Area parkir.
Zio Pratama menatap Sania Wulandari yang bersandar ringan di kap mobil, tangannya dimasukkan ke saku mantel.
Sania menundukkan alisnya sedikit. Setangkai tulip kuning muncul di hadapannya.
Sania mengangkat kepala. Senyum yang terangkat di sudut bibir pria itu, dengan mata berbentuk bunga persik yang sedikit menyipit, tampak begitu mencolok.
Sania menatapnya. Semua rasa tertekan dari semalam seketika meluap. Air mata di sudut matanya pecah begitu saja.
Zio memandangi sosok rapuh yang jarang ia lihat sejak pertemuan kembali mereka, dan hatinya terasa perih.
Ia mengulurkan tangan dengan hati-hati, menepuk punggung Sania pelan, lalu memeluknya ke dalam dadanya.
Sania terus menghirup aroma parfum kayu khas Sania yang hanya dimiliki Zio Pratama.
Matahari perlahan naik, orang-orang mulai muncul di area parkir.
Zio mengambil kacamata hitam yang terselip di kepalanya dan dengan lembut memakaikannya ke mata Sania. Ia mengambil kunci mobil dari saku Sania, menuntunnya ke kursi penumpang depan, lalu berjalan ke kursi pengemudi.
Tubuh Sania masih tersengal-sengal, matanya menatap cahaya matahari di luar jendela.
Suasana di dalam mobil sunyi hingga terasa menyesakkan. Sinar hangat jatuh ke mata mereka.
Waktu seolah berhenti.
Mobil perlahan memasuki kawasan Perumahan Phoenix Crown.
Sania menatap rumah-rumah asing di sekeliling, lalu menoleh menatap Zio.
“Istirahat dulu.”
“Kamu turun, aku akan pergi sekarang,” Sania langsung berusaha mendorong Zio keluar dari mobil.
Zio menahan kedua tangan Sania dengan satu tangan, tangan lainnya tetap di setir.“Jangan berisik.”
Zio menatap kacamata hitam yang menutupi wajahnya, melihat mata Sania yang merah penuh urat darah.
Tatapannya merendah.
Mobil berhenti di depan sebuah vila. Zio turun dengan sigap, berjalan cepat ke sisi Sania, membuka pintu, lalu membungkuk menatapnya.“Turun.”
Sania menghindari telapak tangannya, bangkit, dan menatap rumah besar di hadapannya.
Ia memandang vila itu dengan tenang. Bentuk bangunannya terasa mirip dengan sesuatu dalam ingatannya.
Taman, ayunan, kolam ikan kecil.
Desain rumahnya pun serupa.
Zio menatap Sania yang terdiam seperti patung, lalu menarik tangannya pelan dan membawanya masuk ke vila.
Berbeda dengan hangatnya halaman, interior vila terasa dingin dan kaku.
Perabotan dengan warna senada, lantai berwarna gelap, menghadirkan kesan muram.
Zio membungkuk, mengambil sepasang sandal wanita dari dalam, meletakkannya di depan Sania.“Ganti sepatu dulu.”
Ia menatap gerakan Sania hingga benar-benar mengenakan sandal itu, barulah mengalihkan pandangan.
Sania memperhatikan sekeliling. Kursi goyang di dekat jendela besar, boneka hasil mesin capit yang dulu mereka menangkan bersama di atas sofa.
“Lihat apa?” Zio kini memegang kompres es kecil. Ia menunjuk ke arah tangga. “Ayo.”
Sania tetap berdiri di tempat, tak berniat naik.
Zio berdiri di sisi tangga, menatapnya, lalu tersenyum kecil.“Aku tidak akan menyentuhmu.”
“Lagipula, bagian tubuhmu mana yang belum pernah aku sentuh?”
Telinga Sania langsung memerah. “Zio Pratama!”
Zio melangkah mendekat, membungkuk sejajar dengannya.“Naik?”
Sania meliriknya tanpa menjawab.
Beberapa detik kemudian, ia hendak melangkah pergi.
Zio menariknya dengan satu tangan, mengangkatnya menyamping di bahunya, lalu melangkah cepat ke lantai atas.
“Zio Pratama, lepaskan aku!”
“Zio Pratama!”
Zio mengangkat alis, menepuk pantatnya dengan ringan. Tubuh Sania langsung diam.
Zio tersenyum kecil melihat gadis itu akhirnya tenang.
Dengan satu tangan menopang Sania, tangan lainnya membuka pintu kamar.
“Uh—” Sania segera menopang tubuhnya, menatap pria yang kini memandangnya dari atas. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya lebih rapat.
Melihat gerakannya, niat nakal muncul di benak Zio. Sudut bibirnya terangkat.
Ia mendekat perlahan, menarik pergelangan kaki Sania yang ditarik mundur, membungkuk, menatap mata Sania yang perlahan terpejam.
Zio memiringkan kepala dan berbisik di telinganya, “Seantusias itu?”
Sania langsung membuka mata dan mendorongnya. “Zio Pratama!”
“Hmm, aku di sini.” Zio sudah berbaring di ranjang, memiringkan kepala menatap Sania yang bangkit.
Sania menatapnya beberapa detik lalu hendak pergi.
Zio mengeluarkan kunci mobil Sania dari sakunya dan mengayunkannya pelan.
Sania menoleh. Suara itu terlalu familiar. Kunci mobilnya tergenggam erat di tangan Zio.
“Tidak jadi pergi lagi?”Zio menopang tubuhnya dengan satu tangan, menatap Sania yang berjalan cepat ke arahnya.
Sania mengulurkan tangan hendak merebut kunci itu. “Kembalikan kunci aku.”
Zio menatap Sania yang kini berada di atas tubuhnya. Tangannya diletakkan di pinggang Sania yang ramping. Senyumnya tak tertahan.“Sania.”Suaranya sangat pelan.
Wajah Sania memerah. Ia menunduk, menyadari jarak di antara mereka.
Ia bergerak kecil ingin turun, namun Zio membalikkan tubuh dan menahannya di atas ranjang. Tatapannya tak lepas darinya, fokus pada bibir Sania. Pupil matanya bergetar ringan.
“Sania.”Tubuh Zio perlahan menunduk, terus menuntut sesuatu, tangannya bergerak tanpa henti.
Beberapa saat kemudian…
Baru ia melepaskan.
Sania terengah, kedua tangannya melingkar di leher Zio, matanya menatap mata pria itu.
Zio membuka mata perlahan, menatap wajah Sania yang memerah dan malu. Alisnya melengkung, ia melepas kemejanya.
Ia melanjutkan tuntutannya…
Sinar matahari masuk tipis ke dalam kamar, beberapa kali jatuh ke mata Sania, namun selalu ditutupi Zio dengan telapak tangannya.
“Zio Pratama…”
“Siana, panggil abang.”
“A… bang.”
Sudut bibir Zio terangkat. Gerakannya semakin dalam.
Tangan Sania menyusuri tubuh Zio naik turun, suaranya makin serak.
“Zi… Zio Pratama.”
“Hmm, aku di sini.”
Menjelang senja.
Saat malam mulai turun, Zio merasakan sisi ranjang di sebelahnya sudah lama kehilangan kehangatan. Kepalanya bergeser mendekat ke arah kepala lain.
Ia membuka mata perlahan dan melihat sosok yang begitu ia kenal.
Saat itu, ia yakin—kekasihnya, Siana-nya, telah kembali.
Zio bangkit perlahan, menuju kamar mandi, menatap lehernya di cermin—bekas merah dengan ukuran berbeda-beda. Jarinyanya menyentuhnya pelan, pikirannya kembali ke lima hari lalu.
Lima hari lalu…
Bar Ice Sky.
Lampu bar redup. Lorong dipenuhi aroma alkohol dan asap rokok, mabuk ringan bercampur sedikit kesegaran.
Zio baru saja menghadiri pertemuan bersama Yano Setiawan dan para pewaris keluarga kaya lainnya.
Satu tangan Zio di saku, menatap tatapan-tatapan di sekelilingnya, menghadapi satu per satu orang yang datang meminta nomor ponselnya.
Wajahnya tenang, siap mengangkat tangan untuk menolak kapan saja.
“Zio,” pandangan Yano tertuju ke sudut tertentu. Tangannya menepuk d**a Zio tanpa henti.
Zio mengikuti arah pandangannya dan melihat seseorang yang ingin ia kenali namun tak berani ia pastikan.
Itu Sania.
“Itu mantan pacarmu, kan? Ketua kelas kita waktu SMA?”
“Ya.” Zio menunduk, namun sudut matanya terus mengarah ke sana.
Sania tampak limbung, wajahnya merah seperti tomat. Pergelangan kakinya lecet hingga sedikit berdarah karena sepatu hak tinggi. Di sampingnya berdiri seorang pria berwajah berminyak yang terus menilai tubuh Sania dari atas ke bawah.
Zio menahan ekspresi, melewati Sania tanpa perubahan wajah.
Ia tak ingin ikut campur, tapi melihat keadaannya sekarang membuat hatinya tidak nyaman.
“Aku tidak mengenalmu.” Suara Sania pelan, tapi satu kata pun tak luput dari telinga Zio.
Jantung Zio sempat berhenti sesaat. Matanya melebar, langkahnya melambat. Tangannya mengepal di dalam saku.
Tangan pria itu perlahan mencengkeram lengan Sania.
Zio tak tahan lagi. Ia meraih lengan pria itu, menekan kuat, menatapnya dari atas.
Pria itu kabur terbirit-b***t. Begitu ia pergi, Sania kehilangan penopang.
Tubuhnya miring dan jatuh tepat ke d**a Zio.
Lampu berkedip, dan jantung Zio kembali berdebar.
Aroma mawar yang familiar masuk ke indera penciumannya. Tenggorokan Zio bergerak. Ia menoleh dan melihat Yano berdiri dengan tangan terlipat, menonton seperti sedang menyaksikan pertunjukan.
Zio menghela napas dan menggendong Sania.
Di luar bar.
Zio menunggu mobil datang, lalu dengan lembut meletakkan Sania di kursi belakang.
Yano dengan perhatian membuka pintu untuk mereka. Begitu Zio masuk, ia langsung berkata, “Jalan.”
Yano menahan jendela, matanya membesar. “Zio Pratama, maksudmu apa? Aku bagaimana?”
“Pulang sendiri.”
Belum sempat Yano bereaksi, bau knalpot sudah memenuhi hidungnya. Ia menatap mobil yang pergi tanpa ragu, hatinya terasa dingin.
Zio menatap Sania yang terbaring tenang di pangkuannya. Ia menyingkirkan rambut lengket dari wajah Sania dengan lembut.
Sania bergumam pelan. Awalnya Zio tak memperhatikan, tapi setelah beberapa kali, ia akhirnya mengerti.
“Zio… Zio Pratama…”
Mendengar itu, sudut bibir Zio terangkat. Ia menepuk lengan Sania pelan, memberinya rasa aman.
“Tuan Zio,” sopir di depan melirik lewat kaca spion, berbicara hati-hati, “kita sekarang…”
“Ke Hotel Lantern Bell.”