Zio Pratama melihat gerakannya lalu ikut naik ke tempat tidur dengan terampil, bersandar di sampingnya, tangannya secara alami terulur dan diletakkan di bawah lehernya.
Sania Wulandari dengan lembut bersandar pada bahu Zio Pratama yang lebar, menatapnya dengan sorot mata yang untuk pertama kalinya setelah lima tahun kembali memperlihatkan perasaan yang dalam.
Zio Pratama memainkan telapak tangannya dengan ringan, menatap sosoknya yang lembut. “Selama beberapa tahun ini, kamu ngapain saja?”
Sania Wulandari sedikit terdiam, tertegun beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Ya begitulah… selain tidak punya hubungan baru, semuanya berjalan seperti biasa.”
Zio Pratama terpaku ketika mendengar kata hubungan baru diucapkan satu per satu oleh gadis kecil itu.
“Kamu sendiri?” Sania Wulandari memiringkan kepala menatapnya, matanya berbinar.
“Aku…” Zio Pratama menghindari tatapannya, “ya begitu saja. Belajar, jalan-jalan, belajar. Hidup dua titik satu garis.”
Zio Pratama memaksakan senyum, pupil matanya sedikit bergeser ke samping, sebisa mungkin menghindari bertemu pandang dengannya.
“Oh.” Sania Wulandari tidak terlalu curiga, hanya mengangguk pelan.
Mereka berdua pun saling menatap dalam diam. Sejak masa muda, dua orang yang saling mengenal dan saling mencintai ini, setelah bertemu kembali bahkan belum genap seminggu, sudah kembali seperti dulu.
Zio Pratama sibuk di dapur, satu panci merebus bubur, satu lagi menggoreng telur.
Sania Wulandari menopang kepalanya, memandangi sosoknya yang sibuk di dapur. Garis rahang Zio Pratama terlihat jelas, batang hidungnya tinggi. Sinar matahari dengan lembut menyandar di jendela, membuat sisi wajahnya tak lagi memiliki bayangan.
Sania Wulandari menatapnya, pikirannya kembali ke kenangan masa lalu, saat mereka belum berpisah.
“Sania, akhir pekan kita ke taman hiburan yuk.” Zio Pratama dengan ringan menyentuh lengan Sania Wulandari dengan ujung pulpen, menunduk mendekati wajahnya.
“Iya dong, ketua kelas, ayo lah.” Yano Setiawan yang duduk di belakang ikut menyahut.
“Aduh!” Zio Pratama menutup kepalanya, menoleh ke arah guru di podium.
“Zio Pratama, lagi-lagi kamu!” guru itu turun dari podium dengan penuh semangat, berjalan ke arah tempat duduknya.
“Kamu itu, selain pintar belajar, apalagi sih yang bagus?”
“Seharian isinya bikin masalah!”
Begitu guru itu berdiri di sampingnya, Zio Pratama berbisik pelan, “Tante… aku mohon kamu deh. Jangan lanjut tegurin lagi.”
Zio Pratama menyatukan kedua tangannya, menatapnya dengan mata redup.
Yano Setiawan di belakang menahan tawa, menutup mulut, matanya fokus ke buku pelajaran.
Guru itu melirik Zio Pratama berkali-kali dengan tatapan meremehkan, baru kemudian kembali ke podium. “Baik, kita lanjutkan.”
Zio Pratama melihat tante-nya pergi, lalu kembali mendekat ke sisi Sania Wulandari.
“Sania, ayo dong.” Zio Pratama menggerakkan ujung pakaian Sania Wulandari dengan lembut.
“Kalau kamu mau… aku… aku ikut lomba kelas kali ini!” katanya sambil menunjuk formulir pendaftaran di depan Sania Wulandari.
Begitu mendengar dia mau ikut, Sania Wulandari akhirnya meliriknya dengan baik hati. “Serius?”
Zio Pratama melihat tatapan yang tiba-tiba diberikan itu dan tersenyum. “Serius.”
Zio Pratama mengulurkan tangan. “Aku, Zio Pratama, bersumpah. Kalau akhir pekan ini Sania mau pergi main bareng aku, aku pasti ikut kejuaraan sekolah. Kalau aku tidak ikut… maka seumur hidup aku tidak akan bisa menghabiskan sisa hidup bersama orang yang kucintai.”
Sania Wulandari menatap ekspresinya yang serius, dengan santai membalik lembaran soal di tangannya. “Jam berapa?”
Senyum di wajah Zio Pratama hampir mekar sampai ke telinga. Matanya berbinar menatap Sania Wulandari. “Kamu benar-benar setuju?”
Sebuah bayangan putih melesat cepat melewati kepala murid-murid di barisan depan, lalu tepat mengenai sisi hidung Zio Pratama.
“Sial!” Zio Pratama menunduk sambil menutup hidungnya. “Sakit banget…”
Sania Wulandari meliriknya sebentar, lalu segera duduk tegak kembali menatap ke depan.
Pelajaran terus berlanjut. Zio Pratama memanfaatkan kesempatan itu untuk dengan hati-hati mengaitkan kelingking Sania Wulandari, lalu menggoyangkannya perlahan.
“Sania, akhir pekan jam sepuluh pagi, aku jemput kamu.”
Akhir pekan.
Sania Wulandari mengenakan kaus putih sederhana, celana jeans biru, rambutnya diikat tinggi dengan rapi.
Namun di mata Zio Pratama, di bawah sinar matahari, dia seperti malaikat yang turun ke dunia, cerah dan bersinar.
Kaus biru Zio Pratama di bawah matahari semakin menonjolkan aura remajanya.
Zio Pratama menunggu Sania Wulandari di pinggir jalan, memegang bunga di belakang punggungnya, mondar-mandir sambil sesekali menoleh ke sudut jalan, mencari sosok yang ingin ditemuinya.
Sania Wulandari perlahan melangkah keluar dari bayangan atap, masuk ke area yang disinari matahari.
Begitu melihat orang yang dicintainya, mata Zio Pratama langsung berbinar. Ia berlari kecil ke arahnya. “Sania.”
Sania Wulandari pun tersenyum, membuka kedua tangannya menunggu anak laki-laki itu berlari ke arahnya.
Di bawah matahari, mereka berpelukan erat, tak peduli pada pandangan orang-orang di sekitar.
“Heh heh heh—” Yano Setiawan muncul dari balik bayangan pohon, kedua tangannya disilangkan di d**a. “Kalian berdua cukup ya, kasihanin aku yang jomblo ini.”
Zio Pratama melirik Yano Setiawan yang ikut datang secara diam-diam tanpa sepengetahuan keluarga, lalu menarik Sania Wulandari ke bawah lengannya. “Ada apa hubungannya denganku!”
“Kamu juga cari pacar sana.”
“Orang yang ngejar kamu juga nggak sedikit.”
Yano Setiawan menatapnya, lalu menunduk sambil tersenyum tipis, tak berkata apa-apa lagi.
“Ayo.” Yano Setiawan menekan tombol mobil. “Naik.”
Zio Pratama menepuk ringan hidung Sania Wulandari. “Ayo.”
Zio Pratama membuka pintu kursi belakang, memasukkan Sania Wulandari terlebih dahulu, lalu ikut duduk.
Yano Setiawan di kursi pengemudi melihat lewat kaca spion, wajahnya tetap datar.“Zio Pratama, kamu masih punya hati nggak sih? Aku ini dianggap sopir?”
Zio Pratama tersenyum ringan. “Makasih ya, pak sopir.”
Yano Setiawan memutar mata beberapa kali lalu mulai menyetir tanpa mengeluarkan suara.
Taman hiburan.
Di kepala Sania Wulandari sudah terpasang topi milik Zio Pratama yang tertinggal di mobil Yano Setiawan.
Melihat antrean panjang orang-orang, Sania Wulandari hendak ikut mengantre membeli tiket, tapi tangannya ditangkap oleh Zio Pratama.
“Mau ke mana?” suara Zio Pratama terdengar tenang.
Sania Wulandari menatapnya, bertanya pelan, “Bukannya mau beli tiket dulu?”
Zio Pratama tersenyum, melirik Yano Setiawan. “Tenang saja, kalau aku yang ngajak kamu keluar, tiket pasti sudah aku urus.”
“Sania, aku belum sebangsat itu sampai ngajak pacar main tapi minta pacar yang bayar.”
Wajah Sania Wulandari sedikit memerah, ia menunduk tanpa bicara.
Yano Setiawan menyerahkan tiket ke Zio Pratama. “Nih, punya kalian.”
Bibir Yano Setiawan mengerucut, matanya tertuju pada layar ponsel yang menampilkan permintaan pertemanan yang ditolak, sorot matanya dingin.
Zio Pratama meliriknya, sudut bibirnya sedikit terangkat. “Ayo Sania, kita naik roller coaster.”
Sania Wulandari tersenyum menatapnya. “Baik.” Nada suaranya penuh kelembutan.
Di taman hiburan, matahari bersinar terik, menerangi masa muda yang penuh semangat dan percaya diri.
Mereka cerah dan bebas, tanpa terlalu banyak pertimbangan—hanya memikirkan langkah di depan dan menjadi diri mereka sendiri.
Sania Wulandari kembali menatap Zio Pratama yang kini berada di dapur. Kecerobohan masa mudanya telah berubah menjadi bahu yang bisa diandalkan.
“Buburnya sudah jadi.” Zio Pratama membawa mangkuk bubur yang masih mengepul.
“Hati-hati panas.” Ia menghentikan Sania Wulandari yang ingin membantu.
Sania Wulandari dengan patuh kembali duduk, menatap lelaki yang masih sibuk itu. Keraguan di hatinya terasa semakin mantap.
“Ini untukmu.” Zio Pratama duduk di hadapannya, meletakkan semangkuk bubur penuh di depan Sania Wulandari.
Sania Wulandari melihat udang-udang yang sudah dikupas rapi di dalamnya, lalu mengangkat kepala menatap Zio Pratama yang sedang memandanginya.
Mereka saling tersenyum tanpa berkata apa-apa, namun sama-sama paham posisi masing-masing di hati satu sama lain.
“Nanti kita jalan-jalan ke pantai ya.” Sania Wulandari memeluk mangkuknya, berkata pelan.
Zio Pratama menatapnya lalu mengangguk. “Oke.” Ia menunduk, seolah berpikir.
Setelah menyuap suapan terakhir, ia kembali berkata pelan, “Nanti aku ambilin topi, masker, dan kacamata hitam.”
“Tidak perlu, begini saja.” Sania Wulandari menatapnya dengan tatapan mantap.
Zio Pratama tertegun lama, matanya berjuang menahan sesuatu. Ia menghela napas, sudut bibirnya bergetar lalu terangkat. “Baik.”
Mereka berjalan bergandengan tangan di bawah matahari, bayangan mereka memanjang.
Dua bayangan yang saling mendekat, satu tinggi satu lebih kecil, seolah menegaskan bahwa beginilah seharusnya mereka.
Pasir pantai terasa hangat di telapak kaki.
Zio Pratama menatap gadis di sampingnya yang tersenyum cerah, lalu ikut tersenyum.
Sekat di antara mereka seolah ikut menghilang bersama hangatnya sinar matahari.
Zio Pratama menatap gadis di sampingnya, sudut bibirnya terangkat. Ia membungkuk, menyibakkan air laut ke arah Sania Wulandari. “Sania, terima ini!”
Sania Wulandari tak sempat bereaksi, tubuhnya sudah basah oleh air laut. Ia menatap Zio Pratama. “Zio Pratama!! Kamu cari mati!!”
Sania Wulandari jongkok dan menyiramkan air laut dengan keras ke arah Zio Pratama.
Melihat senyum di wajah Sania Wulandari, Zio Pratama mulai membalas.
Mereka tertawa dan saling kejar di tepi laut.
Seiring tingkah mereka yang semakin lepas, dunia maya mulai dipenuhi berita utama dari media.
【HOTS】【Pewaris Keluarga Zuo, Zio Pratama, berkencan dengan seorang wanita di pinggiran kota, diduga selingkuhan】
【HOTS】【Tuan Zio terlihat bermain air di tepi ombak bersama seorang wanita di daerah pinggiran】
Ting's Cafe.
“Bzzz—”
Tangan Yano Setiawan dipenuhi cairan kuning, ia menatap ponsel di sampingnya yang terus bergetar, alisnya mengernyit.
Ia mencuci bersih telapak tangannya yang beruas jelas, lalu tertegun saat melihat isi pesan di layar.
Setiap pesan menyebut kata headline. Dengan rasa penasaran, Yano Setiawan membuka situs berita.
Wajah pria di headline itu sangat mirip dengan sahabatnya sendiri.
Meski wajah perempuan sengaja diburamkan, Yano Setiawan tetap mengenali sorot mata Zio yang penuh perasaan yang khas itu.
Ia melihat grup keluarga, pesan masukan dari ibu Zio Pratama, pesan-pesan pertanyaan dari teman-teman—alisnya semakin mengerut, tak berani lengah sedikit pun.
Yano Setiawan membuka chat yang dipin semat, mengirim banyak pesan berturut-turut, namun semuanya tenggelam tanpa balasan.
“Cedric Liono, bosmu di mana?” nada suara Yano Setiawan jarang terdengar seserius ini.
Di seberang, Cedric Liono juga sudah melihat berita utama itu, sedang berusaha menenangkan tekanan yang datang dari segala arah.
“Tuan Yano, Tuan Zio hari ini tidak datang ke kantor.” Nada suara Cedric Liono terdengar sangat sulit. Di hadapannya, pekerjaan menumpuk silih berganti, belum lagi tekanan tambahan dari atasan.
Dengan senyum terpaksa, Cedric Liono berkata, “Tuan Yano, ada urusan nggak nanti?”
Hati Yano Setiawan terasa diterpa angin dingin. Ia menunduk. “Nanti aku datang.”
“Terima kasih, Tuan Yano.” Cedric Liono merasa sedikit lega mendengar itu.
Yano Setiawan menutup pintu toko, menatap karya keramik yang belum selesai, menurunkan pandangannya.
Vila pinggiran kota.
Zio Pratama bersandar ke samping, memeluk bantal empuk dan hangat, mengeluarkan dengusan kecil.
Sania Wulandari ikut mendekat, menyusup ke arahnya. Aroma rambutnya perlahan masuk ke hidung Zio Pratama.
Zio Pratama memejamkan mata, menikmati kelembutan ini.