Part 4 Ketahuan Memadu Kasih

1314 Words
"Aku tidak akan membiarkanmu berada lebih lama lagi di samping Erlan, Stella. Anggap saja ini menjadi hari keberuntunganmu karena mulai besok aku akan membuatmu hancur perlahan," gumam Megan menatap tajam dua orang yang terlihat di matanya sedang bermesraan. Tidak ada Hugo, sekretaris pribadi Erlan yang menunggu di ruangan pria itu. Mungkin Hugo sedang keluar, pikir Megan. Karena biasanya Hugo selalu ada di ruangannya dan siapapun yang ingin menemui Erlan harus izin terlebih dahulu. Megan mengetuk pintu Erlan. Stella dan Erlan yang berada di dalam terkejut sehingga Stella turun dari atas meja dan mendarat tepat di pangkuan Erlan. "Selamat siang Tuan Grissham," sapa Megan pada Erlan. Memang jika di kantor Erlan selalu dipanggil dengan nama tengahnya karena dia menolak dipanggil dengan nama keluarganya. "Tidak bisakah kamu izin terlebih dahulu sebelum masuk?" Erlan menanggapi dengan dingin dan datar. Sepertinya pria itu tidak senang dengan kedatangan Megan yang menurutnya sedikit kurang sopan. "Maaf, Tuan kalau saya tidak sopan karena Hugo sedang tidak ada di ruangannya. Jadi, saya pikir tidak masalah kalau saya langsung ke ruangan Anda," kata Megan dengan sangat sopan penuh permohonan maaf. Erlan mengangguk mengerti dan memaafkan kesalahan kecil itu. "Ada apa?" Erlan bertanya saat Megan tidak langsung mengatakan kepentingannya datang ke ruangannya. "Saya datang sesuai dengan perintah Anda tempo hari bahwa kita akan membicarakan projects film layar lebar yang akan saya bintangi. Apakah saya mengganggu waktu Anda, Tuan?" Megan masih menampilkan senyuman termanisnya, tetapi sebenarnya dia menahan kesal pada Stella yang tidak beranjak dari pangkuan Erlan. "Baiklah, aku ada waktu," jawab Erlan mengangguk. "Sweety, aku harus bekerja. Kita akan bertemu setelah semua pekerjaanku selesai, hmm. Aku akan menunggumu setelah pulang dari kantor. Maaf karena aku tidak memenuhi permintaanmu kali ini," tutur Erlan dengan suaranya yang begitu lembut. Stella tidak menjawab sepatah kata pun. Dia hanya tersenyum sembari mengangguk. Setelah Erlan mencium sekilas bibirnya, Stella turun dari pangkuan pria itu dan berjalan keluar. Akan tetapi, Stella dapat menangkap dengan jelas tatapan tidak suka yang tersembunyi dibalik senyuman Megan. 'Damn! Aku harus terbiasa dengan ciuman Erlan. Pria itu terus menciumku setiap ada kesempatan. Ini tidak bisa dibiarkan!' umpat Stella dalam hati. Dia masih kesulitan berjalan. Karenanya cara jalan Stella sedikit aneh. "Elena, dimana kamu?" tanya Stella begitu sambungan teleponnya terhubung dengan Elena, asistennya. "Aku di ruangan biasa, Stella. Sejak tadi aku sudah menunggumu di sini, tapi kamu terlalu asyik bermesraan dengan Erlan. Kamu membuatku berjamur menunggu!" ketus Elena dengan suara kesal. "Tunggu aku di depan! Aku segera turun!" perintah Stella segera memutuskan sambungan telepon mereka secara sepihak. *** "Cara jalanmu terlihat aneh, Stella," kata Elena menatap Stella penuh selidik sebelum akhirnya dia terkejut dengan pemikirannya sendiri. "Oh … jangan-jangan kamu masih perawan saat Erlan tadi malam menggempur mu?" Elena memang bertanya, tetapi nada bicaranya seperti meminta Stella membenarkan dugaannya. "Jangan buat keributan yang bisa bikin kantor semakin heboh. Aku yang pusing tidak mau semakin pusing," kelakar Stella. "Tapi, Stella cara jalanmu sangat tidak normal. Kakimu terbuka lebar setiap melangkah. Wajahmu seperti menahan sakit. Jawab aku dengan jujur atau aku tidak akan membantumu," desak Elena membuat Stella pasrah selain berkata jujur. "Yah, aku masih virgin dan aku baru pertama kali melakukannya bersama Erlan tadi malam, puas?" kata Stella mengakuinya. Elena tersenyum lebar. Dia sangat senang dengan berita ini. Sesuatu yang sudah dia nanti nanti kan sejak lama akhirnya terwujud. "Sudah aku bilang dari dulu kalau kamu dan Erlan sangat cocok dan serasi. Pasangan paling sempurna di dunia, tapi kamu terus mengelak. Ternyata, selama ini kamu menyembunyikan hubunganmu dengan Erlan. Kamu paling pandai membohongi kami, Stella," ujar Elena semangat diakhiri dengan kekesalannya. "Ayo, aku bantu kamu ke toilet. Kamu pakai salep yang aku bawa. Salep ini bakalan ampuh membantu menyembuhkan luka di milikmu supaya kamu tidak menjadi pusat perhatian lebih dari tadi karena cara jalanmu yang aneh," ajak Elena menuju toilet. Dia menunggu di luar sampai Stella selesai memakai salep pemberiannya. "Apa Hailey dan Emily sudah datang?" Stella bertanya setelah selesai. Keduanya saat ini sedang berjalan menuju ke ruangan para tempat aktris lain berada. "Sejak kamu dan Erlan ciuman di lobby, mereka sudah datang. Bukan cuma aku, Hailey, dan Emily yang melihat kalian, tapi semua orang yang ada di kantor ini melihat kemesraan kamu dan Erlan," terang Elena dengan bersemangat sembari terus berjalan. "Setelah gosip hangat yang kamu katakan pada media tadi pagi, sikap manis Erlan padamu barusan juga tak kalah hebohnya menjadi bahan perbincangan setiap orang bahkan sampai ke berbagai grup chat. Yah, wajar, sih karena Erlan biasanya terkenal dingin dan datar. Ternyata manusia es itu bisa juga mencair setelah bertemu pawangnya. Erlan sangat romantis saat menggendongmu, Stella," terang Elena panjang lebar dengan mempraktekkan yang dilihatnya tadi. Kepala Stella terasa berdenyut mendengarkan ocehan Elena. Walaupun semua itu benar, tetapi dia tidak nyaman mendengarnya. Kedekatannya dengan Erlan menjadi sesuatu yang membuat Stella sangat malas untuk membahasnya. 'Elena sudah seheboh ini. Pasti di dalam yang lain juga lebih heboh. Akh! Erlan membuat hidupku yang tenang menjadi sulit karena pendapat tidak masuk akalnya,' kesal Stella dalam hati. Mereka sudah sampai di ruangan dan begitu pintu terbuka, semua orang menatap Stella yang berjalan masuk dengan Elena di belakangnya. Akan tetapi, Stella mengabaikan mereka semua seperti tidak terjadi apapun sebelumnya. "Pandai kamu, ya. Sengaja meninggalkan tas di atas meja dan membuang ponsel supaya kami tidak mengganggu kegiatanmu dengan Erlan. Apa maksudmu, Stella? Sengaja mau membuat heboh dunia?" Emily lebih dulu bersuara ketika Stella bergabung dengan mereka. "Aku tidak sengaja meninggalkan tasku. Sungguh aku lupa untuk itu," jawab Stella santai. Dia duduk di tempat yang kosong di samping Hailey. "Lalu ponselmu? Tidak sengaja tertinggal juga?" sambung Hailey. "Ponselku tidak sengaja jatuh saat aku dan Erlan sedang ciuman di lorong." Semua orang menatap Stella dengan terkejut. Kalau mengenai ciuman, mereka tidak akan mempermasalahkannya, tetapi ponsel yang tidak sengaja terjatuh benar-benar tidak bisa dipercaya, pikir mereka. "Sejak kapan kamu berhubungan dengan Erlan? Aku pikir, Erlan pria gay yang tidak menyukai wanita. Ternyata dia pria normal yang bisa membuatmu kesulitan berjalan," ungkap Hailey mengingat gosip yang tersebar dan membandingkan dengan kenyataan yang dilihatnya tadi. "Sepertinya Erlan terlalu bersemangat bermain sampai Stella tidak bisa berjalan dengan baik. Apa dia terlalu hebat di atas ranjang Stella?" Emily tidak mau kalah dan ikut mengintrogasi Stella. "Apa kalian tidak bisa jangan bertanya mengenai hal pribadi? Pertanyaan kalian buang-buang energi karena aku tidak akan menjawabnya," ketus Stella kesal. "Ada apa denganmu, Stella? Kamu sedang datang bulan?" Hailey bertanya dengan tatapan curiga. "Atau ada sesuatu yang terjadi padamu dengan Erlan di hari pertama peresmian hubungan kalian di depan media?" timpal Emily dengan penuh semangat. 'Tubuhku masih terasa sakit dan mereka menambahkan dengan ocehan tidak berguna itu. Dimana-mana semua selalu tentang Erlan. Apa tidak ada pria lain di dunia ini selain Erlan?' batin Stella bersungut-sungut. Mereka akhirnya saling berbagi cerita. Tidak lupa canda tawa mengiringi para wanita cantik dan seksi itu. Tidak ada lagi yang membahas mengenai hubungan kekasih antara Erlan dan Stella karena yang bersangkutan seperti menutup diri dan tidak mau menanggapi berlebihan gosip yang sedang beredar. "Ayo, saatnya kita makan siang," ajak salah seorang aktris diangguki yang lainnya. *** Para aktris cantik sudah sampai di restoran langganan mereka. Saat sedang menunggu pesanan sembari mengobrol Stella menangkap Erlan dan Megan juga sedang makan di restoran yang sama. 'Kenapa Erlan makan di sini juga? Apa dia tidak tahu kalau aku sedang menghindarinya?' batin Stella memusatkan perhatiannya pada Megan dan Erlan. "Stella, aku yakin kamu juga melihat apa yang aku lihat sekarang," kata Emily menarik perhatian yang lain. "Apa-apaan Megan? Kenapa dia terlalu dekat dengan Erlan? Apa dia tidak tahu kalau Erlan sudah menjadi milik Stella?" Hailey berkomentar lebih dulu. "Stella, kamu tidak marah melihat kekasihmu terlalu dekat dengan Megan sampai dua gunung Megan harus berada di lengan Erlan?" tanya Hailey menatap Stella yang diam saja tanpa melakukan apapun. "Sepertinya aku perlu menunjukkan pada Megan, siapa pemilik Erlan yang sebenarnya sampai dia paham kalau aku tidak suka barangnya sudah menjadi milikku disentuh oleh orang lain!" Stella beranjak dan berjalan ke arah Erlan dan Megan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD