32. Kepemerintahan Terbengkalai

1040 Words
Selesai makan, mereka bertiga pun keluar dari restoran sembari melangkah menyusuri para pedagang yang terlihat menawarkan dagangannya. Bahkan bisa dikatakan mereka tanpa lelah terus berteriak hingga salah satu pembeli tampak mendekat. Memang suasana pasar di sini tidak terlalu jauh berbeda dengan Kota Xuanhu. Meskipun tidak dapat dipungkiri Kota Xuanhu memiliki banyak lahan untuk para pedagangan, dan tidak seperti di sini yang begitu berhimpitan. Hal tersebut membuat Xuan Yi memperhatikan dengan seksama. Seakan ia begitu merasa kehimpitan yang terus mendesak perasaan para penduduk di sini. Jika dibandingankan Kota Xuanhu, mungkin penduduk di sini benar-benar harus diperhatikan lebih. “Xuan Yi, aku lihat penduduk di sini begitu kumuh. Apa karena pemerintahan di sini kurang diperhatikan?” bisik Shen Jia dengan suara yang begitu pelan. Ia takut kalau perkataannya bisa didengar oleh orang lain dan menimbulkan kesalahpahaman. “Aku tidak tahu, tapi sepertinya yang kau katakan tadi memang benar,” jawab Xuan Yi menatap sekitar dengan begitu miris, lalu pandangannya terpaku pada salah satu bangunan tua nan tidak terawatt. “Apa kau tahu bangunan itu?” Sejenak Shen Jia mempertajam penglihatannya sampai ia menganga tidak percaya, lalu berkata, “Itu lumbung pagi! Kenapa bisa sampai seperti itu?” Xuan Yi menggeleng singkat. “Kita akan tahu setelah pertandingan hari ini. Karena aku harus bertarung dengan ayahku.” “Oh ya, kau benar! Tadi aku melihat Jenderal Gu benar-benar sangat marah padamu, Xuan Yi,” balas Shen Jia tertawa pelan, dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju kuil agung tempat di mana kompetisi masih berlangsung. Tak lama kemudian, ketiganya pun sampai di sebuah kuil yang berisikan banyak sekali biksu berkepala plontos dengan memegang jubah kebesarannya. Mereka memasang wajah datar sembari membungkuk hormat pada Xuan Yi. Tentu saja hal tersebut menimbulkan banyak pertanyaan, terlebih pada Shen Jia. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tetapi hal tersebut jelas mengundang banyak tatapan penasaran sekaligus tidak suka. Mengingat Xuan Yi menjadi pemenang di kompetisi pembuka tadi. Apalagi lawannya bukanlah  main-main. Akan tetapi, pandangan penasaran itu segera tergantikan dengan gugup ketika melihat seorang lelaki dewasa beraura sangat mendominasi mendekati mereka bertiga. Seseorang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Gu Sheng Jun. Sontak hal tersebut membuat Xuan Yi menegakkan tubuhnya menatap sang ayah tanpa gentar sama sekali. Sedangkan Chang Qi yang mengerti akan hubungan keduanya tidak terlalu baik pun langsung mengajak Shen Jia untuk mejuah dari sana. Sejenak Shen Jia tampak khawatir, tetapi melihat tatapan menenangkan dari Xuan Yi membuat gadis itu akhirnya mengikuti Chang Qi untuk kembali ke tribun di mana Akademi Tangyi masih sibuk mendukung Xiao Pingjing sekaligus menjadi pertandingan penutup sebelum turun ke babak semi final. “Di mana Xuan Yi?” tanya Guru Xuaming melihat hanya ada Shen Jia dan Chang Qi yang kembali. “Sedang ada urusan, Shifu,” jawab Shen Jia tidak bisa berkata jujur. Chang Qi menghela napas pendek. “Xuan Yi sedang bersama Jenderal Gu, Shifu.” Dan benar saja, perkataan Chang Qi mengundang banyak sekali tatapan penasaran. Mereka jelas tidak ada yang menduga bahwa Xuan Yi akan menarik perhatian salah satu jenderal besar yang terkenal sekali akan sifat dinginnya pada siapa pun. Bahkan bisa dikatakan ketika menjadi pengajar di Akademi Dangyi lelaki tersebut sering kali memberikan hukuman yang begitu memberatkan. Sehingga tidak sedikit murid mengeluh akan cara mengajarnya yang terlalu keras. “Untuk apa dia bersama Jenderal Besar Gu?” tanya Guru Xuaming benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Karena Xuan Yi adalah anaknya,” jawab Chang Qi lugas sekaligus tenang. Sedangkan Shen Jia hanya bisa tersenyum tipis melihat betapa terkejutnya teman-teman mereka yang mendengar hal tersebut, termasuk Guru Xuaming langsung membeku di tempat. Setelah itu, tidak ada yang berani menyinggung pasal Xuan Yi. Meskipun pemuda itu tidak kembali tepat saat Xiao Pingjing menyelesaikan pertarungannya melawan salah satu akademi kecil dengan pendekar yang begitu berbakat. “Di mana Xuan Yi?” tanya Xiao Pingjing mencari sahabatnya yang tidak ada di sana. “Sedang bersama Jenderal Gu,” jawab Chang Qi membuat Xiao Pingjing mendengarnya langsung menukik alis bingung. “Apa dia akan terkena masalah lagi?” tanya pemuda itu yang mengundang tatapan terkejut. Kemudian, salah satu murid Akademi Tangyi pun memberanikan diri untuk bertanya, “Murid Xiao, apa kau tahu kalau Xuan Yi adalah anak dari Jenderal Besar Gu sekaligus cucu Master Kultivasi Gu?” Xiao Pingjing terdiam sesaat, lalu menatap Chang Qi yang mengangguk samar. Menandakan bahwa identitas Xuan Yi sebagai murid biasa sudah terbongkar. Nyatanya pemuda tersebut benar-benar dari latar belakang yang tidak terduga. “Iya, aku mengetahuinya dengan jelas. Apa ada masalah?” jawab Xiao Pingjing mengangguk mantap. “Ti ... tidak ada,” timpal murid tersebut menggeleng penuh takut. Sedangkan Xiao Pingjing kembali mendudukkan diri di samping Shen Jia sembari menyeka keringatnya yang bercucuran. Ia melihat seorang wasit yang memisahkannya tadi tengah bercakap-cakap untuk mengakhiri pertandingan hari ini, termasuk mengumumkan beberapa akademi yang akan masuk ke babak semi final. Sampai di penghujung acara pun Xuan Yi tidak ditemukan dan kembali ke Akademi Tangyi. Padahal Xiao Pingjing, Chang Qi, Shen Jia, dang Sang Qi sudah menunggu pemuda tersebut agar segera datang dan menjelaskan semuanya. Sebab, sedari dulu memang tidak ada yang tahu bahwa Gu Shen Jun mempunyai anak seusia Xuan Yi. Apalagi bisa dikatakan lelaki itu menutupinya dengan sangat rapi. Bahkan tidak ada satu pun yang bisa mengendus keberasaan Xuan Yi. Meskipun beberapa kali memergoki pemuda tersebut tengah berada di kediaman Keluarga Gu. Sementara itu, tidak ada yang tahu bahwa di sisi lain Xuan Yi terjebak di dalam situasi cukup menegangkan. Memang tepat setelah ia dijemput paksa oleh ayahnya sendiri, Xuan Yi kembali begitu saja menuju kediaman Keluarga Gu bersama sang ayah. Di dalam perjalanan pun mereka berdua tidak mengatakan sepatah kata pun. Hanya diam seiring dengan kereta kuda tersebut membelah perbukitan, jalanan bebatuan, dan hutan-hutan lebat yang menjadi pemisah. Xuan Yi memang sesekali melirik sang ayah yang terduduk kaku menatap lurus ke depan. Bahkan lelaki tampan rupawan itu terlihat benar-benar datar seakan ada hal yang mengganjal di hatinya. Sesampainya di kediaman, Gu Sheng Jun keluar dari kereta kuda, dan diikuti oleh Xuan Yi di belakangnya. Membuat beberapa penghuni kediaman terkejut melihat dua laki-laki yang sudah lama sekali meninggalkan kediaman, akhirnya kembali pulang. “Xuan Yi, akhirnya kau pulang, Nak?” sapa Nenek Gu tersenyum lebar, lalu memberikan keranjang berisikan bunga pada tiga dayang yang berada di belakangnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD