"Erlan, jangan macam-macam padaku," desis Stella saat Erlan sudah semakin dekat dengannya.
"Aku tidak macam-macam, Stella. Aku hanya ingin menuruti kemauanmu yang sulit kamu katakan. Pertama kali kita melakukannya di malam hari. Sekarang, tidak ada salahnya kedua kalinya kita mencoba di siang hari," kata Erlan maju ke depan dan mengunci Stella di antara tubuhnya, kedua tangan di sisi kiri dan kanan Stella dan juga sofa.
"Sekarang juga, di sofa ini," tambah Erlan sedikit menunduk melihat Stella yang berada di bawahnya. Erlan memajukan wajahnya dengan cepat meraih bibir Stella yang sudah terbuka, tapi belum sempat berbicara.
Stella terkejut dengan serangan Erlan. Sebenarnya dia ingin memberontak, tetapi ciuman Erlan berhasil menghanyutkan dia. Stella yang tadinya hanya diam saja, justru menanggapi ciuman Erlan dengan memberikan serangan yang tidak kalah panas dari pria itu.
Bahkan, Stella juga memberikan akses lebih besar agar Erlan lebih leluasa menjelajahi isi di dalam mulutnya hingga mereka berperang lidah di dalam sana.
"Ternyata kamu menghina kan yang seperti ini, hmm? Baiklah, aku akan memberikannya padamu," ucap Erlan di sela-sela kegiatan mereka.
Stella sudah hanyut dan mengharapkan sesuatu yang lebih dari sekarang. Terlebih ketika tangan Erlan sudah menjelajah ke seluruh tubuhnya. Namun, semua itu harus terhenti tepat ketika pakaian luar Stella sudah terbuka.
"s**t! Siapa yang mengganggu kesenanganku!" umpat Erlan mendengar dering ponselnya.
"Aku ke kamar mandi," kata Stella langsung mengambil pakaiannya dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
"Sial!" umpat Stella.
"Aku kesulitan menolak pesona Erlan. Godaan yang dia berikan terlalu sayang untuk diabaikan. Akh! Aku kehilangan jati diriku yang tegas hanya karena pancingannya yang seperti itu," tambahnya menyesali kegiatan mereka barusan. Walaupun belum sempat bercinta, tetapi Stella yang menyambut pemanasan itu sudah menunjukkan kalau dirinya juga menginginkan untuk kembali bermain seperti malam panas yang lalu.
***
Sore hari.
Stella berjalan menuju ke lantai atas tempat ruangan Erlan berada. Tadi dia mendapatkan panggilan dari pria itu untuk datang ke ruangannya. Mereka akan membicarakan sesuatu yang penting terkait status hubungan keduanya.
"Hugo, apa kabar," sapa Stella dengan ramah sama seperti biasanya.
"Baik, Stella yang semakin cantik dan bersinar layaknya purnama," sambut Hugo, sekertaris pribadi Erlan dengan sedikit candaan.
"Kamu terlalu berlebihan memujiku," balas Stella sembari menggeleng masih mempertahankan senyumannya.
"Apa erlan ada di dalam? Aku ingin bertemu dengannya," ujar Stella memberitahu.
"Tuan Grissham ada di ruangannya, Stella. Dia sedang mengurus …." Hugo tidak melanjutkan kalimatnya karena Stella sudah masuk lebih dulu.
Hugo menaikkan dua bahunya kedua bahunya dan membiarkan Stella masuk begitu saja karena dia tahu Stella merupakan kekasih dari bosnya. Jadi, tentu saja Stella memiliki akses keluar masuk ruangan Erlan dengan bebas.
Stella berhenti begitu membuka pintu dan sampai di tengah-tengah pintu yang terbuka lebar. Dia tidak jadi melanjutkan langkahnya setelah melihat keadaan di dalam ruangan.
"Beraninya kamu bermesraan di ruanganmu, Erlan," desis Stella melihat Erlan dan Megan yang tengah berpelukan sembari berdiri.
"Stella," lirih Erlan terkejut dengan keberadaan Stella yang sedang melihat mereka.
"Oh, ada pekerjaan yang belum terselesaikan lagi, hmm?" tanya Stella pada dua orang di sana yang tidak kunjung saling melepaskan diri.
"Stella, kami memang sedang membicarakan pekerjaan. Ada beberapa hal yang harus aku urus dengan Megan," jelas Erlan setelah melepaskan Megan dari pelukannya.
"Membicarakan pekerjaan sembari berpelukan? Keren," ujar Stella mengangguk dan tersenyum. Tidak ada sedikitpun raut wajah cemburu atau marah yang Stella tunjukkan. Justru wanita itu biasa saja dengan langsung berjalan masuk dan duduk di sofa yang tersedia di dalam ruangan itu.
"Kalian lanjutkan pembicaraan yang belum selesai. Aku akan menunggu di sini," tambahnya sembari membuka ponsel dan mengatasi isi di dalamnya.
"Stella, maafkan aku karena tidak sengaja memeluk Tuan Grissham. Sungguh kami tidak sengaja melakukannya, Stella. Tolong kamu jangan marah," kata Megan menarik perhatian Stella dari ponselnya.
"Siapa yang marah, Megan? Apa wajahku terlihat seperti orang marah?" Stella menanggapi sembari menyipitkan matanya.
"Oh, aku …." Megan mati kutu. Niatnya yang ingin memancing kemarahan Stella justru membuat dia sendiri yang terjebak.
"Megan, keluarlah. Kita bisa bicarakan ini lain kali!" perintah Erlan membuat Megan tidak suka mendengarnya.
"Tuan Grissham, kita sudah beberapa kali menunda pembicaraan ini. Kalau tidak segera diselesaikan, kita tidak akan tahu hasil akhirnya," tolak Megan secara halus.
Hati Megan meradang. Dia sangat membenci keberadaan Stella yang selalu mengganggu waktunya saat sedang bersama Erlan.
"Lanjutkan saja pembicaraan kalian. Kalau keberadaanku di sini mengganggu, aku tidak keberatan keluar sekarang juga," kesal Stella beranjak dan segera keluar dari ruangan Erlan.
Namun, Erlan lebih dulu mencegahnya sebelum Stella benar-benar keluar.
"Megan, saya bilang, kita bicarakan ini lain kali. Halo kamu keberatan, saya akan mencari aktris lain sebagai penggantinya. Silahkan antri pilihan yang terbaik untukmu," tegas Erlan membuat Megan tidak memiliki pilihan lain selain keluar.
"Saya permisi, Tuan," ucap Megan masih mempertahankan wibawa sebagai aktris yang ramah dan murah senyum. Akan tetapi, dalam hati Megan tidak berhenti mengutuk Stella yang selalu menjadi pengganggu untuknya.
"Ada apa, Stella?" tanya Erlan dengan dingin dan datar.
"Kamu lupa kalau kedatanganku ke sini karena kamu yang memanggilku? Atau sebenarnya kamu marah karena Megan keluar dan kalian tidak jadi melanjutkan kegiatan sebelumnya?" tuduh Stella.
"Stella, cukup! Jangan katakan sesuatu yang tidak masuk akal!" seru Erlan berjalan menuju jendela dan menatap hamparan kota New York. Erlan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dia mengabaikan keberadaan Stella.
"Erlan, selalu saja seperti ini. Sudah berapa kali aku melihat kamu dan Megan bermesraan? Beruntung aku yang masuk ke sini, kalau orang lain bagaimana?!" marah Stella.
"Siapa yang peduli? Aku tidak mempedulikan perkataan mereka," jawab Erlan dengan santai.
"Kalau kamu tidak peduli, kenapa kamu meminta kita berdua bersandiwara menjalin hubungan kekasih? Seharusnya kamu biarkan saja mereka berspekulasi sendiri tanpa perlu kita bersandiwara seperti ini," terang Stella dengan suara tertahan. Dia berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya.
"Untuk menjaga nama baikmu tetap aman. Kamu bilang hidupmu hampir hancur karenaku, maka dengan cara itu aku mengembalikan nama baikmu dan merubah hidupmu yang hancur menjadi sebuah keberuntungan," jawab Erlan dengan sangat santai. Dia melirik Stella dan tersenyum sangat tipis.
Stella memekik dan melayangkan tinjunya. Hanya saja, Stella tidak berani melakukan itu secara langsung.
'Nama baik kami berdua yang akan hancur kalau sampai media menangkap keberadaan kami di hotel pagi itu, tapi Erlan malah menyalahkan aku, lalu membuat seolah-olah aku pelaku kejahatan dan butuh perlindungan,' batin Stella kesal.
Stella masih menghadap Erlan yang tetap enggan menghadapnya. Stella tidak peduli karena memang dia tidak butuh pria itu untuk memperhatikannya.
"Oke, find. Terserah apa katamu. Yang jelas aku kecewa padamu yang sudah bermain-main dengan Megan di belakangku. Kalau kamu melakukannya setelah media menganggap kita tidak ada hubungan lagi, aku tidak masalah, tapi karena kamu melakukan itu saat masih berstatus sebagai kekasihku, aku tidak bisa memaafkanmu. Aku merasa harga diriku direndahkan," celoteh Stella membuat Erlan berbalik menatapku.
"Lalu?" Erlan menaikkan sebelah alisnya ke atas dan tersenyum mengejek.
"Dasar, pria menyebalkan! Menyuruhku ke sini hanya karena ingin memperlihatkan kemesraanmu dengan Megan!"
Erlan berjalan mendekati Stella. Dia berdiri di hadapan wanita itu dengan membelakangi matahari. Erlan terlihat sangat bersinar jika seperti ini.
"Aku minta kamu segera pindah ke apartemenku. Mau tidak mau, aku mau kita tinggal bersama," kata Erlan menyampaikan sesuatu yang membuatnya meminta Stella datang ke ruangannya.
"Oh, masih membahas hal ini?" Stella tersenyum miring.
"Jangan harap, Erlan! Sampai kapanpun, aku tidak akan mau tinggal satu rumah denganmu. Jangankan tinggal satu rumah, bahkan menemuimu saja aku sangat malas melakukannya," ketus Stella menolak dengan tegas.
Setelahnya, Stella pergi tanpa mau mendengarkan Erlan yang sudah membuka mulutnya. Stella tidak peduli pada apapun perintah Erlan.
"Memangnya siapa dia sampai seenaknya memintaku tinggal bersama? Hanya kekasih sandiwara, tapi Erlan memperlakukan aku seperti barang miliknya!" sungut Stella marah sembari berjalan cepat menuju lift.
***
Malam hari.
Club malam.
"Stella, bukannya itu Megan dan Erlan? Bagaimana mereka bisa duduk bersama berdua sementara kamu di sini bersama kami?" Emily lebih dulu membuka suara menanggapi hal yang tertangkap oleh indra penglihatannya.
"Sebenarnya kekasih Erlan, Megan atau kamu, Stella. Aku pikir, Megan terlalu banyak menghabiskan waktu berduaan dengan Erlan," tambah Hailey.
"Oh, Lord! Erlan terlihat mabuk berat dan Megan membantunya berjalan. Mau kemana mereka?!" pekik Hailey ketika melihat Megan dan Erlan beranjak dengan kondisi Erlan yang terlihat tidak biasa.
"Ke kamar, mungkin. Apa yang akan dilakukan oleh dua orang mabuk jika tidak ke kamar?"