Malam telah berlalu ketika Rindra mengantar Naura pulang setelah kejadian di vila tua. Mereka sama-sama lelah, baik fisik maupun batin. Perasaan tidak nyaman masih menyelimuti hati Naura, tetapi dia berusaha untuk tetap berpikir jernih.
“Aku akan menjemputmu nanti.” Kata Rindra sebelum Naura turun dari mobil.
“Terima kasih, Rindra. Hati-hati di jalan.” Ucap Naura sembari tersenyum tipis menundukkan wajahnya.
Dia melangkah masuk ke dalam rumahnya yang kecil yang di sewanya. Kamar sempit yang ia tempati masih dalam keadaan berantakan, tetapi Naura terlalu lelah untuk merapikannya. Setelah mengganti pakaian, dia langsung berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit dengan pikiran yang penuh sesak. Di pikirannya, bayangan wanita bergaun hitam yang sempat membisiki pikirannya di vila masih terasa nyata. Namun, dia menepis semuanya. Ini bukan saatnya memikirkan hal-hal yang tidak bisa dia pahami. Pagi ini, dia harus bekerja.
Sinar matahari menyelinap masuk melalui jendela, membangunkan Naura yang masih merasa kelelahan. Namun, dia tidak punya pilihan selain bangun dan bersiap untuk bekerja.
Dia bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran kecil di pusat kota. Bukan pekerjaan yang luar biasa, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Sesampainya di restoran, dia langsung mengganti pakaian dengan seragamnya. Restoran itu sudah mulai ramai dengan pelanggan yang datang untuk sarapan.
"Naura, tolong layani meja nomor lima !" Seru salah satu rekannya.
Naura segera mengambil buku catatan dan berjalan ke meja pelanggan dengan senyuman ramah. Hari ini, dia ingin melupakan semua yang terjadi semalam dan fokus bekerja.
Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Saat dia baru saja menyelesaikan pesanan dari salah satu meja, seorang pria berbadan besar dengan jas rapi memasuki restoran. Dia adalah Pak Sigit, manajer restoran, seorang pria berumur yang dikenal dengan sikapnya yang tegas dan sulit ditebak.
Tanpa peringatan, dia langsung menghampiri Naura.
“Naura, ikut saya ke kantor sekarang.” Katanya dingin.
“Ada apa, Pak !?” Ucap Naura terkejut
“Sekarang.” Sambungnya.
Suasana restoran menjadi hening. Semua karyawan melihat ke arah mereka dengan penasaran. Naura, dengan perasaan tidak enak, mengikuti langkah Pak Sigit ke ruangannya di bagian belakang restoran.
Saat mereka tiba di dalam ruangan, Pak Sigit menutup pintu dan menatap Naura dengan ekspresi serius.
“Kamu tidak perlu bekerja di sini lagi.” Katanya singkat.
Naura tertegun, nampak kebingungan di garis wajahnya.
“Maksud Bapak… saya dipecat !?” Ucapnya.
Pak Sigit mengangguk dan langsung memalingkan wajahnya..
“Ya. Efektif mulai sekarang.” Tegasnya.
Naura merasa kepalanya berputar. “Tapi… kenapa, Apa saya melakukan kesalahan !?” Kata Naura pelan.
Pak Sigit menghela napas panjang, seolah enggan memberikan penjelasan.
“Ini keputusan manajemen. Saya tidak bisa mengatakan lebih banyak.” Kata Pak Sigit.
Naura menggigit bibirnya. Dadanya terasa sesak. Dia telah bekerja di tempat ini selama lebih dari satu tahun, dan tiba-tiba dia harus pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas.
“Pak, saya mohon… kalau memang saya melakukan kesalahan, beri tahu saya. Saya bisa memperbaikinya,” Katanya, suaranya bergetar.
Namun, Pak Sigit tetap pada pendiriannya.
“Keputusan sudah final, Naura. Silakan ambil barang-barangmu dan pergi.” Kata Pak Sigit.
Naura menahan air matanya. Dia ingin marah, ingin menuntut jawaban, tetapi dia tahu bahwa itu tidak akan mengubah apa pun.
Dengan langkah berat, dia kembali ke ruang loker, mengambil tasnya, dan berjalan keluar restoran tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada rekan-rekannya.
Saat dia berdiri di luar, angin pagi terasa dingin menusuk kulitnya. Kenapa semua ini terjadi.
Naura berjalan tanpa arah di trotoar kota. Hatinya dipenuhi pertanyaan yang tak terjawab.
Tanpa sadar, dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Rindra.
“Halo ?” Suara Rindra terdengar di seberang telepon.
“Rindra… aku baru saja dipecat.” Kata Naura dengan suara lirih.
Hening sejenak. Lalu, suara Rindra terdengar lebih serius.
“Aku akan menemuimu sekarang. Tunggu di tempat biasa.”
Naura setuju dan menuju taman kecil di dekat pusat kota, tempat mereka sering bertemu.
Tak lama kemudian, Rindra tiba dengan motornya. Dia turun dan langsung menghampiri Naura yang duduk di bangku taman.
“Apa yang terjadi !?” Tanyanya.
Naura menghela napas panjang. “Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja manajer memanggilku dan mengatakan bahwa aku dipecat tanpa alasan.” Ucap Naura.
Rindra berpikir sejenak.
“Apa ada masalah dengan pelanggan atau mungkin ada seseorang yang tidak menyukaimu di tempat kerja !?” Tanya Rindra.
Naura menggeleng.
“Aku selalu bekerja dengan baik. Aku tidak pernah punya masalah dengan siapa pun.” Ucap Naura pelan.
Rindra menatap Naura dengan penuh perhatian.
“Ini terdengar mencurigakan.” Gumam Rindra terdengar.
Naura mengangguk.
“Aku juga merasa begitu.” Ucap Naura.
Rindra berpikir keras. Sesuatu terasa tidak beres.
“Kita harus mencari tahu siapa yang ada di balik semua ini.” Ujar Rindra.
Naura menatapnya dengan ragu. “Tapi bagaimana caranya !?” Kata Naura.
Rindra tersenyum kecil lalu berkata.
“Aku punya beberapa kenalan. Kita bisa mulai dari sana.”
Naura mengangguk. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam hidupnya, tetapi satu hal yang pasti, dia tidak akan tinggal diam.
Rindra menatap Naura dengan serius.
"Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak percaya kau dipecat tanpa alasan yang jelas." Ujar Rindra.
Naura mengangguk pelan, masih sulit menerima kenyataan bahwa pekerjaannya telah hilang begitu saja.
"Tapi bagaimana caranya, Aku tidak punya akses ke dokumen restoran atau informasi manajemen." Kata Naura.
Rindra tersenyum kecil.
"Aku punya beberapa kenalan yang bisa membantu kita mencari informasi. Mari kita mulai dari salah satu teman lamaku, Aryo. Dia sering bekerja di bagian keamanan restoran dan mungkin bisa memberi kita petunjuk." Ujar Rindra sembari mengangguk pelan.
Tanpa membuang waktu, Rindra mengajak Naura menaiki motornya dan melaju menuju sebuah kafe kecil di pinggiran kota. Tempat itu cukup sepi, hanya ada beberapa pelanggan yang duduk menikmati kopi mereka. Di salah satu sudut ruangan, seorang pria berperawakan tegap dengan jaket hitam duduk sendirian, menyesap kopinya.
"Aryo." Sapa Rindra saat mereka mendekat.
Pria itu mendongak, tersenyum tipis, lalu mengangguk.
"Rindra, sudah lama tidak bertemu !!?" Seru Aryo.
Rindra duduk di hadapannya, sementara Naura tetap berdiri ragu-ragu.
"Aku butuh bantuanmu." Kata Rindra tanpa basa-basi.
"Naura baru saja dipecat dari restoran tempatnya bekerja tanpa alasan yang jelas. Aku ingin tahu apakah ada sesuatu di balik ini." Lanjut Rindra.
Aryo menghela napas dan mengamati Naura sebentar sebelum menjawab.
"Aku tidak bekerja langsung di restoran itu, tapi aku punya beberapa kenalan yang mungkin tahu sesuatu. Aku bisa bertanya-tanya." Kata Aryo.
Naura menatap Aryo penuh harap. "Terima kasih. Aku hanya ingin tahu alasan sebenarnya. Rasanya tidak adil jika aku harus pergi tanpa penjelasan apa pun." Ucap Naura terdengar lirih.
Aryo mengangguk, sembari memijat dagunya.
"Berikan aku waktu satu atau dua hari. Aku akan menghubungi kalian jika menemukan sesuatu." Kata Aryo.
Rindra menggenggam tangan Naura dengan lembut.
"Kita akan menemukan jawabannya. Percayalah padaku." Ucap Rindra.
Naura tersenyum tipis, merasa sedikit lebih tenang. Namun, di dalam hatinya, dia tahu ini baru permulaan dari sesuatu yang lebih besar.