Jejak Masa Lalu

1695 Words
“Bzzz—” Sania Wulandari melirik ponsel yang tergeletak di kursi penumpang, lalu menepikan mobil ke pinggir jalan. 【Sania, kamu tidak apa-apa semalam?】 【Surya Baskara sampai mencariku.】 Ekspresi Sania perlahan mengendur. Melihat pesan penuh kekhawatiran dari Luna Ayu, ia langsung meneleponnya. “Sania, Sania, kamu baik-baik saja?” Begitu tersambung, suara Luna terdengar sangat cemas. Sania bersandar ringan di kursi, menatap para mahasiswa yang berlalu-lalang di luar jendela, pandangannya mengikuti langkah mereka. “Aku tidak apa-apa.” Mendengar jawabannya, Luna akhirnya sedikit tenang. “Syukurlah. Kamu di mana sekarang? Aku ke sana.” Sania menoleh ke kafe di pinggir jalan dan menyebutkan satu nama dengan santai, “Ting's Cafe.” “Oke, aku ke sana.” Sania menarik napas dalam beberapa kali, lalu perlahan membuka ruang obrolan Surya Baskara. 【Malam ini kita bicara.】 Surya Baskara sedang duduk di ruang rapat. Ia mengangkat ponselnya dan membalas singkat, 【Baik.】 Sania masuk ke Ting's Cafe. Aroma kopi memenuhi ruangan. Ia sedikit memejamkan mata, lalu menatap pemilik kafe yang sedang memetik senar gitar di atas panggung kecil. “Selamat datang.” “Yano… Setiawan?” Sania sedikit menunduk, mengamati pria berambut panjang yang diikat asal di belakang kepalanya. Mendengar suara yang familiar, Yano perlahan mengangkat kepala dan menatap gadis di hadapannya. “Ketua kelas?” Sudut bibir Yano terangkat, matanya berbinar. Ia mengusap telapak tangannya ke celana, “Kamu kok bisa ke sini?” Sania tersenyum, sedikit menyembunyikan bekas di lehernya, rambut di sisi telinga jatuh menutupi jejak itu. “Ada janjian dengan teman.” Yano mengangguk seolah paham, tidak bertanya lebih jauh. “Duduk saja dulu, kalau perlu apa-apa panggil aku.” “Krincing—” Yano menoleh ke arah pintu dengan senyum ramah. “Selamat datang.” Luna Ayu memegang gagang pintu, menatap pria yang baru dikenalnya itu. “Tuan Yano.” Suaranya sedikit bergetar, pandangannya melayang ke sekitaran. “Ketua kelas ada di sana.” Yano melangkah mundur, telapak tangannya terbuka menunjuk sudut ruangan tempat Sania duduk. Luna mengangguk kecil dan berlari kecil menuju Sania. Sania tersenyum tipis sambil meletakkan ponselnya, menatap Luna yang berjalan ke arahnya dengan topi kelinci di kepala, matanya berbinar. “Sania.” Luna duduk di sampingnya, topi di kepalanya dilempar sembarangan ke samping. Luna mengamati Sania dari ujung kepala sampai kaki. “Sania, kamu benar-benar tidak apa-apa?” Tatapan Luna berhenti di bekas ciuman di leher Sania, alisnya sedikit berkerut. Kemeja Sania yang kusut serta aroma parfum kayu khas di tubuhnya sudah cukup menjelaskan segalanya. “Zio Pratama datang mencarimu?” Nada suara Luna tidak pelan. Mata Yano sedikit berhenti, melirik ke arah mereka dari kejauhan. Bubuk kopi di tangannya sedikit tumpah. Yano membersihkan meja, lalu menyeduh kopi lagi dengan rapi. “Kopinya datang, dua nona cantik.” Yano tersenyum, pandangannya tanpa sadar melirik ke leher Sania yang gelap tertutup rambut. Sania merasakan tatapan panas itu dan menarik rambutnya lebih ke dalam.“Kue kecil ini gratis untuk kalian.” Yano meletakkan kue di depan Luna. Di atasnya ada hiasan telinga kelinci yang berdiri lucu, bergoyang ke kiri dan kanan seiring piring digerakkan. Luna menatap kelinci kecil itu dengan mata berbinar. “Terima kasih, Tuan Yano.” Sepasang mata bulat seperti rusa kecil menatap ke arah Yano. Yano terdiam sesaat, lalu menggaruk kepalanya. “Sama-sama.” “Bzzz—” Yano menunduk melihat ponselnya, lalu memalingkan tubuh dan berjalan perlahan ke arah bar. 【FAHRENHEIT.】 Yano mengernyit melihat pesan baru dari Zio Pratama, lalu melirik lagi ke Sania yang sedang tersenyum cerah di sudut ruangan. 【Mantanmu ada di tempatku.】 Yano mengambil foto mereka dan mengirimkannya. 【Lagi sibuk.】 “Tring—” “Halo?” Yano bersandar santai, pandangannya mengarah ke Luna di kejauhan, suaranya terdengar malas. Suara Zio Pratama terdengar berat. Suasana di seberang telepon terasa seperti sebelum letusan gunung berapi—panas dan menyesakkan. “Di mana?” Yano mengangkat alis, merendahkan suara. “Ting's.” “Zio Pratama, jangan begini. Aku masih kerja, nggak bisa pergi menemanimu.” “Tut—tut—” “Sial!” Yano menatap layar ponsel yang kembali menyala, lalu meletakkannya dengan pasrah. Dalam hati ia mengumpat, berpikir tuan muda itu entah kambuh apa hari ini. Yano menenangkan diri, menatap kelinci kecil di kejauhan dan tersenyum ringan. Ia menggulung lengan bajunya, menoleh ke tanah liat di samping, lalu berjongkok dan mulai memutar roda. Kedua tangannya membelai tanah liat yang licin. Jari-jarinya yang tegas membentuk tubuh tanah liat dengan penuh keakraban. Wajah Yano tampak fokus menatap hasil karyanya. “Klik—” Yano tertegun dan mengangkat kepala, menatap kelinci kecil berwarna merah muda yang berdiri di hadapannya. Senyum muncul di wajahnya. Tangannya yang penuh tanah liat dengan hati-hati mengangkat kacamata berbingkai emas di wajahnya, tanpa sengaja mengoleskan tanah ke pipinya. Luna berdiri terpaku, sudut bibirnya terangkat. Ia menunjuk pipinya sendiri. “Di...sini kamu kotor.” Mata Yano berputar ke arah tangannya yang penuh tanah. Ia melangkah ke depan Luna, membungkuk sedikit. “Kalau begitu, bolehkah aku minta bantuan Nona Luna untuk membersihkannya?” Luna mundur hingga bersandar ke dinding, menatap wajah sempurna yang tiba-tiba begitu dekat. Ia mengangguk pelan. Luna mengambil tisu di sampingnya dan dengan lembut mengusap tanah di wajah Yano.“Sudah.” Senyum Yano tetap terangkat. Ia mengucapkan terima kasih dengan lembut. “Krincing—” Aroma parfum kayu khas menyebar di udara. Seorang pria masuk dengan langkah tergesa. Pakaiannya rapi dan formal, kontras dengan kafe penuh nuansa seni ini. Zio Pratama menatap Luna yang tampak terkejut dan Yano yang meliriknya dengan datar. “Luna.” Suara Sania yang lembut lebih dulu terdengar. “Aku pergi dulu.” Zio terpaku sejenak menatap Sania. Namun Sania tidak memberinya satu pun pandangan dan langsung berjalan melewatinya. Melihat sikap Sania, Luna langsung tahu, Zio Pratama pasti sudah membuatnya marah. Luna menyilangkan tangan dengan puas, menatap Zio yang tampak sedikit terpuruk. Namun ia lupa… dirinya masih di dalam cafe ini…… Dua tuan muda yang sudah melihat banyak dunia, tentu tidak akan gentar hanya karena seorang gadis kecil…… Luna duduk di sofa. Di hadapannya, Zio Pratama duduk dengan wajah muram. Tatapan Zio lurus ke arahnya, tanpa berkata apa-apa. Hingga Yano selesai berganti pakaian dan berjalan menghampiri mereka. Luna seakan menemukan penyelamat, matanya terus melirik ke arahnya. “Zio, tanya saja.” Yano meletakkan tangannya di bahu Zio. “Jangan sampai menakuti gadis kecil ini.” Tatapan Zio tetap pada Luna, suaranya berat. “Nona Luna.” Luna mengait-ngaitkan kukunya, menunduk, tidak berani menatap mereka. “Ya, Tuan Zio.” “Selama ini… seberapa banyak yang kamu tahu tentang Sania dalam hal beberapa tahun ini?” Mendengar pertanyaan itu, pandangan Luna menguat. Ia tidak akan pernah mengkhianati Sania-nya. Bahkan jika kamu tuan muda sekalipun, tetap tidak bisa! “Nona Luna, aku tahu beberapa hari ini aku telah banyak merepotkan Sania.” “Aku tidak berniat mempersulitmu. Aku hanya ingin memohonmu… memohon agar kamu mau menceritakan apa yang terjadi padanya selama beberapa tahun ini.” Luna menatap Zio sekilas, lalu menunduk melihat gelang persahabatan yang ia beli bersama Sania, mengelusnya pelan. Setelah lama terdiam, ia akhirnya berbicara. “Sania tidak hidup dengan baik selama beberapa tahun ini.” “Kalian tahu, Surya Baskara sama sekali tidak mencintainya. Bahkan selama ini ia selalu membawa Putri Pana di sisinya, dua puluh empat jam tanpa berhenti.” “Dan lagi, pernikahan antara keluarga Surya dan keluarga Sania sampai sekarang tidak pernah diumumkan ke publik.” Melihat kepala Zio perlahan menunduk, Luna menarik napas dalam. “Tuan Zio, Sania dan Surya Baskara dulu punya sebuah perjanjian.” “Jika dalam tiga tahun pernikahan mereka tidak diumumkan, mereka akan bercerai secara damai.” “Sania tidak boleh membawa satu pun aset keluarga Surya. Artinya, tiga tahun masa mudanya akan lenyap begitu saja, tanpa imbalan apa pun.” Kedua tangan Luna mengepal. Ia mengucapkan kata demi kata dengan tegas. “Tuan Zio, Sania tidak seharusnya hidup seperti ini…” Suara Luna mulai bergetar, matanya memerah. “Hal detail lainnya Sania tidak pernah cerita… kamu tahu sendiri, dia sangat kuat dan tidak ingin orang melihat sisi lemahnya.” “Aku hanya tahu satu hal. Dia mengalah dan menikah dengan Surya Baskara… karena kamu.” Mata Zio membesar menatap Luna, lalu perlahan menunduk kembali, tidak berkata apa-apa lagi. “Tuan Zio, Tuan Yano, aku pamit dulu.” Luna mengusap hidungnya, berdiri, mengambil tas, lalu meninggalkan kafe. Yano mengantarnya dengan pandangan hingga sosoknya menghilang dari ujung jalan. Ia lalu menatap Zio yang duduk diam di dalam kafe, mengusap pelipisnya pelan. Melihat sahabatnya kembali terpuruk seperti dulu, seperti masa awal saat baru ke luar negeri. Mati rasa, belajar, bekerja, makan, tidur. Lima hal itu pernah memenuhi seluruh hari Zio Pratama di luar negeri. Saat itu, Zio terlalu gelap. Kemudian ia berpikir, paling tidak ia bisa kembali dan mengejarnya sekali lagi. Namun saat ia akhirnya bangkit dan untuk pertama kalinya menyewa detektif swasta, kabar yang ia dapat justru berita pertunangannya. Dalam foto, gadis itu menatap datar, sementara pria di sampingnya tersenyum bahagia menatap gaun pengantin yang dikenakannya. Pemandangan itu menusuk hati Zio dengan kejam. Saat itu, bahkan Yano tanpa sadar mulai membenci Sania, mengira ia terlalu mudah berpindah setelah putus. Namun Zio tidak pernah percaya itu. Ia yakin Sania-nya pasti dipaksa, pasti tidak rela. Dengan keyakinan itu, Zio bertahan di luar negeri selama lima tahun penuh. Foto-foto yang dikirim setiap tahun, dibakar satu per satu. Abu sisa foto-foto itu sudah memenuhi satu kotak penuh. Yano mendekat dengan hati-hati, menatap mata Zio yang kosong. Ia menggoyang lengannya. “Zio Pratama, kamu tidak apa-apa?” Zio menatapnya tanpa menjawab, lalu mengambil cangkir kopi yang tadi diminum Sania. Ia memutar cangkir itu ke arah bekas lipstik dan meminumnya.“Yano Setiawan, aku menginginkannya.” Yano menatap sahabatnya yang mulai kehilangan kendali dan mencoba menasihati, “Dia tidak akan kabur bersamamu.” “Aku akan mengikatnya di sebuah pulau. Tidak ada yang bisa menemukan kami.” “Yano, menurutmu kalau begitu dia tidak akan kabur? Dia akan tinggal, kan?” Yano mengernyit, menatap sahabatnya yang semakin tidak normal. “Kalau kamu sempat melakukan itu, ia akan membencimu.” “Benci…” Zio menunduk, mengusap tepi cangkir, menggeleng pelan. “Kalau begitu lupakan saja. Sania tidak boleh membenciku… tidak boleh.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD