Sania Wulandari menggesekkan pipinya ke wajah Zio Pratama, suaranya lembut dan manja,“Jam berapa sekarang?”
Zio Pratama perlahan membuka mata, menyalakan lampu kecil di kamar, lalu mengambil ponselnya untuk melihat waktu.
Cahaya dingin dari layar ponsel menyinari wajahnya. Tatapannya berubah tajam saat menatap layar, jarinya terus menggulir, ekspresinya semakin tenang namun berat.
“Zio Pratama?” Sania Wulandari menarik tangannya dengan pelan, setengah sadar menyandarkan kepala ke tubuhnya.
Melihat ekspresinya yang terasa tidak biasa, ia menoleh mengikuti arah pandangannya ke layar ponsel. Tatapannya perlahan membeku.
Zio Pratama melihatnya terdiam, lalu mengelus kepalanya dengan lembut. “Sania, kita…”
Tatapan Zio Pratama penuh pergulatan. Ia pernah membayangkan banyak kemungkinan, namun tak menyangka semuanya datang secepat ini.
Sania Wulandari merangkak melewati sela kaki Zio Pratama, mengambil ponselnya sendiri. Melihat notifikasi 99+ pesan, alisnya langsung mengerut.
Luna Ayu, Surya Baskara, dan ayahnya—semuanya mencarinya.
Pesan Luna Ayu penuh dengan kekhawatiran. Sementara satu kalimat sederhana dari Surya Baskara—【Aku tidak setuju untuk cerai】, mencengkeram hati Sania Wulandari.
Melihat berita utama di layar, Sania Wulandari mengepalkan tangannya dengan kuat.
【HOTS】【Wanita yang berkencan dengan Tuan Zio ternyata adalah istri perjodohan Tuan Surya】
【HOTS】【Keluarga Pratama dan Keluarga Pratama ternyata telah beraliansi lewat pernikahan hampir tiga tahun】
Semakin digulir, dadanya terasa semakin sesak. Zio Pratama menggenggam tangan Sania Wulandari yang mengepal.
“Ring—”
Zio Pratama mengerutkan alis menatap layar panggilan masuk. 【Yano Setiawan】
“Zio Pratama! Kamu gila ya? Mainannya sampai naik berita?” suara makian yang familiar terdengar dari seberang.
Zio Pratama tak membalas, hanya mendengarkan pelampiasannya. “Maaf, sudah merepotkanmu.”
Mendengar ia melunak, amarah Yano Setiawan pun mereda. Ia memijat dahinya, menatap kantor grup yang kacau balau. “Cepat kembali.”
“Mm, aku tahu.”
“Oh ya,” Yano Setiawan menatap pemandangan jingga di luar jendela, “kamu dan ketua kelas… lebih rendah hati sedikit.”
Di dalam hati, Yano Setiawan tahu hampir mustahil memisahkan mereka berdua. Yang bisa dilakukan sekarang hanyalah membuat mereka lebih berhati-hati.
Zio Pratama melirik gadis kecil di sampingnya yang masih menatap berita utama. “Aku paham.”
“Kenapa beritanya tidak diturunkan?”
Yano Setiawan menarik napas dalam-dalam. “Itu permintaan dari keluarga Baskara. Media tidak berani menurunkannya. Beberapa yang menampilkan wajah ketua kelas dengan jelas sudah kuhapus.”
“Yang tersisa… itu semua permainan keluarga Baskara.”
Wajah Zio Pratama menggelap. “Mengerti. Aku segera kembali.”
“Bzzz—”
Zio Pratama menatap pesan masuk.
【Kakek ingin bertemu denganmu.】
Ia menurunkan pandangan ke arah gadis di sampingnya.
Zio Pratama meletakkan ponselnya, sekaligus menarik ponsel dari tangan Sania Wulandari.“Jangan lihat lagi.”
“Liburan harus dipercepat selesai. Aku harus pulang sebentar.”
Ia mengambil pakaian di lantai dan bangkit menuju kamar mandi. Sebelum masuk, ia menoleh menatap Sania Wulandari.
Sania Wulandari tidak menjawab, hanya menatap punggungnya yang semakin menjauh.“Zio Pratama,” suaranya tenang namun gemetar,“Apakah...kita akan berpisah lagi?”
Tangan Zio Pratama yang memegang handuk terdiam sejenak. Melihat Sania Wulandari yang mulai meneteskan air mata seperti mutiara, ia segera berlari menghampiri dan memeluknya erat.“Sania, kita tidak akan berpisah lagi. Tidak akan.”
Zio Pratama dan Sania Wulandari keluar bersama lewat pintu belakang. Hingga malam hari saat Grup Zio mengadakan konferensi pers, orang-orang terkejut karena sang putra mahkota ternyata sudah kembali ke ibu kota.
Media yang menunggu di pinggiran kota pun sia-sia.
Zio Pratama berdiri di depan kamera, menghadapi kilatan lampu dengan tatapan teguh.
“Rekan-rekan media, selamat malam.”
“Hari ini, perihal urusan pribadi saya terus berkembang di dunia maya, menyita banyak sumber daya publik serta berdampak pada pihak terkait dan perusahaan keluarga.”
“Untuk itu, saya terlebih dahulu menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.”
“Konferensi pers ini bukan untuk menghindari atau melempar tanggung jawab, melainkan untuk menyampaikan penjelasan yang jelas berdasarkan fakta.”
“Dalam perkara ini, tanggung jawab sepenuhnya ada pada saya. Tidak ada kaitannya dengan pihak lain.”
“Saya yang mengejarnya, saya yang bersikeras. Tidak ada hubungannya dengan dia. ”
Para jurnalis memandangi wajah Zio Pratama yang tenang seolah badai telah berlalu, kebingungan.
Putra mahkota ibu kota yang paling dicintai… ternyata seorang bucin sejati.
Di dalam mobil, Sania Wulandari menatap siaran langsung konferensi pers di layar, tertegun.
Zio Pratama benar-benar membersihkan namanya sendiri, padahal semua ini karena dirinya…
“Jangan terlalu dipikirkan.” Yano Setiawan yang duduk di depan mematikan tablet di hadapan Sania Wulandari.
Melihat sorot matanya yang hampir kosong, Yano Setiawan menghela napas. “Kalian ini juga, di saat genting masih sempat bermesraan di pinggiran kota. Kami di pusat kota sampai kelabakan.”
Yano Setiawan terus mengomel soal kesibukan hari ini.
Namun Sania Wulandari tak mendengarkan satu kata pun. Ia menatap pesan dari Surya Baskara. 【Aku tidak setuju.】
“Heh.” Sania Wulandari tertawa dingin. “Orang gila.”
【Kita bicara.】
【Tanpa Putri Pana.】
Melihat Zio Pratama yang berjalan mendekat, masih dikerumuni wartawan dengan mikrofon, Sania Wulandari menarik hoodie-nya lebih dalam menutupi wajah.
Zio Pratama naik ke mobil, terengah, lalu menoleh ke Sania Wulandari yang bersandar tenang di pintu. Ia menariknya ke dalam pelukan. “Peluk aku.”
Sania Wulandari membiarkannya, sambil melihat pesan balasan di ponsel. 【Baik.】
“Antar aku pulang,” katanya pelan pada Yano Setiawan.
Tatapan Zio Pratama menggelap. “Kamu mau menemuinya lagi.”
Matanya menyipit, menatap Sania Wulandari dengan erat.
Sania Wulandari meletakkan telapak tangannya di wajahnya. “Zio Pratama, aku ingin bercerai.”
Zio Pratama menundukkan pandangan, menutup tangan gadis itu dengan telapak tangannya.
“Cerai?” Yano Setiawan bersuara heran dari depan. “Kalau begitu, kenapa Surya Baskara malah mengumumkan pernikahan kalian ke seluruh kota?”
Sania Wulandari mengerutkan kening, menunduk. “Dia… tidak setuju untuk bercerai.”
“Kenapa?” nada suara Zio Pratama meninggi.
Sania Wulandari menatapnya kembali. “Aku tidak tahu. Mungkin ada urusan antara keluarga Wulandari dan Baskara.” Ia menggeleng pelan.
Zio Pratama terdiam, jarinya memutar cincin keluarga. Beberapa tahun terakhir, keluarga Baskara memang bergerak cepat, nyaris sejajar dengan keluarga Pratama.
Suasana di dalam mobil menjadi sunyi. Di luar, kilatan kamera terus menyambar jendela seolah ingin melahap mereka.
Yano Setiawan menyetir dengan hati-hati, matanya menyapu lampu jalan yang berjejer. Ia melirik ke kaca spion, melihat Zio Pratama dan Sania Wulandari yang bersandar erat.
Ia pernah melihat Zio Pratama sendirian menghadapi dunia. Dan kali ini, ia akan membantunya memenangkan pertarungan ini.
Bagaimana caranya… masih butuh waktu.
Mobil berhenti di alamat yang dikirim Sania Wulandari. Yano Setiawan menatap vila dengan cahaya dingin. “Ketua kelas, Zio, kita sudah sampai.”
Sania Wulandari menatap vila yang telah ia tinggali selama tiga tahun, ekspresinya dingin. “Aku turun dulu.”
Zio Pratama menangkap pergelangan tangannya. “Aku ikut.”
“Tidak perlu.” Sania Wulandari mencoba melepaskan genggamannya. Bertemu tatapan lembutnya, ia akhirnya mengalah.
Menatap gerbang vila itu, jantung Sania Wulandari berdebar keras.
Zio Pratama menepuk lengan Sania Wulandari, mengangguk pelan, lalu mendorong pintu.
Aroma bunga langsung menyusup ke inderanya. Melihat taman penuh bunga, ia mendekat ke sisi Sania Wulandari “Kamu yang menanami?”
Sania Wulandari menatap mawar, tulip, melati di dinding. Ia menunduk pelan. “Dia yang menanaminnya.”
Senyum Zio Pratama membeku. Tatapannya menyapu bunga-bunga itu, tiba-tiba terasa biasa saja.
Melihat pintu yang sudah terbuka sedikit, Sania Wulandari menghentikan langkahnya.
Zio Pratama menggenggam tangannya, suaranya sangat lembut. “Jangan takut.”
Sania Wulandari tersenyum tipis, mengangguk.
Pantulan malam di kaca besar memperlihatkan bayangan mereka yang perlahan menghilang di bawah cahaya bulan.
“Klik—”
Zio Pratama melangkah masuk lebih dulu. Cahaya di dalam redup, pandangannya tertuju pada meja makan yang dipenuhi lilin menyala dan taburan kelopak mawar.
Sania Wulandari menatap cahaya temaram itu, terdiam.
“Tok tok tok—”
Surya Baskara muncul mengenakan kemeja hitam ketat, satu tangan di saku celana.
Menatap tangan mereka yang saling menggenggam erat, sorot matanya perlahan membeku dingin.