Di depan kediaman keluarga Baskara.
Surya Baskara berdiri di depan pintu. Rokok di tangannya ia padamkan dengan jari, menyisakan abu berwarna abu-abu.
Sania Wulandari melangkah melewatinya tanpa mengubah ekspresi. Kantong di tangannya sudah ia buang ke tempat sampah tadi.
Surya Baskara menatapnya yang sama sekali tidak memedulikannya. Amarah yang sudah menyala sejak pelelangan kembali bergolak di dadanya.
Surya Baskara meraih lengan Sania. “Sania Wulandari, apa kamu tidak punya sesuatu untuk dijelaskan?”
Sania menatapnya dingin.“Apa yang perlu kita jelaskan di antara kita?”
Ia melirik lengannya yang memerah, mengerutkan kening, lalu menghentakkan tangan Surya dan pergi.
Surya Baskara menatap punggung Sania yang menjauh, dan entah kenapa muncul perasaan seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Sania melewati deretan batu hias di kediaman Surya, lalu memutari air mancur kecil di halaman depan.
Ia berdiri di luar paviliun tinggi, menatap dinding putih dengan pola garis yang rapi, menarik napas dalam, lalu melangkah masuk ke vila.
“Nyonya muda sudah pulang!”Bibi Gaw berkata dengan gembira ke arah dalam.
Sania mengangkat sudut bibirnya sedikit, lalu menahan senyum itu. Ia memanggil dengan akrab, “Bibi Gaw.”
Sania berjalan masuk ke kediaman Surya. Rumah itu terasa sunyi dengan suasana yang tidak biasa. Ia memperhatikan sekeliling dengan hati-hati, merasakan tatapan orang-orang yang tertuju padanya, lalu tanpa sadar menyentuh bros di bahunya.
“Ehem.”Kakek Surya berdehem pelan, menghentikan semua tatapan.“Siana sudah kembali.”
Sania tersenyum tipis. “Iya, Kakek.”
Pandangan matanya perlahan bergeser ke sudut ruangan. Seorang gadis mengenakan gaun pesta berwarna ungu sedang berlutut di depan dinding, tubuhnya bergetar.
Tatapan Sania berhenti pada setitik darah di lantai. Alisnya berkerut pelan.
Mereka sudah menggunakan hukuman keluarga. Sania tersenyum kecil, mengangkat alis, lalu menatap lurus ke arah Qiana Musakti. “Mama.”
“Hm.” Qiana hanya mengangguk ringan, sekilas menatapnya.
“Siana,” Kakek Surya menarik pergelangan tangan Sania dengan lembut, “kamu sudah menderita.”
Pandangan beliau menyapu gadis di sudut ruangan.
Beliau mengayunkan tangan. “Putri Pana, kamu pergi ke luar negeri untuk belajar. Beberapa tahun lagi baru boleh kembali.”
“Tuan, tidak… aku tidak mau!” Putri Pana merangkak ke depan, memeluk kaki Kakek Surya, air mata mengalir deras di sudut matanya.
Pandangan Putri Pana beralih ke belakang Sania. “Bang Surya, tolong aku… aku tidak mau ke luar negeri.”
Surya Baskara mengerutkan kening. Ia menatap kakek dan ibunya yang berwajah muram, lalu menoleh ke Putri Pana yang masih berlutut di lantai.“Kakek, mengenai hal ke luar negeri—”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Kakek Surya langsung mengangkat tangan. “Bawa dia pergi.”
“Bang Surya, tolong aku!”Surya Baskara menatap Putri Pana yang diseret pergi oleh para pengawal. Tangannya perlahan mengepal.
Tatapannya kemudian jatuh pada kalung di leher istrinya—kalung pemberian Zio Pratama. Dalam benaknya hanya ada rasa malu dan amarah, ingin rasanya merobek kalung itu dan membuangnya ke tempat sampah.
“Malam sudah larut, sudah boleh balek ke kamar.”Kakek Surya bangkit tanpa menoleh sedikit pun ke cucunya dan langsung menuju kamar.
Qiana Musakti melangkah ke sisi Surya. “Menurutlah percakapan kakekmu.”
