"Aku … mendorong Megan? Apa seperti itu yang terlihat di mata kalian?" Stella menunjuk pada dirinya sendiri.
"Jelas-jelas dari tadi kami berfokus melihat pertengkaranmu dan Megan. Sudah membuat Megan terjatuh masih mau mengelak juga?" Orang itu membantu Megan berdiri dan menanyakan keadaannya.
"Kamu baik-baik saja, Megan?" Dia memeriksa sekujur tubuh Megan.
"Lucy, jangan berlebihan begitu padaku. Aku baik-baik saja," ujar Megan sembari tersenyum.
"Mungkin setelah tidak sengaja mendorongku. Hanya aku yang tidak hati-hati sampai terjatuh," tambahnya.
"Megan, jangankan mendorongmu, bahkan tidak sedikitpun aku menyentuhmu. Aku juga berpikir apa yang membuatmu sampai terjatuh seperti tadi," tampik Stella membuat Lucy berang.
"Stella! Jangan mentang-mentang kamu kekasih dari Tuan Grissham, kamu bisa berbuat seenaknya saja!" marahnya.
Lucy berbicara dengan suara yang keras hingga membuat para aktris yang ada di dalam ruangan itu memusatkan perhatian pada mereka yang sedang berdebat.
"Aku tahu kamu memiliki kedudukan khusus di hati Tuan Grissham, tapi di kantor ini kita memiliki tempat yang sama. BTA tidak pernah membeda-bedakan aktris manapun termasuk kamu. Jadi, jangan membuat ulah dengan memanfaatkan status hubunganmu," tambahnya.
"Lucy, kalau kamu tidak tahu cerita yang sebenarnya, tidak perlu ikut campur. Aku tidak melakukan apapun pada Megan terlebih mendorongnya sampai jatuh," kilah Stella tetap tidak mau mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya.
"Stella, sudah cukup. Jangan memarahi Lucy. Dia hanya berusaha membelaku, tapi aku tidak masalah karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan setelah aku jatuh," bela Megan dengan suara yang tidak kalah keras dari Lucy tetapi tetap mempertahankan kelembutannya.
"Megan, kamu berusaha memfitnahku? Kamu ingin membuatku buruk di mata semua orang yang ada di ruangan ini?" tanya Stella setelah mencoba membaca rencana Megan.
"Tidak, Stella. Seorang Auristella Daisy Esther tidak pernah buruk di mata siapapun." Megan melirik dan kembali melanjutkan kalimatnya setelah memastikan mereka masih menjadi pusat perhatian.
"Kamu sangat sempurna tanpa celah. Hanya aku yang buruk dan terlalu rendah. Maaf, mungkin aku yang terlalu tidak sadar diri sampai dengan beraninya mendekatimu seperti tadi," lanjutnya merendah, tetapi sebenarnya mereka melakukan itu untuk meninggikan diri di hadapan semua orang.
"Sudahlah, Stella. Tinggalkan mereka berdua. Kamu sendirian tidak akan menang melawan Megan dan Lucy. Jangan sampai aku turun tangan hanya karena melihatmu ditindas," ucap Hailey berjalan mendekat dan menarik tangan Stella.
"Tapi, Hailey, aku tidak mendorong Megan. Aku tidak tahu apa yang membuatnya jatuh," kelit Stella tetap berusaha mempertahankan nama baiknya.
"Jelas-jelas kami lihat ketika Megan jatuh kedua tanganmu ada di depan d**a. Siapa yang tahu kalau kamu menghindar dari pelukan Megan dan mendorongnya dengan halus sampai membuat Megan terjatuh karena tidak memiliki keseimbangan diri." Seorang aktris lain berbicara sesuai dengan yang dilihatnya.
Kalau Lucy membela Megan, hal itu sangat wajar karena mereka sahabat dekat. Sementara yang barusan, aktris yang tidak pernah berada dalam kubu manapun. Aktris wanita paling netral di antara lainnya.
"Tidak menyangka, ya Stella seperti itu. Setelah sebelumnya sombong karena menjadi aktris yang meraih prestasi terbanyak, sekarang Stella menunjukkan kesombongan yang lebih dari itu menggunakan status hubungannya dengan Tuan Grissham."
"Ya, biasalah. Manusia kalau sudah mendapatkan kedudukan tinggi pasti akan lupa daratan."
"Cara jalannya sudah mendongak ke atas. Tentu saja yang di bawah tidak terlihat dan akan menginjak siapapun tanpa ampun."
"Aku pikir dia perempuan paling baik yang pernah aku temui, ternyata aku harus memperbaiki cara berpikirku."
Bukan hanya itu saja, masih banyak lagi suara yang memberikan berbagai macam komentar negatif kepada Stella.
Mungkin saat ini mereka membela Megan karena merasa iri Stella yang berprestasi yang berhasil mendapatkan Erlan. Semua rasa iri itu membutakan hati membuat mereka melampiaskannya saat ini juga menggunakan kesempatan yang ada.
"Diam, kalian! Jangan menggunakan kecemburuan di hati kalian atas hubungan Stella dan Erlan, lantas kalian bisa berbicara sesuka hati. Semua ada batasnya!" bentak Emily ikut bersuara setelah tidak tahan mendengar komentar mereka.
"Emily, kalau kamu dan Hailey yang membela Stella, kami mengerti karena kalian berdua bisa mengambil keuntungan dari hubungan Stella dan Tuan Grissham. Sementara kami … apa yang bisa kami dapatkan?" Seseorang di samping Emily menanggapi lebih dulu.
