Hari berlalu dengan cepat. Hari ini Rafael kembali ke Jakarta, ia baru saja sampai di kediamannya.
Rafael memasuki kamarnya, kemudian langsung ke kamar mandi membersihkan dirinya. Lalu keluar dengan memakai pakaian santainya, kaos warna hitam dan celana pendek warna hitam.
Rafael mengambil ponselnya dan menelpon Jelena. Sudah beberapa kali Rafael menelpon namun Jelena tidak mengangkat panggilan darinya.
Rafael menghela nafas. "Mungkin Jelena sibuk," gumam Rafael.
Karena tak kunjung diangkat Rafael memutuskan untuk tidur. Saat akan memejamkan matanya tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar namun tidak dihiraukan. Bunyi ketukan pintu utama pun semakin kencang memekakkan telinga Rafael, membuat sang empunya mau tak mau menyibakkan selimut dan beranjak dari kasurnya.
"Siapa sih bertamu malam-malam. Awas aja kalau sampai nggak penting," gerutu Rafael.
Rafael membuka pintu rumahnya ketika ada seseorang tak henti-hentinya mengetuk dari luar. Begitu pintu dibuka, Rafael menghela nafas saat ia melihat Dante yang mengunjunginya.
"Gila! Aku kira siapa bertamu malam-malam."
"Udah lupa nih ceritanya nggak pernah ke bar," sindir Dante begitu memasuki rumah Rafael.
"Sibuk."
"Mau whine?" tawar Rafael.
"Males mabuk, suntuk banget di apartemen," keluh Dante.
"Main billiard?" tawar Rafael.
"Boleh juga."
Lalu mereka menuju ke ruangan billiard. Tak heran di rumah megahnya ini Rafael memiliki banyak permainan untuk melepas penat. Jika sedang lelah karena pekerjaan, Rafael memilih untuk bersantai dengan bermain billiard.
Billiard adalah salah satu hobi Rafael, begitu juga dengan Dante. Rafael dan Dante telah berteman sejak lama. Mereka berdua pun memiliki hobi yang sama.
Mengenai Dante, ia sebenarnya bukanlah orang sembarangan. Orang tuanya salah satu pengusaha dan pemegang saham terbesar di Indonesia. Dante merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Semua kakaknya telah menikah dan memiliki anak. Dante sangat berbeda dengan keempat kakaknya, ia sengaja menjadi bartender karena ingin hidup bebas dan normal pada umumnya. Dante sangat muak dengan kekangan orang tuanya, hidup bergelimang harta tidak membuatnya senang. Banyak yang harus ia korbankan, terlebih saat ia mencintai seseorang yang bukan dari kalangan atas, kedua orang tuanya sangat menentangnya. Ia harus menurut apa yang dikatakan orang tuanya, seperti harus menerima perjodohan dengan anak rekan kerja orang tuanya demi bisnis.
Keputusan untuk hidup mandiri tanpa kekangan dengan menolak permintaan orang tuanya untuk meneruskan usaha dan menerima perjodohan pun disetujui, namun dengan syarat seluruh aset dari orang tuanya yang telah diberikan kepada Dante harus dikembalikan. Itu semata-mata dilakukan oleh kedua orang tuanya karena tidak ingin Dante menjadi bartender. Namun tekad Dante sudah bulat, ia pun mengembalikan dan keluar rumah dengan tidak membawa apa-apa. Rafael lah yang membantunya pada saat itu dengan menyewakan apartemen dan memberikan kebutuhan Dante untuk beberapa bulan kedepan. Dante pun memulai kehidupannya dari nol. Walaupun banyak kurangnya, tapi ini lebih baik daripada bergelimang harta namun tidak bahagia.
Kemudian mereka segera menyiapkan alat untuk bermain billiard. Ruangan billiard dengan desain monokrom sangat cocok untuk menghilangkan penat. Dengan pencampuran warna cat dinding putih dan warna hitam pada meja billiard menjadi satu kesatuan yang elegan. Di dindingnya juga dihiasi beberapa foto tokoh legenda dalam dunia billiard. Tampilannya sangat menarik, terlebih lagi dengan lampu yang remang-remang pada ruangan mengesankan vibes fokus dalam bermain billiard.
Mereka pun segera bermain billiard walau hasilnya Dante selalu kalah berkali-kali dan jadi bahan ejekan Rafael.
"Dasar payah!" ejek Rafael.
"Arghh! Curang kau ya!" kesal Dante.
"Kalah mah kalah aja," jawab Rafael santai.
Ponsel Rafael bergetar, lalu Rafael mengambil ponsel dari saku celananya, kemudian melihat-lihat ponselnya. Diliriknya Dante yang berusaha mencuri pandang ke arah layar ponselnya.
"Cieee … Zahira ya?" tebak Dante.
"Kepo!" seru Rafael.
Rafael dengan segera menepis tangan Dante saat dengan lancang akan mengambil ponselnya.
Rafael melototkan matanya. "Dasar kepo jauh-jauh sana!" usir Rafael.
"Ngapain malam-malam chatingan sama Zahira?" tanya Dante penuh selidik.
Rafael diam memilih tidak menjawab.
"Kau harus ingat kalau sudah punya Jelena!"
"Nggak usah diingetin juga ingat," jawab Rafael santai.
"Ya siapa tahu lupa. Kalau lupa juga nggak apa-apa, aku siap menampung," goda Dante sambil mengedipkan satu mata nya.
"Jelena itu cantik dan sexy," bisik Dante.
Rafael berdecak. "Jangan mimpi!"
Dante tergelak. "Ya makanya cukup satu aja, lagian Zahira juga sudah punya kekasih."
Rafael memicingkan matanya. "Siapa kekasih Zahira?"
Dante tersenyum samar sambil mengedikkan bahunya.
"Siapa?" tanya Rafael.
"Apa penting?"
"Tinggal jawab apa susahnya?" geram Rafael.
Dante tersenyum tipis. "Sepertinya terjadi sesuatu diantara kalian."
Rafael memalingkan wajahnya, lalu menyimpan kembali ponselnya di saku celana. "Lupakan!"
"Yang namanya one night stand itu hanya satu malam dan tidak ada hubungan jangka panjang. Tapi ini sampai bertukar kontak."
Rafael mengusap wajahnya gusar. "Iya, iya, aku jujur. Setelah kejadian one night stand itu aku jadi tertarik dengan Zahira," ungkap Rafael.
"Akting one night stand!" seru Dante.
"Bukan akting karena aku dan Zahira benar-benar melakukan one night stand," ucap Rafael berlalu meninggalkan Dante begitu saja.
Dante hanya menatap kepergian Rafael dengan wajah kebingungan.
***
Siang ini Rafael baru saja selesai memimpin rapat. Beberapa bulan kedepan ada proyek besar dengan kolega bisnisnya.
Jelena masih di Dubai, tadi pagi Jelena menghubunginya jika sementara waktu belum bisa pulang ke Indonesia.
Rafael duduk di kursi kebesarannya sambil membaca laporan hasil rapatnya.
Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu dari luar ruangan kerja Rafael.
"Masuk!" suruh Rafael.
"Permisi Pak," sapa Luna.
"Luna, ada apa?" tanya Rafael.
"Saya mau memberikan undangan ini Pak."
"Boleh saya taruh di meja anda Pak?"
"Silahkan," ucap Rafael.
Rafael menatap sekretaris dengan wajah kebingungan. "Dari siapa?"
"Saya tidak tahu Pak. Tidak ada nama pengirimnya, mungkin nama pengirimannya ada di dalam."
"Baiklah, kamu boleh keluar."
"Baik, Pak, saya permisi." Kemudian Luna pun keluar dari ruangan Rafael.
Rafael membaca undangan sekilas, lalu melonggarkan dasinya dan menyambar kunci mobil yang ada di atas meja.
Rafael mengendarai mobilnya dengan santai. Siang ini Rafael pergi menemui Zahira, ingin mengajaknya makan siang.
Beberapa menit kemudian mobil Rafael terparkir manis di depan bakery Zahira. Rafael keluar dari mobil dan masuk ke dalam bakery.
"Rafael, kau sudah pulang?" tanya Zahira dari belakang yang melihat Rafael celingukan.
Rafael tersentak. "Ahh, Zahira. Iya tadi malam aku baru saja sampai."
"Oh, begitu. Bagaimana kabar keluargamu?" tanya Zahira.
"Mereka baik," jawab Rafael tersenyum.
"Kau sudah makan siang atau belum?" tanya Rafael.
"Ini baru mau makan siang."
"Makan siang sama aku aja," ajak Rafael.
Zahira terdiam, terlihat sedang berpikir ingin menolak atau menerima tawaran Rafael.
"Kau mau makan siang dimana?" tanya Rafael.
"Aku sebenarnya mau makan siang di apartemen."
"Tapi kalau kau mau mengajakku makan siang baiklah ak-"
"Kalau begitu makan siang di apartemenmu saja," sela Rafael.
"Bagaimana?" tanya Rafael.
"Baiklah." Zahira menganggukan kepalanya pelan mengiyakan ajakan Rafael.
Kemudian Rafael pun dengan segera melajukan mobilnya ke apartemen Zahira.
Setelah sampai mereka pun keluar dan masuk ke dalam apartemen.
"Kau mau makan apa?" tawar Zahira setelah masuk ke apartemen dan melangkah ke dapur.
"Memangnya belum masak?" tanya Rafael yang membuntuti Zahira dari belakang.
Zahira menggelengkan kepalanya.
"Terserah kau saja." Rafael menyilangkan tangannya ke d**a dan bersandar pada dinding dapur.
"Takoyaki?"
Rafael terkekeh kemudian menganggukkan kepala.
Hampir satu jam Zahira menyelesaikan masakannya. Ia menyiapkan satu piring takoyaki perahu.
"Zahira, besok malam kau ada acara?"
Zahira mengerutkan keningnya. "Sepertinya tidak ada, memangnya kenapa?"
"Kau mau menemaniku ke pesta?"
"Aku baru saja dapat undangan pesta dari teman bisnisku," ucap Rafael sambil menyuapkan takoyaki ke mulutnya.
"Besok malam?" Zahira memastikan.
Rafael menganggukkan kepalanya. "Bagaimana?"
"Baiklah."
Rafael tersenyum hangat. "Besok malam aku jemput di apartemen."
***
"Bagus yang mana menurutmu?" tanya Zahira.
Iren memegang dagunya sambil berpikir. "Merah maroon bagus," jawab Iren.
"Nggak yang peach aja?"
"Bagus semua. Tapi maroon lebih cocok."
Iren sedang berada di apartemen Zahira. Sebagai sahabat yang baik ia sedang membantu Zahira memilih pakaian yang cocok untuk kencan nanti malam dengan Rafael.
Apakah ini kencan? Ahh tidak, Rafael ternyata mengajak Zahira ke pesta. Tapi hanya berdua, ya mungkin hanya Zahira yang bisa menyebutnya kencan.
"Beneran yang maroon?" Zahira memastikan.
"Iya, yang maroon itu keliatan lebih dewasa. Udah deh percaya aja sama aku. Nanti kalau pakai yang warna maroon dijamin Pak Rafael klepek-klepek."
"Sembarang aja. Rafael itu udah punya tunangan cantik. Mana mungkin dia tertarik denganku yang remahan rengginang ini."
"Kalau kau remahan rengginang. Terus aku ini apa?" cibir Iren.
"Ya, udah deh, yang maroon aja." Zahira mengalihkan pembicaraan.
Tak ada habisnya jika sudah berdebat dengan Iren soal kecantikan. Menurut Zahira setiap perempuan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Iren selalu memuji Zahira, sebenarnya Zahira tidak keberatan namun pujian itu terlalu berlebihan. Iren juga cantik, hanya saja ia selalu merendah.
Kemudian Zahira masuk ke walking closet dan segera memakai pakaiannya. Tak menunggu waktu lama Zahira pun keluar dengan memakai dress maroon pilihan Iren.
"Kau nggak baper apa sama Rafael? Secara nih ya, orangnya baik, ramah, tampan, mapan, aduh apalagi ya banyak banget. Pokoknya hot daddy banget deh," celetuk Iren setelah Zahira duduk di depan meja rias.
"Nggak, biasa aja," jawab Zahira santai sambil merias wajahnya.
Iren beranjak dari kasur dan mendekati Zahira.
"Ngerasa nggak Rafael itu punya perasaan lebih sama kamu?" tanya Iren.
"Nggak lah, emangnya aku itu kau yang percaya dirinya tinggi," sanggah Zahira.
Iren mencebikkan bibirnya kemudian kembali duduk di ujung ranjang kamar Zahira.
"Kemarin dibelikan kalung liontin, sekarang di ajak ke pesta. Itu apa kalau nggak suka?" papar Iren.
"Atau dia hanya kesepian saja karena Jelena lagi di Dubai?" tebak Iren.
Iyakah? Apa benar yang dikatakan Iren? Zahira hanyalah pengganti, setelah Jelena kembali bisa saja Rafael tidak peduli lagi. Zahira menghentikan aktivitasnya merias wajah, ia menatap nanar kaca di depannya.
"Kau benar, mungkin lain kali jika Rafael mengajak aku harus menolak."
"Aku tidak menyuruhmu menolak ajakan Rafael, sebagai sahabat yang baik aku tidak mau kau tersakiti. Lagi pula Rafael sudah bertunangan dan pasti sebentar lagi juga akan menikah. Aku tak yakin, jika kau tak punya perasaan lebih dengannya."
Zahira membalikkan badannya menatap dalam Iren. "Kenapa kau begitu yakin?"
Iren berdecak kesal. "Kau baru kemarin sore kenal Rafael tapi diajak kemana aja mau. Sedangkan kau kenal Satya bertahun-tahun tapi diajak sering menolak," cibir Iren.
"Tidak kemarin sore juga," elak Zahira.
"Itu perumpamaan Zahira!" seru Iren.
Zahira menghela nafas lelah. "Karena aku memang lebih nyaman dengan Rafael," lirih Zahira.