29. Menjadi Dekat

1049 Words
Di dalam kamar, Xuan Yi dan Chang Qi hanya terdiam sembari duduk di masing-maisng tempat tidur dengan kelambu menghiasi atap ranjang miliknya. Kedua pemuda tampan itu tampak saling terdiam dengan pikiran berkelut ke mana-mana. “Apa yang terjadi kelompok Murid Li, Chang Qi?” tanya Xuan Yi secara tiba-tiba membuat seorang pemuda yang sudah mengabdi pada dirinya itu menoleh bingung. “Aku tidak tahu, tapi sepertinya perkataan Xuaming Shifu benar-benar akan terjadi. Mengingat beliau sangatlah tegas dalam hal apa pun, termasuk mengusirmu,” jawab Chang Qi sekenanya. “Dia benar-benar kasihan. Padahal berniat untuk menang malah menjadi petaka bagi diri sendiri,” ucap Xuan Yi lagi kali ini merebahkan tubuhnya dengan kaki yang dibiarkan menggantung. “Seharusnya dia sudah tahu konsekuensi dari perbuatannya itu adalah dikeluarkan. Percuma saja mendapat nilai bagus kalau hasil dari kecurangan. Lagi pula Xuaming Shifu sudah mengingatkan sejak awal kalau kompetisi ini tidak boleh ditandai kecurangan apa pun,” balas Chang Qi menghela napas panjang sembari menaikkan satu kakinya ke atas tempat tidur. Memang apa yang ditanam, itulah yang dituai. Maka dari itu, jangan pernah melakukan kecurangan kalau tidak ingin dicap sebagai orang terburuk di dunia. Apalagi kalau sampai diketahui oleh banyak orang. Mungkin sudah tidak ada lagi kata hidup di lingkungan umum. Sebenarnya, seorang seperti Murid Li yang terlalu ambisius terhadap sesuatu memang menghalalkan berbagai cara untuk menang. Hanya saja cara yang dilakukan salah dan tidak pernah dibenarkan oleh siapa pun. Di tengah perbincangan mereka berdua, tiba-tiba pintu kamar diketuk pelan oleh seseorang dari luar membuat Chang Qi langsung menurunkan kakinya dan Xuan Yi terduduk sembari mengernyit bingung. Chang Qi pun membuka pintu kamar dan menampilkan seorang gadis cantik yang sudah berpakaian santai, tidak seperti tadi. Ia terlihat mengintip sesaat sebelum akhirnya melanggang masuk tanpa mengindahkan Chang Qi yang masih berdiri di depan pintu. Sedangkan Xuan Yi langsung mengernyit bingung ketika mendapati seorang gadis yang sangat ia kenali masuk ke dalam dengan wajah tanpa dosa sama sekali. Membuat pemuda itu melayangkan tatapan bingung yang dibalas dengan gelengan polos. “Youlan Qing Qu, kenapa kau ke sini?” tanya Xuan Yi bangkit dari tempat tidurnya, lalu melangkah ke arah meja kecil yang tersedia di tengah-tengah kamar. Shen Jia mendengkus pelan. “Jangan memanggilku seperti itu, biasa saja.” “Kalau begitu, apa yang membuat kau ke sini, Jia’er?” tanya Xuan Yi mengulang kembali pertanyaan yang tadi. “Aku tadi mendengar bahwa Murid Li sudah membereskan barang-barangnya dari kamar, termasuk anggota kelompok yang tadi menjadi bagian dari pemuda itu,” jawab Shen Jia tersenyum miris. Siapa pun pasti tidak ada yang menduga bahwa akan ada seseorang seperti itu menjadi bagian Akademi Tangyi. Padahal sejak awal didirikannya, jelas tempat ini benar-benar jauh dari kata kecurangan, dan angkatan kali ini sangat merugikan siapa pun. “Aku benar-benar tidak menyangka dia akan senekat itu,” gumam Xuan Yi diangguki oleh Shen Jia’er dan Chang Qi. “Sepertinya kita berdua yang akan terkena masalah kalau bukan mereka pelakunya,” timpal Shen Jia bergidik ngeri. Ia tidak tahu harus bersikap apa ketika dirinya melakukan kecurangan dan diketahui menjadi seorang putri di Kekaisaran Mouyu. Jelas akan sangat banyak warga yang memandang rendah dirinya. Apalagi benar-benar dikeluarkan secara tidak hormat. “Lupakan saja. Lagi pula mereka sudah melakukan yang terbaik meskipun sedikit mengecewakan,” pungkas Chang Qi membuat Xuan Yi mengangguk beberapa kali. Kemudian, mereka bertiga pun saling terdiam satu sama lain dengan pandangan Shen Jia yang terlihat mengitari seisi kamar. Ternyata untuk seorang pemuda, ini sangatlah bersih dan terjaga. “Aku tidak tahu kalau kau menjaga kamar ini agar tetap rapi,” celetuk Shen Jia tersenyum penuh bangga bahwa semuanya terlihat seperti yang ia rapikan. “Bukan aku, tapi Chang Qi,” sanggah Xuan Yi malas. “Dia terlalu menjaga kebersihan sampai aku tidak boleh melakukan apa pun di dalam kamar, kecuali tidur dan bersantai.” “Memangnya yang mencuci pakaian siapa?” tanya Shen Jia mendadak penasaran. “Tentu saja kita mencuci masing-masing,” jawab Xuan Yi cepat. “Lalu, yang menjemur dan melipat pakaiannya siapa?” lanjut Shen Jia membuat Chang Qi tersenyum tipis. “Tuan Muda hanya mencuci saja, Youlan Qing Qu,” sahut Chang Qi membuat gadis cantik itu mengangguk beberapa kali. “Ternyata kalian berdua cukup mandiri. Aku sempat berpikiran kalau kalian diam-diam membawa pelayan untuk mengantarkan pakaian sekaligus mencucinya,” puji Shen Jia tersenyum lebar. “Memangnya kalau Pingjing?” tanya Xuan Yi penasaran. Ia memang tidak pernah menanyakan apa pun, selain bercengkrama seputar pelajaran dan lainnya. “Aku tidak tahu pasti, tapi dia terkadang membawa banyak sekali pelayan hanya untuk mengantarkan beberapa pakaian santainya,” jawab Shen Jia tidak terlalu pasti. Sebab, ia memang tidak pernah memperhatikan pemuda yang sudah menjadi sahabatnya itu sejak kecil. Bisa dikatakan, ia dan Xiao Pingjing begitu dekat. Akan tetapi, bukan berarti terlalu dekat layaknya sahabat. Meskipun mereka berdua sering kali menjadikan kesalahpahaman terhadap siapa pun. “Aku pikir kau tahu segalanya,” ucap Xuan Yi tersenyum remeh membuat gadis itu langsung mendelik tidak percaya. “Bukankah kau sudah tahu bahwa perempuan dan laki-laki tidak sama?” sindir Shen Jia mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Apa kau takut jatuh hati?” tebak Xuan Yi benar-benar di luar dugaan membuat Shen Jia menghela napas kesal. “”Apa kau gila!? Aku tidak mungkin semudah itu jatuh hati padanya,” balas Shen Jia tersenyum pongah. “Benar sekali! Kau pasti sudah kebal dengan semua perlakuan manisnya, tidak seperti padaku yang mendadak menjadi kaku seperti tadi,” sahut Xuan Yi mengingat kembali ekspresi Shen Jia pada saat dirinya melingkarkan tangannya pada pinggang milik gadis itu. “Kau jangan mengada-ngada, Xuan Yi! Sejak kapan aku menjadi seperti itu,” sinis Shen Jia membuat Chang Qi yang berada di tengah-tengah mereka berdua langsung merasa serba salah. Sejujurnya, jauh lebih sulit ketika berada di antara dua orang dengan tingkat menyebalkan yang sama. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa Shen Jia sama menyebalkannya seperti Xuan Yi. Seakan mereka berdua satu paket lengkap untuk meramaikan suasana. Tidak seperti ketika bersama Xiao Pingjing yang sudah mengenal satu sama lain. Akan tetapi, penglihatan siapa pun pasti akan menebak bahwa antara Shen Jia dan Xuan Yi mempunyai persamaan yang bisa memperkuat suatu hubungan erat persahabatan. Hanya saja ketika bersama keduanya memang harus memperbanyak sabar. Sebab, kesabaran benar-benar akan diuji ketika berhadapan dengan makhluk sefrekuensi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD