41. Kekeluargaan Desa Teratai

1033 Words
Suara erangan pelan terdengar dari mulut salah satu pemuda di sana dengan banyak sekali gelas-gelas yang bergelimpangan dan bekas cemilan berserakan tidak terurus. Pemuda yang kini tengah memegangi kepalanya itu tampak meringis pelan. Entah kenapa ia merasa bahwa kepalanya serasa ingin pecah ketika diangkat dari atas meja. Kemudian, menoleh ke arah sekelilingnya yang terlihat sepi. Hanya ada dirinya di sana membuat pemuda itu perlahan bangkit, lalu berjalan menuju anak tangga yang berada di bawahnya. Sejenak ia menatap hamparan hijau yang begitu luas seiring dengan angin bertiup gemas. Menandakan pagi telah tiba dan suara ayam berkokok pun menandakan aktivitas kembali dilaksanakan. “Yi’er, kau sudah bangun?” tanya seorang wanita paruh baya membawa semangkuk sup. “Minumlah sup ini untuk meredakan rasa pengarmu.” Xuan Yi memang terasa sedikit pengar, lalu menerima sup tersebut dan meminumnya hingga tandas. “Ke mana semua orang? Kenapa hanya ada aku?” Wanita paruh baya itu tersenyum tipis. “Tentu saja mereka sedang bekerja di desa sebelah, Yi’er. Karena berada menetap di sini jelas tidak menghasilkan apa pun, selain bercocok tanam dan membuat pakaian dari sutera agar bisa dijual di pasar.” Sejenak pemuda itu terdiam mendengar betapa mirisnya desa ini ketika tidak bisa menghasilkan apa pun. Membuat Xuan Yi menghela napas panjang. “Apa kalian semua kekurangan uang?” tanya Xuan Yi berhati-hati. “Tidak, Yi’er. Bekerja bukan berarti kami semua kekurangan. Hanya saja kalau tetap berada di sini jelas tidak menghasilkan apa pun. Sehingga banyak pemuda yang memutuskan untuk bekerja di desa sebelah yang lebih menghasilkan uang,” jawab wanita paruh baya itu dengan senyuman lebar di wajahnya. Tidak dapat dipungkiri Xuan Yi mendengar hal tersebut merasa sedikit kecewa. Ia tidak tahu kalau menetap hidup di sini jelas membuat mereka semua tidak bisa melakukan apa pun. “Yi’er, apa kau tidak segera kembali?” celetuk wanita paruh baya itu ketika melihat keterdiaman Xuan Yi. “I ... iya benar, A yi. Aku harus kembali,” balas Xuan Yi setengah tergagap. Sejujurnya yang membuat pemuda itu termenung adalah melihat kebahagiaan mereka terpancar begitu kuat. Akan tetapi, ketika mengingat kembali bagaimana caranya bertahan hidup membuat Xuan Yi merasa begitu cemas. Apalagi kebanyakan Desa teratai adalah anak muda yang ingin membawa keluarganya pada taraf bahagia. “Ya sudah, cepatlah kau makan bersama Mi Zao,” titah Bibi Huang selaku istri dari lelaki yang menyambut kedatangan Xuan Yi semalam. Akhirnya, demi menuruti permintaan Bibi Huang, Xuan Yi pun memutukan untuk ikut mengantri di dapur milik bersama yang terletak tidak jauh dari pavilium tempat dirinya tidur semalam dalam keadaan mabuk. Untung saja ia tidak sampai mengeluarkan isi perutnya ketika tidur. Mungkin kalau melakukan hal tersebut benar-benar runtuh sudah harga dirinya sebagai seorang pemuda sopan dan memiliki tata krama yang baik. Seorang wanita paruh baya terlihat memberikan pada Xuan Yi semangkuk berisikan bubur berwarna merah yang begitu manis. Membuat pemuda tersebut langsung berterima kasih dan ikut menggabungkan diri bersama beberapa warga lainnya. Mereka semua terlihat bahagia, meskipun di antaranya terlihat kosong dengan beberapa dari mereka sudah kembali melanjutkan aktivitas sehingga tidak bisa berdiam diri terlalu lama. Setelah selesai sarapan, Xuan Yi pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju Akademi Tangyi. Sebab, hari liburnya telah selesai sehingga ia harus segera bergegas untuk melanjutkan pembelajarannya sebagai murid di sana. Tentu saja untuk mempersingkat waktu, Xuan Yi menggunakan energi qi untuk terbang melalui daun ke daun mempersingkat perjalanannya sampai di Akademi Tangyi. Sebab, tempat itu benar-benar berjarak cukup jauh jika melakukan perjalanan hanya dengan menggunakan keduua kakinya saja. Tak lama kemudian, pemuda itu pun sampai di sebuah gerbang berukuran cukup besar yang terbuat dari kayu dan besi di bagian pegangannya. Di sisi kanan dan kirinya terlihat patung singa cukup besar yang melambangkan keberanian sekaligus tenang. Namun, sedikit terlihat aneh dengan tidak adanya prajurit di sana. Biasanya ketika hari pertama seperti ini selalu ada kunjungan dari pihak istana untuk meminta laporan murid agar bisa dikembangi lebih lanjut, termasuk evaluasi terhadap beberapa murid yang terlihat malas-malasan. Tanpa ragu Xuan Yi pun masuk ke dalam sampai kornea matanya terpaku pada sekumpulan guru yang terlihat sibuk memeriksa satu per satu anak murid berbaris rapi membentuk banjar. Shen Jia merasa kehadiran seseorang pun langsung menoleh dan terpaku pada seorang pemuda yang berdiri tidak jauh dari barisan. Tentu saja hal tersebut membuat gadis itu menggeleng dan mengkode pada Xuan Yi untuk tidak mendekat. Akan tetapi, sayang sekali pemuda itu tidak mengerti akan kode dari Shen Jia. Sehingga ia mendekat dengan begitu tenang. Membuat pandangan para guru langsung teralihkan dengan kehadiran Xuan Yi. “Xuan Yi, dari mana saja kau pagi ini baru datang?” tanya Guru Xuaming dengan tatapan tajamnya seperti biasa. “Aku menginap di luar, Shifu. Kemarin ada kesalahan sehingga aku tidak sadar bahwa telah melakukan keterlambatan hari ini,” jawab Xuan Yi jujur sekaligus meringis pelan menyesali perbuatannya sendiri. Guru Xuaming terdiam sejenak. “Kalau begitu, berlutut di pavilium dekat danau sampai aku datang ke sana untuk memberi pelajaran padamu.” Mendengar hal tersebut mau tak mau Xuan Yi pun menurutinya. Sedangkan Shen Jia langsung menghela napas kasar. Ia terlihat gemas melihat Xuan Yi begitu polos. Padahal sudah ia peringatkan tadi. Sementara itu, Chang Qi yang melihat majikannya dihukum pun ikut meninggalkan barisan membuat Guru Xuaming tidak bisa melakukan apa pun, selain membiarkan dua pemuda itu melenggang pergi. Sedangkan Xiao Pingjing memutar bola matanya malas melihat Xuan Yi benar-benar ingin mencari masalah. Karena bisa saja pemuda itu pergi dan mengatakan bahwa ia sedang sakitm=, tetapi Xuan Yi tetaplah Xuan Yi. Pemuda tampan itu pasti akan bertanggung jawab dengan setiap kesalahannya. Setelah memisahkan diri, Chang Qi yang merasa penasaran dengan kegiatan majikannya sejak kemarin pun langsung mensejajarkan langkah mengikuti Xuan Yi yang terlihat begitu santai. “Tuan Muda, ke mana saja kau kemarin?” tanya Chang Qi terdengar begitu cemas membuiat Xuan Yi menghentikan langkahnya. “Aku pergi ke Desa Teratai, Chang Qi. Kebetulan sekali kemarin hari ulang tahunku dan mereka mengajakku untuk makan bersama dan menghabiskan malam yang panjang dengan minum. Sehingga aku benar-benar harus menginap dan baru bisa kembali pagi ini,” jawab Xuan Yi jujur. “Apa kau tahu bahwa pagi ini Akademi Tangyi sedang gempar?” celetuk Chang Qi membuat kening Xuan Yi berkerut bingung sekaligus penasaran.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD