Zio Pratama dengan lembut memainkan telapak tangan Sania Wulandari, menatap gadis kecil yang terlihat sedikit linglung di hadapannya, lalu tertawa pelan.
Sebuah ciuman dalam jatuh di telapak tangan yang putih dan lembut itu.
Di luar, hujan rintik-rintik turun, mengetuk kaca mobil.
Sisa-sisa perasaan perlahan mengusik dasar hati Zio Pratama.
Mobil berhenti dengan mantap di depan hotel.
Zio menggendong gadis itu, menutupi wajahnya, lalu berjalan lurus memasuki lobi hotel.
“Tuan Zio,” seorang wanita berpakaian rapi dengan tanda manajer di dadanya berjalan hormat di sampingnya.
Tatapan Zio tajam ke depan, sama sekali tak meliriknya.
“Suite Presiden.”
“Baik, Tuan Zio.”
Manajer hotel menggesek kartu yang tergantung di dadanya di panel lift.
Gadis kecil dalam pelukannya tampak terganggu oleh suara luar. Zio menatap gadis yang menggeliat pelan itu, lalu menepuk punggungnya dengan lembut.
Lift terus naik perlahan hingga langsung ke lantai teratas.
Jumlah kamar di lantai atas tidak banyak. Zio berjalan ke kanan hingga ujung koridor.
“Di—”Pemindai retina memindai pupil mata Zio.
“Selamat datang kembali, Tuan.”
Tirai perlahan terbuka ke dua sisi, cahaya malam masuk perlahan ke mata Zio, membentuk siluet samar.
“Nyalakan pemanas air.”
“Baik, Tuan.”
Zio dengan lembut meletakkan Sania di atas ranjang. Melihatnya refleks mengendus bantalnya, sudut bibir Zio terangkat.
Ia melepas mantel dan meletakkannya sembarangan di sisi ranjang.
Melangkah ke kamar mandi, Zio menatap dirinya yang tampak sedikit berantakan di cermin dan tertawa getir.
“Zio Pratama… Zio Pratama.”
“Kau benar-benar gila.”
Air dingin mengalir deras dari atas tubuhnya. Ia mendongakkan kepala, terengah, menatap bayangannya di cermin tanpa menghentikan gerakan.
“Brak—”
Zio mengernyit, mematikan air, menyampirkan handuk di tubuhnya, lalu keluar.
Wajah Sania pucat. Ia menutup mulutnya, melewati Zio tanpa menatapnya, lalu berlutut di depan toilet.
Zio mengangkat alis, menatap gerakannya yang tampak sudah sangat terbiasa.
“Sania, ada apa?” Zio mengulurkan tangan.
Sania menatapnya sekilas lalu menunduk sambil tersenyum kecil.
“Ini mimpi lagi?”
“Sania?”
“Mau mimpi atau tidak, semuanya palsu. Sekalian saja.”
Sania menerjangnya tiba-tiba, menabrak tubuh Zio. Jarinya menyusuri bibir Zio hingga ke otot perutnya.
“Mimpi malam ini terasa sangat nyata.”
Ia mendekat ke bibir Zio.
“Zio Pratama, cium aku.”
Kalimat penuh napas panas itu sepenuhnya menyalakan kembali api yang baru saja Zio padamkan.
Zio menunduk, membalas dengan rakus, seolah menikmati gula cair yang disodorkan padanya.
Hingga wajah Sania memerah dan ia memukulnya pelan, barulah Zio melepaskannya. Ia menjilat sudut bibirnya, menatapnya seperti mangsa.
“Zio Pratama, hari ini kamu galak sekali,” Sania bersandar di dadanya, kedua tangannya melingkari lehernya erat.
Zio menyibakkan rambutnya ke belakang telinga, tersenyum. “Lalu bagaimana Sania ingin aku memanjakanmu?”
Sania menggeleng-gelengkan kepala, senyumnya makin cerah.
“Aku mau kamu…” jarinya berhenti di ujung hidungnya, “…memelukku erat.”
Zio menurutinya, memeluknya erat.
“Ke ranjang,” kata Sania sambil melingkarkan kakinya di pinggang Zio.
Zio meletakkan gadis itu di atas ranjang, menatapnya tenang, menunggu perintah berikutnya.
Kedua tangannya menopang ranjang, tatapannya lembut pada wajah Sania.
“Zio Pratama…” Sania perlahan menurunkan pakaian di bahunya, gerakannya lambat, matanya tak pernah lepas darinya.
Tatapan Zio terpaku. Ia menahan gerakannya, jakunnya bergerak. “Sania, kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan?”
Sania mencium bibirnya pelan. Aroma alkohol yang kuat mengalir ke mulut Zio, dan ia pun tak mampu menahan diri lagi.
Meski ia tahu Sania sudah bersuami.
Meski ia tahu lima tahun telah berlalu sejak pertemuan terakhir mereka.
Hatinya tetap mekar, berdenyut, dan berhenti hanya untuknya.
Keesokan harinya.
Sania menggerakkan kepala, menyipitkan mata menatap cahaya matahari yang menyelinap dari celah tirai.
Tubuhnya menegang saat mencium aroma parfum kayu di sampingnya. Ia segera menoleh ke pria di belakangnya—Zio Pratama.
Sania duduk tegak.
“Ah—” Ia menahan pinggangnya, bibirnya terkatup.
Zio tersenyum kecil, menariknya kembali ke dalam pelukannya.“Kamu kecapekan semalam. Tidur lagi sebentar.”
Sania terdiam di dadanya, pikirannya sepenuhnya sadar. Melihat bekas-bekas yang ia tinggalkan di tubuh Zio, wajahnya memerah.
Ia berusaha melepaskan diri.
“Jangan bergerak.” Zio mengusap kepalanya lembut, menahan tubuhnya dengan kaki.
“Zio Pratama, sudah aku punya suami.”
Meski musim panas, hati Zio terasa seperti ditusuk es yang dingin menusuk langsung ke isi hatinya.
Tubuhnya menegang. Ia melepaskannya.
Sania bangkit, mengambil pakaian dingin di lantai, mengenakannya satu per satu.
Melihat pesan di ponselnya, alisnya mengernyit.
“Swish—”
Sania menatap pria telanjang di hadapannya, mengangkat alis. “Tuan Zio, kamu tidak bisa menerima kalah?”
Wajah Zio menggelap, lalu ia tersenyum ringan. “Memang agak tidak bisa.”
Tubuhnya menekan turun. “Kita main lagi. Semalam kurang.”
Tatapan Sania berubah dari datar menjadi terkejut. Ia mulai mendorongnya.“Zio Pratama, kamu gila!”
Zio tak menjawab. Ciumannya turun satu demi satu, pakaian Sania robek dan terlepas.
Ponsel di tangannya jatuh, tubuhnya melemas.
Zio melihat layar yang menyala. Sambil mencium, ia mengambil ponsel itu dan melihat belasan panggilan masuk. Ia mengangkat alis, lalu menelepon balik.
“Sania, jawab telepon suamimu.”
Mata Sania membesar. “Zio Pratama!”
Ia menggeleng panik, menatap ponsel di telinganya.
“Halo? Sania, ada apa?” suara Surya Baskara terdengar tenang. Nada suaranya terdengar cukup baik.
Zio tersenyum, namun diam-diam menekan lebih kuat.
Sania menggigit bibir, menatapnya memohon.
Zio tidak mengambil ponsel itu, satu tangannya menahan perutnya.
“Aku salah sambung, maaf.”Sania cepat-cepat menutup telepon, meninggalkan Surya Baskara yang kebingungan di seberang.
“Seru, kan?” Zio memeluknya, suaranya pelan.
Sania memeluknya erat agar tidak jatuh. “Cepat selesaikan.”
Zio tersenyum, mencium telinganya. “Baik.”
Sesi ingatan habis, Zio kembali melihat ke pandangan mata sendiri yang di depan cermin.
Uap memenuhi kamar mandi. Zio menyibakkan rambut basahnya, mendongak.
Ia mengenakan jubah mandi seadanya, mengeringkan rambut, lalu menatap Sania yang terkapar lelah di ranjang dengan senyum puas.
Kali ini… berapa lama lagi ia akan tidur?
Zio duduk di sisi ranjang, menatap bekas-bekas miliknya di tubuh Sania, lalu menyelimutinya.“Sania, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku.”
“Bzz—”
Zio menatap pesan di ponselnya, alisnya berkerut.
【Zio, besok pulang ke rumah.】
Keesokan harinya.
Sania mencium aroma parfum kayu di tubuhnya dan membuka mata perlahan.
Di sampingnya duduk seorang pria yang mengetik cepat di laptop.
“Sudah bangun?” Zio menurunkan pandangannya ke gadis yang masih mengantuk itu.
Sania menunduk lagi.
Zio mengusap kepalanya. “Jangan bersembunyi.”
Ia menyerahkan ponselnya. “Suamimu menelepon semalam.”
Sania melihat ponsel itu. Tidak ada pesan penting. Soal Surya Baskara… ia tidak peduli.
Melihatnya tak berniat menelepon balik, sudut bibir Zio terangkat.
“Ayo.” Zio berdiri dan mengulurkan tangan.
Sania mundur beberapa langkah, waspada. “Kamu…”
“Sarapan. Sudah hampir dingin.” Zio menatapnya pasrah.
Ia tahu dirinya b******n, tapi kondisi tubuhnya lebih penting.
“Aku tidak sebajingan itu.” Ia kembali mengulurkan tangan, tatapannya lembut.
Sania mendekat dengan ragu, tapi tidak menggenggam tangannya.
Ia berjalan di belakang Zio, menatap punggungnya yang sibuk. Karena melamun, ia menabraknya saat Zio berhenti.
“Ah.” Sania mengusap dahinya, menatap Zio yang membungkuk ke arahnya.
“Tidak apa-apa?”
“Lagi mikir apa?” Zio menyilangkan tangan di d**a. “Mau balikan denganku?”
Tatapan Sania menjadi dingin. Ia mendorongnya pelan dan duduk di meja makan lain.
Hidangan di depan terlihat indah. Jika bukan karena aroma minyak samar di tubuh Zio, Sania tak akan percaya bahwa pria yang dulu bahkan merebus telur pun bisa membuat dapur penuh asap, kini bisa memasak sarapan dengan sempurna.
“Enak?” Zio menopang dagu, matanya berbinar.
Sania meliriknya dan mengangguk pelan.
Zio tersenyum puas melihatnya makan.
“Di mana kunci mobilku?” Sania meletakkan alat makan, menatapnya dingin, seolah kehangatan dua malam lalu hanyalah ilusi.
Hati Zio tersentak. Ia terdiam, lalu menurunkan pandangan, mengeluarkan kunci dari sakunya dan meletakkannya di telapak tangan Sania.
Sania membeku. Ia membayangkan Zio akan marah atau mengelak, tapi bukan menyerah setenang ini.
Melihat kunci itu, hatinya terasa tidak nyaman.
Ia menggenggamnya, berhenti sejenak, lalu berkata pelan,
“Zio Pratama, tidak ada kemungkinan di antara kita. Bukan hanya karena aku sudah menikah…”
Zio menatap punggungnya, matanya memerah.
“Tapi juga karena jarak di antara kita adalah jurang yang tak mungkin dijembatani.”
Sania pergi tanpa menoleh. Kelembapan di matanya tak mampu menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
Zio tidak menghentikannya. Ia hanya berdiri diam, menatapnya meninggalkan vila, meninggalkan kawasan itu, tanpa pernah menoleh kembali.