Part 9 Stella Terlalu Bersemangat

1287 Words
"Kamu selalu mencari kesempatan dalam kesempitan, Erlan," gerutu Stella setelah Erlan menjauhkan bibir mereka. "Bukan mencari kesempatan, Stella. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya sarapan bibirmu. Siapa yang tahu kalau kamu ketagihan, kan?" Erlan mengedipkan sebelah mata genitnya. Stella memilih diam. Dia tidak mau lagi berdebat dengan pria itu. Kemudian, Stella memakan bubur ayam buatan Erlan dengan disuapi pria itu. Setelah selesai, Erlan membereskan peralatan makan Stella dan membawanya keluar. Stella diam dan melihat Erlan menghilang di balik pintu. "Erlan Grissham Barayev, CEO Bara Talent Agency yang biasanya dingin dan datar. Aku tidak menyangka ternyata pria itu bisa bersikap manis," gumam Stella pelan. "Entahlah, dia melakukannya kepada semua wanita atau kepadaku seorang. Aku tidak peduli karena aku bukan siapapun baginya. Kami hanya terikat sandiwara yang terpaksa harus dijalankan sampai sekarang," lanjutnya. Stella berusaha beranjak dari ranjang, tetapi ternyata tubuhnya belum cukup kuat. Rasa sakit di setiap sendi masih terasa. Mungkin ini efek dari permaisuri liar mereka tadi malam. "Aw," rintih Stella saat bagian inti tubuhnya masih terasa nyeri saat dia menggerakkan kedua kakinya untuk berjalan. "Kalau masih sakit begini, bagaimana aku bisa membersihkan diri?" keluh Stella pada dirinya sendiri. "Kamu masih belum bisa berjalan, aku akan menggendongmu, Stella," ucap Erlan begitu masuk ke dalam kamar. "Tidak perlu, Erlan. Aku bisa sendiri," tolaknya menggeleng. "Aku akan mengantarmu ke kamar mandi, bahkan aku juga tidak keberatan memandikanmu, bagaimana?" Erlan bertanya, tetapi senyum di wajahnya sangat mencurigakan. "Tidak! Aku tidak mau terjadi sesuatu lebih dari sekedar mandi!" Stella menolak dengan tegas. "Oh, jadi seperti itu maumu? Baiklah, aku siap mandi bersama denganmu. Sepertinya begitu lebih baik," ucap Erlan membuat Stella melebarkan matanya dengan kalimat pria itu yang terdengar ambigu. "Erlan, bukan begitu maksudku," sanggah Stella. "Aku tidak menerima alasan apapun, Stella. Kamu terlalu malu jujur padaku padahal aku tidak akan keberatan denganmu." Setelahnya, Erlan segera melepaskan semua kain yang melekat di tubuhnya. Sekarang, Erlan hanya terbalut dengan celana kain dalam yang tersisa di tubuhnya untuk menutupi asetnya. Sedangkan Stella, dia segera memalingkan wajahnya dan berteriak melihat keadaan Erlan. "Erlan! Dasar laki-laki tidak tahu malu! Tutupi tubuhmu, Erlan!" teriak Stella dengan keras. "Tidak perlu malu, Stella. Kita sudah melihat satu sama lain dari ujung sampai ujung," ujar Erlan berjalan mendekat dan menggendong Stella ala bridal style, lalu membawanya ke kamar mandi. 'Aku sudah terbiasa melihat pria hanya memakai celana dalam saja, tapi tetap saja aneh rasanya karena orang yang ada di depanku CEO tempatku bekerja. Pria yang biasanya selalu menghindari semua perempuan di kantor sekarang justru buka-bukaan padaku,' batin Stella. Stella terpaksa menuruti Erlan yang memaksa menggendongnya karena dia sungguh tidak bisa berjalan sendiri ke kamar mandi. Daripada tidak membersihkan diri, cara ini dirasakannya lebih efektif. *** Siang hari. Stella dan Erlan menikmati weekend mereka. Rencananya siang ini Erlan ingin mengajak Stella ke pusat perbelanjaan. Banyak gosip tersebar di media kalau Erlan dan Stella hanya berpura-pura menjalin hubungan. Karena itu Erlan ingin mematahkan gosipnya dengan menunjukkan perhatiannya kepada Stella di depan umum. "Kamu tahu, Stella, aku bukan orang yang peduli pada gosip saat ini," ujar Erlan sembari "Lalu?" Stella menaikkan kedua alisnya sembari mengambil jus dan meminumnya. "Aku hanya ingin membungkam mulut media. Mereka terlalu banyak bicara mengurusi hidupku," jelasnya. "Kalau kamu tidak ingin dibicarakan media mengenai kehidupanmu, sebaiknya kamu mengundurkan diri dari CEO BTA, Erlan. Atau jika perlu, kamu silang ditelan bumi. Dengan begitu mereka tidak akan lagi mencarimu dateng gak mau tidak akan terganggu pada media yang terus membicarakan hidupmu," sindir Stella tanpa merasa bersalah dengan ucapannya. "Bilang saja kamu ingin hubungan kita segera berakhir, tapi secara halus kamu ingin aku yang akhirnya, benar?" Erlan menaikkan sebelah alisnya. Stella terkekeh mendengar itu. Dia menggeleng dan membuka suaranya. "Tidak, Erlan …," tampik Stella. "Tidak salah maksudku," lanjutnya. Stella terkekeh geli melihat senyuman Erlan hilang mendengar kelanjutan kalimatnya. "CEO BTA terlihat sangat anti pada perempuan. Wajar saja kalau media terus mencari informasi setelah kita mengumumkan status hubungan kekasih …." Stella menjeda kalimatnya. Dia memajukan wajahnya dan kembali melanjutkan dengan suara setengah berbisik. "Karena selama ini mereka mengira seorang Erlan Grissham Barayev yang tampan, dingin, dan perfeksionis menyukai manusia yang berasal dari sejenisnya, maka dari itu mereka memaklumi kamu tidak pernah terlihat jalan dengan perempuan manapun," lanjutnya. Rahang Erlan mengeras. Bisa-bisanya Stella ikut terbawa arus yang diciptakan oleh media. Setelah meneguk wine miliknya, Erlan menanggapi. "Mereka hanya tidak tahu saja kalau sudah banyak perempuan yang bertekuk lutut di bawah kuasaku. Ada yang sengaja merangkak demi naik ke atas ranjangku, ada juga yang menjual dirinya terang-terangan. Perempuan seperti kalian terlalu banyak tipu daya untuk menjeratku," kelakar Erlan. Stella menatap sengit pria di hadapannya. "Erlan, itu mereka, bukan aku," sungut Stella. "Tetap saja aku masih mengira kalau kamu pria pemakan sejenis. Hanya kamu sendiri yang tahu kalau permainanmu dengan para perempuan untuk menutupi jati dirimu yang sebentar," ejek Stella menambahkan. Erlan beranjak dan pindah duduk di samping Stella. Dia membawa wajah Stella dan mendekatkan dengan wajahnya. "Apa permainanku masih belum cukup membuktikan diriku sebagai penikmat makhluk sejenismu, hmm?" Stella memundurkan wajahnya. Sayang sekali, Erlan menahan tengkuknya dan semakin mengikis jarak diantara mereka. "Tidak ada yang tahu kebenarannya kecuali dirimu sendiri," tepis Stella. Stella melirik ke kanan dan netranya menangkap wanita yang semalam ingin menguasai Erlan. Hati Stella bergejolak melihat tatapan permusuhan yang diarahkan padanya. 'Tidak ada pilihan lain. Aku harus membuat Megan mengetahui dimana posisinya. Konspirasi yang Megan miliki terlalu licik untuk mendapatkan Erlan. Megan terlalu menganggapku enteng sebagai wanita yang berstatus sebagai kekasih Erlan,' batin Stella. Tidak menunggu lebih lama lagi, Stella mengalungkan kedua tangannya ke leher Erlan. Stella memulai lebih dulu mencium bibir Erlan. Stella sengaja memanasi Megan dengan menunjukkan kepemilikannya atas Erlan. Dia tersenyum tipis ketika mengintip sedikit bagaimana ekspresi Megan. Wajah memerah marah milik Megan membuat Stella semakin semangat menunjukkan kemesraannya pada Erlan. Semua itu Stella lakukan agar Megan tidak lagi melakukan hal seperti malam itu. "Kamu terlalu bersemangat, Stella, ada apa? Apa ada media yang melihat kita sampai membuatmu lebih agresif begini?" tanya Erlan setelah melepas tautan bibir mereka. "Bukankah selalu ada kamera tersembunyi yang mengikuti kita saja pagi itu?" sindir Stella agar Erlan tidak lagi berpura-pura lupa. "Haruskah aku berterima kasih pada mereka? Kehadiran media secara tersembunyi membuatku mendapatkan perlakuan manis darimu," bisik Erlan menempelkan pipi mereka dan membelainya. "Yang perlu kamu lakukan mengutuk mereka. Aku benci kebebasanku direnggut karena hubungan palsu ini!" ketusnya menanggapi. "Baiklah kalau begitu. Aku akan katakan pada mereka untuk terus mengikuti kita berdua agar bisa mengambil momen-momen penting setiap saat kemesraan kita." Senyum Erlan tanpa dosa. Stella menjauhkan wajah mereka. Dia meniti senyuman Erlan dengan penuh kecurigaan. Apa yang dikatakannya, apa pula balasan pria itu. Erlan tidak nyambung, pikir Stella. 'Megan masih di sana. Artinya aku harus bertahan di sini dan terus menahan diri untuk tidak menendang Erlan,' batin Stella setelah melirik tempat Megan berada dan ternyata wanita itu masih betah menatap mereka. "Kamu lihat ini, Erlan," kata Stella menunjukkan akun media sosialnya yang berisi gosip tentang mereka. "Kamu terlalu pandai untuk bersandiwara, Stella. Bakatmu di kancah internasional dalam film layar member sangat berguna. Tidak sia-sia aku mengajakmu bersandiwara setelah melihat keberhasilan sempurna yang kamu lakukan," komentar Erlan sembari membaca layar ponsel Stella. Megan merasakan panas membara dalam darah yang mengalir di tubuhnya. Setelah malam itu tidak dapat menguasai Erlan, sekarang justru Stella menunjukkan kalau pria itu tidak dapat diambil oleh siapapun. "Tunggu, Stella. Ada kejutan spesial yang sudah aku siapkan khusus untukmu. Sekarang, kamu bisa menunjukkan pada dunia bahwa Erlan milikmu, tapi nanti jangan berharap meski hanya dalam mimpi," desis Megan mengepalkan kedua tangannya. Megan mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia mengotak-atik sesuatu di sana dan menghubungi seseorang. "Bagaimana? Kamu sudah mempersiapkan semua rencananya dengan matang?" Megan terdiam mendengarkan penjelasan dari seseorang di seberang telepon. "Bagus! Aku tidak mau ada kegagalan dalam rencana kita. Semuanya harus sempurna dan aku menginginkan kemenangan mutlak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD