Nadia pikir, dia akan langsung pulang setelah mengantar makan siang untuk sang suami. Tapi pada akhirnya dia justru tetap berada di sana sampai sore hari. Duduk manis sambil membaca majalah, sekaligus memantau Abimana yang terus berkutat dengan layar laptopnya. Lalu sesekali dia akan melihat interaksi antara Abimana dengan sekretarisnya, —Rhea. Melihat bagaimana interaksi keduanya, jujur saja bagaikan dejavu bagi Nadia. Seperti melihat dirinya sendiri dengan Abimana dulu waktu di awal-awal. Rasanya aneh, tapi Nadia tetap bungkam karena takut dengan pikirannya sendiri. Meskipun rasa curiga terus menggerogotinya, Nadia tetap berpikir jika suaminya tidak mungkin macam-macam. Nadia percaya jika Abimana berbeda dari yang lainnya. Tidak mungkin Abimana tega mengkhianatinya seperti mantan sua

