31. Penduduk Kumuh

951 Words
Setelah selesai melawan satu-satunya murid paling berbakat sekaligus pembuka bagi Kompetisi Bela Diri Tahunan tersebut, Xuan Yi memutuskan untuk turun dari arena pertandingan bersama Chang Qi yang berada di sampingnya. Sedangkan Shen Jia yang melihat Xuan Yi turun untuk menuju pintu keluar kuil agung itu pun bangkit dari tempat duduknya, membuat beberapa pasang mata langsung teralihkan pada seorang gadis cantik yang kini tersenyum lebar sembari memegangi lengan Xiao Pingjing. Tentu saja gadis itu hendak melarikan diri dengan mulus tanpa harus melihat tatapan menyeramkan dari ayahnya sendiri yang sudah memperhatian dari kejauhan. Lebih tepatnya dari balik tirai berwarna putih dengan kursi keagungan di tengah-tengah jajaran guru dan akademi yang ada. “Pingjing, apa kau tidak lapar?” tanya Shen Jia’er membuat pemuda yang ada di samping gadis itu menghela napas panjang. “Aku memang lapar, tetapi pertandingan sebentar lagi akan dimulai. Rasanya, aku tidak bisa pergi,” jawab Xiao Pingjing jujur. Sebab, memang sehabis pertandingan Xuan Yi mengalahkan secara telak pada Ling Rui akan kembali digelar pertandingan melawan beberapa akademi kecil yang tidak kalah berbakat. Hanya saja sesuai ketentuan tadi, Xiao Pingjing mendapat giliran kedua setelah Xuan Yi tampil. Sehingga pemuda tersebut tidak bisa bepergian ke mana pun. Sebelum menyelesaikan pertandingannya sendiri. “Kau benar. Lantas, aku ke sana bersama siapa?” keluh Shen Jia mengerucutkan bibirnya kesal. Akhirnya, dengan berat hati, ia pun turun dari tribun penonton yang menjadi tempat bagi para murid Akademi Tangyi menunggu giliran sekaligus mendukung para pejuang di arena kompetisi. Dengan menguasai cukup banyak energi qi, Shen Jia pun mendarat cukup mulus di atas tanas yang beralaskan sepatu mahal berwarna putih miliknya. Sebab, hari ini ia memang mengenakan pakaian dari kediamannya sendiri, Istana Timur. Membuat beberapa diantaranya tampak sangat mencolok. Akan tetapi, pribadi Shen Jia yang sama sekali tidak mencerminkan seorang putri itu pun membuat sisi kepatuhan dan keanggunannya tertutupi. Meskipun begitu, ia tetap saja bisa menjadi pribadi yang lembut ketika sudah waktunya tiba. Sedangkan Xuan Yi sudah melakukan perjanjian pada Shen Jia pun menunggu dengan sabar di dekat salah satu prajurit yang berdiri di pintu masuk. Mereka tampak seperti patung yang memperhatikan banyak pendekar sakti melintas ke sana-kemari. “Akhirnya, aku bisa lolos!” keluh Shen Jia dengan napas yang tidak beraturan. “Memangnya kenapa?” tanya Xuan Yi penasaran. “Apa kau tahu? Tadi Ayahku benar-benar sangat menakutkan,” jawab Shen Jia polos. Kemudian, mereka bertiga pun melenggang keluar dengan santai menuju salah satu restoran yang tidak terlalu ramai. Nyatanya Xuan Yi benar-benar sangat lapar hingga ia menghabiskan banyak sekali makanan dalam satu kali putaran. Bahkan hal tersebut membuat Shen Jia terkejut sekaligus tidak percaya. Bahwa akan ada seorang pemuda yang makan begitu banyak hingga tidak mengingat di mana dirinya berada. Namun, Shen Jia memang tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Sebab, Xuan Yi memiliki banyak sekali koneksi antar desa yang selalu saja memprioritaskan kesenangannya. Mengingat pemuda tersebut memiliki keluarga yang mengelola sebuah pavilium begitu pesat. “Chang Qi, apa kau masih lapar?” tanya Shen Jia mengernyit tidak percaya, lalu menatap seorang pemuda yang tengah meminum teh. “Tidak,” jawab Chang Qi menggeleng pelan. “Kalau begitu, aku ingin keluar sebentar untuk membeli tanghulu,” ucap Shen Jia merapikan penampilannya sesaat. “Jangan, Murid Shen. Biar aku saja yang membelikannya untukmu,” tolak Chang Qi menggeleng pelan. “Sudah tidak apa-apa. Aku hanya akan membeli tanghulu, dan tidak melakukan apa pun lagi,” sanggah Shen Jia bersikeras. Namun, sekeras apa pun penolakan Shen Jia terhadap Chang Qi. Pemuda berwajah datar itu pasti tidak akan pernah mengizinkannya. Ia bahkan bisa dikatakan lebih keras kepala dari Shen Jia. Membuat Xuan Yi yang berada di tengah-tengah langsung menghela napas panjang. “Sebenarnya, kalian berdua itu yang seharusnya pergi. Karena aku ingin tetap di sini sampai semua makanan telah aku habiskan sendiri,” sahut Xuan Yi memutar bola matanya malas. Sedangkan Shen Jia mendengkus sinis sembari menatap ke arah lain. Lebih tepatnya ke arah panggung yang berisikan empat penari andal yang begitu cantik. Namun, pakaian mereka terlihat sopan dan begitu elegan. Tidak seperti di restoran lainnya. “Begini saja, bagaimana kalau aku yang membelikan Shen Jia tanghulu. Lalu, kau, Chang Qi segera kembali ke kuil agung. Aku takut kalau Xuaming Shifu akan marah jika mencariku, tetapi sudah tidak ada,” pungkas Xuan Yi membuat keduanya terdiam sembari mengangguk beberapa kali. “Sepertinya, itu ide yang bagus!” balas Shen Jia mengangguk mantap. “Baiklah. Kalau begitu, sudah tidak ada yang diributkan kembali. Jadi, biarkan aku menghabiskan semua makanan ini sebelum akhirnya kita semua kembali ke sana,” putus Xuan Yi memasukkan kepalan nasi lumayan besar yang berada di tangannya. “Tapi, kau jangan terlalu lama, Xuan Yi. Aku takut makanan itu akan habis jika kau terlalu lama mengunyah,” ucap Shen Jia benar-benar berharap penuh. Setelah itu, Chang Qi, Shen Jia, dan Xuan Yi pun terdiam menatap sederetan lauk yang masih banyak. Bisa dikatakan hanya Xuan Yi satu-satunya pemuda tampan yang ingin menghabiskan makanan tersebut. Namun, di tengah kegiatan menunggunya, mereka bertiga tampak melihat salah satu pengunjung restoran marah pada saalah satu orang berpakaian kumuh sekaligus tidak terawat. Ia terlihat membawa pikirng kecil di tangannya dengan tongkat kayu yang begitu lapuk. “Dasar pengemis! Usir dia pergi dari sini!” sentak salah satu pendekat berwajah tampak nan dingin tersebut. “Maafkan aku,” sesal pengemis tersebut berusaha membereskan kekacauan yang telah ia perbuat tadi. Secara tidak sadar memang pengemis tadi menyenggol salah satu meja pengunjung yang penuh makanan. Hingga beberapa diantaranya tampak rusak dan tidak terbentuk membuat sang pemesan makanan tersebut mendadak murka. Akan tetapi, lain halnya dengan Xuan Yi menukikkan alisnya tidak percaya. “Aku tidak percaya akan ada pengemis yang diperlakukan begitu kasar oleh sesama makhluk hidup,” gumam Xuan Yi merasa cemas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD