Raja Tazio masih duduk tenang di kursinya, dengan posisi kedua tangannya menopang dagu, tatapannya tampak datar pada sosok di depannya. Sosok pria yang memiliki paras hampir mirip dengannya. Mengingat darah yang mengalir di tubuh mereka berasal dari ayah yang sama, sangat wajar jika mereka memiliki kemiripan. “Aku salut padamu karena kau masih berani menginjakan kaki di istanaku,” ucap Raja Tazio setelah cukup lama terdiam. Pria yang bernama Ezzio itu mendengus sinis, melayangkan tatapan merendahkan pada pria yang seharusnya dia hormati. Baginya, meski Tazio merupakan seorang raja tetap tak mempengaruhi kenyataan bahwa dia adalah adiknya. Seseorang yang lebih muda darinya. Dan merasa seharusnya Tazio-lah yang bersikap hormat padanya. Ezzio berjalan beberapa langkah ke depan, membuat jar

