"Erlan, stop!" teriak Stella tepat ketika Megan sudah hampir mencapai puncak pelepasannya.
"Stella? Bagaimana kamu bisa disana, Sweety? Lalu siapa yang sejak tadi aku nikmati?" gumam Erlan sembari menghentikan permainannya.
Megan terkejut melihat kedatangan Stella. Sesuatu yang seharusnya sudah meledak harus terhenti karena Erlan menghentikan gerakannya begitu melihat Stella masuk.
"Stella, kenapa kamu bisa di sini?" tanya Megan dengan pelan.
"Yang seharusnya tanya bagaimana kamu bisa ada di kamar Erlan? Dan yang kamu lakukan, benar-benar sangat memalukan!" hina Stella membuat Megan murka.
"Jaga ucapanmu, Stella!" berang Megan.
Stella maju dan menjauhkan Erlan dari Megan.
"Dasar, pria m***m! Menahan sebentar saja tidak bisa! Kenapa kamu harus menyerangku tiap malam? Apa kamu speaker aku tidak lelah melayanimu terus?" gerutu Stella dengan suara yang sedikit keras sengaja membuat Megan kepanasan.
"Keluar, Megan. Aku tidak mengizinkan siapapun masuk ke dalam apartemen kekasihku. Jangan sampai kamu yang memanfaatkan keadaan Erlan tersebar di luaran sana atau reputasimu sebagai aktris papan atas akan hancur detik itu juga!" ancam Stella dengan wajah datar.
Megan marah. Rasanya dia ingin mencabik-cabik Stella, tapi Megan tidak dapat melakukan itu karena ada Erlan di antara mereka. Walaupun pria itu tengah mabuk, tetapi tidak menutup kemungkinan Erlan akan mengingat apa yang terjadi setelah dia tersadar nanti.
"Keluar, Megan!" usir Stella dengan suara keras.
Stella tidak tahan Megan ada lebih lama lagi disana karena saat ini Erlan sudah benar-benar di luar kendali. Lihat itu terus merambah seluruh tubuhnya. Bahkan, sangat terasa kalau Erlan sudah tidak dapat menahan untuk melampiaskan hasrat yang bergejolak di dalam dirinya.
"Stella, kamu tidak bisa melakukan ini padaku. Kamu datang merusak kesenanganku. Kamu datang ketika aku akan mencapai …." Belum sampai Megan menyelesaikan kalimatnya, Stella sudah lebih dulu memotong dengan cepat.
"Akan mencapai apa?" potong Stella.
"Akan mencapai puncak pelepasanmu? Jadi, kamu mau aku datang ke sini setelah kalian selesai melakukan semuanya?" tambah Stella. Dia berusaha sedikit menghela saat Erlan terus menyerangnya.
"Sudah benar aku datang di waktu yang tepat. Kalau tidak, Erlan akan jatuh ke tanganmu dan aku tidak bisa membiarkan priaku bersama wanita manapun termasuk kamu," sambungnya.
"Kamu keterlaluan, Stella." Megan melirik pada Erlan yang terus menyesap setiap inci tubuh Stella. Sementara sang pemilik badan terus berusaha menahan suara desahan yang hampir lolos.
"Cepat pergi atau kamu akan menyesal menyaksikan aku dan Erlan yang bermain di depanmu. Aku tidak memberimu banyak waktu, Megan karena pria ini sudah berada di luar kendaliku," ucap Stella sebelum akhirnya ditarik paksa oleh Erlan dan dibanting di tengah ranjang.
"Oh, Stella, aku sudah tidak sabar bersatu denganmu," gumam Erlan melepaskan kain terakhir yang ada pada dirinya dan Stella.
Setelah itu, Erlan benar-benar menyatukan tubuh mereka tanpa peduli apapun. Erlan sangat tergesa-gesa dan terlihat sudah tidak lagi menahan nafsunya.
Terdengar suara erangan Stella begitu Erlan menghentak dengan kuat dalam satu kali gerakan. Stella menahan rasa perih yang dihasilkan karena gerakan Erlan sangat kasar.
"Damn! Kamu benar-benar melakukannya di depanku, Stella. Kamu akan dapatkan akibatnya. Aku berjanji akan membalas semua," desis Megan mengambil semua pakaiannya dan keluar dari sana.
Tidak mungkin Megan akan terus berada di dalam karena dia tidak akan tahan mendengar Stella dan Erlan yang bermain panas. Baru permulaan saja Megan sudah merasakan sakit mendengar teriakan Stella ketika penyatuan itu terjadi. Bagaimana selanjutnya, Megan tidak dapat membayangkan sakit hatinya lebih dari ini.
"Tutup pintunya dengan rapat, Megan. Jangan sampai aku melihatmu lagi di apartemen ini," teriak Stella disusul dengan suara desahannya ketika Erlan mulai bergerak dengan cepat, liar, dan kuat.
Tidak cukup hanya sekali atau dua kali, Erlan terus menghajar Stella dalam pusaran kenikmatan sampai hasrat di dalam dirinya berkurang. Bahkan, Stella sampai tidak tahan melayani Erlan dan hampir pingsan.
Namun, mau bagaimana lagi karena keputusan ini sudah bulat diambil oleh Stella. Daripada Erlan berakhir dengan Megan lebih baik dia mengorbankan dirinya. Terlebih mereka masih menjadi sepasang kekasih sandiwara, sesuatu yang membuat Stella tidak menyesal menjadi tempat pelampiasan hasrat Erlan malam ini.
Permainan Erlan baru berhenti setelah hampir pagi. Erlan yang tanpa obat saja sudah sangat kuat dan liar, apalagi ditambah dengan perangsang dosis tinggi pemberian Megan, tentu saja Erlan semakin kuat dan diluar kendali. Stella yang kelelahan langsung tertidur tanpa sempat membersihkan sisa percintaan mereka yang masih melekat di dalam dirinya.
***
Pagi hari.
Stella bangun saat matahari sudah naik. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Tulang-tulangnya seperti terlepas dari tempatnya.
Stella bangun dan bersandar di kepala ranjang. Matanya menyipit ketika dia tidak melihat Erlan di sampingnya.
"Kemana pria itu? Mungkin Erlan sudah bangun atau dia sudah berangkat ke kantor?" lirih Stella.
"Ah … sakit," rintihannya terdengar ketika Stella ingin menggerakkan kedua kakinya.
"Bahkan sakit ini lebih parah dari pertama kali kami melakukannya. Erlan bukan manusia. Pria itu menjadi binatang saat sudah dikuasai nafsu. Aku dibuatnya remuk luar dalam." Stella menyerah. Akhirnya dia tetap duduk bersandar di kepala ranjang mencoba untuk mengumpulkan tenaga agar bisa ke kamar mandi.
"Sudah bangun, Stella?" Suara seorang pria yang tidak asing bagi Stella terdengar di telinganya.
"Aku memasak bubur spesial untukmu. Aku tahu kamu pasti sangat lelah dan lapar. Makanlah dulu untuk memulihkan tenagamu yang sudah habis aku makan tadi malam," ujar Erlan kembali sembari duduk di pinggir ranjang sebelah kanan dan menatap Stella dengan senyuman tampan di wajahnya.
"Kamu memang tampan, Erlan. Sayangnya, kamu terlalu ganas untuk ukuran seorang manusia," celetuk Stella yang hanya dibalas dengan kekehan Erlan.
"Aku hanya manusia biasa dan memiliki nafsu sama seperti pria lainnya, Stella. Aku pria normal dan tentu saja aku berminat padamu, tidak salahkan?" Erlan menggoda Stella dengan mencolek dagunya.
"Erlan," tepis Stella dengan keras.
"Semua pria di dunia ini memang normal, tapi kamu abnormal," kesal Stella. Dia memalingkan wajahnya, malas melihat wajah Erlan yang segar dan sangat tampan.
Erlan hanya tertawa kekeh mendengarnya. Walaupun dia tidak terlalu ingat apa yang terjadi tadi malam dengan percintaan mereka, tapi Erlan sangat yakin kalau dirinya sudah membuat Stella kewalahan melayaninya. Kalau tidak, tidak mungkin Stella akan bangun sangat siang dan langsung menunjukkan wajah masam dengan kantung mata hitam yang menghiasi.
"Apa kamu mau lagi, hmm? Aku masih memiliki tenaga untuk membuatmu lemas dan tidak berdaya seharian," bisik Erlan dengan suara sensual tepat di telinga kanan Stella.
"Aku berjanji akan memotongmu kalau sampai kamu berani melakukannya lagi padaku," ancam Stella tidak membuat Erlan takut sedikitpun.
"Kalau kamu memotongku, bagaimana nanti kamu akan mendapatkan kenikmatan seperti tadi malam?" goda Erlan menaik-turunkan kedua alisnya.
"Belum tentu pria lain ada yang kuat sepertiku tadi malam, Stella, bahkan aku sangat percaya kalau hanya aku satu-satunya yang bisa membuatmu sampai tidak bisa berjalan begini," tambah Erlan penuh percaya diri.
Stella menatap tidak percaya. Dari mana pria ini mendapatkan kepercayaan diri yang tinggi seperti itu? pikir Stella.
Ya, walaupun yang dikatakannya benar, tetapi tidak perlu harus membanggakan diri seperti itu juga, kan?
"Makan, Stella atau kamu ingin aku menyukaimu menggunakan mulutku?" tanya Erlan sembari memicing.
"Hei, kamu ini!" Pukul Stella pada lengan kokoh Erlan yang semalam berhasil membuatnya memutari ranjang king size itu.
"Aku hanya mencoba menjadi pria romantis, Stella, apa salahnya?" Erlan menatap Stella dengan wajah manusia paling tersakiti di dunia ini.
"Ada apa dengan ekspresimu, Erlan? Kamu membuatku seperti orang paling kejam yang sudah menyakitimu!" ketus Stella tidak suka.
"Kalau memang seperti itu kenyataannya mau bagaimana lagi, Stella?" pasrah Erlan dengan ekspresi memelas.
Erlan memajukan wajahnya dan melihat bibir Stella dengan lekat. Bibir yang sejak tadi seperti memanggilnya untuk datang. Bibir yang masih terlihat bengkak akibat ulahnya tadi malam.
"Bibirmu terlalu manis untuk dilewatkan. Rasanya aku belum puas karena pagi ini aku belum menyapanya," kata Erlan tepat di depan wajah Stella, lalu menyatukan dua benda kenyal itu untuk saling menyapa dengan bertautan di pagi ini.