Bermain

1033 Words
“Oh begitu ya, Bang?” komentar Dila. “Ya. Sungguh malang nasib anak itu, ia masih terlalu belia untuk menjadi yatim piatu,” raut wajah Adnan sangat sedih sekaligus menyesal. “Sudah takdir mungkin, Bang,” respon Dila. “Ya, mungkin begitu. Tapi sejujurnya, aku kepikiran soal masa depan Ayaka, ini pasti akan menjadi hari-hari yang berat untuk anak itu,” Iksan mendudukan tubuh ke atas tempat duduk santai di taman itu. Pandangannya kosong, pikirannya terus berputar memikirkan masa depan keponakannya. “Rencana Bang Iksan bagaimana? Hmm... untuk urusan hak asuh, bukan aku gak mau, tapi Abang tahu sendiri aq juga punya anak seumuran Ayaka. Sofia mau dikemanakan kalau aku malah fokus mengurus anak Bang Adnan, dan bisnis Mas Edrik juga sedang kurang baik saat ini, kebutuhan rumah tangga juga nombok,” sesal Dila. Dila sudah membayangkan jika ia harus mengurus keponakannya itu, sedangkan beban keluarganya saja sudah sangat berat. Karena mengambil tanggung jawab tentu tidak hanya perkara moril saja namun juga materil, yang tak akan jauh-jauh dari urusan sandang, pangan, dan papan. Apa lagi Ayaka itu datang dari keluaraga pengusaha sukses, tentu gaya hidupnya jauh berbeda dibandingkan keluaraga Dila yang hanya pengusaha karbitan. Yang selalu berpindah-pindah jenis bisnis setiap tahun. Bisnisnya tak ada yang berjalan langgeng. “Ya, Abang juga sudah memikirkannya. Ayaka bisa saja tinggal denganku, tapi tentu tidak selamanya, karena seperti kau tahu kami sibuk, Meli adalah pialang ia tak pernah ada di rumah dan selalu pergi dari satu negara ke negara lain, sedangkan aku sendiri juga sama, beberapa bulan ke belakang aku tak punya banyak waktu karena aku harus mengurusi cabang perusahaan baru di Singapura. Jika hanya sementara waktu mungkin bisa, tapi jika selamanya Ayaka harus mengikuti ritme keseharian kami, kasihan anak itu, ia pasti akan kurang perhatian seperti Anton,” Iksan menjelaskan panjang lebar. Tiba-tiba saja raut wajah Iksan berubah sedih, teringat kembali Anton yang kini masih menjalani masa rehabilitasi di Lido. Anak itu tak ubah layaknya anak broken home, padahal ia punya rumah untuk berteduh, harta benda yang tidak pernah mengenal kata kurang, serta orang tua yang utuh. Namun apa artinya semua itu, bagi Anton, ia tak ubahnya hidup dalam sebuah raga tapi tanpa nyawa. Rumah yang megah itu terasa dingin untuknya, sejak bayi setiap hari yang bersua dengannya hanya sopir dan para pembantu. Menginjak remaja akhirnya Anton seperti merasakan kehidupan, ia bertemu dengan “teman-teman" yang seolah mengerti kesedihannya, padahal sejatinya mereka itu iblis yang menjerumuskan. “Maafkan aku, Bang. Membuatmu jadi sedih,” Dila turut menyesali nasib kakak “Tidak apa-apa, Dil. Seperti katamu, semua itu sudah takdir,” respon Iksan lirih. “Ya sudah, kita obrolkan lagi soal ini nanti saja,” ucap Dila. “Baiklah kalau begitu,” *** Ayaka sedang merakit bilah-bilah lego ditemani salah satu pembantunya yang bernama Mba Eka, biasanya yang selalu menemaninya bermain itu adalah ibunya, hal ini cukup membuat Ayaka sedikit sedih. Untungnya Mba Eka pintar mengambil hati Ayaka, sehingga ia tak terlalu terpuruk. Sampai saat ini pun—setelah hampir sebulan pasca kejadian mengerikan itu, Ayaka belum memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi pada dirinya dan kehidupannya. Yang ia tahu sekarang adalah banyak keluarga sering berdatangan dan mengunjunginya. Ia bahkan sudah sangat terbiasa dengan keberadaan Dila dan Iksan di rumahnya, karena mereka yang lebih sering datang dari yang lain dan dari sebleum-belumnya. Saat Ayaka sedang menyusun beberapa jendela untuk istana legonya, tiba-tiba sepupunya datang. Dia adalah Sofia, anak Dila, usianya sama-sama 7 tahun. Entah mengapa di mata Ayaka, sepupunya yang satu itu terlihat sangat tidak bersahabat. Terlebih saat ia tak jadi dimasukan di sekolah elit tempat Ayaka bersekolah. Bisa jadi karena ia merasa iri, atau entah ada alasan lain. “Kamu lagi ngapain?” tanyanya. Sofia baru datang mengunjunginya hari ini, setelah sekian hari hanya Dila ata Edrik yang datang berkunjung. Tapi Ayaka memang lebih senang Sofia tak usah datang saja sekalian. "Hai, mau ikut main?" jawab Ayaka dingin. Mba Eka hanya tersenyum, kemudian bergeser dan memberikan tempat untuk Sofia. "Kamu lagi main apa?" tanyanya lagi. "Aku lagi bikin rumah," jawab Ayaka. "Katanya kepalaku lagi sakit ya?" tanya Sofia, kemudian duduk di sebelah Mba Eka. "Kamu pasti tahu dari tante Dila ya?" tanya Ayaka. "Ya iya lah, masa aku cari tahu sendiri. Kepala kamu kenapa memang?" tanya Sofia polis, entah sengaja mengundang perkara. Mba Eka yang melihat ini, kemudian bereaksi. Akan tidak baik jika ia membiarkan Sofia terus mungulik soal luka di kepala anak majikannya itu. Bisa-bisa Ayaka kembali mencoba mencari jawaban dan kepalanya akan kembali terserang sakit yang hebat. "Sudah... sudah... kita main saja yuk! Non Sofi, mau ikut bangun rumah-rumah juga? Nanti Mba Eka kasih balok-baloknya yang banyak, mau?" Eka tersenyum, ia mencoba mengarahkan Sofia agar tak mencercar Ayaka dengan pertanyaan yang aneh-aneh. "Gak mau ah, membosankan," gerutu Sofia. Kemudian ia pergi begitu saja. "Non Aya, gak apa-apa?" tanya Eka. sebetulnya Ayaka tidak terlihat begitu peduli apakah sepupunya itu mau ikut bermain atau memilih pergi. ya, Ayaka memang sebisa mungkin tidak mau berukuran dengan anak tanyanya itu. "Gak apa-apa," jawab Ayaka singkat. "Ya udah, kita main lagi yuk! Non Aya sudah sampai mana bangun rumahnya?" tanya Eka dengan nada yang ceria. Tak lama Iksan datang menghampiri mereka yang sedang bermain merakit rumah dari lego di balkon kamar Ayaka. "Aya, sedang apa? Sepertinya Uwa belum menyapa Aya hati ini, kabar kamu sehat, Nak?" tanya Iksan, ia mendekat kemudian mengusap kepala Ayaka. "Sehat, Uwa, apa hari ini Wa Iksan datang buat mengantar Aya ke dokter?" tanya Ayaka. ia sudah tahu, bahwa hari ini adalah jadwal kunjungan rutinnya ke dokter, setiap seminggu sekali. "Wah, kamu ingat, Sayang?" jawab Iksan sambil tersenyum. Ayaka tak menjawab apa-apa, ia hanya membalas senyum Iksan kemudian kembali fokus pada manisnya. "Semuanya baik-baik saja kan, Mba?" tanya Iksan pada Eka. "Iya, Pak. kamu lagi main, Non Ayaka sudah hebat membangun rumah besar dari lego," komentar Eka. "Benarkah? wah... Wa Iksan senang mendengarnya, oh ya, di bawah ada Sofia, kamu gak bermain sama dia? siapa tahu kamu bosan, dan butuh teman bermain. Wa Iksan panggilan ya?" tanya Iksan kemudian mengambil ancang-ancang untuk pergi. "Gak usah, Wa!" respon Ayaka dengan tegas. "Eh... barusan Non Sofi sudah datang ke sini, Pak. Tapi tampaknya mereka sedang tidak ingin bermain," Eka menyela pembubaran. "Oh, begitu, baiklah," jawab Iksan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD