Dalam keheningan yang melanda, gadis itu berjalan sendirian dengan kepala tertunduk menatap tanah yang dia pijak. Berulang kali Alegra menghela napas panjang, menyesali tindakan bodohnya semalam yang berujung dirinya diabaikan seperti sekarang. Sejak pagi buta, di saat matahari bahkan belum menampakan dirinya, Alegra sudah berlutut di depan kamar pria itu. Tiada henti mengutarakan permintaan maafnya dan hasilnya nihil ... Raja Tazio tak kunjung menemuinya. Sudah berjam-jam Alegra berlutut memohon ampunan hingga siang hampir berganti malam. Kedua kakinya mati rasa terutama lututnya. Perutnya yang tak bisa diajak kerja sama, terus dan terus mengeluarkan suara memalukan. Intinya meminta diisi makanan. Dan akhirnya Alegra memutuskan untuk istirahat sejenak. Mungkin Nirina bisa membantunya m

