segarnya sehabis mandi, tak kuhiraukan ponselku yang terus menerus bergetar aku melangkah menuju dapur karena rasa laparku lebih dominan dari pada rasa penasaranku.
perlahan ku masukan nasi dalam mulutku, bukan karena mengingat pesan pesan Anton yang kuterima melalui ponselku. tapi karena mataku melihat televisi dan mulutku sedang mengunyah hehe.
"mangan Ki sing genah.. ora Karo delok tipi(makan itu yang benar, jangan sambil liat tv)" omel mbak Rahayu sambil menarik kursi dan duduk di sebelahku
"apik mbak acarane.. Eman nek ora di delok(bagus mbak acara tv nya, sayang kalo ga di lihat)" jawabku sambil memperlihatkan serentetan gigi putihku
"helehh.." sambil mencebik mbak Rahayu menjawab sanggahan ku
"gimana kerjaanmu, sudah hampir 3bulan ya kamu jadi guru di SMA itu" mbak Rahayu kembali bersuara
"Syukur mbak, semua berjalan degan baik. guru guru senior juga baik baik"
"terus tugas akhir mu gimana? sudah masuk BAB belum?" mbak Rahayu kembali bertanya tentang tugas akhir ku alias skripsi.
"belum mbak, baru kemarin proposalku di setujui"
"gek Ndang di rampungke.. kuliah kok Ra rampung rampung(segera selesaikan kuliahmu, kuliah kok ga selesai selesai). mau jadi mahasiswa abadi kamu??"
"siapppp Bosss.." aku berdiri dengan kelima jari berada di pelipis kanan layaknya hormat bendera.
"siap bos.. siap bos" tangannya mengambil irisan timun hendak di lemparkan ke padaku. segera aku berlari dengan tawa membahana.
'kakakku sayang..kakakku galak' dalam hatiku hehe
**********
lengket betul mataku ini, ku lihat jam di ponselku sudah pukul 00.30. aku baru saja menyelesaikan 1 BAB untuk ku ajukan ke dosen pembimbingku. aku memutuskan untuk tidak membuka pesan dari Anton bahkan ada beberapa foto yang tidak ku buka. ku rapikan meja belajarku, dan berlanjut menyiapkan materi untuk mengajar nanti pagi.
ku kenakan setelan semi jas berwarna maroon semakin memperlihatkan kulitku yang kuning bersih, ku padukan dengan tas jinjing ala ala ibu pejabat berwarna hitam dan kali ini aku memakai heels 10cm. ku gerai rambut hitamku yang bergelombang. ya.. itu sudah cukup membius para lelaki bujang di daerah tempat tinggalku. ah.. cantiknya aku. kupandangi pantulanku dari cermin besar di dalam kamarku.
segera aku keluar kamar dan bergegas berangkat, Jagan sampai aku terlambat gumamku dalam hati.
"ora sarapan disit nduk..?(gak sarapan dulu nak..?)" tanya ibuku yang melihat aku keluar dari kamar
"enggak buk, nanti aja di kantin sekolah. takut telat hari ini dapat jadwal jam pertama" terangku pada ibuku yang gembul
"y wis.. Kono ati ati(ya sudah, sana hati hati)" jawab ibuku dengan menyodorkan teh hangat ke mulutku. setidaknya perutku tidak betul betul kosong.
"berangkat dulu buk.." sambil ku cium pipi ibuku
"yaa.. " ibuku menjawab singkat
Ku stater motor matic ku, ya aku punya motor matic sekarang Bapak yang membelikannya untukku. agar mempermudah aktivitasku dalam mengajar. Tapi ya tetap saja untuk pergi ke kampus bapak belum mengijinkan ku mengendarai motor sendiri. begitulah bapak hehe.
"slamat pagi pak Caroko" sapaku pada satpam berkumis tebal itu, tentunya dengan senyum yang manis pula
"pagi mbak Rini.."
kuletakkan helmku di atas motor baruku, dan segera melangkah menuju ruang guru. keceriaanku menyambut pagi ini tidak berlangsung lama, ketika ku putar badanku hendak memasuki gedung sekolah aku di kagetkan dengan sorot mata tajam yang mengawasiku dari kejauhan.
'mata itu' aku bergumam dalam hati, spontan tanganku berada di dadaku. dia berdiri tepat di depan pintu gerbang sekolah, ekspresinya datar sorot matanya tajam sulit mengartikan sorot matanya.
aku tergugup, dengan langkah cepat aku segera memasuki gedung sekolah. ku gigit bibir bawahku sesekali ku tepuk tepuk dadaku untuk meredakan debar jantungku.
"kenapa mbak Rini.." Bu Dian menyapaku dengan menepuk bahuku. Aku terjingkat dan menoleh "ga ada apa apa Bu Dian.. cuma sedikit buru buru aja, takut telat masuk kelas" sambil menyeringai aku menjawabnya.
"oooo.. saya kira kenapa, kok seperti orang ketakutan"
"enggak kok bu Dian" sambil ku raih lengannya dan ku ampit dengan kedua tanganku. kami pun masuk ke ruang guru bersamaan.
aku duduk di mejaku, belum sempat aku menarik nafas aku di kagetkan lagi oleh getaran ponselku. ku lihat nomor Anton yang memanggil. ku pandangi ponselku dengan berfikir keras, haruskah aku mengangkat panggilannya atau mengabaikannya.
"halo.."
"kamu cantik pagi ini" jawabnya dari seberang
aku berusaha menata hati dan pikiranku yang berkecamuk, karena saat ini aku benar benar takut. takut untuk menghadapinya, takut jika ternyata aku masih merindukannya, takut jika aku harus berhadapan lagi dengan mata tajam itu.
"aku harus masuk kelas, karena aku ada jadwal pagi" terangku
"ok.. Sampai jumpa nanti" Tut Tut tutt..
telpon terputus sepihak. aku termangu untuk beberapa saat.
"oh Tuhan.. aku harus bagaimana" aku berbicara sendiri
********
melihat anak anak semangat belajar bahasa Jepang membuat aku sedikit bangga, karena aku lebih dulu tahu di bandingkan mereka yang baru saja belajar huruf dasar hiragana dan Katakana. aku mengulas senyum melihat mereka berebut untuk menulis huruf di depan papan tulis
"tenang.. sabar, satu persatu jangan berebut. cuma nulis huruf aj kok kaya mau ambil sembako aja" ocehku dengan tertawa
"kalo ga maju nanti di kasih tugas lain sama Rini Sensei, males kan" jawab salah satu murid. aku terkekeh mendengar jawaban muridku itu
bel berbunyi, menandakan jam pelajaranku di kelas ini telah usai.
"ok anak ana.. di lanjut besok ya.."
"lhoo... Sensei saya belum maju ke depan, jangan di kasih tugas yang sulit Sensei" keluh salah satu muridku
"untuk hari ini.. free. tidak ada tugas untuk kalian" jawabku dengan senyum. terdengar sorak riuh dari kelas ini, sampai sampai aku menutup telinga dan berjalan keluar kelas tersebut "anak anak" gumamku dengan menggeleng kepala pelan
tiba di ruang guru aku langsung membuka laci mejaku. dahiku berkerut ada pesan masuk "aku menunggumu.."
aku duduk dan membaca lagi pesan yang masuk
Ku ambil nafas dalam dalam sambil ku pejamkan mata, kubuang kasar nafasku dan aku berjalan keluar. benar saja belum sampai aku keluar gedung sekolah dia masih berdiri di tempat yang sama, memandangku lekat. dia berdiri dengan kedua tangan di dalam saku celana dia tahu aku akan menghampirinya, dia tersenyum dan mata itu memandangku lekat namun teduh.
'hatiku' ada debar yang tidak biasa. 'tidak tidak boleh..tidak boleh terulang lagi' batinku.
aku berdiri tepat di hadapannya. gayanya, aromanya, senyumnya dan suaranya masih sama seperti dulu. aku menarik nafas dalam dalam ku hembuskan perlahan "ada apa..?" tanyaku singkat
"rindu.."jawabnya sambil menyelipkan rambut di telingaku
aku terkejut dengan gerakan spontannya, aku hendak menghindar namun aku kalah cepat.
"jangan menghindar.. karena kamu tidak akan pernah bisa menghindar dariku" suara baritonnya lembut tapi penuh penekanan. aku lipat bibirku ke dalam, mengurangi rasa gugupku, seperti orang bingung mataku melirik kesana kemari
"aku tunggu kamu di sini ya.." ucapnya lagi dengan memasukan tangannya kembali ke saku celana
"ga usah.." jawabku cepat
"kenapa?" dingin dan menusuk
"aku bawa motor sendiri" jawabku
"aku bisa mengikutimu dari belakang.. karena memang itu yang aku lakukan selama ini" terangnya dengan senyum miring
'Tuhan aku harus bagaimana agar bisa hilang dari hidupnya' batinku tanganku mengepal menahan gugup dan takut
"aku masuk dulu.. aku harus mengajar" ku balikan badanku segera aku masuk ke degung sekolah. sesekali ku tepuk tepuk dadaku agar mereda rasa takutku. ya Tuhan aku pikir hidupku akan tenang setelah lulus SMP dan berpisah dengannya. Jejaknya dalam hidupku begitu membekas, semua peristiwa yang aku alami ketika bersamanya yang membuat aku takut.
flashback on
aku dan Anton sedang duduk berhadapan di batasi dengan meja kantin sekolah
"mi.. nek kita lulus terus piye( mi.. kalo kita lulus terus gimana?)"
"Yo.. Ra piye piye to Yo( ya.. gak gimana gimana)"
"kamu kok jahat sih mi.." suaranya mulai berubah berat
"jahat gimana sih ton? gak usah mulai lagi deh ya.. lulus SMP ya daftar SMA lah,, memang mau gimana maunya??
"jangan cari cowok lain ya mi.."
"apa sih.." aku mencebik
"kamu tau aku seperti apa kan?"
spontan aku menelan ludah, ku pandang wajahnya yang sudah berubah sinis. aku menghela nafa kasar, dan segera berjalan menjauh darinya.
sejujurnya aku lelah dengan sifatnya yang pemaksa dan dominan