Surya Baskara menatap Sania yang sedang memainkan kalung di lehernya. Wajahnya gelap. Keduanya berjalan menuju kamar tidur.
Kamar itu tidak terlalu besar. Sania memindahkan bantalnya ke sofa.
Surya yang berdiri di belakangnya tanpa sadar kembali mengingat adegan di pelelangan—cara Zio Pratama menggoda Sania.
Surya Baskara melangkah mendekat dan memeluk Sania dari belakang.
Tubuh Sania menegang, ia berusaha melepaskan diri dari pelukan itu.
Surya Baskara yang terbiasa berolahraga memiliki otot lengan yang tegas. Dibandingkan Zio yang ramping, Surya lebih seperti pria bertubuh kekar.
“Surya Baskara!” Sania berhasil melepaskan diri dan menampar wajahnya.
Surya menggerakkan lidahnya pelan menekan pipi yang ditampar, menatap Sania yang berusaha menutup tubuhnya.
“Haha.” Ia menunduk sebentar lalu menatapnya kembali.“Di pelelangan tadi kamu kelihatannya hebat sekali, ya?”
“Kalung dari Zio Pratama itu kamu suka?”
“Bukannya kamu bilang tidak suka perhiasan?”
Surya menarik Sania ke meja rias, membuka laci. Di dalamnya penuh dengan perhiasan—beberapa sudah kusam, bahkan berdebu.“Apa keluarga Surya memperlakukanmu dengan buruk?”
“Hadiah dari kami tidak pantas, tapi dari Zio Pratama boleh?”
Surya menggenggam lengan Sania. “Sania Wulandari, kenapa kamu tidak tahu diri seperti ini.”
“Aku berusaha memberimu semua yang kamu inginkan. Kenapa kamu tidak mau melihatku sedikit saja?”
Ia menundukkan wajahnya ke leher Sania, terus berbisik,“Kenapa kamu tidak mau melihatku…”
Sania menatap pantulan dirinya di cermin—rambut berantakan, lengan memerah, terlihat sangat kacau.
Lehernya basah. Sania mengerutkan kening. “Surya Baskara, kamu benar-benar konyol.”
Wajah Surya dipenuhi air mata. Ia menatapnya dengan muka tanpa bersalah. “Ko… konyol…”
“Di depan semua orang, kamu membawa Putri Pana ke mana-mana, menjaganya tanpa pernah berpisah.”
“Kamu mengenalkannya pada orang-orang penting di dunia bisnis.”
“Surya Baskara, coba kamu tanyakan ke luar. Posisi nyonya keluarga Surya itu—selain kamu—siapa yang tidak tahu Putri Pana mengincarnya.”
Tatapan Surya terus menghindar. Tangannya yang mengepal perlahan mengendur.
Suaranya tidak stabil. “Sania, aku tidak seperti itu… aku bukan.”
“Bukannya kamu tidak tahu.”
“Kamu hanya membuka pintu hati milikmu untuknya, membiarkannya masuk terus-menerus.”
“Sementara aku masih harus mencari kunci untuk membuka pintunya.”
Selama bertahun-tahun, Putri Pana selalu berada di sisi Surya. Pintu kantornya selalu terbuka untuknya.
Sebaliknya, Sania sebagai istri sah, meski hanya mengantar makanan atas permintaan kakek, berkali-kali ditolak masuk.
Surya Baskara terdiam, menatap kesunyian di mata Sania, lalu menundukkan kepala.“Sania Wulandari, kamu hebat.”
Ia membungkuk, mengeluarkan sebuah dokumen dari bawah tempat tidur. “Kamu mau cerai?”
Judul Surat Permohonan Perceraian terpampang jelas di hadapan Sania. Matanya panik, ia maju hendak merebutnya.
Surya dengan sigap mengangkat kedua tangannya dan menahannya di dinding. “Cerai? Aku tidak setuju.”
Sania menggigit bahunya dengan keras. Surya tersentak mundur beberapa langkah, bekas gigitan terlihat jelas, sedikit berdarah.
Sania bersandar ke dinding, menatapnya dengan meremehkan. “Surya Baskara, kamu pantas mendapatkannya.”
Ia tidak berhenti lagi. Mengambil tasnya dan pergi.
Surya memegangi bahunya sambil terengah, menatap punggung istrinya yang menjauh.
SUV hitam hasil modifikasi melaju keluar dari gerbang kediaman Surya dan segera menghilang dari pandangannya.
Surya bersandar di depan tirai jendela. Dokumen di tangannya ia lempar keras ke tempat sampah.
Ia mengambil ponselnya. “Tut—”
“Selidiki hubungan Sania Wulandari dan Zio Pratama.”
“Baik, Pak.”
Surya menatap ruangan yang dipenuhi aroma mawar, lalu mengepalkan ujung pakaiannya.
Di dalam mobil.
Tatapan Sania tajam, menatap jalan di depan tanpa tujuan.
Jalannya luas, tetapi tidak ada rumah yang menjadi miliknya.
Ia teringat keluarga Wulandari, lalu tersenyum pahit. Tempat itu masih bisa disebut rumah?
Sepertinya tidak. Kamarnya sudah lama ditempati orang lain.
Sania tidak punya rumah lagi.
Tanpa sadar, mobilnya melaju menuju pemakaman.
Ia menatap jalan gelap di luar jendela—terasa muram, sekaligus hangat dan membingungkan.
Sky City.
Mobil Sania berhenti rapi di tempat parkir. Ia mengambil sebotol minuman dari bagasi, lalu melangkah naik tangga satu per satu.
“Swoosh—”Pohon willow di pemakaman bergoyang tertiup angin kencang, ranting dan daunnya saling beradu.
Sania menundukkan kepala, menghitung langkah pelan-pelan. “Lima… enam… tujuh… delapan.”
Ia mengangkat kepala menatap makam di lantai delapan, berjalan dari sisi kanan ke tengah.
Saat sampai, Sania menarik napas dan memaksakan senyum.“Ma, aku datang.”
Ia menatap foto di batu nisan. “Ma, kamu baik-baik saja di sana?”
Sania menuangkan arak putih ke gelas di depan makam.“Aku bawakan minuman favoritmu. Coba lihat, rasanya masih sama atau tidak.”
Ia bersandar di samping nisan dan duduk cukup lama.
Bulan naik tinggi, cahaya pagi perlahan datang.
Mata Sania memantulkan cahaya hangat. “Ma, aku kehilangan orang yang penting.”
Bunga sedap malam di sekitar pemakaman tertiup angin, kelopaknya jatuh di bahu Sania.
Ia menunduk dan tersenyum. “Ma, aku juga merindukanmu.”
Setetes air mata jatuh ke tanah bersama kelopak bunga.
Sania memegang batu nisan dan berdiri. “Ma, aku pergi dulu. Lain hari aku datang lagi menemanimu.”
Ia menghapus air mata di sudut matanya dan meninggalkan arak putih di depan makam.
“Bibi, sudah lama tidak bertemu.”Zio Pratama menunduk, meletakkan bunga tulip, menatap ke arah Sania yang pergi.
Ia menatap foto di nisan itu cukup lama. “Bibi, sudah lama kamu tidak datang ke mimpiku.”
“Apa karena kepergianku dulu?”
“Maaf, Bibi. Aku tidak menepati janjimu.”
Zio menuangkan arak putih ke gelas yang sebelumnya dipakai Sania, hingga penuh.
Ia mengangkat gelas itu, menatap matahari yang perlahan terbit.
“Bibi, Sania sudah berubah.”
“Dia dingin, tapi pintar. Kariernya berjalan sangat baik.”
Ia meneguk arak itu. Panasnya membakar perutnya di pagi hari. Alisnya berkerut sebelum akhirnya menurunkan gelas.“Bibi, kali ini aku tidak akan pergi lagi. Aku akan melindungi Sania.”
“Bahkan jika dia tidak membutuhkanku, aku tetap akan berdiri di belakangnya.”
Zio memegang satu tangkai tulip lama, sudut bibirnya perlahan terangkat.“Bibi, aku pergi dulu.”
“Sampai jumpa.”