seketika ia roboh, saat sebuah pukulan telak mendarat di tengkuknya. Belum cukup sampai di situ, bayangan yang tadi melumpuhkannya segera mendekat dan menunggangi tubuh yang tengkurap itu. Tanpa kata, kedua telapak tangan memegang dagu dan kepala si lelaki,  lalu ... Krekkk  ..., kembali sebuah puntiran pada leher membuatnya bungkam untuk beberapa lama. ---   “Ssstttt .... sini ...” bayangan tegap tersebut segera menuntun tangan si wanita saat ia sudah kembali menghampiri untuk mengambil bungkusan tas miliknya. Keduanya melangkah setindak demi setindak, lalu si lelaki memberi isyarat pada sang wanita untuk menunggu. Setelah itu, ia mengamati keadaan selama beberapa detik. Merasa aman, dengan cepat ia berlari menuju mobil ambulance yang terparkir tak jauh terparkir. Dari situ,  ia mengamati dan mendapati jika truk militer yang ada di sana ternyata kosong tanpa ada yang menjaga. Dengan cepat, ia kembali berlari menuju si tempat sang wanita berada. Lalu memberikan isyarat lagi agar ia diam mengikuti lagi tanpa bertanya apapun ... Sesaat kemudian, dua orang tersebut telah berada dalam mobil ambulance yang membawa mereka meninggalkan tempat tersebut ... ***  MASA SEKARANG ... “Bagas ... sekarang adalah waktu yang baik bagimu untuk belajar mengemudikan kendaraan roda empat dengan benar,” Kata sang ayah pada anaknya pada keesokan hari. “Ayah mau beli mobil lagi? Bagas kan sudah bisa menyetir,” tanya si anak dengan lugu dan sedikit memprotes. “He-he ... Iya, benar dugaannmu. Tapi itu bukan sesuatu yang penting. Membeli lagi atau tidak, kamu harus mengikuti kursus mengemudi agar bisa memiliki ketrampilan tersebut dengan baik dan benar. Selama ini, kau hanya bisa sekedar mengoperasikan mobil tua tanpa tahu beragam aturan dan etika mengemudi. Percayalah, itu pasti akan berguna untuk masa depanmu di rantau sana.” “Betul sekali, Yah. Selama ini, Bagas hanya bisa mengemudi di hutan saja. Kalau aku sudah mahir, tentu saja bisa mendapatkan tambahan uang dengan bekerja sebagai driver.” “Ya, benar. Tapi kamu pasti akan tahu sendiri nanti. Kegunaannya, tentu bukan hanya untuk itu. Belajarlah, karena ayah akan segera mendaftarkanmu mengikuti kursus agar bisa segera mendapatkan SIM. Selagi masih memiliki waktu libur panjang, ayah akan mengajarimu banyak hal tentang kendaraan roda empat serta yang lainnya,’ demikian kata sang ayah dengan tegas. “Baiklah, Ayah ... semoga saja tak berbeda jauh dengan apa yang sudah ayah ajarkan tentang kendaraan roda dua.” “Hmmm ... sepertinya, semua malah lebih mudah,” jawab Joko Putranto sambil tersenyum bijak. Keesokan hari, Bagas sudah mulai mengikuti kursus mengemudi secara private pada sebuah lembaga belajar. Berkat kecerdasan serta sisi keistimewaan motorik yang tergembleng semenjak kecil, tak memerlukan waktu lama bagi pemuda itu untuk menjadi mahir menguasai seluk beluk penggunaan kendaraan roda empat di jalan raya. ***       Beberapa hari kemudian, sebuah kejutan besar telah menunggu di rumahnya sepulang si pemuda dari kursus. “Wow ... kapan ayah memiliki peralatan secanggih ini?” tanya Bagas saat Joko Putranto memanggilnya menuju sebuah ruangan yang difungsikan sebagai tempat kerja kedap suara. “Ha-ha-ha ... sudah bebarapa lama ayah memasang ini. Hanya saja, sekarang baru ditunjukkan padamu agar kita bisa sama-sama belajar di sini,” jawab ayahnya sambil tertawa lebar. Semula, sang anak hanya mengira jika ruangan tersebut adalah sebuah kamar khusus yang hanya diperuntukkan sang ayah untuk melakukan berbagai kesibukan. Seperti halnya di tempat lama, Joko Putranto memang memiliki juga sebuah kamar untuk menyimpan berbagai benda-benda pribadi yang tak sembarangan boleh disentuh oleh anggota keluarga lain. Atas seijin sang ayah, Bagas sering memasuki kamar ‘rahasia’ ayahnya di rumah dulu. Namun di tempat yang baru ini ia tak sembarangan berani memasuki sebuah ruangan, jika sudah mengetahui jika itu merupakan kamar khusus  yang selalu terkunci.  Dan ... kejutan yang ditemuinya kini benar-benar membuat mulutnya ternganga. Satu set perangkat komputer dengan begitu banyak prosesor dan layar monitor lebar, tampak memenuhi ruangan tersebut. Sekilas, ia berpikir jika dirinya tengah masuk ke dalam sebuah ‘ruang tempur’ dari para gamer profesional, walaupun Itu hanya ia ketahui dari berbagai berita dan gambar saja. Tapi, sepertinya yang ini lebih canggih dan terlihat begitu menakjubkan. Kemudian, kata-kata sang ayah semakin tambah mengejutkan dirinya, “Mulai sekarang, kamu harus belajar mengoperasikan semua alat canggih ini. Dalam waktu beberapa bulan sebelum keberangkatanmu, kamu harus sudah bisa mahir dan lulus dengan mengesankan dari semua pelajaran yang akan diberikan.” “Tentang apa, Yah?” tanya si anak dengan heran. Ia sendiri sudah mahir menggunakan komputer, karena memiliki sebuah perangkat jinjing pribadi. Dan khususnya untuk trik hacking dan beberapa permainan pemula, semua sudah ia pelajari secara diam-diam dengan menggunakan kecerdasannya yang di atas rata-rata. “Hmmm ... katakan saja programing, hacking, pembobolan firewall, pengambil alihan kendali program, penyusupan, virus, dan lain-lainnya ...” Wajah si anak muda menunjukkan sebuah ekpresi yang begitu sulit untuk digambarkan. Ia begitu heran, karena ternyata ayahnya bisa bicara mengenai semua itu. “Siapa yang mengajari aku, Yah?” tanya Bagas kembali. “Ayah yang akan mengajarimu ...” senyum percaya diri tampak tersungging dengan arif di wajah bijak itu.  “Hmmm ... maaf, apakah ayah mengerti hal itu?” Tanya si anak dengan ragu-ragu. “Nak ... teknologi boleh berubah sesuai dengan jamannya. Begitu pula dengan komputer berbasis internet. Jaman telah maju sehingga semua sudah menjadi serba simpel. Tapi yang harus kamu tahu ... sebenarnya semua sama saja seperti dengan jaman dahulu, karena dunia digital selalu bersumber pada satu rumus, yaitu ‘coding’ atau pengkodean. Teknologi ini sudah lama diterapkan dalam dunia militer, sebelum belakangan para orang awam turut menggunakannya meski dalam batasan tertentu.” “Dan, ayah sudah menguasainya sejak dulu?” “Tepat! Tentu saja hal itu membutuhkan waktu yang sangat lama pada jaman dulu untuk mempelajarinya. Kini semua malah terlihat lebih sederhana, karena ayah tak pernah terlambat sedikitpun untuk selalu update perkembangan dunia digital.” “Wahh ... ayah hebat! Ternyata ini tujuan ayah saat berkunjung ke kota selama beberapa hari sekali dalam seminggu?”  “Antara lain, Iya. Nah ... sekarang kamu harus mulai belajar serta menghapal dengan baik, karena hal ini akan sangat berguna dalam perjalananmu nanti. Ayah yakin, tak akan butuh waktu lama bagimu untuk menguasainya. Selain masih muda, kamu juga mewarisi kecerdasan ibundamu yang memang sangat brilliyan.” ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD