McLaren merah berhenti dengan stabil di samping vila. Sania Wulandari duduk di dalam mobil cukup lama, pandangannya tertuju mantap pada Bentley hitam di depannya.
“1215…” Sania menunduk sambil tersenyum kecil, dahinya menempel erat pada setir. “Surya Baskara, kamu benar-benar setia.”
Ia menatap dirinya di kaca spion, merapikan riasan sederhana, menarik napas dalam-dalam, lalu turun dari mobil.
Bunga-bunga di halaman vila sedang bermekaran dengan indah. Begitu masuk, Sania langsung menyadarinya dan terdiam beberapa detik.
“Kak Sania, kamu pulang?” Suara yang jernih dan manis terdengar dari lantai atas.
Sania mendongak dan melihat Putri Pana yang seharusnya berada di luar negeri.
“Sudah pulang?” Suara Surya Baskara yang dingin terdengar. Ia berdiri di depan pintu sambil memegang secangkir kopi.
Surya Baskara berpakaian sangat rapi—setelan jas biru tua, pin di d**a, manset di pergelangan tangan. Rambutnya disisir rapi dengan belahan tiga-tujuh yang standar.
Sania menatapnya sekilas lalu mengangguk tipis. Ia sama sekali tidak menyangka Putri Pana akan muncul lagi di hadapannya, bahkan di rumahnya sendiri.
Surya Baskara berjalan perlahan ke hadapan Sania, menatapnya dari kepala sampai kaki. Pandangannya berhenti di leher Sania yang tertutup rapat.
Alisnya berkerut. “Semalam kamu ke mana?”
Tatapan Sania kosong. Ia menatap lurus mata tajamnya. “Apa urusannya denganmu?”
Alis Surya Baskara mengerut lebih dalam, sikapnya semakin dingin. “Malam ini mau bicara apa?”
Sania melirik sekilas ke arah Putri Pana yang menyembulkan kepala dari balkon lantai atas, lalu menggeleng pelan. “Tidak ada apa-apa.”
Putri Pana mengangkat bahu, melihat mereka berdiri begitu dekat. Ia segera turun dan berdiri di antara mereka, tangannya mengayun pelan menyentuh ujung jas Surya Baskara. “Bang Surya, kita berangkat sekarang?”
Pandangan Surya Baskara tetap tertuju pada Sania, hanya mengangguk datar.
Ia melangkah beberapa langkah, lalu menoleh ke Sania. “Aku dan Putri Pana mau pergi naik perahu untuk bermain. Kamu mau ikut?”
Putri Pana tertegun beberapa detik, menatap Surya Baskara yang terasa asing baginya. Wajahnya sedikit kaku.
Ia memaksakan senyum standar dan menatap Sania. “Iya, Kak. Kamu mau ikut nggak?” Tangannya seolah sengaja diletakkan di lengan Surya Baskara.
Surya Baskara tidak menolaknya. Ia menatap Sania dengan pandangan dalam.
Sania tersenyum ringan, menyelipkan rambut di telinganya. “Tidak. Selamat bersenang-senang.”
Ketegangan Putri Pana perlahan mengendur. Senyum cerah merekah di wajahnya. “Baik, Kak. Aku akan menjaga Bang Surya dengan baik.”
Wajah Surya Baskara membeku. Melihat ekspresi Sania yang tak peduli, ia pun ditarik pergi oleh Putri Pana.
Sania menatap punggung mereka yang menjauh, lalu berbalik masuk ke vila.
Di dalam vila sunyi senyap. Lantai dingin dan dinding reflektif memantulkan bayangan Sania yang sendirian.
Ia masuk ke kamar tidur. Melihat seprai yang berantakan dan aroma yang tertinggal dari Putri Pana, Sania mengernyit.
Ia membuka ruang ganti. Beberapa pakaian dan tas berserakan di lantai. Sania melangkah melewatinya dan langsung menuju sudut ruangan.
Ia mengambil beberapa pakaian sehari-hari, melirik sisanya, lalu menunduk dan melewati begitu saja.
Sania mengeluarkan koper yang ia bawa saat menikah dulu dan mulai merapikan pakaiannya.
Saat melihat surat perjanjian perceraian di dalam koper, sorot matanya menggelap.
Ia meletakkan surat itu di atas tempat tidur yang berantakan, menarik koper, keluar dari kamar, dan melirik sekilas perabot ruang tamu.
Di vila ini, hampir tak ada barang yang benar-benar miliknya. Secara nama, vila ini adalah rumah pernikahannya dengan Surya Baskara, tapi pada kenyataannya Surya Baskara jarang pulang atau pulang pun bersama Putri Pana.
Sebagian besar perabot di vila dipilih oleh Putri Pana. Tak satu pun sesuai selera Sania.
Sania mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan:
【Surat perceraian sudah aku taruh di kamar. Setelah kamu tanda tangan, hubungi aku.】
Sania tidak tahu kapan Surya Baskara akan menerima pesannya ini, mungkin besok ataupun sudah larut malam.
“Ding dong—”
Sania menatap pintu depan dengan heran. Menyeret kopernya, ia membuka pintu perlahan. “Surya Baskara tidak ada...”
Belum sempat ia mendongak, tubuhnya tiba-tiba dipeluk oleh sosok hangat.
Pria itu sedikit gemetar, memeluk gadis di depannya dengan sangat erat.
Pupil Sania terdiam. Ia menatap pria yang dikenalnya—Zio Pratama. Pintu sudah ditutup pria itu dengan kakinya.
Sania menepuk punggungnya pelan. “Zio Pratama…”
Zio tidak menjawab dan tidak melepaskannya. Lengannya mengencang, seolah takut ia akan terluka lagi karenanya.
Zio mengangkat kepala sedikit dan menggigit lembut daun telinganya.
“Hiss—” Sania tersentak mundur beberapa langkah.
Zio menatapnya, menggenggam tangan kecil yang berada di dadanya. Jari kelingkingnya mengait kelingking Sania, menariknya kembali ke pelukannya. “Sania… Sania… kali ini jangan tinggalin aku lagi, ya? Aku akan menemanimu.”
Sania terdiam. Menatap sudut mata Zio, hatinya berdegup keras.
Melihat Sania tak bereaksi, Zio melepaskannya. Melihat mata Sania memerah, hatinya mengencang tanpa sadar.
“Sania, kenapa? Kenapa menangis?” Jari Zio mengusap lembut air mata di sudut mata Sania, menatapnya dengan penuh perhatian saat air mata jatuh seperti air terjun.
Sania menunduk, tak berani menatapnya. Air mata jatuh bulat seperti mutiara.
Zio mengambil koper dari tangan Sania dan menggenggam tangannya. “Masih ada barang lain?”
Sania menggeleng pelan, tetap tidak menatapnya.
Begitulah Zio membawa gadisnya pergi dari penjara yang tampak bebas namun telah mengurungnya selama tiga tahun.
Sania tidak lagi melawan, membiarkannya menarik dirinya pergi, bahkan mengambil kunci mobil dari sakunya.
Saat melihat Ferrari merah di depannya, langkah Sania terhenti.
Zio menoleh dengan bingung. “Kenapa?” Ia berjalan mendekatinya dan bertanya pelan.
“Mobilmu bagaimana?” Sania menunjuk Ferrari milik Zio.
Ia tak ingin Zio mendapat masalah. Jika mobil itu terlihat oleh Surya Baskara, entah keributan apa yang akan terjadi.
Zio mengusap kepala Sania lembut. “Jangan khawatir, nanti aku minta orang memindahkannya.”
Baru setelah itu Sania menurut dan pergi bersamanya.
Mobil melaju ke daerah pinggiran kota. Sania menatap matahari yang perlahan tenggelam, hatinya terasa dingin, tak tahu apakah Surya Baskara sudah menerima info mengenai dokumen yang di atas tempat tidur.
Mobil memasuki kawasan kota baru di pinggiran. Di luar tampak wisatawan berlalu-lalang, kejauhan terlihat pantai.
Sania terpaku menatap ombak yang bergulung hingga mobil masuk ke dalam kompleks.
Kompleks itu kecil, tapi setiap bangunan menghadap laut.
Sania turun dari mobil bersama Zio, menatap vila di sekitarnya.
Angin laut berhembus jelas, membawa aroma asin ke udara.
Sania memasukkan tangan ke saku, menatap laut tanpa batas. Hatinnya bergemuruh.
Ke depan, masih ada pertempuran berat yang harus ia hadapi.
Zio mengeluarkan koper dari bagasi. Setelah mengaturnya, ia berjalan perlahan ke belakang Sania.
Ia memeluk Sania dari belakang, bibirnya menyentuh lembut rambutnya.
Sania membuka tangannya dari pinggangnya. “Zio Pratama, bisa difoto orang.”
Zio tersenyum ringan dan memeluknya kembali. “Biarkan saja.”
“Palingan mereka akan menulis, [Pewaris keluarga Pratama berkencan dengan seorang wanita di pinggiran kota] saja.”
“Mereka belum berani untuk mengumumkan mukamu di depan media.”
Sania menunduk dan menepuk punggung tangannya. “Zio Pratama.”
“Hm? Kenapa?” Zio menyandarkan dagunya di bahu Sania.
Sania sedikit memiringkan kepala ke arahnya. “Terima kasih.”
Zio tertegun sejenak, lalu tersenyum lembut.
Interior vila bernuansa hangat. Begitu masuk, rasa hangat langsung menyelimuti.
Tirai tipis bergerak perlahan tertiup angin, dan lonceng angin di samping berdenting lembut.
Melihat pemandangan hangat itu, senyum Sania mengalir dari lubuk hatinya.
Zio menutup pintu, tertawa kecil melihat Sania menjatuhkan diri ke kursi malas.
Sudah lama ia tidak melihat Sania tersenyum seperti ini, terutama setelah beberapa hari kembali bertemu ini.
Sania menikmati waktu santai yang akhirnya ia dapatkan.
Angin malam sejuk, suara jangkrik mengelilingi vila, sesekali kunang-kunang terlihat di luar jendela.
Sania duduk sepanjang malam, mengamati pemandangan sambil menuliskan beberapa kalimat dan suasana di kertas.
Di sisi lain, Zio mengetik di laptopnya.
Cahaya bulan menerangi wajahnya. Melihat sosok Sania yang perlahan tertidur di depan jendela, sudut bibirnya terangkat.
Zio berjalan tanpa alas kaki di atas karpet, menatap Sania yang telah terlelap.
Mata Sania terpejam, mulutnya sedikit terbuka, sesekali bergumam kecil.
Zio bersandar di sampingnya, menatap wajah lelah itu.
Ia mengusap pipinya pelan. “Kurus…”
Tubuh Sania bergerak kecil, mendekat ke telapak tangan hangat itu.
Zio mengangkat Sania dan membaringkannya di tempat tidur.
Sania berbalik dan memeluk erat lengan Zio. Melihat ketergantungannya, Zio tak tega pergi dan duduk di tepi ranjang menatapnya tertidur lelap.
“Sania-ku…”
“Selamat malam.”
Keesokan hari.
Sinar matahari menembus tirai tipis dan menyinari wajah Sania. Ia bergerak pelan dan membuka mata.
“Bangun?” Zio mengucek mata, menatap Sania yang sudah terjaga.
Ia mengusap pinggang dan meregangkan tubuh.
Melihat wajahnya yang lelah, Sania dengan penuh perhatian memberi ruang di sampingnya.