panggil saya Rini Sensei

1326 Words
"ciieeeeeeee.. yang jadi guru bahasa Jepang hahhaaa " ledek Vian ketika melihat ku ke kampus dengan menggunakan setelan blezzer. aku tersenyum lebar "hari Jumat kamu kemana, tumben ga masuk kuliah ga ngabarin" sambil ku jitak kepala sahabatku "duhhhh.." dia meringis sambil mengelus kepalanya "motor banku bocor waktu di jalan, tambal ban jauh. giliran ada, ngantriiiiiiiiiii... kaya antrian sembako" omelnya sambil mengapit lenganku menuju JIMUSYOU "gimana gimana, jadi guru enak ga? cerita dooonng" ocehnya lagi dengan memamerkan sederet gigi putihnya "hari ini cuma perkenalan aja si Vi, mulai ngajarnya besok. dari pada di sekolah ga ngapa-ngapain mending ke sini pengajuan judul Tugas Akhir kan?" jelasku pada Vian, yang di ikuti anggukan kepalanya. "wooiii Bu guru!!" teriak seseorang dari arah belakang. kami berdua serempak menoleh, swasty rupanya. "heh..bengak bengok koyo neg alas wae (teriak-teriak kaya di hutan aja)" gerutu vian swasty mencibir mengikuti omelan Vian dengan tangan seperti bebek. aku geli melihat mereka berdua. kami bertiga berjalan beriringan menuju tempat yang sama. "Sido ngajar Ndut (jadi ngajar Ndut)"? tanya swasty padaku "Yo sidolah (ya jadilah), udah pake baju begini kaya ibu Mentri pasti jadi ngajarlah ya" vian yang menjawab sambil menunjuk bajuku dari atas ke bawah dan ke atas lagi "terus ngapain ke sini, malah mbok tinggal muridmu ??(kok malah di tinggal muridmu)" "mau pengajuan judul tugas akhir" belum sempat aku menjawab, sudah keduluan Vian yang menjawab. "terus kapan mulai ngajar Ndut?" "sesuk jarene (besok katanya)" belum lagi aku menjawab, Vian sudah lebih dulu menjawab. aku geleng kepala dengan memutar bola mataku "hihhhh kok Kowe terus to seg jawab. kan aku tekok e Karo genduutttt ??!! ( kok kamu terus sih yang jawab, kan aku tanyanya sama gendut)??!!" swasty protes, dengan mengapit kepala Vian sampai tertunduk dan mengacak acak rambutnya "aduduh aduuhhh... sakit swasty. aduuhhhh.." aku terpingkal pingkal melihat tingkah mereka berdua. sahabat yang selalu ada yang selalu membantuku dan yang selalu mengerti keadaanku. kami biasa menyebut gerombolan kami dengan sebutan GENG REMBOL alias GENG KERE-KERE GROMBOL (miskin-miskin kumpul) Hehehehehe *********** "selamat pagi anak-anak" sapaku pada anak-anak kelas X.A. "Pagi Bu" serempak anak-anak menjawab "perkenalkan, nama Ibu adalah Rini Anggraeni. yang akan memperkenal kepada kalian bahasa dan sastra Jepang dasar. kalian bisa panggil saya dengan Rini Sensei" dengan senyum ku perkenalkan diriku kepada anak-anak baru gede ini. *kriiiiiing..* bel alarm sekolah berbunyi menandakan jam mengajar sudah selesai. "kita lanjutkan besok lagi, jangan lupa di hafalkan hurufnya karena besok kita ketemu Sensei akan memberi Quis untuk kalian" "huuuuuuuuuuuuu...." "jangan bersungut-sungut tugas kalian adalah belajar, sayounara minasan" ku melambaikan tangan dan tersenyum kepada anak-anak kemudian keluar kelas. aku menuju ruang guru, kuletakkan buku-buku di mejaku dan ku hempaskan bokongku di kursiku. 'fiuh..seru juga jadi guru' gumamku sendiri sambil senyum-senyum. kulihat jadwal selanjutnya, pukul 10.45 aku masuk ke kelas XI.Bahasa. oke.. banyak yang bilang ini adalah kelas buangan karena anak-anaknya sedikit bandel. 'hmmm...seberapa bandel mereka ini ya, aku penasaran' batinku. ku lihat jam di tanganku masih pukul 10.00wib, cukup ada waktu untuk aku mengisi perutku yang keroncongan ini di kantin sekolah. aku yang sekarang gemar menggunakan high heels, merasa betul-betul menjadi wanita dewasa. pakaian ala-ala wanita kantor, tas jinjing, wajah dengan makeup, rambut hitam rapi. oh Tuhan.. aku bergidik geli dalam hati. aku duduk di bangku kantin dan memesan mi goreng instan dan es teh manis kepada ibu kantin. ku lahap makanan yang ada di depanku dengan segera, lumayan lah untuk mengganjal perut, dari pada nanti jadi mag karena telat makan. selesai, kubayar segera tak lupa ku ucapkan terimakasih. dan aku berlalu pergi dari kantin *kriiiing..* bel alarm sekolah berbunyi kulihat jam di tangan 'oh sudah waktunya masuk kelas rupanya' aku bicara sendiri kucepatkan langkahku, mengambil buku pelajaran yang ada di atas mejaku. dengan segera menuju kelas XI.Bahasa "selamat siang anak-anak" sapa ku pada anak-anak bahasa ini. ku perkenalkan diriku, ku absen anak-anak satu persatu. ku pinta mereka untuk berdiri dan berlatih menulis huruf Jepang di papan tulis. seru sekali rasanya mendaji guru, berbaur dengan anak muda. mengenali karakter masing-masing dari mereka. dan tentunya menjadi teman mereka.. ya, teman bukan guru dan murid tapi teman sama-sama belajar. ********* "hai Rini Sensei.." ku toleh kepalaku, swasty menyapaku dengan menepuk pundak ku. hampir tersedak aku di buatnya. "ngaget-ngageti wong wae(bikin kaget orang aja)" gerutuku sambil kulahap nasi dalam piring. "Bu Nardi.. nasi rames 1 ya, sama es teh manis 1. yang bayar gendut ya Bu.. udah jadi guru dia Bu" dengan terkekeh dia meledekku. aku hanya mendengus malas. "nggak ngajar Ndut?" "enggak.. lagi ga ada jadwal hari ini" jawabku "terus ke kampus ngapain? bukannya hari ini juga ga ada jadwal kuliah?" tadi aku habis nyerahin proposal pengajuan tugas akhir ke Novi Sensei" jawabku masih dengan mulut penuh dengan nasi "oooo.. cepet Ndut, jangan mangkir lagi. biar cepet selesai kuliahmu. aku dan Vian udah mau sidang lho.."dengan raut yang sedikit khawatir dia mengelus pundak ku "Iya.." jawabku singkat "jangan iya iya aja Ndut.. cuma kamu tok temen kita yang ketinggalan. kalo kita kita udah pada lulus. Kamu sama siapa?" "iya swasty..." ku jawab dengan mendengus kasar ya.. dari kami berlima hanya aku yang tertinggal dari kawan kawanku yang lebih dulu pengajuan tugas akhir. Danik dan kalpasa sudah lebih wisuda, sedangkan Ayuk juga sudah lebih dulu sidang tugas akhir. swasty dan Vian hanya tinggal menunggu bulan untuk melaksanakan sidang tugas akhirnya. aku yang selama ini selalu bergantung pada kawan kawanku ketika kuliah, malas rasanya jika harus seorang diri mengerjakan segala tugas dari para dosen. ku hela nafas dengan kasar. ku tutup bukuku dengan kasar, ku rebahkan tubuhku d kasurku. entah apa yang ada dalam pikiranku, aku sepertinya bosan. menjadi anak bungsu dari Pak Suradji sungguh membuat aku merasa tertekan. pergaulanku sangat di batasi, bahkan jarang ada kawanku yang main ke rumah karena sambutan dari bapak dan mbakyuku(kakak perempuan) yang terlalu lebay dan membuat kapok untuk main lagi ke rumah. drrttt.. drrrtttt.. ku lihat hp ku ada nomor asing tanpa nama muncul di layar hp ku. dahiku mengernyit ku lihat nomor tersebut dengan seksama. mungkin aku tahu nomor tersebut atau nomor salah satu rekan guru yang belum aku simpan. "halo.." ku angkat panggilan tersebut "hai Rin.." suara dari seberang "ya.. dengan siapa ini?" "mosok lali Karo aku(masa lupa sama aku)" "hmmm.. siapa ya?" sambil ku ingat ingat mungkin aku akan tau dengan mengenali suaranya. tapi memang benar benar aku tidak tau "aku cinta pertamamu.." aku terkesiap, spontan aku menutup mulutku dengan jemari tangan kiri. hatiku berdebar ada rasa takut di sana tapi juga rindu. "Rin.. ma.mi.." suaranya membuyarkan lamunanku. dia memanggilku dengan mengeja panggilan itu. pikiranku dan hatiku belum seutuhnya bekerja dengan baik, aku masih terkejut. panggilan itu ketika kami berpacaran di bangku SMP. ya.. di bangku Sekolah Menengah Pertama. aku masih ingat betul bagaimana kami berpacaran, tidak ada hal yang negative memang. tapi cara dia mencintaiku tidak seperti cinta monyet, dia memperlakukan aku seperti cinta sejatinya yang seolah olah tidak akan terpisahkan. dia sangat terobsesi denganku. "ma..mi.."suara baritonnya mengeja panggilan itu dengan perlahan, berhasil menyentak jantungku. anehnya aku enggan mematikan ponselku. "ya.." akhirnya aku menyaut panggilannya dengan suara perlahan "kowe neng ndi wae? aku goleki kowe sampe wong seng kenal Kowe tak teko'i Kabeh(kamu ke mana saja? aku mencarimu sampai sampai aku bertanya kepada setiap orang yang mengenalmu)" "a..aku, aku di rumah aja. ga kemana mana" jawabku dengan suara gemetar. "bohong.."suaranya datar dan mengintimidasi seperti dulu, ketika dia menuntut kejujuran ku. ku lipat bibirku ke dalam sesekali aku kibas kibaskan jemariku kiriku untuk menghilangkan kegugupanku. aku tarik nafas dan kubuang perlahan "aku selalu di rumah, sehabis kuliah aku langsung pulang" kujawab setenang mungkin. "bukannya kamu kerja jadi guru Jepang?" "iya.. baru 1 bulan ini" aku tidak kaget jika dia mengetahui gerak gerik ku. Gali sepertinya mencari info tentang seseorang sangatlah mudah. "kamu tahu dari mana aku jadi guru?" tanyaku basa basi "temenku banyak ma.mi.." jawabnya dengan menekan panggilan itu di akhir kalimat. 'oh Tuhan' dalam hatiku sambil ku pejam mataku menahan gejolak dalam jantungku 'akah aku harus berurusan lagi dengan orang ini Tuhan' gumamku dalam hati
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD