"Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau makan di restoran ini juga? Apa pekerjaanmu lebih penting daripada memberi kabar padaku?" Stella memeluk Erlan dari belakang dan mengecup pipi nya di depan Megan.
"Aku sedang membicarakan pekerjaan, Sweety. Bukan berselingkuh di belakangmu," jawab Erlan tersenyum dan membalas Stella dengan mencium bibirnya sekilas.
"Aku tahu benar siapa Erlan. Tentu saja kamu tidak akan berani berselingkuh di belakangku karena cintamu padaku terlalu besar, right?" Stella beralih dan berjalan memutari Erlan, lalu duduk di atas pangkuannya.
Erlan menyebutkan matanya melihat sikap Stella yang lain daripada biasanya. Setelah melirik pada keberadaan Megan, Erlan mengerti perubahan sikap Stella.
"Cintaku hanya untukmu seorang. Tidak ada satupun wanita di dunia ini yang pantas mendapatkan cintaku selain kamu, cukup?" jawab Erlan meyakinkan sembari mencubit gemas hidung Stella.
Stella tertawa pelan dan sangat anggun. Namun, sebelum dia kembali berbicara dengan Erlan, tatapannya terarah kepada Megan yang sudah berwajah masam.
"Megan, apa urusanmu dengan Grissham sudah selesai? Kalau belum aku akan pergi," tanya Stella memakai nama Erlan sebagai panggilan sebagaimana di kantor.
"Sebenarnya masih ada beberapa yang perlu …." Belum sampai Megan menyelesaikan kalimatnya, Erlan sudah lebih dulu memotong.
"Kami sudah selesai, Stella. Kamu ingin makan denganku? Aku dan Megan bisa melanjutkannya lain waktu, benar?" potong Erlan.
"Ah, benar, Tuan Grissham. Kita bisa bicara lagi lain waktu. Besok saya akan kembali menemui Anda untuk melanjutkan pembicaraan ini. Silahkan menikmati makan siang Anda, saya permisi," balas Megan menanggapi dengan cepat, lalu dia segera arti dari sana masih dengan senyuman yang menghiasi. Namun, setelah berbalik badan senyuman itu hilang menjadi wajah dingin dan datar.
"Berani-beraninya Stella mengganggu kesenanganku. Kalau bukan karena Erlan, aku tidak sudi mengalah seperti tadi," gerutu Megan sembari berjalan keluar restoran.
"Tugasku sudah selesai. Sekarang, saatnya aku makan bersama teman-temanku, bye," celetuk Stella beranjak dari pangkuan Erlan dan hendak berjalan kembali ke meja teman-temannya.
Namun, dia tidak bisa pergi karena Erlan memeluk pinggangnya dengan erat.
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja, Stella. Setelah mengganggu pekerjaanku, kamu ingin lari dari tanggung jawab?" tanya Erlan menanggapi.
Stella menyebutkan matanya tidak suka dengan perlakuan Erlan padanya saat ini. Sembari menahan kekesalan yang ada dalam hati, Stella kembali bersuara.
"Aku hanya melakukan tugasku dengan baik. Apa kamu tidak sadar banyak orang yang melihatmu dengan Megan berduaan sementara baru tadi pagi kita mengumumkan pada media status hubungan kita?" sengit Stella sembari memicing.
"Kita selesaikan ini di rumah. Lebih baik keluar dari jangkauan media dan mata-mata orang yang ingin mencari kesalahan kita," ajak Erlan beranjak dan membuat Stella yang belum turun hampir saja terjatuh.
Stella melebarkan mata ingin marah kepada Erlan yang sudah membuatnya hampir terjatuh, tetapi dia segera mengubah ekspresinya menjadi senyum tertahan.
"Kamu sangat menggemaskan, Erlan," geram Stella memberikan ciuman di pipi kanan Erlan agar terlihat mesra di mata teman-temannya yang melihat mereka.
***
"Kenapa kamu mengganggu pekerjaanku, Stella? Kita memang sedang berpura-pura menjalin hubungan kekasih, tapi bukan berarti kamu bisa menggangguku sesuka hatimu seperti tadi," tegur Erlan sembari fokus pada kemudinya.
"Aku tidak akan mengganggumu kalau kalian bertemu di tempat lain. Kamu tidak sadar Megan sedang berusaha mencari perhatianmu dengan mendekatkan dua gunung kembarnya yang menonjol ke lenganmu?" sanggah Stella tidak terima dituduh.
Erlan hanya menatap Stella sekilas. Kilatan matanya menunjukkan ketidaksenangan.
"Banyak teman temanku yang melihat kalian berdua. Kalau aku tidak menunggumu atau berpura-pura cemburu, mereka akan mengetahui kalau hubungan kita hanya sebatas sandiwara," tambahnya.
Stella membenarkan posisi duduknya yang tadi miring menghadap Erlan menjadi lurus menatap jalanan di depannya. Stella kembali membuka suaranya.
"Kalau kamu sengaja ingin berduaan dengan Megan, lakukan itu di tempat lain. Setidaknya di hotel atau di tempat tertutup lainnya. Jangan sampai ada yang melihat kalian berdua sedang bermesraan kalau tidak ingin mendapatkan gangguan dariku!" ketus Stella mengakhiri pembicaraan mereka.
"Apa sebenarnya kamu memang cemburu karena Megan mendekatkan buah dadanya yang besar ke lenganku?" Erlan menyeringai mendapati Stella yang menatap tidak percaya padanya.
"Katakan saja dengan jujur, Stella, aku akan memaklumi kamu yang memiliki ukuran jauh di bawah Megan. Yah, walaupun rasanya tidak terlalu mengecewakan saat aku menikmatinya," tambah Erlan membuatnya mendapatkan pukulan dari Stella di lengannya.
"Erlan, m***m! Jangan membahas malam itu!" seru Stella memalingkan wajahnya yang mulai merona.
"Kenapa, Stella? Kalau kamu ingin mendapatkan kembali kenikmatan itu dariku, katakan saja dengan jujur. Tidak perlu membawa nama Megan dalam kecemburuanmu. Aku akan dengan senang hati memberikannya kembali padamu seperti malam itu. Bedanya, kalau malam itu kamu terpengaruh karena minum alkohol, sekarang kita akan melakukannya dalam keadaan sadar, bagaimana?" goda Erlan sembari menaik-turunkan kedua alisnya menggoda Stella.
"Erlan, aku tidak seperti itu! Aku hanya memberimu peringatan, bukan malah memberikan peluang padamu yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan," cetus Stella menyembunyikan wajahnya yang malu.
Stella sangat malu ketika Erlan kembali membahas malam yang sudah mereka lalui bersama. Walaupun dirinya sudah malam melintang di dunia hiburan Hollywood, tetapi belum pernah ada pria manapun yang berani berkata frontal seperti Erlan.
Terlebih, Erlan merupakan pria pertama yang menjelajah seluruh tubuhnya. Walaupun Stella kerap berpakaian seksi yang menantang dan menggoda kaum hawa dalam kesehariannya ataupun saat di layar lebar, tetapi dia tetap menjaga diri dari sentuhan semua pria. Sampai Erlan yang pertama kali membobol pertahanan dirinya malam itu.
"Stella, aku mau kamu pindah ke apartemenku dan kita tinggal bersama," pinta Erlan begitu mereka sudah sampai di apartemen pria itu dan duduk di ruang tamu.
"Hei … apa-apaan kamu? Aku tidak mau," tolak Stella dengan cepat.
"Stella, kita perlu melakukan ini untuk sementara waktu sampai sandiwara kita berakhir," paksa Erlan.
"Mau sampai kapan sandiwara kita berakhir, Erlan? Iya, kalau kita bisa mengakhirinya dengan cepat, kalau tidak?" tampik Stella kekeuh menolak permintaan Erlan yang menurutnya tidak masuk akal.
"Kita akan segera mengakhirinya, tapi tidak dalam waktu dekat ini. Kita harus membuat gebrakan terlebih dahulu baru bisa menyelesaikan sandiwaranya, Stella, mengertilah," rayu Erlan. Namun, Stella menatap curiga pada pria yang ada di depannya.
"Jangan bilang kamu mengajakku tinggal bersama karena kamu memiliki rencana buruk padaku," tuduh Stella sembari matanya memicing pada Erlan dan menunjuk dengan jari telunjuknya.
"Rencana buruk apa?" Erlan melebarkan matanya tidak percaya dengan tuduhan Stella yang terlalu mengada-ada.
"Aku tidak berminat pada wanita sepertimu. Tidak ada keuntungan yang bisa aku dapatkan kalau aku melakukan hal buruk padamu," tambahnya sembari tersenyum miring.
"Erlan, jangan berpura-pura di depanku. Aku bisa melihat wajah aslimu." Stella semakin menatap Erlan dengan curiga melihat pria itu terus memaksanya tinggal bersama.
"Kamu memang selalu terlihat dingin dan datar saat berada di kantor, tapi aku tahu kalau sebenarnya kamu menyimpan keinginan yang besar pada semua aktris di bawah naungan agency-mu," kata Stella menambahkan.
Erlan masih menatap Stella dan membiarkan wanita itu menyelesaikan perkataannya.
"Siapa yang tahu jika kamu ingin kembali bercinta denganku setelah merasakan kenikmatan indah malam itu? Kenikmatan paling spesial yang tidak pernah kamu dapatkan dari wanita manapun sebelumnya. Dengan menggunakan alasan tinggal bersama untuk memperkuat status hubungan kekasih kita di depan media, kamu bisa memiliki kesempatan lebih banyak untuk naik ke atas ranjang ku kapanpun saat kita sudah satu atap, benar?" Stella tersenyum lebar begitu selesai berbicara. Dugaannya pasti benar setelah melihat ekspresi terkejut di wajah Erlan.
"Oh, jadi begitu maumu, hmm?"
Stella tertegun mendengar kalimat ambigu yang diucapkan pria di hadapannya.
"Kamu sudah tidak sabar kembali menikmati malam indah itu bersamaku, eh?" Erlan menyeringai dan beranjak dari tempat duduknya. Dengan berjalan perlahan sembari menatap dengan intens, Erlan mendekati Stella.
Erlan menggerakkan tangan kanannya membuka satu persatu kancing kemeja yang mereka di tubuhnya. Siapapun tentu saja tahu apa yang ingin dilakukan oleh Erlan.
Begitu juga Stella yang tahu apa arti setiap gerakan Erlan. Walaupun semua itu terlihat sangat seksi di matanya, tetapi Stella tidak ingin lengah sedikitpun hingga membuat Erlan mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Erlan, mau apa kamu?"
"Tentu saja memberikan kenikmatan yang sama dengan malam itu padamu, apa lagi? Menunggu malam akan terasa sangat lama. Bagaimana jika kita lakukan itu sekarang saja?"