ku tatap nanar ponsel di genggamanku 'tau dari mana dia nomor Hp ku' semakin aku berfikir semakin kepalaku menjadi pening dan pusing.
ku ambil air putih dan kuminum obat pereda sakit kepala.
kembali kurebahkan tubuhku. hampir terlelap kembali aku di kejutkan dengan getaran ponselku yang ku letakkan di bawah bantal ku
"heleehhh.. sopo meneh to Yo Yoo(heleh.. siapa lagi sih)
kirain ponselku, ku lihat ada pesan masuk. kubuka pesan yang mengirimkan file itu.
"foto ini.." foto di mana kami berdua sedang berdiri di depan kelas dengan seragam putih biru. aku terlihat bahagia dan di sampingku dia, ya dia Anton namanya Anton. cinta pertamaku yang terlalu terobsesi dengan ku. tatapannya tajam tidak ada sedikitpun senyum yang terbit dari wajahnya. ekspresi wajahnya menggambarkan bahwa aku wanitanya seorang. tidak ada yang boleh mendekati selain aku yang memilikinya, itu di dukung dengan posisinya berdiri begitu melekat denganku.
aku memilih untuk tidak membahas pesannya. ku matikan ponselku dan aku segera memejamkan mata
*********
"ouhayou gozaimasu minasan, o Genki sesuka(selamat pagi anak anak, apa kabar?") sapa ku pada anak anak kelas X.5 ini.
"hai. Genki desu Sensei(ya Sensei, kabar baik") jawab anak anak dengan semangat. ku buka buku materi pembelajaran dasar untuk anak anak hebat ini, dengan tawa dan canda aku mengajar mereka. setidaknya bisa mengurangi panik ku ketika pagi pagi aku bangun dan menyalakan ponselku, ku dapati puluhan panggilan tak terjawab dan belasan pesan dan foto yang Anton kirimkan.
ku tengok jam di tanganku "sebentar lagi jam pelajaran selesai" gumamku. segera ku beri tugas pada anak anak untuk di kerjakan di rumah.
"ok. anak anak jangan lupa PR nya ya besok di kumpulkan dan letakkan di meja Sensei. ok!" perintahku pada anak anak ini
"ok. Sensei" jawab mereka serempak
"sayounara..!" kulambaikan tanganku dan segera aku keluar dari kelas X.5 itu
hari ini jadwal kelas hanya 1 kali, aku berencana untuk segera ke kampus. ingin rasanya aku menyusul kawan kawanku memakai toga. ya.. bapak dan ibuku pasti bangga.
kulangkahkan kakiku dengan semangat, ku stop minibus dan segera menaikinya. tanpa aku sadari ada sepasang mata tajam sedang mengawasi ku dari kejauhan.
pengajuan proposalku di terima oleh dosen pembimbingku, dengan bibir merekah aku buka buka kembali proposal yang sudah di tanda tangani oleh dosen pembimbingku.
"ndut gendut.." kudongakkan kepalaku, ku lihat Vian dan Ayuk berjalan menghampiriku yang sedang duduk di taman depan Jimusyou(kantor jurusan fakultas Jepang)
"rapi banget Ndut.." Ayuk mengomentari pakain setelan semi jas yang ku kenakan, dengan mulut menahan tawa
"dari ngajar tadi, langsung ke sini" jelasku
"wis wis... dadi guru tenan(bener bener.. jadi guru)' ledeknya dengan bibir merekah
"hmm.." .aku sedang enggan meladeni ledekan kawanku itu.
drrtt
drrttt
ku rogoh ponselku dari dalam tas, dan ku buka pesan yang masuk.Vian menghampiri ku dan duduk di sebelah kananku "kenapa? kaya ada yang lagi di pikirin Ndut?"
"nggak kok.. nggak ada" aku tersentak dan segera ku masukan kembali ponselku.
"ges.. aku balek disit ya ges ya" aku bergegas merapikan buku buku dan proposal, kumasukan asal ke dalam tasku. aku berlari kecil tak kuhiraukan heels 7cm yang ku pakai.
"hati hati Ndut.." terika Ayuk. kujawab dengan lambaian tangan dan senyuman yang lebar.
*********
"bertahun aku mencarimu.. tak pernah sedikitpun informasi tentangmu yang meleset. aku selalu mengawasimu dari kejauhan berharap tidak ada yang menyakitimu. kamu tahu.. kamu di ciptakan hanya untuk aku miliki. hanya aku" k*****a kembali pesan itu, ku gigit bibir bawahku untuk melampiaskan rasa tak karuan dalam d**a. takut, kuatir dan wawas.
"Tuhan.. kenapa dia harus kembali dan muncul lagi dalam hidupku" batinku sambil kuremas jemari kiri di atas pahaku.
dulu.. dulu sekali aku tidak pernah tahu jika dia memiliki sisi negative dari sifatnya. ku pikir dia hanya mencintaiku sehingga wajar jika dia bersifat sedikit posesif dan pecemburu. tapi ternyata sifatnya yang posesif itu membuat aku ketakutan secara mental
flash back
"Rin.." Anton memanggilku lembut
"piye..(ada apa?)" ku toleh wajahku dan kuletakkan pulpen yang ku pegang.
"kamu tahu kan kalau aku sangat menyayangimu.." nada suaranya dingin dan tajam.
"iya tahu.. kenapa" kujawab santai karena aku sudah terbiasa dengan sifatnya yang mengintimidasi
"kamu tahu kan kalo aku tidak suka kamu dekat dekat dengan laki laki lain"?
dahiku berkerut ke dalam dan ku geser dudukku hingga menghadapnya. dan sekarang posisi kami duduk saling berhadapan.
"kenapa sih ton.. kok nanyanya kaya gitu? ada apa?" ku pandang lekat lekat bola mata coklat itu yang memancarkan kecemburuan dan amarah.
"tidak apa apa.. aku hanya mau kamu tahu satu hal bahwa kamu adalah milikku" dengan menggenggam jemari tanganku dari nada bicaranya aku tahu ada yang dia sembunyikan. dahiku semakin berkerut mendengar perkataannya
"hei.. kenapa sih.." dengan nada lembut aku meminta penjelasan lebih. dia hanya menggeleng kepala dengan tersenyum dan membelai puncak kepalaku dan berlalu pergi.
ku pandangi punggung lebarnya yang berjalan menjauh dengan dahi yang semakin berkerut ke dalam.
"jangan sampai anak itu berbuat yang aneh aneh" gumamku sendiri.
aku berdiri dan segera berlari mengikuti arah punggung itu menghilang. ku toleh toleh kepala ku mencari keberadaannya "kemana anak itu" aku berbicara sendiri.
"goleki sopo Rin??( nyari siapa Rin??)" Randy, dia sahabat Anton.
"Anton.. tau dia di mana?"
"tadi ke arah belakang toliet sama Bayu" jelasnya
'bayu' degg hatiku semakin tak karuan. bergegas aku lari ke arah yan Randy tunjukkan kepadaku.
Bayu adalah kawannku di organisasi dewan Galang. aku salah satu siswi yang lumayan akftif dalam kegiatan non akademis. Bayu adalah wakil ketua di dewan Galang dan aku adalah ketuanya. mungkin alasan kenapa dia menegaskan bahwa tidak ada laki laki lain yang boleh dekat dekat dengan ku.
kulambatkan kakiku ketika mendekati kebun di belakang toilet sekolah kami. benar saja ku dengar perbincangan sengit antara Bayu dan Anton.
"Anton..!!" teriakku ketika dia hendak mendaratkan bogem ke wajah Bayu
"mami.." dia terkejut melihat aku sudah berdiri di belakangnya.
"kenapa sih?? kenapa selalu begini?? kenapa selalu menggunakan kekerasan?"
"aku tidak suka ada laki laki lain deket deket kamu" wajahnya merah padam dan rahangnya mengeras
ku gelengkan kepalaku singkat memberi kode kepada Bayu untuk segera pergi.
"satu sekolahan ini sudah tau.. kalo aku ini pacarmu. ga ada yang berani mendekati wanita milik Anton" jelasku lembut den menekankan pada kalimat belakang
"aku tidak suka di bohongi.." dalam dan penuh tekanan
"siapa yang membohongimu.. ayolah, dia cuma wakil di anggota dewan Galang. wajar jika kami sering terlihat berdua mengerjakan tugas Pramuka. kami tidak lebih dari dari teman Anton" jelasku dengan sangat lembut karena menghadapi Anton yang sudah penuh dengan emosi sama hal nya menghadapi seekor singa.
dia melangkah menghampiriku, tangannya mencekeram wajahku matanya penuh dengan kecurigaan seolah olah hendak menguliti aku hidup hidup. tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya dia menatapku lekat lekat, di hempaskan tangannya dengan kasar dari wajahku dan kemudian berlalu pergi.
aku termangu sendiri di kebun itu, dadaku kembang kempis. pikiran dan hatiku tak karuan.
drrtttt..
drrrrttt..
drrrtttt...
panggilan telpon dari ponselku membuyarkan lamunanku. ku lihat di layar ponselku nama swsaty memanggil.
"hallo swasty.."
"Ndut gendut.. lagi ngapain kamu?" suara dari seberang
ah ini anak pasti dapat laporan dari Vian dan Ayuk ketika aku tiba tiba pulang dengan keadaan terburu buru
"ga lagi ngapa ngapain, kenapa sih?" ku jawab dengan lembut. karena aku tahu sebenarnya dia sangat kawatir.
"enggak.. tadi Ayuk dan viang cerita kalo kamu tiba tiba pulang setelah membuka pesan. apa ada sesuatu yang terjadi Rin?" betulkan apa yang ku pikirkan. bibirku melengkung samar "ga ada apa apa swasty, ga usah kawatir" aku mencoba meyakinkannya kalo semua baik baik saja. tapi mungkin jika aku berhadapan dengannya langsung wajahku tidak bisa berbohong, karena ada kepanikan yang terlihat.
"bener ga papa? jangan sungakan cerita kalo ada apa apa ya Ndut.. kita berkawan sudah hampir 5tahun" terdengar suaranya yang begitu mengkhawatirkanku
"iya pasti.. jangan kuatir. gimana kamu udah dapat kerja? seneng ya udah wisuda.. semoga aku secepatnya"
aku dan swasty berbincang panjang lebar melalui ponsel. ngobrol dengannya membuat aku lupa waktu.
"wis Yo telpone.. aku tak Asus wis jam 5 jebule(udah ya telponnya, aku mau mandi. udah jam 5sore ternyata)" dengan tertawa renyah aku memotong pembicaraannya
"ok lah Ndut.. sambung nanti lagi ya, bye"
Tut
tutt
tuutt
sambungan telpon terputus, dan aku bergegas untuk mandi.
tanpa ku sadari jika ada pesan masuk dari nomor yang tidak ku kenal mengirimkan sebuah gambar