"Stella, kamu yakin tidak ingin mengejar mereka?" Hailey bertanya untuk memastikan.
"Erlan pria tampan, kaya raya, dan mapan. Wanita manapun pasti ingin mendapatkannya, tidak terkecuali Megan. Walaupun tidak bisa menjadi kekasih Erlan, setidaknya bisa naik ke atas ranjang pria itu sudah menjadi hal yang cukup. Wanita mana yang akan melewatkan mendapatkan kehangatan dari bos BTA?" Emily mencoba memanasi Stella yang belum melakukan apapun.
"Aku akan menyusul mereka. Sepertinya memberikan pasangan itu kejutan akan menjadi sesuatu yang menyenangkan," kata Stella mulai beranjak dan berjalan mengikuti Megan.
Tidak ada yang mencegah Stella karena mereka tidak ingin ikut campur pada hubungan asmara sahabat mereka itu. Jika masalah masih dalam kategori normal, mereka tidak akan bertindak, tetapi jika Stella sudah kesulitan mencari solusi baru para sahabatnya akan aku turun tangan tanpa perlu diminta.
***
"Oh, seperti ini ternyata Erlan di belakangku, hmm?" gumam Stella melihat Megan dan Erlan yang masuk kedalam mobil pria itu.
"Aku tidak akan memaafkanmu kali ini, Erlan. Sudah cukup aku mentoleransi kamu yang merendahkan harga diriku," geram Stella terus mengikuti mereka.
Ternyata Megan membawa mobil menuju ke apartemen Erlan. Setelah memarkirkan mobil, Megan naik ke lantai tempat tinggal Erlan menggunakan lift yang ada di basemen. Megan sudah mengambil kartu Erlan agar bisa masuk kedalam apartemennya.
"Sial! Seniat ini Megan mendapatkan Erlan. Sejak lama aku sudah curiga dia menginginkan Erlan, tapi aku tidak memiliki bukti. Sekarang, aku bisa melihat langsung dengan mata kepalaku."
Stella mengambil kartu pemberian Erlan sebelumnya. Yah, Erlan memberi kunci akes masuk ke apartemennya. Jika suatu saat Stella bersedia tinggal bersamanya, wanita itu bisa masuk kapanpun.
"Dimana Megan membawa Erlan," gumam Stella mencari, tetapi tidak menemukannya.
"Mungkin, dia atas." Stella naik ke lantai dua. Dan benar saja, ada suara Megan di dalam kamar. Stella belum mau masuk ke dalam. Dia ingin mengintip terlebih dahulu dari celah pintu yang tidak tertutup rapat apa yang ingin dilakukan Megan pada Erlan yang sedang mabuk.
"Ternyata tidak terlalu sulit mendapatkanmu, Erlan. Malam ini aku bisa menguasaimu," kata Megan setelah membantu Erlan berbaring di atas tempat tidur.
"Dengan sedikit bantuan ini, aku bisa mendapatkanmu selamanya. Tidak peduli kamu sudah memiliki hubungan kekasih dengan Stella, tapi kalau aku yang memiliki benihmu terlebih dahulu, siapa yang akan menghalangi kita bersama?" Megan bersiap menyuntikkan sesuatu pada Erlan yang sudah dipersiapkan sejak awal di dalam tasnya.
"Aku bisa saja merusak reputasi Megan dengan menyebarkan video dia yang menjebak Erlan seperti ini, tapi sayang sekali aku tidak berminat melakukan itu. Rusaknya reputasi Megan tidak akan memberikan keuntungan padaku. Di sisi lain, nama baik Erlan akan rusak dan namaku juga akan terseret di dalamnya," lirih Stella membiarkan Megan menyuntikkan cairan itu ke tubuh Erlan.
Stella masih diam di tempatnya. Sementara matanya terus menyorot pada Megan yang mulai melakukan foreplay.
"Erlan, kamu memang sangat tampan. Sayang sekali, kamu yang sempurna harus bersama Stella yang penuh kekurangan," kata Megan. Wanita itu mulai menciumi seluruh wajah Erlan dan membawa tangan kanannya menuju seluruh tubuh perfeksionis di bawahnya.
"Sebentar lagi. Sebentar lagi kamu yang akan menyerangku, Erlan. Sebentar lagi kamu yang akan menginginkan aku." Stella terkejut mendengar perkataan Megan. Dari sini Stella bisa mengambil kesimpulan kalau cairan yang disuntikkan Megan merupakan obat perangsang.
"Caramu terlalu kotor, Megan. Hanya demi naik ke atas ranjang Erlan, kamu sampai menjatuhkan harga dirimu sendiri," desis Stella.
Setelah 30 menit Erlan mulai bereaksi. Pria itu kepanasan dan menanggapi semua sentuhan yang diberikan Megan.
Dalam tatapan Stella, Erlan melihat Megan dengan penuh hasrat. Tidak menunggu lebih lama, Erlan menyerang Megan. Pria itu dengan ganas mencium bibir Megan dan mulai melepaskan satu persatu kain yang melekat di tubuh wanita itu.
Tidak lupa tangan Erlan juga menjelajah ke berbagai tempat area sensitif di tubuh Megan. Terdengar erangan dan desahan keduanya yang memenuhi ruang kamar. Megan dan Erlan sangat menikmati permainan mereka.
Erlan terlihat seperti binatang buas yang sudah lama tidak melampiaskan hasrat nya. Pria itu menjauh dari tubuh Megan yang sudah polos. Dia melepaskan satu persatu kan cinta mejanya sembari terus menatap Megan.
"Kamu milikku malam ini, Stella. Kamu tidak akan aku lepaskan sebelum aku puas melampiaskan hasrat ku," kata Erlan menatap Megan yang tersenyum senang melihat liarnya seorang Erlan.
Namun, senyum di wajah Megan langsung lenyap begitu mendengar nama wanita yang disebutkan Erlan.
"Stella? Kenapa harus Stella, Erlan?! Ini aku, Megan!" pekik Megan tidak terima.
"Stella? Kamu bahkan hanya mengingat namaku saat sedang bersama wanita lain. Apa begitu inginnya kamu bercinta denganku, Erlan?" lirih Stella terkejut, tetapi dia tersenyum karena secara langsung Erlan sendiri yang sudah menyakiti Megan.
Dalam pandangan Erlan, wajah Megan masih tetap Stella. Dia tidak dapat menatap dengan jelas karena pengaruh alkohol yang masih menguasainya.
"Ayo, Stella. Sudah lama kamu menolakku. Sekarang, kamu tidak bisa pergi lagi," ajak Erlan tidak sabar membuka satu persatu kancing kemejanya. Jadi, dia merobek kemejanya dengan satu tarikan kuat sampai membuat kancingnya bertebaran di lantai.
"Panggil aku Megan, Erlan! Aku bukan Stella!" bentak Megan, tetapi dibalas dengan gelengan kepala oleh Erlan.
"Tidak, Stella. Kamu tetap Stella, satu-satunya wanita yang aku inginkan berada di atas ranjang ku," tolak Erlan. Stella tersenyum senang. Pemandangan ini sangat membuatnya bahagia dimana Megan disakiti oleh pria yang dia sukai.
"Aku akan melayanimu jika kamu menyebut namaku, Megan. Kalau tidak, aku akan membuatmu tersiksa tanpa bisa melampiaskan hasratmu," ancam Megan, tetapi ancamannya tidak berguna bagi Erlan.
Erlan maju dengan keadaan tidak ada lagi kain di tubuhnya. Hanya celana dalam yang masih tertinggal dan menutupi senjatanya. Senjata gagah yang sudah bangun dan siap bertempur.
"Andai kamu tidak membawa nama Stella dalam permainan kita, pasti aku sudah sangat bersemangat melihatmu seperti ini," ucap Megan dengan suara sedih.
Begitu sampai di depan Megan, Erlan segera mendekatkan wajahnya dan menekan tengkuk Megan sebelum kembali bersuara.
"Kamu tidak akan bisa kabur dariku seperti maumu, Stella. Aku akan membuatmu tunduk di bawah kuasaku," desis Erlan sebelum akhirnya kembali menyerang bibir Megan dengan buas. Bahkan, Erlan tidak memberikan Megan kesempatan untuk menarik nafas.
"Sial, kamu Erlan! Kamu menikmati ku, tapi perempuan lain yang ada di pikiranmu!" umpat Megan begitu dia bisa lepas dari cengkeraman bibir Erlan. Namun, Megan harus tetap tunduk ketika Erlan menggoda sesuatu di bagian bawah dirinya.
"s**t! Kenapa permainanmu sangat nikmat, Erlan?!" pekik Megan sembari mendesah.
"Aku benci kamu yang memanggil Stella, tapi aku menyukai permainanmu yang seperti ini," tambahnya lagi sembari mengerang lebih keras saat Erlan semakin mengobrak-abrik dirinya di bawah.
"Aku tidak bisa membiarkan Erlan berakhir dengan Megan, tapi dengan begitu aku harus rela mengorbankan diri menjadi pengganti Megan. s**t! Aku tidak memiliki pilihan lain yang lebih menguntungkan," umpat Stella kesal mencari solusi yang tepat.
Perhatian Stella kembali tertarik pada permainan Erlan dan Megan yang berlangsung di dalam ketika mendengar suara Megan yang memekik dengan keras.
"Yah, Erlan. Terus seperti itu. Aku menyukainya," erang Megan melupakan fakta bahwa Erlan menganggapnya sebagai Stella.
Sepertinya sentuhan Erlan berhasil membuat Megan melupakan kekesalannya. Terlihat dari wanita itu yang semakin menikmatinya.
"Aku tidak masalah kamu menganggapku sebagai Stella asalkan kamu memberikan kepuasan padaku malam ini, Erlan. Lagi pula, setelah ini aku akan mengandung benihmu. Satu-satunya cara agar kita bisa bersama selamanya," ucap Megan dengan suara keras memenuhi isi ruangan.
Stella semakin gelisah. Kini, Megan tidak lagi mempermasalahkan Erlan yang memanggil Stella. Tujuan Megan hanya berakhir dengan mendapatkan benih Erlan. Setelah itu berhasil semuanya akan terpenuhi.
"Aku tidak bisa diam lagi. Aku tidak akan membiarkan Megan merusak namaku yang tidak bisa menjaga Erlan dengan baik. Terlepas dari aku yang berkorban malam ini, semua tidak akan ada artinya daripada nama baikku yang sudah aku bangun selama ini."
Stella sudah bulat dengan keputusannya. Dia melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya dan hanya meninggalkan pakaian dalam yang menutupi dua aset miliknya.
"Sudah waktunya kamu selesai, Megan," gumam Stella sembari berjalan masuk.
"Yah, Erlan, sebentar lagi aku mencapai klimaks. Lebih cepat Erlan!" desah Megan menggema memenuhi isi ruangan.