33. Larangan Keras

1057 Words
Di ruang kultivasi yang menjadi tempat pertemuan penting itu tampak diselimuti aura cukup menegangkan. Apalagi kini hanya ada Xuan Yi dan sang ayah dengan Nenek Gu memutuskan keluar ketika mendengar alasan kepulangan Gu Sheng Jun untuk melihat keadaan Xuan Yi. Kini di sebuah meja kecil berisikan dua laki-laki berwajah mirip dengan seteko berisikan air teh panas yang sengaja dibuat untuk menemani perbincangan keduanya. Meskipun salah satu dari mereka sudah ada yang menyadari bahwa obrolan kali ini cukup serius. “Sejak kapan kau diam-diam mempelajari bela diri?” tanya Gu Sheng Jun terdengar dalam. “Sehari sebelum aku masuk ke Akademi Tangyi, Ayah,” jawab Xuan Yi jujur. “Bukankah sudah Ayah bilang untuk tidak pernah mempelajari bela diri? Dan apa tadi? Kau menguasai ilmu kultivasi sangat pesat, Xuan Yi! Jangan bilang kalau kau sudah mempelajarinya di belakang Ayah!” sentak Sheng Jun memijat pelipisnya lelah, lalu mengepalkan tangannya. “Memangnya kenapa kalau sampai aku mempelajari bela diri? Bukankah itu akan membuat derajat Keluarga Gu menjadi lebih tinggi?” tanya Xuan Yi menahan semua gejolakan emosi yang menggebu-gebu di dalam hatinya. “Omong kosong! Kau tidak mempelajari apa pun Keluarga Gu akan tetap terpandang, Xuan Yi. Jangan mengada-ngada alasan hanya karena ingin belajar bela diri,” jawab Sheng Jun tersenyum sinis. Hal tersebut membuat Xuan Yi mendadak kesal. Memangnya ia tidak boleh melakukan apa pun sesukanya sampai harus dikekang untuk tidak pernah mempelajari bela diri dalam bentuk apa pun. “Ayah, kenapa kau tidak adil padaku!” cetus Xuan Yi kehilangan kesabaran. “Kau menuntut keadilan?” tanya Sheng Jun terdiam sesaat. “Jangan membicarakannya padaku. Karena sejak kau dilahirkan tidak ada yang namanya keadilan, Xuan Yi. Kau harus berusaha dengan dirimu sendiri agar bisa mendapatkan kehidupan yang pantas.” “Maka dari itu, aku harus bisa bela diri, Ayah,” timpal Xuan Yi tetap bersikeras. “Aku akan tetap mendukung semua jalanmu, kecuali bela diri. Tidak akan pernah. Sekalipun aku harus mengorbankan nyawaku sendiri,” tolak Sheng Jun secara terang-terangan membuat hati Xuan Yi merasa sakit hati. “Ayah, apa kau tahu kalau di luar sana aku menjadi bahan ejekan orang lain? Hanya karena aku satu-satunya keturunan Keluarga Gu yang tidak bisa melakukan apa pun. Aku memang tidak pernah menuntut apa pun darimu,” ucap Xuan Yi dengan nada melemah sekaligus kesal. Entah kenapa hatinya benar-benar merasa sakit dan kecewa di saat yang bersamaan. “Tapi, bisakah Ayah mendukung keputusanku ini? Meskipun berlawanan dengan kemauanmu sendiri. Aku tidak ingin membuat nama Keluarga Gu tercoreng akan predikatnya sebagai keluarga ahli bela diri dan kultivasi terkenal di Dataran Qinyuan,” sambung Xuan Yi mengingat kembali di mana dirinya benar-benar diejek oleh warga tempat tinggalnya sendiri. Namun, Sheng Jun tetaplah lelaki keras hati yang tidak memikirkan apa pun secara lanjut. Ia terlalu ceroboh untuk memahami situasi yang tengah dijalani oleh Xuan Yi, anaknya. “Sekali tidak tetap tidak!” bentak Sheng Jun mengejutkan Xuan Yi dan Nenek Gu yang baru saja datang. Sontak hal tersebut membuat Xuan Yi langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia mengusap air matanya kasar, lalu berkata, “Baiklah. Aku akan tetap mengejar impianku sendiri. Dengan atau tanpa dukungan dirimu, Ayah. Dan kalau kau malu mempunyai anak sepertiku, kau bisa bersikap acuh tak acuh ketika di luar.” Setelah mengatakan hal yang cukup mengejutkan itu, Xuan Yi pun berbalik dan sedikit terkejut mendapati seorang wanita paruh baya yang mematung di depan pintu. Ingin sekali ia memeluk Nenek Gu, hanya saja situasi sedang tidak cukup membaik. Membuat pemuda itu langsung melenggang begitu saja meninggalkan kediaman yang sebentar lagi akan menjadi tempat paling dirindukan olehnya. Perdebatan singkat yang cukup serius itu langsung mengalihkan dunia Xuan Yi. Pemuda tampan dengan guratan lelah sekaligus kecewa terlihat menatap Sungai Han dengan sesekali melemparkan batu ke dalam air. Entah kenapa ia merasa begitu tenang ketika mendapat kesunyian seperti ini. Meskipun jauh dari dalam lubuk hatinya sangat kecewa terhadap sikap sang ayah yang begitu aneh sekaligus gegabah memutuskan sesuatu. “Sebenarnya, apa yang sedang disembunyikan Ayah? Kenapa dia begitu marah ketika mengetahuiku mempelajari bela diri?” tanya Xuan Yi pada dirinya sendiri sembari menatap genangan air di hadapannya yang begitu tenang. Akan tetapi, di tengah kesendirian itu, Xuan Yi mendengar seseorang melangkah mendekat membuat pemuda tampan yang terduduk di bebatuan menoleh dan mendapati seseorang dikenalinya. ”Kenapa kau ada di sini, Chang Qi?” tanya Xuan Yi tersenyum tipis. “Tuan Muda, kau harus kembali ke Akademi Tangyi,” jawab Chang Qi membuat kerutan di dahi Xuan Yi tercetak jelas. “Ada masalah apa di sana?” tanya pemuda tersebut bingung. “Sekelompok prajurit militer binaan Jenderal Besar Gu sedang melakukan pencarian besar-besaran yang berhubungan denganmu,” jawab Chang Qi sedikit gelisah. “Apa!?” pekik Xuan Yi tidak percaya. “Sekarang sudah banyak kamar murid laki-laki yang terkena razia. Kini hanya tinggal kamar murid perempuan yang salah satunya adalah kamar kita berdua,” ucap Chang Qi lagi. “Kenapa mereka melakukan itu?” tanya Xuan Yi benar-benar merasa lelah. “Tujuan mereka hanya satu, yaitu menemukan barang milikmu dan segera hengkang dari sana,” jawab Chang Qi. “Bagaimana dengan Guru Xuaming?” “Tidak banyak yang bisa dilakukan para guru.” “Lalu, Kakekku di mana? Apa dia baik-baik saja?” “Master Kultivasi Gu kebetulan sekali selesai pertandingan langsung memutuskan untuk pulang menemuimu, tapi sepertinya beliau kalah cepat. Karena aku sudah menemukanmu ada di sini.” “Baiklah. Bawa aku ke hadapan mereka, Chang Qi. Aku tidak ingin semua orang di Akademi Tangyi merasa dirugikan,” pinta Xuan Yi berwajah serius membuat Chang Qi sudah tidak mempunyai pilihan. Akhirnya, dua pemuda tampan itu pun melenggang pergi menuju Akademi Tangyi yang tidak terlalu jauh dari Sungahi Han, tempat di mana Xuan Yi menenangkan dirinya sendiri. Namun, sudah kembali dirusak oleh para prajurit suruhan ayahnya. Sesampainya di depan pintu akademi, Xuan Yi benar-benar dibuat merasa bersalah dengan kekacauan terjadi di mana-mana. Bahkan bisa dikatakan bahwa ayahnya sangatlah nekat sampai membuat Akademi Tangyi porak-porandakkan. Tidak ingin situasi seperti ini kembali berlanjut, Xuan Yi pun langsung memutuskan untuk meminta Chang Qi menunjukkan arah yang seharusnya mereka lewati. Demi mempercepat penemuan prajurit perusah wilayah orang lain. “Berhenti!” seru Xuan Yi saat melihat beberapa prajurit hendak mendesak masuk tepat di kamar Shen Jia. Untung sekali pemuda itu datang tepat waktu sehingga mengagalkan para prajurit tersebut masuk ke dalam kamar yang sudah ditinggalinya selama beberapa lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD