"Kenapa kamu tidak sanggup bertahan lebih lama lagi dari sekarang? Ada yang mengganggu ketenanganmu?" Erlan masih tetap duduk di kursi kebesarannya.
"Tentu saja banyak hal yang mengganggu ketenanganku, Erlan. Dan aku tidak mau hidupku yang penuh warna sebelum bersamamu harus berganti dengan warna hitam setelahnya. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi hanya karena kita menjalin hubungan sandiwara, Erlan," ujar Stella menatap Erlan dengan tajam.
"Kalau kamu tidak bersedia menunggu sedikit lebih lama dengan hubungan ini, apa itu artinya kamu mau kita merealisasikannya dengan benar?" Stella hanya diam sembari menatap Erlan. Dia tidak dapat mencerna kalimat ambigu pria itu.
"Bagaimana kalau kita menikah sesuai dengan niatmu?" Erlan bertanya dengan sangat enteng seolah tidak memiliki beban atas pertanyaannya.
"Menikah? Niatku? Jangan bercanda, Erlan!" seru Stella.
"Tidak pernah ada namamu dalam kamus kehidupanku aku ingin menikah denganmu. Satu-satunya pria di dunia ini yang masuk ke daftar hitam pria yang tidak akan menikah denganku hanyalah namamu," tambahnya.
Erlan menaikkan sebelah alis kirinya ke atas. Dia heran menatap Stella yang sepertinya tidak berminat padanya.
'Di luaran sana banyak perempuan yang antre dan berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatianku. Jangankan menginginkanku menikahi mereka, hanya sekedar berada dekat denganku sudah membuat mereka sangat bahagia. Sedangkan, Stella,' batin Erlan menjeda pemikirannya.
Erlan beranjak dari kursi kebesarannya dan merapikan jas yang melekat di tubuhnya. Padahal, jas itu sama sekali tidak kusut ataupun tidak rapi.
'Mungkin Stella sedikit berbeda dari yang lain. Dia menggunakan trik yang jarang digunakan wanita di luar. Saat mereka dengan terang-terangan mengejarku, maka setelah terus terang menolakku karena berharap aku terus memaksanya untuk pernikahan kami. Benar-benar cara yang luar biasa,' puji Erlan dalam hati.
"Stella, aku tidak memiliki waktu untuk merayumu. Kamu bilang cepat atau lambat kita akan tetap mengakhiri sandiwara ini, lalu bagaimana kalau kita mengakhirinya dengan kembali membuat heboh dunia atas pernikahan kita?" tanya Erlan kembali.
'Sebenarnya aku tidak serius dengan ucapanku. Aku hanya bermain-main ingin melihat seperti apa respon Stella. Ternyata dia memang sedikit berbeda dan penuh tantangan untuk meluluhkannya,' batin Erlan mengambil kesimpulan.
"Kamu pikir aku mau menikah di usia muda? Oh, tidak, Erlan. Terlebihlah pria itu adalah kamu, aku sangat berharap pada Tuhan untuk menjauhkan kita berdua sejauh-jauhnya," sinisnya.
Stella menaikkan sudut bibir kanannya menatap penuh ejekan pada Erlan. Dia menganggap kalau Erlan hanya bermain-main dan Stella juga tidak berminat untuk menganggap serius perkataan pria itu.
"Kenapa kamu selalu menolakku?" desis Erlan setelah berdiri dua langkah di depan Stella.
"Karena pria sepertimu bukan tipeku," ejeknya.
"Sekarang aku bisa membaca rencanamu dengan jelas. Kamu mengajakku agar kita berpura-pura menjalin hubungan kekasih, tapi tujuanmu yang sebenarnya ingin menjadikan aku milikmu selamanya, benar?" Stella tersenyum sinis. Dia menatap Erlan dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan.
"Tujuan Kamu yang sebenarnya karena ingin menikahiku dengan cara instan tanpa berusaha keras, bukan? Sayangnya aku bukan wanita yang mudah ditipu," tambahnya.
Stella maju ke depan Erlan dan merapikan kemeja pria itu yang sebenarnya tidak rusak.
"Apa segitu tergila-gilanya kamu padaku sampai membuat trik seolah-olah aku yang menginginkanmu? Padahal, kamu ingin menjadikan aku milikmu seutuhnya selamanya," sambung Stella sembari mendongak hingga tatapan mereka saling bertemu.
"Pikiranmu terlalu jauh, Stella. Khayalanmu terlalu tinggi sampai mengenai diriku. Sebenarnya aku hanya ingin mengujimu, tapi dunia haluanmu yang terlalu tinggi tidak bisa aku masuki," ungkap Erlan.
Erlan melepaskan kedua tangan Stella dari kemejanya dan memegang dua pergelangan itu dengan erat.
"Kamu ingin kita mengakhiri sandiwara hubungan ini? Tidak semudah itu, Stella," tolak Erlan.
"Tapi aku tidak berminat melanjutkannya lebih lama lagi," dustanya. Padahal yang sebenarnya Stella tidak ingin lagi ada keributan yang lebih besar dari yang Megan lakukan padanya.
"Kita masih terlalu baru mengumumkan hubungan ini pada media. Kalau tiba-tiba kita berpisah tanpa ada alasan yang jelas, media akan curiga dan semua orang cerdas akan berpikir sampai mereka mengerti keadaan yang sebenarnya," terang Erlan menambahkan alasan penolakannya.
"Tapi aku sudah tidak tahan jika harus terus bersandiwara seperti ini, Erlan. Aku benci hidup dalam sandiwara," rayunya mengadu. Namun, Erlan hanya menanggapi dengan tawa kecil.
"Bukankah selama ini hidupmu sudah penuh dengan sandiwara? Jangan mencoba membodohiku, Stella karena kamu juga hidup di dunia ini dengan bersandiwara. Pekerjaanmu sandiwara, dan semua yang berhubungan denganmu hanyalah sandiwara." Stella geram mendengarnya.
Erlan sangat arogan dan terbiasa tidak menerima penolakan. Pria itu selalu berhasil mengambil kendali semua orang. Dan kali ini, Stella sangat membenci keadaannya, pikir Stella.
"Ayo, ikut denganku," ajak Erlan menarik tangan Stella. Akan tetapi, Stella masih berada di tempatnya dan tidak bergeser sedikitpun.
"Mau ke mana?" tanya Stella menatap curiga.
"Tentu saja bersandiwara, apa lagi?" jawab Erlan meyakinkan.
Sebenarnya setelah tidak mau mengikuti Erlan, tetapi tarikan pria itu membuatnya kalah. Tenaga Erlan terlalu besar sehingga Stella tidak mampu melawannya.
Erlan mengajak Stella keluar dari gedung BTA. Begitu sampai di lobby, seperti biasa keduanya menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di kantor itu.
Tidak terkecuali seseorang yang sekarang menatap dengan api kecemburuan yang membakarnya.
"Sial! Beraninya Stella menunjukkan pada semua orang kalau dia pemilik Erlan! Aku tidak akan membiarkan ini terjadi," geramnya dengan tatapan penuh amarah.
Terlebih tangan Erlan yang melingkar manis di pinggang Stella. Seolah dua orang itu ingin menunjukkan pada dunia kalau mereka pasangan yang paling sempurna.
Sorot mata Megan terus mengikuti Stella dan Erlan sampai keduanya hilang di balik pintu lobby kantor. Megan ingin marah, tetapi dia menahan emosinya agar pikiran baik tentang dirinya tetap dapat dipertahankan.
***
Siang ini, semua aktris di bawah naungan Bara Talent Agency sedang berkumpul. Hal seperti ini adalah sesuatu yang dinantikan semua orang karena akan ada pemilihan peran utama untuk memerankan film layar lebar yang sudah dinantikan oleh dunia.
'Aku harus bisa mendapatkan peran ini. Dengan sedikit trik, aku akan mendapatkan peran utama. Aku yakin dengan kemampuanku,' ujar Megan dalam hati sembari duduk dengan anggun dan menampilkan senyuman yang tidak pernah luntur dari raut wajahnya.
'Kalau tidak Megan, mungkin Stella. Siapa lagi? Film layar lebar yang spektakuler ini hanya cocok diperankan oleh salah satu di antara mereka.'
'Kalau aku berhasil mendapatkan peran utama, pasti namaku akan semakin terangkat dan membuatku semakin dipertimbangkan pada setiap ajang pemilihan peran utama. Aku yakin tidak akan gagal.'
'Sainganku terlalu berat. Ada Stella, Megan, Emily, Hailey, dan Lucy. Mereka para pakar yang selalu menjadi pertimbangan untuk setiap film spektakuler seperti ini, tapi aku tetap berharap menjadi perempuan yang terpilih memerankan film ini.'
Beberapa bisikan hati dari beberapa wanita cantik yang ada di sana. Ada yang berharap, ada yang sangat percaya diri, dan ada yang tidak yakin dengan kemampuannya.
Meski begitu semua orang antusias menantikan siapa yang dipilih sebagai pemeran utama. Hanya Stella seorang yang terlihat lesu dan tidak bersemangat.
'Padahal biasanya aku yang menjadi orang paling semangat menantikan momen seperti ini. Aku akan penuh percaya diri mendapatkan peran terbaik dari setiap layar lebar yang ada, tetapi kali ini aku tidak terlalu tertarik. Masalah yang mengikutiku membuat pergerakanku terbatas,' batin Stella hanyut dalam lamunannya sampai dia tidak sadar kalau meeting sudah dimulai.
Meeting kali ini dihadiri langsung oleh Erlan. Biasanya, Erlan akan menyuruh Hugo untuk mewakilinya, tetapi kali ini dia ingin melihat langsung seseorang yang memiliki keterikatan dengannya.
'Apa yang kamu pikirkan, Stella? Sejak dari kedatanganku kesini, sampai setengah acara meeting kamu tidak fokus. Ragamu di sini, tapi jiwamu terbang entah kemana,' kata Erlan dalam hati sembari melihat Stella.
"Baiklah, untuk laga projects kita kali ini kami sudah memutuskan pemeran utama wanita yang berasal dari BTA agency," ujar Hugo mewakili Erlan untuk mengumumkan pemeran utama wanita.
Semua orang sangat antusias menantikan pengumuman yang sangat mereka nanti-nantikan.
Erlan diam saja. Pria itu hanya mengucapkan beberapa kata sebelumnya sebagai formalitas sedangkan sisanya diserahkan kepada Hugo.
"Dan wanita yang beruntung dengan segudang prestasi dan sangat diharapkan oleh masyarakat untuk menghibur dunia, dia adalah …." Hugo sengaja menjeda kalimatnya. Semua aktris cantik yang berharap semakin berdebar.
"Auristella Daisy Esther. Selamat kepada Stella, kamu terpilih menjadi pemeran utama laga projects kali ini," sambungnya.
'Stella? Lagi? Apa aku tidak lebih baik dari Stella,' batinnya sembari menatap sengit pada wanita yang dimaksud.