"Tidak ada yang mengambil keuntungan dari siapapun hanya karena hubungan seseorang. Semua yang diraih setiap orang murni dari hasil kerja keras. Prestasi yang diraih Stella juga bukan karena kebetulan, tetapi karena dia tidak pernah menyimpan rasa cemburu atas prestasi yang diraih oleh orang lain di agency ini," terang Emily.
Ada beberapa yang membenarkan, tetapi tetap saja mereka tidak berani bersuara karena rasa iri jauh lebih besar daripada sebuah kebenaran.
"Emily, jangan memarahi mereka. Tidak ada yang bersalah sama sekali, hanya aku yang salah di sini. Maafkan aku," kata Megan memulai sandiwaranya. Megan keluarkan air mata dan cepat-cepat mengusapnya. Padahal, dia sengaja melakukan itu agar orang lain bersimpati.
"Stella, ayo, pergi. Jangan berada di sekitar Megan diarahkan memanfaatkan keadaan untuk membuat buruk namamu," ajak Emily.
"Karena seorang laki-laki, seseorang sanggup merendahkan dirinya untuk menghancurkan yang lain. Hatinya terlalu busuk dipenuhi kecemburuan," sambung Hailey.
"Urusan kita belum selesai, Megan. Mungkin akan lain ceritanya jika kamu tidak memfitnahku begini," ucap Stella sebelum akhirnya pergi mengikuti Emily dan Hailey.
"Megan keterlaluan! Berani-beraninya dia merusak namaku seperti itu," gumam Stella sembari menahan amarah.
"Megan hanya cemburu padamu yang berhasil mendapatkan Erlan. Dia tidak berkaca dan melihat kualitas dirinya seperti apa. Mulutnya terlalu sulit untuk kamu kalahkan menggunakan cara yang jujur," kata Emily menanggapi sembari terus melangkah menuju lift.
Stella menghentikan langkahnya mendengar perkataan Emily. Kedua tangannya mengepal dengan erat. Matanya menatap tajam pada lift khusus yang biasa di gunakan Erlan di depannya.
"Yah, semua sumber masalah ini memang cuma satu. Hanya karena mereka yang cemburu pada hubunganku dan Erlan," desis Stella membenarkan.
"Kamu masih bisa melanjutkan hubunganmu dengan tenang, Stella. Cukup jauhi Megan dan semua orang yang ingin menjatuhkanmu. Tunjukkan pada mereka kalau kebersamaanmu dan Erlan karena pria itu sangat mencintaimu, selesai," tutur Hailey menanggapi. Bagaimanapun juga, Hailey tidak mungkin membiarkan Stella terbakar amarah dan melakukan sesuatu di luar pemikirannya.
"Kalian duluan saja, nanti aku nyusul." Emily dan Hailey hanya diam melihat Stella yang berjalan menuju lift. Sepertinya mereka tahu Stella akan pergi ke mana.
***
"Hugo, apa kabar," sapa Stella melihat logo yang tengah sibuk dengan beberapa berkas di atas mejanya.
"Stella yang cantik, kabarku baik. Ingin bertemu Tuan Grissham?" jawab Hugo tahu apa yang membawa Stella datang ke tempatnya.
"Kamu sangat pintar, Hugo. Kantor ini sangat beruntung memiliki karyawan sepertimu. Selamat bekerja, semoga harimu menyenangkan," ujar Stella, lalu masuk ke dalam ruangan Erlan tanpa permisi.
Stella berhenti begitu sampai di dalam dan pintu tertutup. Terlihat pria yang dia datangi tengah sibuk membaca banyaknya berkas yang tertumpuk di atas meja.
"Apa tidak bisa menggunakan sopan santun saat masuk ke ruangan ini? Butuh aku pecat sekarang juga?" Erlan membuka suara tanpa melihat siapa yang datang. Fokus pria itu tetap ada berkas yang tengah dibacanya.
"Yah, aku butuh dipencet sekarang juga, tapi bukan dari kantor ini melainkan dari hubungan tidak sehat yang terjadi di antara kita," jawab Stella berhasil menarik perhatian Erlan.
"Ternyata kamu, kenapa tidak bilang, Stella. Tahu begitu, aku akan menggunakan kata-kata yang lain," ujar Erlan merasa bersalah.
"Duduklah dulu, Stella! Aku akan menyelesaikan ini sebentar lagi. Setelahnya kita akan membahas apa yang membawamu datang ke sini," pinta Erlan yang kemudian kembali berfokus pada berkas sebelumnya.
Namun, Stella tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya berdiri. Stella tetap berdiri mematung di sana dan tidak merespon sepatah katapun.
Erlan mengerutkan keningnya mengetahui Stella tetap di sana. Wajah wanita itu menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres.
"Kenapa, Stella? Tidak ada waktu untuk menungguku sebentar lagi?" tanya Erlan mengerutkan keningnya.
"Tidak sebelum kamu menjawab pertanyaanku," ketus Stella membuat Erlan menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya, apa?
"Kapan kita akan memutuskan hubungan ini, Erlan? Aku tidak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi. Sekarang atau nanti, semuanya sama saja karena kita tetap akan berakhir berpisah. Jadi, aku mau kita selesaikan sandiwara ini detik ini juga," pinta Stella dengan tegas.