Alegra tertegun seorang diri di kamarnya, duduk di kursi kayu yang menghadap ke jendela yang tengah terbuka. Suasana siang yang tampak mendung, bahkan matahari pun seolah tengah bersembunyi di balik kelamnya awan-awan hitam di atas sana.
Hembusan angin cukup kencang menerpa wajah cantik dan rambut panjangnya, Alegra tetap duduk tenang di kursinya seolah hawa dingin yang menusuk kulitnya tak berpengaruh apa pun untuknya.
Tatapan matanya kosong tanpa arti, tak ada semangat hidup di sana. Meski air mata tak terlihat meleleh keluar, tapi hanya melihat sekilas sorot mata sendunya, siapa pun akan bisa menerka rasa duka mendalam yang sedang dipendam kuat-kuat gadis itu.
Kepalanya menoleh saat terdengar suara seseorang membuka pintu kamarnya, Alegra tersenyum pada sosok sang kakak yang baru saja memasuki kamarnya.
Tregon tidak bodoh, dia juga sudah sangat mengenal kepribadian adiknya. Tak perlu bertanya pada sang adik, dia tahu betul adiknya sedang menahan tangisnya agar tidak pecah dengan sekuat tenaganya.
Tregon melangkah tanpa kata, mendekati sang adik yang masih duduk tenang di kursinya. Lantas dia berjongkok di depan sang adik, menggenggam kedua tangan adiknya seerat yang dia bisa.
“Alegra, belum terlambat untuk berubah pikiran. Kita bisa pergi dari sini sekarang juga jika kau mau,” ucap Tregon. Tatapan matanya menghunus tajam pada kedua mata sendu adiknya.
Alegra menggeleng, lalu mengulas senyum tipis yang tampak dipaksakan.
“Aku baik-baik saja, Kak. Keputusanku sudah bulat. Nanti malam aku siap dijadikan persembahan untuk raja ular.” Jawab Alegra lirih membuat Tregon yang mendengarnya semakin tersiksa dalam hatinya.
“Tapi, aku tetap tidak rela melepasmu pergi. Kau lihat bagaimana ular itu kan? Dia sangat menyeramkan. Bagaimana jika dia menjadikanmu santapannya?”
“Mungkin itu sudah takdirku.”
Kini kedua mata Alegra tampak berkaca-kaca, meski hingga detik ini air matanya belum ada setetes pun yang mengalir keluar.
“Ini bukan takdir, tapi pilihan. Jika kau masih bisa memilih untuk tetap hidup, kenapa kau harus mengambil pilihan untuk mati konyol seperti ini, Al?”
“Karena hanya dengan cara ini setidaknya aku akan berguna untukmu, Kak. Raja ular itu sudah berjanji akan membantu kita membalas para pemberontak itu. Aku tidak ingin hanya berdiam diri, menjadi penonton rakyat Vincentius yang sedang menderita. Aku juga tidak ingin menjadi anak durhaka yang tetap diam meskipun kedua orangtuanya jelas-jelas menerima ketidak adilan. Aku ingin berguna kak, karena itu aku memilih jalan ini.”
Tregon berdecak kesal, dia bangkit berdiri. Berjalan mondar-mandir, kentara begitu gelisah di hadapan Alegra.
“Apa artinya semua ini jika kau tidak ada lagi. Kerajaan, tahta, kekuasaan bahkan keadilan sekali pun tak ada artinya bagiku jika dibandingkan dirimu. Aku pasti akan lebih memilihmu, Al.”
“Kak,” panggil Alegra lirih, entahlah kata-kata kakaknya membuat hatinya begitu tersentuh hingga kini dia mulai ragu untuk pergi ke kerajaan para siluman ular.
“Di dunia ini hanya kau keluarga yang ku miliki. Jika kau juga pergi, apa artinya aku tetap hidup sebatang kara? Aku tidak bisa. Aku tidak rela melepasmu pergi.”
Tregon kembali berjongkok, menenggelamkan wajahnya di paha adiknya yang tengah bergetar tak kuasa lagi menahan tangisnya.
Alegra mengelus lembut puncak kepala kakaknya, dia biarkan air mata itu terjatuh agar menjadi bukti betapa hancurnya hati Alegra saat ini.
“Jangan seperti ini, Kak. Kelak kau akan menjadi raja. Kau harus kuat. Bagaimana bisa kau memerintah kerajaan jika kau lemah seperti ini?”
“Aku memilih menjadi lemah, aku memilih melepaskan kerajaan itu daripada harus melepasmu pergi. Kau adikku satu-satunya. Sampai mati pun aku akan menjagamu.”
Alegra membekap mulutnya, menahan mati-matian agar suara isak tangisnya tak keluar.
“Aku akan kecewa kalau kau seperti ini. Tregon Vincentius yang ku kenal bukanlah pria lemah seperti ini. Dia pria tegar dan kuat. Pria yang rela melakukan apa pun demi menegakkan keadilan.”
Tregon mendongak begitu mendengar perkataan Alegra. Dia ulurkan tangan kanannya untuk mengusap air mata yang membasahi wajah cantik sang adik.
“Menjadi pria kuat bukan berarti harus rela melepaskan adiknya untuk dijadikan persembahan, bukan?” Tanya Tregon, masih tak sudi mengizinkan Alegra untuk pergi.
“Terkadang demi menyelamatkan banyak nyawa harus mengorbankan satu nyawa. Aku jauh akan lebih bahagia jika dengan nyawaku bisa menyelamatkan nyawa-nyawa tak berdosa. Aku akan merasa menjadi pendosa di saat aku memilih berpaling padahal aku bisa menyelamatkan mereka.”
Tregon tertegun, tanpa dia sadari air matanya ikut menetes keluar.
“Relakan aku pergi, Kak. Lagi pula belum tentu raja ular akan membunuhku, kan? Mungkin saja dia akan menjadikanku sebagai ratunya, siapa yang tahu?” Alegra terkekeh yang dibalas dengusan oleh Tregon.
“Maksudnya kau akan menjadi ratu ular begitu?”
“Mungkin saja, kan?”
“Memangnya kau mau jadi ratu ular?”
“Aku rela menjadi apa pun bahkan jika aku harus mati sekali pun, sungguh aku rela, Kak. Asalkan pengorbananku ini tak berakhir sia-sia.”
Alegra balas menggenggam tangan Tregon, dia bangkit berdiri dari duduknya seraya menarik tangan kakaknya agar ikut berdiri bersamanya.
“Berjanjilah padaku, Kak. Jangan jadikan pengorbananku sia-sia. Kau harus berhasil mengalahkan musuh-musuh kita. Hukum mereka seberat mungkin, terutama Reegon Vincentius. Dialah musuh utama kita.”
Tregon merasa tak memiliki pilihan lain saat ini. Tekad kuat sudah terpancar di sorot mata Alegra. Tregon tahu di saat Alegra sudah memasang raut wajah serius seperti ini, dengan cara apa pun dia membujuknya, Alegra tak akan pernah merubah keputusannya. Lantas Tregon pun mengangguk, mengikrarkan janji bahwa dia tidak akan mengecewakan adiknya.
Setelah itu mereka berpelukan, melepas rasa sedih, duka sekaligus perpisahan. Inilah terakhir kalinya mereka bisa bersama-sama.
***
Langit masih tak jauh berbeda dengan siang tadi, mendung namun tak ada setetes air hujan pun yang jatuh membasahi bumi. Suasana mencekam malam itu, tak ada cahaya apa pun yang berasal dari benda langit, semuanya tampak gelap gulita.
Rombongan itu berjalan melewati jalan setapak, hanya cahaya dari lentera yang memberi mereka penerangan.
Alegra berjalan dengan kedua tangannya yang melingkar erat di lengan kakaknya, jantungnya berdegup kencang seiring langkah kakinya menjauhi area desa. Tepat di depannya, kepala desa dan beberapa tetua menjadi pemandu perjalanan mereka. Ada juga beberapa warga yang berjalan di belakang Alegra dan Tregon, seolah mereka bertugas memastikan kedua bersaudara itu tak melarikan diri.
Butuh waktu sekitar 2 jam berjalan kaki, akhirnya mereka pun serempak menghentikan langkah. Alegra membulatkan matanya saat menatap pemandangan di depannya.
Sebuah hutan belantara yang gelap gulita, tak ada yang bisa dilihat dari luar hutan selain pohon-pohon yang tumbuh berjejer, menjulang tinggi dengan daun lebatnya yang menghalangi jarak pandang.
Hanya berada di depan hutan, tanpa perlu masuk ke dalamnya sekalipun, Alegra tahu hutan itu bukanlah hutan biasa. Ada makhluk lain yang menghuninya. Tak perlu bertanya siapa penghuni hutan itu, Alegra bisa menerka hutan inilah kerajaan Sylvain yang dihuni Raja ular beserta seluruh bangsa siluman ular.
Cukup lama mereka terdiam di depan hutan, terdengar suara para tetua yang serempak membacakan mantra yang sama seperti saat mereka memanggil Raja Tazio kemarin malam. Alegra semakin mempererat pelukannya pada lengan Tregon, rasa takut menyerangnya saat melihat cahaya remang-remang mulai muncul dari dalam hutan.
“Kakak, itu ...” ucap Alegra seraya menunjuk ke arah cahaya di dalam hutan.
Tregon tentu melihatnya, cahaya remang-remang itu terlihat jelas sedang bergerak menghampiri mereka.
Dan ketika cahaya itu sudah berada di depan mereka, cahaya yang ternyata berasal dari obor yang dipegang oleh dua pria berbadan tinggi besar yang mengenakan pakaian layaknya ksatria, Alegra maupun Tregon terkejut luar biasa. Kenapa bisa ada manusia yang keluar dari hutan itu?
“Putri Alegra, sudah tiba waktunya.” Kepala desa berucap disertai senyuman lebar di wajahnya. Dia berjalan menghampiri Alegra, lantas mengulurkan tangan kanannya seolah mengajak Alegra agar mengikuti dirinya.
Alegra masih berdiri mematung, pandangannya terfokus pada telapak tangan kepala desa yang terulur padanya.
“Siapa mereka?” Tregon yang bertanya, masih penasaran dengan kemunculan dua orang pria yang berpenampilan layaknya manusia, bukan siluman ular seperti yang dia perkirakan.
“Mereka itu prajurit dari Kerajaan Sylvain. Mereka datang kesini untuk menjemput Putri Alegra.”
“Tapi mereka seperti manusia?”
“Percayalah, mereka bukan manusia seperti kita. Mereka itu jelmaan siluman ular yang kapan pun bisa berubah menjadi seekor ular.”
Tregon dan Alegra saling berpandangan, Alegra semakin mengeratkan pelukannya dan hal itu tentu disadari oleh Tregon, tahu persis sang adik ketakutan tiada tara saat ini.
“Kak, aku takut. Aku ingin pulang. Aku tidak ingin pergi ke sana.” Dan tebakan Tregon benar adanya saat ucapan ini terlontar dari mulut Alegra.
Tregon mengangguk, sejak awal dia memang tak setuju dengan keputusan adiknya ini. Di saat sang adik akhirnya menyadari kesalahannya, tentu saja dia akan mendukung keputusan adiknya untuk mundur.
“Iya, lebih baik kita pergi dari sini. Kita ...”
Ucapan Tregon menggantung di udara saat kepala desa tiba-tiba menarik paksa tangan Alegra, seketika membuat pelukan mereka terlepas.
“Jangan main-main kalian berdua. Meminta mundur saat Raja Tazio sudah menyetujui keinginan kalian. Yang benar saja? Sekarang sudah terlambat. Tidak ada jalan bagi kalian untuk mundur!!” Bentak kepala desa teramat murka.
Tregon melangkah maju hendak merebut kembali tubuh sang adik yang kini dicekal oleh kepala desa, namun belum sempat Tregon melangkah jauh, beberapa warga desa yang berdiri di belakangnya dengan sigap menangkap tubuhnya. Dia dipegangi oleh lima pria dewasa sekaligus, Tregon pun kesulitan untuk melepaskan diri.
“Kakak!!” Teriak Alegra seraya meronta mencoba melepaskan diri dari cekalan kepala desa.
“Lepaskan adikku, sialan. Dia tidak ingin pergi ke sana. Jangan paksa dia!!
Tregon mencoba mengerahkan seluruh tenaga yang dia punya untuk melepaskan diri, yang sayangnya berakhir sia-sia. Sekuat apa pun dirinya, dipegangi oleh lima pria dewasa sekaligus, tentu saja dia yang hanya seorang diri tak mungkin bisa menang.
“Jika kalian mundur sekarang sama saja kalian membahayakan warga Isle Village yang sudah membantu kalian memanggil Raja Tazio. Apa kalian tidak memikirkan kami? Kalian sudah melibatkan kami. Inikah cara kalian memperlakukan orang yang sudah membantu kalian?”
Alegra berhenti meronta, ucapan kepala desa menyadarkan dirinya bahwa memang sudah tidak ada jalan mundur baginya. Bukankah ini keputusannya sejak awal? Lalu kenapa sekarang dirinya ragu hanya karena rasa takut yang tiba-tiba membludak di dalam hatinya? Alegra merasa bodoh, teramat sangat bodoh.
“Kak, kepala desa benar. Tidak ada jalan bagiku untuk mundur. Kita sudah melibatkan warga Isle Village, kita tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja. Maafkan aku kak, aku pergi sekarang.”
“Alegra!!!” Teriak Tregon teramat kencang, dia masih belum menyerah, masih berusaha sekuat tenaga melepaskan diri.
Alegra tak menggubris teriakan kakaknya, dia ikuti langkah kepala desa yang menggiringnya mendekati dua prajurit Raja Tazio yang masih setia menunggunya di depan hutan.
“Gadis ini Putri Alegra Vincentius, dia persembahan untuk Raja Tazio,” ucap kepala desa yang diangguki kedua prajurit tersebut.
Keduanya menghampiri Alegra, menarik tangannya agar berdiri di tengah-tengah mereka. Alegra tak bisa melakukan apa pun selain menurut meski telinganya masih mendengar teriakan pilu dari sang kakak.
“Kapan Raja Tazio akan mengirimkan pasukannya untuk membantu kakakku?”
Alegra memberanikan dirinya untuk bertanya, inilah hal penting yang harus dia ketahui. Pasukan siluman ular yang katanya akan dikirimkan Raja Tazio untuk membantu Tregon melawan para pemberontak demi merebut kembali kerajaan Vincentius yang saat ini mereka ambil alih.
“Sepuluh hari dari sekarang, datanglah ke Istana Sylvain. Yang Mulia Raja menunggu di istananya.”
Alegra tersenyum lebar mendengar ucapan salah satu prajurit yang menyahut. Merasa pengorbanannya ini tidak akan berakhir sia-sia karena Raja Tazio menepati janjinya.
Alegra membalik badannya, dia pandangi wajah kakaknya untuk terakhir kalinya. Begitu pun Tregon yang balas menatapnya.
“Tolong izinkan aku bicara dengan adikku untuk terakhir kalinya. Izinkan kami mengucapkan salam perpisahan!!” Teriak Tregon, meminta belas kasihan.
Kelima pria yang mencekalnya seketika melepaskan tubuh Tregon saat mendapati salah satu prajurit mengangguk, memberikan izin.
Tregon berlari menghampiri Alegra, begitu pun dengan Alegra yang ikut berlari menghampiri sang kakak. Mereka berpelukan disertai air mata yang jatuh membasahi wajah mereka masing-masing.
“Jangan menyerah, Al. Bertahanlah, kau harus kuat. Setelah urusanku dengan para pemberontak itu selesai, aku berjanji akan menjemputmu. Sampai itu terjadi, bersabarlah. Tetaplah hidup,” bisik Tregon tepat di depan telinga Alegra.
“Kau mengerti, kan?”
“Aku mengerti, Kak. Aku akan sabar menunggu kakak. Aku juga akan berusaha bertahan hidup disana. Aku percaya padamu, Kak.”
Tregon melepaskan pelukan mereka, dia kecup lembut puncak kepala adiknya. Dengan berat hati harus dia relakan adiknya pergi.
Tregon membalik badan setelahnya, tak kuasa melihat adiknya yang berjalan menghampiri dua prajurit yang masih menunggunya di depan sana.
Dengan tubuhnya yang gemetaran serta lelehan air matanya yang tak kunjung reda, Alegra melangkah mantap mengikuti dua prajurit yang berjalan mengapitnya. Mereka melangkah masuk ke dalam hutan belantara.
Sepanjang jalan, Alegra hanya menundukan kepalanya, tak berminat untuk melihat sekelilingnya. Yang ada di pikirannya hanya satu yaitu mempercayai sepenuhnya ucapan Tregon yang mengatakan akan menjemputnya setelah semua masalah ini selesai. Dia tak akan meragukan ucapan kakaknya karena hanya Tregon lah satu-satunya orang yang dia percayai di dunia ini.
Terlalu banyak melamun, Alegra tersentak saat telinganya mendengar suara nyaring di depannya. Cepat-cepat dia mendongak, matanya menyipit tatkala melihat dirinya akan memasuki pintu sebuah gua dimana di depan pintu itu dijaga ketat oleh beberapa prajurit siluman ular seperti dua pria yang masih setia mengapitnya.
Sudah Alegra duga, istana siluman ular pastilah sebuah tempat menyeramkan layaknya gua yang dia masuki ini. Diam-diam dia tersenyum miris, menertawakan nasibnya yang harus bertahan hidup di tempat menjijikan seperti di dalam gua itu.
Namun, pemikiran itu tak bertahan lama setelah Alegra melewati sebuah pintu yang merupakan pintu keluar gua. Tepat di balik gua yang menyeramkan tadi, ternyata berdiri kokoh sebuah istana Raja yang kemegahannya bahkan mengalahkan istana kerajaan Vincentius yang selama ini ditinggali oleh Alegra dan keluarganya.
Dinding istana itu berlapis emas yang bersinar terang, berbanding terbalik dengan keadaan hutan dan gua tadi yang gelap gulita. Istana itu berdiri di atas sebuah tebing dengan ditopang tiang penyangga yang menyatu dengan bebatuan. Alegra nyaris lupa cara berkedip mendapati dirinya bukan akan tinggal di gua yang menyeramkan, pengap dan gelap seperti yang dia perkirakan. Melainkan dirinya akan tinggal di istana megah itu.
“Ayo masuk! Yang Mulia Raja sudah menunggu.”
Alegra kembali melangkah tanpa memalingkan tatapannya dari istana tersebut. Dirinya semakin dibuat takjub saat sudah masuk ke dalam istana.
Dilihat dari sudut mana pun istana itu tidak ada bedanya dengan istana kerajaan manusia, Alegra masih tak habis pikir bagaimana mungkin bangsa siluman ular ini bisa mambangun istana semegah ini. Tapi inilah kenyataannya, Alegra yakin dirinya tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi.
Alegra digiring ke dalam sebuah ruangan besar, dimana di bagian depan ruangan terdapat sebuah kursi mewah terbuat dari batu yang jika diperhatikan baik-baik sepertinya terbuat dari sekumpulan ular yang berubah menjadi batu.
Ada banyak orang berpakaian mewah di dalam ruangan tersebut. Mereka menatap Alegra bak hewan buas yang siap menerkam mangsanya. Alegra meneguk salivanya, sekilas mereka memang terlihat seperti manusia. Namun, jika ditilik dari penampilan mereka serta paras rupawan mereka yang di atas rata-rata manusia normal, Alegra tahu mereka bukanlah manusia melainkan jelmaan dari siluman ular.
“Berdiri di sini,” titah salah seorang prajurit yang mengawal perjalanan Alegra. Alegra mengangguk, tak berani membantah.
Kini dia berdiri tepat di bawah tangga menuju kursi singgasana raja. Berdiri pula di sampingnya dua orang gadis seumuran Alegra yang jika diperhatikan dari penampilan dan wajahnya, mereka sepertinya manusia seperti Alegra. Mungkinkah kedua gadis itu juga persembahan untuk Raja Tazio?
Alegra sudah membuka mulutnya bersiap menyapa kedua gadis di sampingnya, jika saja suara seseorang yang mengumumkan bahwa sang Raja ular telah datang ke ruangan tak terdengar indera pendengarannya.
“Yang Mulia Raja Renz Tazio Sylvain dan Yang Mulia Ratu Acelin Sylvain, telah tiba!!”
Bersamaan dengan berakhirnya pemberitahuan itu, semua orang yang berada di dalam ruangan seketika bersujud, mereka tempelkan kening mereka di lantai yang keras.
Alegra terpaku, terkejut melihat pemandangan ini. Dia juga tak tahu harus melakukan apa sekarang.
“Hei, cepat bersujud.”
Hingga suara salah seorang gadis yang berdiri di samping Alegra, menyadarkan Alegra dari keterkejutannya. Cepat-cepat Alegra menuruti perkataan gadis itu, dia pun kini ikut bersujud di lantai.
Suara gemerisik dari jubah yang menyapu lantai disertai suara langkah kaki menggema di dalam ruangan yang berubah sunyi senyap dalam satu kedipan mata. Jantung Alegra berdetak cepat, entah mengapa hanya dengan mendengar suara yang berasal dari sosok yang tengah berjalan memasuki ruangan itu, membuat dirinya merasa terintimidasi.
Alegra penasaran, sangat penasaran ingin melihat jelmaan sang Raja ular. Mungkinkah dia berwujud sama seperti ketika mereka bertemu kemarin malam? Berwujud sebagai seekor ular raksasa ataukah berwujud sebagai jelmaan manusianya seperti yang Alegra lihat sejak dirinya memasuki istana ini? Tak ada yang berwujud seekor ular, semua siluman yang tinggal disini menjelma menyerupai manusia.
Tak kuasa lagi menahan rasa penasarannya, Alegra sedikit mendongak.
Dan untuk pertama kalinya Alegra merasa terpesona saat melihat seorang pria berjalan di hadapannya. Sudah banyak pangeran tampan yang Alegra lihat, tapi baginya tak ada satu pun pangeran yang mampu menandingi ketampanan pria di hadapannya itu.
Dia bertubuh tinggi tegap, rambut hitam pekat panjangnya tampak kontras dengan kulit putih yang dimiliki pria itu. tubuhnya bersinar seolah ada lampu di sekujur tubuhnya. Rahang yang tegas nan kokoh membungkus lekuk wajah rupawannya. Kedua iris mata berwarna keabu-abuan dengan alis tebal yang membuat siapa pun seolah lupa cara berkedip saat menatapnya. Tatapan tajamnya bak seekor singa yang bersiap menerjang mangsanya, sukses membuat Alegra meneguk salivanya dengan susah payah. Ada tanda menyerupai kristal berwarna merah di dahinya, mengingatkan Alegra pada sosok ular raksasa yang dia temui kemarin. Seingatnya di dahi ular itu memang ada sebuah batu kristal yang menancap apik.
Pria itu mengenakan pakaian mewah yang terbuka di bagian depannya sehingga d**a dan perut kekarnya terekspos jelas, dilapisi jubah berlapis emas di bagian terluarnya. Ada pula benda berwarna emas yang melingkar di keningnya, terlihat seperti sebuah mahkota.
Jadi itukah jelmaan Raja ular dalam bentuk manusianya? Alegra terpana luar biasa, tak sanggup memalingkan pandangannya dari pria itu.
Tepat di belakang sang Raja, tampak sosok wanita yang cantik luar biasa. Bahkan Alegra yang seorang wanita sekali pun mengakui bahwa untuk pertama kalinya dia melihat wanita secantik itu. Tubuhnya bersinar sama persis seperti Raja Tazio. Seorang wanita yang menguarkan aroma wangi memabukan saat dirinya lewat. Ada sebuah tanda kristal pula di dahinya, tanda yang tak jauh berbeda dengan milik Raja Tazio.
Jadi itukah Ratu ular?
Alegra tersentak saat sang ratu tiba-tiba menoleh, tatapannya menghunus tajam pada Alegra yang mampu membuat Alegra gemetar ketakutan detik itu juga.
Alegra kembali bersujud, menempelkan keningnya serapat mungkin dengan lantai.
Sepertinya leluconnya bersama Tregon tadi siang yang mengira dirinya akan dijadikan Ratu ular benar-benar hal yang mustahil, faktanya sang Raja ular sudah memiliki seorang Ratu di sampingnya.
Lalu untuk apa Raja Tazio meminta persembahan seorang gadis cantik pada semua sekutunya?
Raja Tazio terlihat tak peduli saat melihat tiga wanita yang dijadikan persembahan untuknya kini berada di istananya, justru yang membuat Alegra heran adalah sosok sang Ratu ular yang justru terlihat lebih tertarik pada mereka.
Jadi, apa yang akan menimpa Alegra di tempat ini? Mungkinkah dia benar-benar akan dijadikan santapan oleh para siluman ular ini?
Benak Alegra penuh dengan tanda tanya.