Lelah

1264 Words
sejujurnya aku lelah dengan sifatnya yang pemaksa dan dominan itu. kami memang tidak pernah bertengkar karena ketika dia mulai berubah intonasi berbicara aku lebih memilih diam dan pergi menghindarinya. hingga suatu saat, peristiwa itu terjadi "kamu yakin Rin?" tanya Hanif salah satu kawan sekolahku. saat ini kami sedang berbincang di lapangan basket, kami duduk bersila berdampingan sambil melihat kawan kawan kami yang sedang berolah raga. "ya.." dengan senyum kecut yang kupaksakan "beneran kamu yakin??" Hanif mencoba meyakinkanku, apakah serius keputusan yang aku ambil untuk mengakhiri hubunganku dengan Anton "iyaa !! ihs. cerewet banget sih Nif" jawabku meyakinkan "kamu yakin, tapi aku enggak. kamu tau sendiri Anton orangnya kaya apa, bisa habis aku nanti Rin" panjang lebar Hanif mengutarakan ketakutannya. dan sebenarnya aku pun takut menghadapi Anton ketika marah. Ku ambil nafas dalam dalam ku hembus kasar. "enggak bakal kenapa kenapa, percaya sama aku" aku mencoba meyakinkan Hanif, karena sejujurny aku lebih takut dari pada dia "terserah kamu ajalah Rin..kamu sama Anton sama sama keras kepalanya" hanif ngedumel panjang lebar yang membuat aku tertawa. kutepuk tepuk punggungnya "sabar sabar Nif.. nolong temen itu pahalanya besar" ucapku dengan memamerkan serentetan gigi putihku "pahala besar dengkulmu!(lututmu). gendeng opo piye to kw Ki( gila apa gimana sih kamu ini). kalo yang di hadapi ornganya bisa di ajak bicara ga apa apa Rin. lha ini Anton lho.. lagian Kowe kok Yo ISO cinta to karo Anton? model wae koyo preman(lagian kamu kok bisa cinta sih sama Anton? modelnya kaya preman gitu). yang kamu lihat apanya?? belum sempat aku menjawab, tiba tiba dari arah belakang Anton memiting leher Hanif dengan tangan kiri, dia terus memukuli kepala Hanif dengan tangan kanannya. begitu cepat gerakan itu. aku berteriak meminta tolong kepada kawan kawanku yang ada di lapangan basket. aku berteriak menganggil semua guru. aku berlari menghampiri Anton yang sudah kesetanan dengan sekuat tenaga ku tubruk dan ku dorong agar pitingannya terlepas dari leher Hanif. Entah kekuatan dari mana aku, hingga pitingan itu terlepas dari Hanif. Hanif tergeletak lemas, pelipisnya berdarah "mau jadi pembunuh kamu!!" teriakku pada Anton kuraih kepala Hanif lalu kuletakkan pada pahaku. "kamu sebenarnya apa? manusia apa bukan?? "dengan mata berkaca kaca aku pandangi dia dengan semgit. Anton menatapku datar. Guru guru mulai berdatangan, pak Joko dan pak Agung guru olahraga kami segera membopong Hanif dan di bawa ke ruang kesehatan. flashback off sepertinya cukup lama aku melamun, tak sadar jika sekarang sudah pukul empat sore. Ku rapikan buku buku di mejaku, kumasukan barang barangku lalu aku beranjak pergi dari ruang guru. tiba di area parkir, aku di kejutkan dengan lengan besar yang tiba tiba melingkar di pinggangku "akkhh!!" aku menjerit tertahan sambil ku bekap sendiri mulutku "apa apaan sih kamu ini, ini area sekolahan. banyak muridku yang belum pulang. jangan mencari masalah Anton" geramku. dia hanya tersenyum simpul "aku suka kalo kamu sudah ngomel begini" sambil mengedipkan sebelah mata. aku mendengus kasar "kamu mau apa?" "aku mau kamu.." jawabnya degan nada manja ku putar bola mataku jengah "jalani hidup masing masing Anton.. aku sudah ga mau lagi berurusan denganmu" pintaku memohon "ok. aku tidak akan mengganggumu jika kamu mau mengabulkan permintaanku" tanganya memainkan ujung rambutku. Ku tepis kasar tangannya "aku mohon Anton..biarkan aku hidup tenang tanpa ada rasa takut" aku memelas "kamu takut padaku? kamu takut kepada laki laki yang sangat mencintaimu?" nada bicaranya sedikit meledek dengan sesekali memainkan ujung rambutku yang tegerai di depan bahu "biarkan aku pulang.." aku memohon mataku sudah panas dan mulai berkaca kaca. Anton mendengus kasar "baikalah. tapi jangan harap kamu bisa lepas dariku" dia berbalik dan melenggang keluar gerbang sekolah dan pergi dengan motor besarnya dadaku berdenyut nyeri, ada rasa takut yang sulit di ungkapkan 'Tuhan tolong aku..'jeritku dalam hati ********** ku buka jendela kamarku, ku pandangi pemandangan di belakang rumahku. letak rumahku memang dekat dengan persawahan, ada juga sungai persis di belakang rumahku. sejuk damai dan indah 'tenang' satu kata untuk menyimpulkan suasana di sekitar rumahku. "Rin.." ibuku memanggil "ya Bu.. " aku bangkit dari dudukku dan segera keluar dari kamar. dan menuju ruang tamu, duduk di sebelah bapak "besok bapak dan ibu mau ke Gunung Kidul" "acara apa buk ke Gunung Kidul?" "cuma sekedar nengok Simbah putri aja, ga ada acara lain" ibuku menerangkan "nanti mbak Rahayu juga ikut, kamu di rumah sendiri berani kan?" ibuku bertanya "berani buk.." aku menjawab dengan mata tertuju pada layar ponselku memainkan game, tak lupa dengan bergelayut manja di bahu bapak kesayanganku "di Jak omong wong tuwo Ki deloke.. matane neg Hp wae(di ajak ngomong orang tua itu melihat, bukan main Hp)" mbak Rahayu mengomel sambil melempar bantal kursi ke arahku. spontan aku bersembunyi di punggung bapak "aaaa... pak mbak Rahayu Ki lhoo( aaaa... pak mbak Rahayu ini lho)"aku meringkuk di punggung bapak sesekali terpingkal dan tertawa ku balas mbak Rahayu dengan melempar kacang rebus yang ada di piring meja tamu "ya ampun Gustii..!! wis do gerang ijeh do gojek(ya ampun Tuhan..!! sudah pada besar masih suka bercanda)" ibuku memekik dengan memukulkan kemoceng di pantatku. spontan aku berjingkat kesakitan, aku berlari menuju kamar dengan melempar sisa kacang di tanganku ke arah mbak Rahayu. aku masuk ke kamar dengan nafas ngos ngosan. masih terdengar omelan ibuk dan tawa dari mbak Rahayu. aku melihat jam di ponselku menunjukkan pukul delapan malam, kupandang langit melalui jendela kamarku bintang bertaburan indah sekali. luar biasa ciptaanMu Tuhan. Kau bisa menciptakan segala hal di bumi ini. belum selesai aku menikmati keindahan pemandangan malam tiba tiba ponselku berbunyi. Ada panggilan masuk, ku lihat di layar ponselku gambar Anton di situ. "ihss. bodohnya kenapa juga aku menyimpan nomor preman itu" rutukku dalam hati belum juga 'halo' ku ucapkan dia sudah bersuara " hai bidadari ku.. indah bukan malam ini. coba kamu lihat lagi ke luar jendela" dan anehnya aku menurut. aku terkejut karena ku dapati dia sudah berdiri tegap di belakang rumahku, tepatnya di seberang sungai depan jendela kamarku "ngapain kamu di situ??" aku sungguh terkejut melihat dia sudah berdiri di situ. tangan kanan memegang ponsel, tangan kiri berada dalam kantung jaket. rambut gondrong dan suara bariton menjadi ciri khas darinya. "apa lagi? selain menengok bidadari cantik yang ada di depanku". andai kamu selembut perkataanmu Anton mungkin aku akan bahagia menjadi wanitamu. andai kamu bukan laki laki tempramen mungkin aku masih menjadi milikmu. andai.. andai dan andai hanya itu saja kata kata yang selalu melintas dalam otakku kupejamkan mata, ku tarik nafas dalam dalam ku hembuskan perlahan. "seandainya kamu tahu Anton.. aku begitu lelah lari darimu. aku begitu lelah menghindar darimu. aku begitu lelah menjauh darimu. satu hal yang perlu kamu sadari jejakmu begitu membekas di hidupku. banyak peristiwa yang aku alami selama aku menjadi milikmu dan itu membuat aku takut untuk berhadapan lagi denganmu. sejauh apapun aku berusaha menghapus memori tentangmu, kamu selalu ada layaknya setan yang tiba tiba menghantui. aku sangat sangat lelah Anton.." dengan air mata berurai seperti anak sungai, sudah lelah aku memendam rasa takut ini. Anton tertegung melihat aku yang menangis dan mengeluarkan semua yang ada dalam hatiku. tidak sepatah katapun yang keluar dari bibirku, dia hanya melihat aku dengan sendu. di masukkanya ponselnya dalam saku, dan mulai melangkah pergi. melihat dia pergi tangisku semakin menjadi, aku terduduk di bawah jendela dengan kaki yang kupeluk sendiri. aku tergugu dan meratapi diriku sendiri kenapa aku bisa begitu mencintainya dulu. kenapa aku mau dengan rela di mabuk cinta olehnya. cukup lama aku menangis, hingga tiba tiba satu pesan masuk ke ponselku. aku hanya melirik tak ada rasa ingin tahu dari siapa pesan itu datang. hingga pesan pesan berikutnya bermunculan, yang membuat aku penasaran pesan dari siapa ini. mataku membulat, mulutku ternganga spontan aku menutup mulutku dengan jari kiriku
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD