56. Merindu Tak Nampak

1034 Words
Malam pun tiba, terlihat seorang pemuda tampan tengah merebahkan diri sembari menatap bulan yang sepertinya déjà vu. Membuat pemuda tampan itu tanpa sadar tersenyum tipis dengan terus menatap benda langit berbentuk bulat berwarna putih yang menghiasi langit gelap bertaburan bintang. Semilir angin malam menyapu lembut seiring permukaan wajah tak bercela tersebut. Xuan Yi menghela napas panjang dengan mengubah posisi kakinya menjadi ditekuk bagian kanan. “Ibu, apa kau mendengar perkataanku?” tanya Xuan Yi pada kekosongan hatinya. Entah kenapa ia begitu merindukan seorang wanita yang telah memberikan dirinya kehidupan amat sangat berharga. Membuat Xuan Yi bisa merasakan bagaimana kejam dan baiknya dunia ketika semua orang tampak menghakimi. Namun, di setiap sisi memang terbesit banyak arti membuat Xuan Yi tidak pernah menganggap semua yang pernah dialaminya adalah hal kegagalan. Meskipun itu tampak tidak adil, tetapi Xuan Yi tetap menerimanya dengan lapang d**a. “Haruskah aku yang menghampirimu ke sana?” tanya Xuan Yi lagi. Kali ini terdengar begitu menyayat hati. Sebab, suasana hati pemuda itu mendadak sedih. Padahal sedari tadi ia terlihat ceria, tetapi lain halnya ketika sedang sendirian. Seakan semua beban kehidupannya tertanam di pundak hingga begitu berat. “Aku merindukanmu, Ibu,” gumam Xuan Yi tanpa sadar meneteskan air matanya penuh kesedihan. Sebenarnya, menjadi sesosok Xuan Yi tidaklah mudah. Terlahir sebagai setengah dewa dan sudah berpisah dari kecil dengan sang ibu. Bahkan Xuan Yi sama sekali tidak merasakan kasih sayang dari sang ibu, walaupun hanya sebentar saja. Sedetik kemudian, tangan pemuda itu terkepal kencang ketika mendengar bagaimana ibunya diperlalukan dengan sangat tidak adil oleh Klan Manusia. Tempat di mana dirinya dilahirkan dan bertumbuh besar. Meskipun begitu, Xuan Yi jelas masih memaafkan keluarganya sendiri yang tidak pernah mengungkit atau menghakimi sang ibu hanya karena pernah menikah dengan ayahnya. Sehingga Xuan Yi begitu menyayangi kakek dan neneknya dengan tulus. Tiba-tiba angin bertiup cukup kuat membuat Xuan Yi bangkit dari rebahan dirinya. Lalu, menatap pusaran angin yang terlihat mengarah pada dirinya. Sontak hal tersebut membuat Xuan Yi mendelik tidak percaya. Pusaran angin itu berubah menjadi sesosok lelaki yang sangat tidak asing di mata Xuan Yi. Ia tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya. “Shifu?” panggil Xuan Yi mendelik tidak percaya. “Lama tidak bertemu, Xuan Yi,” sapa seorang lelaki yang dipanggil sebagai Shifu. “Shifu, bagaimana bisa kau ....” “Tentu saja aku bisa, Xuan Yi,” potong Primus tersenyum miring, lalu mendudukkan diri tempat di samping Xuan Yi. “Apa kau baru saja meragukan kemampuanku?” Xuan Yi mengangguk ragu. “Aku tidak percaya kau bisa menembus dinding pertahanan, Shifu. Padahal selama ini tidak ada seorang pun yang bisa menembusnya.” “Aku memang bisa melakukannya, Xuan Yi. Tapi, kau harus ingat kalau ini rahasia kita berdua. Jangan mengatakan hal ini pada orang lain,” ucap Primus menepuk pundak pemuda itu beberapa kali. “Bagaimana bisa, Shifu?” tanya Xuan Yi penasaran. Ia terlihat menggebu-gebu saat gurunya memiliki kemampuan luar biasa. Pantas saja lelaki itu bisa datang dan pergi sesuka hati. “Kau akan mengetahuinya nanti,” jawab Primus gamblang. Spontan hal tersebut membuat Xuan Yi mendengkus kesal. Ia jelas bingung sekaligus tidak percaya bahwa shifu-nya benar-benar sakti. Sedangkan Primus yang tersenyum samar langsung mengalihkan perhatian. “Sedang apa kau di sini, Xuan Yi?” tanya Primus penasaran. Sebenarnya, ia memang tidak berniat ke Akademi Tangyi. Akan tetapi, ketika dalam perjalanannya Primus tanpa sengaja melihat siluet pemuda tengah merebahkan diri di atap kamar membuat lelaki itu menghampirinya. “Entahlah. Aku memang suka berada di sini ketika sedang banyak pikiran,” jawab Xuan Yi mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Apa kau sedang merindukan ibumu?” tebak Primus tepat sasaran. Xuan Yi menoleh cepat. “Jangan bilang Shifu menggunakan kemampuan lagi!” “Tentu saja tidak. Shifu memang sakti, tetapi tidak sampai membaca pikiran manusia. Lagi pula tidak ada hikmahnya Shifu memiliki kemampuan itu,” sanggah Primus menggeleng keras. Setidaknya Primus memang sakti, tetapi tidak sampai membaca pikiran orang lain. Karena hal tersebut sangatlah mengganggu. Apalagi kalau dirinya tengah banyak beban sehingga rasanya mungkin akan sangat stress. “Shifu, pernahkah kau merindukan seseorang yang tidak pernah kau lihat?” celetuk Xuan Yi setelah beberapa saat terdiam membisu. Primus menatap ekspresi kesedihan yang tercetak jelas dari wajah muridnya. Membuat lelaki itu tanpa sadar tersenyum miris. Ia bisa merasakan bagaimana sedihnya hati Xuan Yi saat ini. “Aku tidak tahu. Selama ini aku menjalani kehidupan tanpa beban yang tidak pernah membuat banyak pikiran,” balas Primus tersenyum tipis. “Menurut Shifu, mengapa aku bisa merasakan hal ini?” tanya Xuan Yi menatap lelaki paruh baya di sampingnya. Namun, aneh sekali wajah Primus yang terlihat tua, tetapi terkadang terlihat muda juga. Entah bagaimana wajah lelaki itu sebenarnya. “Mungkin karena kau baru saja membahasnya lagi, Xuan Yi. Aku bisa menangkap jelas dari ekspresimu yang benar-benar terganggu,” jawab Primus sekenanya. Xuan Yi tersenyum miris, lalu menatap bintang yang bersinar cukup terang. Sepertinya benda langit itu hendak menyinari Xuan Yi seorang diri. Membuat Primus melakukan hal yang sama, tetapi lelaki itu terlihat mengernyitkan keningnya. “Aku memang baru saja membahasnya dengan Ayah kemarin,” ucap Xuan Yi mengangguk pelan diselingi dengan senyuman miris. “Xuan Yi, Shifu tidak tahu apa yang telah terjadi denganmu. Tapi, jangan pernah merasa bahwa kesedihan akan terus menerpamu. Karena tidak ada tahu bahwa di balik kesedihan itu akan ada kebahagiaan tidak terkira. Jadi, mulai sekarang jangan pernah terpuruk pada satu posisi saja,” tutur Primus mengangguk mantap. “Tapi, bagaimana caranya aku bisa melupakan semua masalahku, Shifu?” tanya Xuan Yi sedikit frustasi. Momen yang pas untuk melakukan pelatihan memang ketika suasana hati sedang buruk. Apalagi ketika ada sebuah dendam menggerogoti hatinya. Jelas saja hal tersebut bisa memicu kekuatan yang tidak terduga keluar. “Bagaimana kalau kita berlatih?” ajak Primus tersenyum penuh makna. “Sekarang?” Xuan Yi mendelik tidak percaya. Namun, tidak menjawab apa pun lagi, Primus langsung memegang pergelangan tangan Xuan Yi. Tentu saja lelaki itu hendak mengajak Xuan Yi melakukan teleportasi yang selama ini hanya dimiliki oleh beberapa orang saja. Sedangkan Xuan Yi hanya menegak kaku pada Primus yang memegang pergelangan tangannya. Karena ia tidak menduga kalau lelaki itu akan melakukan teleportasi. Ilmu yang selama ini hanya menjadi materi dan pengetahuan saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD