4.

1005 Words
Tak berapa lama, Tuti berjalan dari arah belakang sambil membawa penampan berisi dua gelas teh manis hangat. Tuti menaruh kedua gelas itu di atas meja. "Silahkan di minum pak?" Ucap Tuti kepadaku. "Terima kasih Tut." Ucapku. Sebenarnya, aku juga belum tahu pendekatan yang seperti apa kepada ayahnya Tuti ini. "Maaf pak, kalau boleh saya tahu, kegiatan Bapak ini, ngapain saja ya? Sekali lagi, saya minta maaf ya pak?" Ucapku. "Biasanya sih, saya bekerja pak. Hanya saja, untuk saat ini, sedang tidak ada pekerjaan. Sehari-hari saya, kalau sedang tidak ada pekerjaan, ya sekedar mengurus ayam bangkok sama entok saya saja." Ucap Ayahnya Tuti. "Wah, mendengar Bapak yang miara ayam bangkok ini, saya jadi tertarik. Maaf, apakah saya boleh melihat ayamnya pak?" Ucapku. "Sangat boleh pak. Mari, kalau Bapak ingin melihatnya?" Ucap Ayahnya Tuti. Ayahnya Tuti pun langsung bangkit berdiri. "Mari pak." Ucapku. "Tut, tolong bawain teh nya Bapak Guru ke belakang ya?" Teriak ayahnya Tuti. "Tidak perlu pak. Biar saya bawa sendiri." Ucapku lalu mengambil gelas berisi teh manis hangat ini. "Oh ya sudah kalau gitu. Mari pak?" Ucap ayahnya Tuti. "Baik pak." Ucapku. Ayahnya Tuti membawaku melangkah menuju ke pekarangan rumahnya yang berada di belakang. Sesampainya di pekarangan tersebut, aku menaruh gelas di atas balkon. Ayahnya Tuti segera mengeluarkan ayam jago dari kandangnya. "Ini pak, ayam saya. Krr.. Ck. ck. ck." Ucap ayahnya Tuti sambil memainkan jari tangan kanannya di depan wajahnya ayam itu. Seketika ayam jago itu pun menjengger. Aku melangkah lalu berdiri di samping ayahnya Tuti yang sedang duduk berjongkok memainkan jengger ayam jago itu. "Boleh saya pegang pak?" Ucapku. "Boleh pak." Ucap ayahnya Tuti. Aku duduk nongkrong, memegang ayam, telapak tangan kananku mengelus kepala ayam jago ini. Ayahnya Tuti tetap duduk nongkrong di sebelahku. "Kalau boleh saya tahu, usianya sudah berapa nih pak?" Ucapku sambil mengelus kepala ayam jago ini. "Baru sembilan bulan pak." Ucap ayahnya Tuti. "Sudah bisa buat di lempar untuk bertarung nih pak." Ucapku masih mengelus kepala ayam jago ini. "Memang sudah bisa pak. Kadang-kadang juga, saya suka mengetesnya dengan ayam jago saya yang satunya." Ucap ayahnya Tuti. "Menang siapa pak?" Tanyaku. "Ayam ini pak, yang menang." Ucap ayahnya Tuti. "Mantap." Ucapku. "Ini pak, tolong di pegang?" Ucapku. Aku baru tersadar, kalau aku ini masih menggunakan pakaian cokelat. Tentunya aku merasa takut, kalau nantinya ayam jago ini akan berak di pakaian coklatku ini. "Sini pak?" Ucap Ayahnya Tuti sambil kedua tangannya memegang tubuh ayam jago ini. Aku pun menyerahkan ayam jagonya. "Pak, saya ijin ingin mencuci tangan?" Ucapku. "Baik pak. Tolong tunggu sebentar? Saya masukkan dulu, ayamnya ke kandang." Ucap ayahnya Tuti. "Silahkan pak." Ucapku. Ayahnya Tuti memasukkan ayam jagonya ke dalam kandang. "Mari pak? Saya antar?" Ucap ayahnya Tuti. "Terima kasih pak." Ucapku. Aku di bawa olehnya masuk ke dalam kamar mandi. Sesampainya di dalam kamar mandi, aku pun mencuci kedua telapak tanganku. Begitu pun dengan ayahnya Tuti, Ia mencuci kedua telapak tangannya. "Boleh mengobrol sebentar pak?" Ucapku. "Tentu, sangat boleh pak." Ucap ayahnya Tuti. Aku dan ayahnya Tuti mengobrol di ruangan tamu. "Sebenarnya, saya ini merasa sangat tidak enak untuk bertanya kepada Bapak." Ucapku. "Bapak Guru tidak perlu merasa tidak enak begitu. Silahkan, Bapak katakan saja? Bapak ini ingin bertanya apa kepada saya?" Ucap ayahnya Tuti. "Begini pak. Kebetulan, Tuti ini kan sebentar lagi akan lulus. Kira-kira, Bapak ini ingin melanjutkan Tuti sekolah dimana? Biar nanti, saya bantu untuk mengurusnya. Agar Bapak masih bisa untuk melakukan rutinitas Bapak." Ucapku. "Waduh, gimana ya pak?" Ucap ayahnya tuti lalu cengengesan sebentar. "Begini pak?" Ucap ayahnya Tuti. Ayahnya Tuti terlihat merasa malu untuk mengatakannya. "Iya pak, kenapa?" Ucapku. "Sebenarnya, saya tidak sanggup untuk melanjutkan sekolahnya Tuti. Mungkin Bapak, tahu sendiri kondisi saya ini seperti apa." Ucap ayahnya Tuti. "Maaf ya pak? Kalau saya salah bertanya?" Ucapku lalu terdiam sejenak. "Kalau misalkan saya bantu untuk membiayai Tuti untuk melanjutkan sekolahnya, kira-kira, Bapak akan menerimanya atau tidak? Maaf, bukan maksud saya untuk menyinggung Bapak." Ucapku. "Kalau masalah itu. Saya pasti sangat menerimanya pak. Dengan senang hati, saya akan menerimanya. Saya sangat bersyukur, kalau memang ada orang yang merasa kasihan kepada Tuti. Tapi saya kembalikan kepada Tutinya kembali. Dia ingin melanjutkan sekolahnya atau tidak." Ucap ayahnya Tuti. "Sebentar ya pak, saya panggilkan dulu Tutinya?" Ucap ayahnya Tuti. "Silahkan pak." Ucapku. "Tut?!" Ayahnya Tuti memanggil Tuti sambil tetap duduk di kursi. Tanpa menjawab panggilan dari ayahnya, Tuti bergegas keluar dari kamarnya. Tuti berhenti melangkah di samping ayahnya. "Iya pak." Ucap Tuti sambil menunduk di samping ayahnya. "Ini. Bapak Guru, ingin membantu kamu untuk melanjutkan seklahmu. Kira-kira, kamu mau melanjutkan sekolahmu atau tidak?" Ucap ayahnya Tuti. "Kalau Tuti sih, terserah Bapak saja." Ucap Tuti. "Tenang pak. Nanti juga, saya akan membantu untuk biaya bekal sehari-harinya Tuti juga." Ucapku. Takutnya Tuti pun memang sangat membutuhkan hal itu. "Tuh dengerin. Jadi gimana? Kamu mau melanjutkan sekolahmu atau tidak?" Ucap ayahnya Tuti. "Maaf pak. Biar kasih waktu kepada Tuti untuk memikirkannya. Jangan terlalu di paksa." Ucapku. "Hehe, maaf ya pak?" Ucap ayahnya Tuti. "Iya pak. Tidak apa-apa." Ucapku. "Ya sudah Tut. Kamu masuk ke dalam lagi saja." Ucap ayahnya Tuti. "Baik pak." Ucap Tuti. Tuti pun segera melangkah masuk ke dalam kamarnya kembali. "Kalau gitu, saya pamit dulu ya pak? Kebetulan, saya harus kembali ke kantor dulu?" Ucapku. "Baik pak. Mari saya antar?" Ucap ayahnya Tuti. Aku bangkit berdiri, mencangking tas ranselku. "Tut, Bapak Guru mau balik ke sekolahan." Ucap ayahnya Tuti. Dengan segera Tuti membuka hordeng pintu kamarnya, menghampiriku yang masih berdiri ini. Telapak tangannya Tuti, menyalami telapak tangan kananku. "Kalau sudah ada keputusan, tolong kabari saya ya Tut?" Ucapku. "Baik pak." Ucap Tuti. Tuti langsung melangkah ke belakang rumahnya. Aku di antar ke depan rumahnya Tuti oleh ayahnya Tuti. Aku memakai sepatuku. "Kalau sudah ada kabar, tolong langsung bilang saja ke saya ya pak?" Ucapku. "Baik pak. Saya merasa jadi tidak enak. Hehe." Ucap ayahnya. Telapak tangan kananku mendarat di atas pundaknya. "Rezeki pak. Jangan pernah untuk di tolak." Ucapku sambil menepuk pundak sebelah kirinya dengan pelan. "Iya pak." Ucap ayahnya Tuti. "Mari pak." Ucapku. "Silahkan pak." Ucap ayahnya Tuti. Aku melangkah santai menuju ke sekolahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD