Alegra meringis kesakitan, air mata tak terbendung lagi sudah membanjiri wajahnya. Dia meringkuk sendirian di dalam kamarnya, meresapi seluruh rasa sakit yang dirasakannya. Rasa perih, nyeri bercampur ngilu yang terasa karena luka akibat cambukan kemarin sungguh menyiksanya. Sudah semalaman berlalu sejak peristiwa memilukan itu, akan tetapi Alegra masih bisa merasakan bagaimana sakitnya saat cambukan itu menghantam tubuhnya. Alegra tak pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya. Dia nyaris tak sanggup menahannya. Tak terhitung berapa kali dia berteriak demi mengungkapkan rasa sakit yang sedang dia rasakan. Bukan hanya sakit pada fisiknya melainkan pada batinnya juga. Di tengah isak tangisnya, Alegra mendongak tatkala mendengar suara langkah kaki seseorang. Memicingkan matanya saat

