Setelah tiga minggu pasca kejadian kecelakaan itu keluarga besar Adnan masih dirundung rasa sedih, termasuk Ayaka, meskipun ia tidak tahu pasti apa yang ia sedihkan. Ia hanya bingung mengapa hingga hari ini ayah dan ibunya tidak terlihat. Karena tidak kunjung menadapatlan jawaban, maka Ayaka menyimpulkan sendiri, bahwa Sang Ayah mungkin sedang mengurusi urusan bisnisnya ke luar negeri seperti biasa, sedangkan Sang Ibu mungkin masih di Jepang, meskipun kesimpulan itu sedikit ganjil baginya. Namun untuk sementara anggap saja begitu.
Dila dan beberapa kerabat lainnya sengaja tinggal di rumah mendiang Adnan untuk sementara, agar dapat menghibur Ayaka dan juga membuatnya tidak langsung merasa kehilangan kedua orang tuanya. Kebetulan rumah yang ditinggali Ayaka dan orang tuanya itu sangat besar, yang sebetulnya terlalu luas untuk keluarga kecil seperti keluarga mereka. Meskipun mereka memiliki empat asisten rumah tangga dan dua orang sopir, tetap saja masih terasa begitu luas.
Dengan kehadiran kerabat-kerabat orangtuanya, Ayaka merasa cukup senang, paling tidak rumah jadi terasa lebih ramai. Biasanya kerabat-kerabatnya itu hanya berkunjung sebulan sekali atau ketika ada acara khusus, kini suara gelak tawa mereka di rumah itu dapat terdengar setiap saat. Ayaka pun tidak terlalu kespian, meskipun mereka tidak dapat menggantikan kehadiran orang tuanya, khususnya Aiko, ibunya yang sangat dekat dengannya.
“Aya, minum obat dulu ya,” Dila masuk ke kamar Ayaka sambil membawa nampan berisi obat-obatan yang diresepkan dokter beserta segelas air putih.
“Aku sampai kapan harus minum obat, Tante?” tanya Ayaka.
“Sampai kamu benar-benar sembuh,” kata Dila.
“Memang aku sakit apa?” tanya Ayaka.
“Kepala Aya kan terbentur, memang tidak ingat?” jawab Dila.
Ayaka menggeleng, namun ia memang merasakan sakit yang tidak biasa pada kepalanya. Meskipun perban yang melilit di atas kepalanya itu sudah di lepas, hanya menyisakaan plester khusus untuk menutupi luka sisa benturannya saja, Ayaka tetap merasa ada yang aneh dengan kepalanya itu.
Setiap malam ia sering merasakan sakit yang hebat, meskipun setelah minum obat sakitnya mereda, dan ia dapat beraktivitas maupun tidur dengan nyenak kembali. Namun sejujurnya sakitnya itu tak seberapa, jika dibandingkan kebingungan yang ia hadapi masih banyak pertanyaan di benaknya yang sangat ingin ia temukan jawabnya, namun tak bisa.
“Tante, boleh aku tanya sesuatu?” tiba-tiba Ayaka berkata,
“Boleh dong, Sayang! Tanya apa?” kata Dila lembut sambil membelai rambut Ayaka yang panjang tergerai sebahu.
“Papa dan Mama apakah sedang berlibur di Jepang?” tanya Ayaka.
“Hmm… menurut Ayaka gimana?” Dila sulit menjawab.
“Kalau ya, kenapa Tante dan Uwa Iksan membawa aku kembali ke rumah, aku ingin berlibur dengan Papa dan Mama, mereka sudah janji,” kata Ayaka. Seingatnya mereka memang sudah merencanakan liburan ini dari jauh-jauh hari, dan menagmbil momen yang tepat saat Ayaka berulang tahun yang ke-7.
“Sayang, kamu kan kepalanya sedang sakit, nanti berliburnya tidak akan seru dong kalau sedang sakit?” jawab Dila sekenanya. Ayaka termenung, jawaban yang diutarakan Dila cukup logis untuk anak berusia tujuh tahun itu.
“Memang aku terbentur apa, Tante? Aku terbenturnya memang saat liburan ya?” tanya Ayaka semakin mendalam. Sedikit demi sedikit ia mulai bisa mengingat sesuatu meski sangat terbatas, jika berusaha mengingat lebih dalam lagi, kepalanya selalu tiba-tiba terasa nyeri.
“Kamu terbentur apa ya? Aduh Tante Dila kok lupa ya,” jawab Dila agak gugup. Ia hanya mencoba menyembunyikan kenyataan itu dari Ayaka. Kalau ia bilang terbentur aspal, pasti anak sekecil itu tabiatnya selalu banyak tanya, bisa menjadi lebih runyam nantinya.
“Ya, sudah, sekarang gini aja, kamu gak usah berpikir terlalu keras ya, Sayang! Apa pun yang terjadi, bersyuku saja kita disini masih bisa hidup dengan bahagia,” ucap Dila, tiba-tiba saja air mata keluar dari kedua bola matanya. Ia masih berduka atas meninggalnya Adnan dan istrinya.
“Tante kenapa? Tante nangis?”
“Ngga, bukan apa-apa,” jawab Dila.
Saat itu tiba-tiba saja Iksan mengetuk pintu kamar, Dila buru-buru mengelap air matanya yang jatuh membasahi pipi.
“Ya, masuk saja tidak di kunci!” teriaknya dari dalam.
Iksan pun masuk, ia sedikit khawatir karena setelah Dila pamit untuk mengantarkan obat pada Ayaka ia lama tidak kembali lagi ke ruang keluarga, kebetulan mereka dan kerabat lainnya sedang mengobrol di sana, Iksan takut terjadi sesuatu.
“Kalian baik-baik aja kan?” tanya Iksan spontan.
“Kok nanya gitu sih, Wa?” Ayaka balik bertanya, sambil tersenyum manis.
“Gak apa-apa, Aya gak istirahat?” tanyanya lagi.
“Dari tadi juga istirahat, Wa, aku lama-lama bosan. Aku pengen ke luar, jalan-jalan, sekolah, masak kue sama Mama. Kenapa aku gak boleh semua itu, Wa?”
“Boleh kok Sayang, tapi kalau Aya sudah pulih,”
“Aku sudah sehat kok, Wa. Nih lihat!” jawabnya polos sambil menunjukan otot tangannya. Iksan dan Dila pun hanya tersenyum.
“Ya sudah, kamu istirahat lagi ya, kalau bosan, kamu boleh kok lihat-lihat ke balkon, atau mau ke taman sebentar juga boleh, tapi harus ada teman, nanti panggil Uwa, Tante, atau Mba ya!” kata Iksan, sekilas Iksan sangat mirip dengan mendiang Adnan, raut wajahnya, postur tubuhnya, dan kadang juga gaya bicaranya.
“Ngga, Wa, aku di kamar saja,”
“Oke, kalau itu mau kamu, Uwa tinggal dulu ya, pokoknya kalau mau apa-apa atau butuh apa-apa, jangan segan untuk panggil kami ya, mengerti?”
“Iya,”
“Anak pintar!”
Iksan pun pergi meninggalkan kamar diikuti Dila di belakangnya. Mereka menuruni tangga yang meliuk, kemudian menuju taman di belakang rumah, saat di tangga tadi Iksan berpesan pada Dila bahwa ada sesuatu yang ingin ia diskusikan soal Ayaka.
Mereka pun sampai di sebuah taman bunga, lebih mirip disebut taman bunga layaknya sebuah objek wisata, ketimbang taman sebuah rumah, karena sangat luas dan ditumbuhi aneka macam bunga dan pepohonan yang terawat dengan baik. Adnan sengaja menyewa insinyur yang ahli di bidang lanskap dan pertamanan untuk merancang taman di belakang rumahnya, pemeliharaannya pun bukan diserahkan pada tukang kebun biasa.
“Ada apa, Bang?” tanya Dila langsung pada permasalahan.
“Soal Ayaka…”
“Ya, kenapa, Bang?”
“Ayaka itu masa depannya masih sangat panjang. Apa lagi dia itu bukan anak biasa, dia pewaris tunggal banyak perusahaan besar milik ayahnya. Aku berpikir bagaimana mempersiapakan Ayaka untuk mampu memikul beban itu ketika ia besar nanti,”
“Betul, Bang, aku pun berpikir hal yang sama. Lalu rencana Bang Iksan apa?”
“Aku pikir, harus ada seseorang di antara kita yang fokus mengurus Ayaka hingga ia besar dan sukses untuk menggantikan cita-cita Adnan, tidak mungkin juga dia dibiarkan seorang diri tinggal di rumahnya ini, apa lagi untuk anak sekecil itu,” ucap Iksan lagi dengan nada yang sangat khawatir.
“Lalu kita harus bagaimana?” tanya Dila.
“Nanti aku akan berkonsultasi dengan pengacara soal ini, untuk mengurus siapa yang berhak menjadi wali dari Ayaka setelah orang tuanya meninggal,” kata Iksan, berhenti sejenak.
“Tapi aku tidak masalah jika Ayaka ingin tinggal denganku,” sambung Iksan lagi.