"Erlan hanya akan menjadi milikku seorang. Tidak ada wanita lain yang boleh memilikinya selain aku. Kalau aku tidak bisa bersama Erlan, maka dia tidak akan bersama wanita manapun!" murka Megan sembari menghancurkan seluruh barang-barang yang ada di meja riasnya.
"Dengan cara apa pun, aku pasti akan mendapatkan Erlan. Walaupun aku harus naik ke atas ranjangnya, aku tidak peduli asalkan Erlan bisa menjadi milikku," janji Megan pada dirinya sendiri.
Sorot kemarahan Megan masih menghunus pada layar televisi yang menampilkan Stella dan Erlan yang sedang berciuman. Kemesraan keduanya membuat darah Megan semakin mendidih. Tangannya terkepal erat ingin menghancurkan benda yang sudah memberitahu informasi ini.
"Astaga, Lord, ada apa ini, Megan? Apa kamu gila? Kamu membuat kamarmu menjadi hancur seperti kapal pecah." Cristine, asisten Megan terkejut begitu masuk ke dalam kamar dan mendapati kehancuran di depannya.
"Jadi karena berita yang menghebohkan pagi ini kamu rela merusak semua barang-barangmu sendiri?" tanya Cristine setelah melihat layar televisi yang ditatap Megan dan masih menampilkan Stella dan Erlan.
"Kamu lihat jalang itu?! Beraninya dia mengambil Erlan dariku. Selama ini Stella tidak pernah peduli dengan keberadaan Erlan. Ternyata dia hanya berpura-pura karena sebenarnya sudah menjalin hubungan dengan priaku!" desis Megan mengklaim Erlan sebagai miliknya.
"Hei, mereka hanya menjalin hubungan kekasih, bukan menikah. Kamu masih mempunyai kesempatan yang besar untuk merebut Erlan. Banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk mendapatkan pria mu itu," terang Christine berhasil menarik perhatian Megan.
Megan menatap Christine dengan kening berkerut. Sejak melihat berita pagi ini, Megan tidak mendapatkan ide untuk merebut Erlan karena dia sudah dikuasai oleh amarah.
Sedangkan Cristine, wanita cantik yang hobi memakai pakaian mini dengan belahan d**a rendah, dia tersenyum licik pada Megan. Berbagai macam cara sudah terlintas di pikirannya untuk membantu perempuan yang sudah memberinya pekerjaan.
"Orang yang sudah bertunangan atau sudah menikah sekalipun, mereka bisa berpisah dengan alasan yang cukup sepele. Apalagi hanya menjalin hubungan kekasih, seorang Megan yang penuh prestasi dan selalu menjadi sorotan tidak akan kesulitan memisahkan mereka," kata Christine sembari menyeringai.
Megan masih diam memperhatikan. Dia menunggu Christine melanjutkan ide yang dimaksud.
"Aku yakin bukan hanya kamu yang menginginkan Erlan, tetapi banyak wanita di luaran sana yang sama sepertimu. Itu artinya akan lebih banyak wanita yang memusuhi Stella dan ingin menghancurkan karirnya." Christine berjalan mendekati Megan dan merapikan sedikit dress yang melekat di tubuh wanita itu.
"Dulu Stella menyembunyikan hubungan mereka mungkin karena takut karirnya akan terganggu. Jika sekarang dia sudah berani mempublikasikannya, itu berarti setelah sudah siap menerima resiko dari banyaknya wanita yang selalu berlomba-lomba mendapatkan Erlan. Dan kamu, Megan," lanjut Cristine sembari memutar Megan agar berdiri di hadapan kaca yang ada di meja riasnya.
"Kamu hanya perlu menambahkan sedikit bumbu-bumbu penyedap dari banyaknya persaingan mendapatkan Erlan. Kamu hanya perlu membuat para wanita itu berpihak padamu setelah mereka memusuhi Stella. Dengan sedikit garam, baik Stella ataupun yang lainnya tidak akan ada yang pantas bersanding bersama Erlan kecuali kamu." Christine menyelesaikan penjelasannya.
Megan tersenyum lebar. Wajah buruk akibat kemarahan yang sempat menutupi kecantikannya, kini sudah lenyap. Hanya ada senyum profesional yang cantik seperti biasa yang hadir memenuhi aura bintang seorang Megan Odette.
"Aku beruntung memilikimu sebagai asistenku. Karena kemarahan, aku tidak bisa berpikir jernih. Mungkin setelah ini aku ingin menambahkan bonus padamu," balas Megan menanggapi. Dia menarik napas panjang sebelum akhirnya kembali bersuara.
"Sudah waktunya permainan dimulai, Cristine. Ayo kita sambut sepasang kekasih baru itu dan kita buat Stella menanggung akibatnya karena sudah berani bermain-main denganku."
"Jika dulu aku dan Stella hanya bersaing untuk memperebutkan siapa bintang paling bersinar di BTA, kini dia harus berani melawanku memperebutkan Erlan. Dan aku berjanji aku tidak akan kalah darinya," gumam Megan diangguki Cristine dengan penuh dukungan.
"Aku jauh lebih senior dari Stella, itu berarti aku memiliki pengalaman yang lebih banyak darinya," lanjutnya.
"Seorang Megan Odette tidak akan pernah kalah dari siapapun. Bintang paling bersinar yang membawa nama BTA semakin berjaya pada masa keemasannya," sambung Christine memuji Megan.
Megan merupakan salah satu aktris di bawah naungan Bara Talent Agency. Sebelumnya, sudah sejak lama Megan mendambakan Erlan. Megan selalu mencari cara untuk mendekati Erlan agar bisa menjadi kekasihnya atau paling tidak bisa naik ke atas ranjangnya. Namun, Erlan selalu menjaga jarak dengan semua wanita di agency. Karena itu, wajar saja jika dia sangat marah ketika media memberitakan hubungan Erlan dan Stella.
***
Sejak pagi hari kantor BTA sudah heboh dengan gosip terbaru mengenai hubungan Stella dan Erlan. Banyak aktris wanita yang patah hati dan tidak sedikit pula aktris laki-laki yang merasa kalah saing dari Erlan untuk mendapatkan Stella. Namun, belum ada yang berani secara terang-terangan menunjukkan kecemburuan masing-masing.
"Erlan, kenapa kamu mengajakku ke kantor bersama? Kamu tahu, kan kalau di tempat kerja kita harus tetap profesional? Aku tidak ingin ada gosip yang lebih parah dari berita tadi pagi," protes Stella saat Erlan mengajaknya datang bersama ke kantor BTA.
"Berita tadi pagi pasti sudah didengar oleh semua orang yang ada di kantor. Kalau kamu ingin menjadi pusat perhatian mereka, silakan datang sendiri dan berpura-pura masa bodoh. Kalau kamu ingin membuat mereka semakin percaya dengan sandiwara kita, maka kamu harus mengikuti kata-kataku." Erlan menanggapi sembari turun dari mobil yang mengantarkan mereka.
"Sial! Aku tidak menyangka kalau sandiwara kita harus menjadi panjang seperti ini!" umpat Stella kesal.
"Jangan mengumpat di depanku atau aku akan menciummu," tegur Erlan berdiri di hadapan Stella. Sekarang mereka sudah ada di depan lobby kantor.
Erlan melirik ke dalam lobby dan benar saja kalau orang-orang yang ada di dalam memperhatikan mereka berdua. Erlan maju dan langsung mencium bibir Stella.
Mendapatkan serangan mendadak seperti ini, Stella melebarkan matanya. Dia ingin protes, tetapi sedikit cubitan di pinggang membuat wanita itu mengurungkan niatnya.
"Berpura-puralah karena orang-orang yang ada di dalam ingin memastikan kita sedang bersandiwara atau tidak," bisik Erlan di sela-sela ciuman mereka.
Mendengar itu, terpaksa Stella kembali mengikuti permainan Erlan. Stella memejamkan mata dan mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu.
Mereka larut dalam ciuman dan saling melumat satu sama lain. Sangat terlihat mereka sangat menikmati ciuman itu dan seolah enggan untuk mengakhirinya.
"Sudah cukup, Sweety. Kamu sangat berhasrat padaku. Apa permainan kita semalam masih tidak cukup untukmu? Masih mau menambah, hmm?" Erlan bertanya setelah menjauhkan bibir mereka. Dia mengusap sayang bibir Stella yang basah dengan jempolnya.
"Erlan, jangan keterlaluan," sungut Stella tidak terima. Erlan maju ke depan dan memeluk Stella.
"Media masih mengikuti kita, Stella. Mereka masih penasaran ingin memastikan hubungan kita berdua. Ada banyak kamera tersembunyi yang tidak terlihat oleh matamu," bisik Erlan sembari sedikit tertawa agar orang yang melihat mengira mereka sedang bercanda.
"Sialan! Kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan!" hardik Stella hanya direspon dengan Erlan yang menaikkan bahunya.
"Ayo, kita masuk," ajak Erlan.
Stella dan Erlan masuk ke dalam kantor bersama-sama dengan Erlan yang memeluk pinggangnya. Sebenarnya Stella tidak nyaman, tetapi dia harus mempertahankan sandiwara ini demi reputasi nama baiknya tetap terjaga.
'Pantas saja tadi dia tidak mengizinkan aku kembali ke apartemen, ternyata Erlan sudah memikirkan untuk mengambil keuntungan dari sandiwara ini. Dia beruntung, tapi aku merasa sangat dirugikan,' batin Stella kesal.
"Oh, s**t!" Stella kembali mengumpat saat dia tidak tahan terus berjalan menuju lift yang berada di dalam lobby yang luas itu.
"Kenapa?" Erlan menghentikan langkahnya.
"Milikku sangat sakit jalan terlalu lama begini. Kamu tahu sendiri kalau aku masih virgin dan sejak bangun tidur aku belum beristirahat. Perih yang dihasilkan membuatku tidak nyaman berjalan," keluh Stella.
"Dasar manja! Bilang saja ingin mencari perhatian mereka dengan memintaku menggendongmu!" Akhirnya Erlan langsung menggendong Stella ala bridal style. Kemudian, dia lanjut berjalan menuju lift khusus yang ada di lobby.
"Sabar, Megan. Ini hanya permulaan agar kamu memiliki kesabaran yang luas. Saat Stella sudah berhasil kamu singkirkan, kamu akan mendapatkan perhatian yang lebih dari Erlan," ujar Cristine menenangkan Megan yang cemburu.
"Kamu pikir aku bisa sabar lebih lama jika mereka terus bermesraan di depanku?" tandas Megan menatap Christine dengan tajam.
"Lihatlah mereka," tunjuk Cristine pada beberapa aktris lain yang sedang bergosip.
"Mereka sedang membicarakan Stella. Sebaiknya kamu ikut gabung sebelum kita naik menemui Erlan. Berikan sedikit kata-kata agar mereka mendukungmu. Itu lebih baik daripada kamu marah-marah," sambungnya.
"Aku tidak mau. Aku sedang tidak minat berbasa-basi. Aku ingin langsung menemui Erlan di atas karena sejak tadi aku sudah menunggunya," tolak Megan, lalu berjalan menuju lift.
Sesampainya Megan dan Cristine di lantai ruangan Erlan, dia langsung menuju ke ruangan terbesar yang ada di kantor BTA dan satu-satunya ruangan yang ada di lantai itu.
Namun, belum sampai Megan mengetuk pintu, darahnya kembali mendidih melihat adegan yang terjadi di dalam ruangan Erlan melalui sedikit celah di pintu yang tidak tertutup rapat.
"Sial! Tadi Stella sudah merayu Erlan di lobby dan mengambil kesempatan dengan mendapatkan ciumannya. Sekarang, Stella semakin kurang ajar dengan merayu Erlan di dalam ruangannya. Apa Stella sengaja ingin menunjukkan kalau Erlan miliknya pada semua orang di kantor ini?" geram Megan pada Stella yang duduk di atas meja kerja Erlan dan pria itu duduk di kursi kebesarannya.