Suasana di balai lelang seketika membeku. Para tamu menatap kosong ke arah Sania Wulandari.
Mereka memandang pemandangan di hadapannya, putra mahkota terpandang yang berlutut dengan satu kaki di tanah, menampilkan sisi lembut yang nyaris tak pernah terlihat.
“Astaga!”
“Aku nggak salah lihat, kan? Mantan pacar? Tuan Zio pernah pacaran?”
“Nggak pernah dengar, sih.”
“Cewek itu siapa?”
Di belakang, kelopak mata Putri Pana sedikit bergetar saat ia mengaitkan lengan Surya Baskara, menariknya perlahan.
Surya Baskara tak lagi bersikap acuh seperti biasanya. Sania Wulandari malam ini memang berbeda, terlalu berbeda dari biasanya.
Ia menatap Zio Pratama yang berlutut ringan di hadapan Sania Wulandari cukup lama, kilatan kejam melintas di matanya.
Zio Pratama dengan lembut menyentuh pergelangan tangan Sania Wulandari, lalu menariknya berdiri.
“Siana,”
ia memanggil pelan, berhati-hati agar orang lain tak mendengar.
Sania Wulandari mengerutkan kening, menatap pria di depannya dengan bingung.
Zio Pratama dengan hati-hati mengalungkan kalung itu di lehernya, lalu merapikan kembali rantai d**a di bahunya.
Wajah Sania Wulandari memerah. Batu permata dingin menyentuh kulit lehernya, membuatnya menarik napas dingin beberapa kali.
Ada senyum di mata Zio Pratama, tangannya mengambil kesempatan menyentuh kulit lembut Sania Wulandari.
Melihat pria itu tak juga menarik tangannya, Sania Wulandari memanggil dengan pelan,
“Zio Pratama.”
Sudut bibir Zio Pratama terangkat, lalu dengan enggan menarik kembali tangannya.
“Suka nga?”
Sania Wulandari menyentuh batu permata di kalung itu, tersenyum tipis.
“Terima kasih, Tuan Zio.”
Zio Pratama mengangkat alis, bibirnya mengerut.
“Hanya itu?”
Menyadari tatapan panas di sekeliling, sudut bibir Sania Wulandari sedikit menurun.
“Hah?”
“Zio Pratama!”
Suara terdengar dari pintu masuk balai lelang.
Seorang pria mengenakan setelan Zhongshan melangkah masuk. Cincin giok di jarinya tampak mencolok, dan mata rubahnya melengkung lembut.
Kerumunan langsung menebak siapa pendatang itu dan spontan mundur beberapa langkah.
“Itu Tuan Yano.”
Desahan kagum samar masuk tepat ke telinga Sania Wulandari. Ia memperhatikan pria berperangai lembut di hadapannya.
“Ketua kelas, sudah lama tidak bertemu ya.”
Yano Setiawan mengulurkan tangannya, sudut matanya sedikit menurun.
Melihat tak ada niat buruk, Sania Wulandari pun mengulurkan tangannya dengan ramah.
“Tuan Yano.”
Pandangan Yano Setiawan menyapu busana Sania Wulandari, sudut matanya terangkat.
“Ketua kelas, penampilanmu hari ini…”
Sania Wulandari sedikit mengangkat tangan, menutupi kilau emas di bagian depannya, tatapannya sedikit menghindar.
Zio Pratama meraih Yano Setiawan, menariknya lebih dekat ke dirinya.
“Jangan ribut.”
Yano Setiawan memukul punggung Zio Pratama dengan kuat, berusaha melepaskan diri.
“Zio Pratama, lepaskan aku.”
Dua tuan muda yang biasanya sulit ditemui di ibu kota kini berdiri begitu saja di hadapan semua orang.
Ditambah Surya Baskara yang duduk di kursinya, tiga pewaris keluarga besar kini berkumpul di satu tempat.
Setelah paduan suara selesai tampil, juru lelang kembali ke tengah panggung.
“Para hadirin, selanjutnya kita akan memasuki sesi kedua pelelangan.”
Tatapan juru lelang bertemu dengan dua tuan muda di barisan depan yang masih berdiri. Ia tampak terkejut, namun tetap berusaha menjaga ketenangan.
Alih-alih duduk di ruang VIP lantai atas, keduanya justru duduk di kursi barisan depan yang biasanya selalu kosong.
Juru lelang mengusap keringat halus di dahinya.
“Sesi paruh kedua akan segera dimulai.”
Seiring gerakan tangannya ke belakang, sebuah benda muncul di tengah panggung, barang paling menyita perhatian malam ini.
“Para tamu terhormat, berikut adalah salah satu barang terpenting malam ini, Patung Buddha perunggu berlapis emas dari Istana Yongle Dinasti Ming.”
Tatapan panas para tamu tertuju pada patung di tengah panggung, diselimuti cahaya lampu seolah memancarkan sinar suci.
Buddha menyelamatkan semua makhluk, semoga semua makhluk hidup damai.
Begitu suara juru lelang mereda, sebuah papan bernomor emas perlahan terangkat.
Tatapan Surya Baskara terfokus pada mata patung Buddha. Dengan suara mantap, ia berkata,
“Satu miliar.”
Begitu kata-kata itu terucap, kerumunan yang semula gelisah perlahan menurunkan papan mereka.
Zio Pratama menopang dagunya, menoleh ke arah Sania Wulandari.
“Wan, aku bantu kamu melampiaskan.”
“Dua miliar.”
“Dua miliar! Tuan Zio mencetak rekor baru malam ini!”
“Dua miliar, sekali!”
“Dua kali!”
“Tiga kali!”
“Selamat, Tuan Zio!”
Pandangan Surya Baskara tertahan pada tatapan penuh perasaan Zio Pratama ke arah Sania Wulandari. Ia tak mengerti—sejak kapan mereka bersama?
Dan ucapan “mantan pacar” itu… sejak kapan pula?
“Koko,”
Putri Pana menggoyangkan lengan Surya Baskara dengan lembut.
Ia tersadar, melirik Putri Pana.
“Bang Surya,” suara Putri Pana sedikit bergetar,
“bagaimana kita menjelaskannya pada Ayah…”
Berita malam ini pasti akan diberitakan besar-besaran oleh media.
Wajah Sania Wulandari pada akhirnya juga akan terpampang di koran.
Surya Baskara memijat pelipisnya, nadanya tidak senang.
“Malam ini kita kembali dulu ke rumah lama. Dana dari Ayah cuma satu miliar, nggak bisa lebih.”
Ia menatap Sania Wulandari.
“Bersaing dengan Zio Pratama, kita tidak akan menang.”
Mengikuti arah pandangnya, Putri Pana menatap Sania Wulandari, bergumam pelan,
“Kenapa dia selalu seberuntung itu…”
“Ayo pergi.”Surya Baskara berdiri, merapikan jasnya.
Barang yang diinginkan tak didapat, dan istri perjodohannya malah duduk di samping musuh bebuyutannya.
Ia menatap punggung Sania Wulandari, lalu menggandeng Putri Pana dan meninggalkan balai lelang.
“Siana,”Luna Ayu mendekat ke telinganya, berbisik,“suamimu sudah pergi.”
Sania Wulandari menunduk, melirik pintu yang tertutup rapat, lalu kembali memandang ke depan.
“Hanya suami perjodohan. Biarkan saja.”
Telinga Zio Pratama berusaha menangkap percakapan itu. Ia mendekat beberapa langkah, hanya mendengar kalimat terakhir, “suami perjodohan”.
Sudut bibir Zio Pratama terangkat sedikit, suasana hatinya langsung membaik.
Ia merapikan postur kepalanya, lalu tersenyum ke arah Sania Wulandari.
Alis Sania Wulandari sedikit terangkat, dalam hati ia berpikir,
“Dia gila ya?”
“Bzzz—”
Sania Wulandari menunduk menatap pesan masuk di ponselnya. Tatapan matanya perlahan mengeras, suasana mendadak terasa berat.
[Segera pulang. Kakek mencarimu.]
Zio Pratama adalah orang pertama yang menyadari ada yang tidak beres. Ia mendekatkan kepala ke bahu Sania Wulandari dengan lembut. “Ada apa?”
Tubuh Sania Wulandari seketika menegang. Napas Zio Pratama menyapu ringan bahunya. Ia bergeser mendekati Luna Ayu, sambil menutup ponselnya rapat di depan dada.“Kamu ngapain?”
Zio Pratama mengangkat alis tipis, sudut bibirnya terangkat. “Lagi lihat pesan dari suami perjodohanmu, ya~”
Melihat nada suaranya yang setengah manja, tenggorokan Sania Wulandari bergerak pelan. “Kamu pengintip, ya?”
“Hanya buat kamu.”
Pipi Sania Wulandari perlahan memerah. Ia memalingkan wajah. “Tidak tahu malu.”
Zio Pratama tetap tersenyum, tatapannya panas menatap gadis kecil di sampingnya.
[Segera pulang!]
Alis Sania Wulandari makin berkerut. Ia mematikan layar ponsel, lalu berdiri.“Luna, aku pergi dulu,” katanya pelan.
Pandangan Luna Ayu masih tertuju pada batu mentah berkilauan di atas panggung. Ia mengangguk.
“Oh… eh,” ia buru-buru bertanya, “kamu nggak apa-apa kan?”
“Seharusnya nggak apa-apa.”Sania Wulandari pergi dengan langkah cepat, tak sekalipun melirik Zio Pratama.
Zio Pratama menatap punggungnya yang menjauh, pandangannya mengikuti diam-diam.
“Kamu nggak mau pigi ngejar?”Yano Setiawan membuka suara pelan di sampingnya, jarinya memutar jam tangan di pergelangan.
Zio Pratama meliriknya sekilas, melihat waktu, lalu bangkit dan mengejar.
Melihat Zio Pratama pergi, Luna Ayu mengalihkan pandangan ke arah Yano Setiawan, tersenyum tipis, lalu kembali menatap panggung.
Tatapan Yano Setiawan tertuju pada sisi wajah Luna Ayu sejenak, lalu ia duduk di sampingnya.
“Halo, saya Yano Setiawan.”
Luna Ayu tertegun melihat pria itu kini duduk di kursi yang sebelumnya ditempati Sania Wulandari.
“Tuan Yano.”
“Kamu?”
“Luna Ayu.”
Yano Setiawan mengangguk perlahan.
“Jadi kamu Nona Kedua keluarga Ayu yang baru kembali dari luar negeri. Senang bertemu dengan kamu.”
Luna Ayu tersenyum dan mengangguk kecil.
Di luar balai lelang.
Sania Wulandari menatap aplikasi pemesanan mobil di ponselnya—tak satu pun pesanan diterima. Ia menengadah ke langit berbintang.
“Sial sekali.”Ia melangkah ke samping, berniat berjalan ke pusat kota untuk memesan ulang.
“Vrooom—”
Keheningan malam dipecah oleh suara mobil sport. Sania Wulandari menoleh dan melihat sebuah McLaren merah berhenti di pinggir jalan.
“Siana, naik.” Zio Pratama menunjuk kursi penumpang di sampingnya.
Melihat mobil sport mencolok itu dan jalanan yang sudah sepi, Sania Wulandari berkata singkat, “Terima kasih.”
Ia membuka pintu belakang, tidak terbuka.
Sania Wulandari mengerutkan kening.
Dari kaca spion, Zio Pratama melihat ekspresinya dan tertawa pelan. “Aku bukan sopir.”
Sania Wulandari menatapnya sebentar, lalu duduk di kursi depan.
“Sabuk pengaman.”
Ia menurut, menarik sabuk pengaman, lalu menoleh ke luar jendela, menatap sunyinya ibu kota.
Malam menyelimuti kota. Seluruh kota akhirnya bisa beristirahat.
Di jalanan kios malam, lautan manusia memenuhi ruang, waktu makan malam para pekerja dimulai.
Odeng yang mengepul, aroma sate yang menggoda.
Sania Wulandari memandang sekeliling, lalu melirik Zio Pratama yang sedang menyetir.
Seolah merasakan tatapannya, Zio Pratama menoleh. “Lapar ya?”
Ia mengangguk pelan, menatap tajam sebuah kios martabak telur di pinggir jalan.
Saat itu, Zio Pratama hampir merasa fajar akan segera menyingsing.
Ia melihat ke kiri dan kanan, menemukan tempat parkir. “Tunggu di mobil.”
Menutup pintu, Zio Pratama memasukkan kedua tangannya ke dalam mantel cokelat mudanya dan berdiri mengantre di kios yang panjang.
Melihat punggungnya, Sania Wulandari tanpa sadar teringat masa muda mereka.“Siana, kamu mau makan apa? Aku traktir.”
Saat itu, Zio Pratama masih lebih kekanak-kanakan, pipinya masih sedikit berisi.
Lebih lembut dibanding sekarang.
“Martabak telur,” jawab Sania Wulandari sambil menunjuk kios di pinggir jalan.
Saat itu Zio Pratama seperti orang bodoh, semua hal terasa baru dan menarik baginya. Ia melihat kembang api tangan, makan jajanan pinggir jalan bersama Sania Wulandari.
Mereka tak perlu memikirkan apa pun, hari-hari dipenuhi tawa.
“Tok tok—”
Wajah Zio Pratama terpantul di kaca jendela. Sania Wulandari menatapnya lama sebelum akhirnya menurunkan kaca.
Ia menyerahkan martabak dari balik mantelnya ke telapak tangan Sania Wulandari. “Mau yang lain lagi nga?”
Menatap martabak di tangannya, Sania Wulandari menggeleng.“Ini saja.”
Zio Pratama berputar dan kembali ke kursi pengemudi.
Ia melihat Sania Wulandari menggigit beberapa kali dengan puas, tangannya bertumpu di setir.“Siana, beberapa tahun ini… kamu bahagia nga?”
Sania Wulandari terdiam sejenak, menatap pria yang sedang menatapnya itu.“Aku harus pulang.”Ia tak menjawab, sengaja mengalihkan topik.
Melihat tatapannya berubah dingin, Zio Pratama tak lagi bicara sepanjang jalan.
Mobil perlahan memasuki kawasan Jinluo. Saat kendaraan semakin masuk ke wilayah keluarga Baskara, Sania Wulandari berkata, “Aku turun di sini saja.”
Zio Pratama diam, tatapannya dingin saat menghentikan mobil di bawah pohon.“Terima kasih, Tuan Zio.”
Sania Wulandari berjalan ke samping, ujung gaunnya digenggam erat di tangannya.
Zio Pratama mencengkeram setir, menatap punggungnya yang keras kepala.
“Tin—”Klakson dibunyikan keras, memecah keheningan malam.
Beruntung, seluruh kawasan itu dihuni keluarga terpandang dengan dinding peredam suara yang tebal.
Mendengar amarahnya, Sania Wulandari tetap melangkah tanpa menoleh.
“Vrooom—”
McLaren merah melesat melewatinya, meninggalkan hembusan angin dingin.
Sania Wulandari menatap bayangan merah yang menjauh, tertegun lama.“Kita… tidak akan bertemu lagi, Zio Pratama.”