Part 2 Menunjukkan Kemesraan

1236 Words
"Apa kamu gila?!" maki Stella tanpa menunggu lama. "Setelah kamu menjebakku sampai kita berdua berakhir di sini, sekarang kamu masih ingin mengambil keuntungan dariku dan mengumumkan pada media kalau kita pacaran? Aku tidak mau, aku tidak segila itu!" tolak Stella dengan tegas. Erlan menatap tajam Stella yang sangat marah mendengar usulan itu, terlebih tuduhan yang dikatakan Stella terdengar sangat tidak nyaman di telinganya. "Aku sama sekali tidak menjebakmu dan aku juga tidak berminat mengambil keuntungan dari perempuan sepertimu. Dadamu terlalu kecil, wajahmu juga pas-pasan, kamu bukan tipeku," sanggah Erlan dengan senyuman mengejek melihat tubuh Stella yang masih ditutupi oleh selimut. "Dasar, pria m***m! Sudah jelas-jelas kamu sudah menjebakku, tapi masih tidak mau mengaku! Kalau kamu tidak menjebakku, bagaimana kamu tahu aku ada di toilet? Jangan-jangan kamu mengikutiku, ya?" berang Stella sakit hati dengan ejekan Erlan. Banyak pria di luaran sana yang mengantri menantikan balasan cinta darinya, tetapi Erlan malah menganggapnya bukan tipe pria itu. Hal itu benar-benar membuat harga diri Stella terasa diinjak-injak, terlebih lagi saat Erlan mengejek ukuran dadanya yang kecil. "Sudah kubilang kalau aku tidak menjebakmu. Kamu menginjak kakiku saat masuk ke dalam club dan kamu juga tidak minta maaf sama sekali. Bagiku, itu sama saja seperti menginjak harga diriku, apalagi kamu pergi begitu saja tanpa merasa bersalah. Sebenarnya aku mengikutimu ke toilet karena ingin memberi pelajaran bagaimana cara beretika pada orang lain, tapi pas di sana kamu malah menggodaku dan memintaku untuk memuaskanmu. Kalau akhirnya kita sampai bercinta di kamar ini, apa itu jadi kesalahanku?" Dengan penuh penekanan Erlan mengatakannya, tentu saja dia tidak ingin disalahkan oleh Stella yang sudah jelas-jelas lebih dulu memancing hasratnya saat mereka bertemu di toilet. "Apa benar yang dikatakan pria ini? Apa aku yang lebih dulu menggodanya?" batin Stella coba mengingat lebih jelas kejadian tadi malam. Namun, seberapa keras pun ia coba mengingat, wanita itu tetap saja gagal. Saat Stella sedang tenggelam dengan pikirannya, suara Erlan seketika membuyarkan lamunannya. "Sudah cepat bersihkan tubuhmu dan kita keluar dari sini! Aku tidak punya banyak waktu karena harus menghadiri meeting siang ini!" perintah Erlan sembari beranjak dari ranjang. Erlan berjalan menuju kamar mandi tanpa menutupi tubuhnya yang polos. Dia membiarkan Stella melihatnya seperti itu. "Hei, apa kamu tidak punya malu berjalan tanpa busana seperti itu?! Dasar pria m***m!" teriak Stella menutupi matanya dengan selimut. "Untuk apa kamu tutup mata? Semalam bukannya kita sudah saling melihat satu sama lain dari ujung sampai ujung, bahkan kita juga sudah saling bertukar kenikmatan tanpa henti. Jadi, tidak perlu ada lagi yang ditutupi!" Setelah menjawab, Erlan pun langsung menutup pintu kamar mandi tanpa memedulikan tanggapan Stella. "Ah, sial! Aku tidak mungkin mengumumkan pada media kalau aku pacaran sama dia. Walaupun itu hanya sekedar sandiwara, tapi tetap saja, aku tidak setuju. Kalau begini, aku benar-benar rugi, dia bukan hanya mengambil keperawananku, tapi juga akan menjadi pacarku di depan media," batin Stella merasa kesal akan situasi yang dihadapinya saat ini. *** Setelah Erlan dan Stella selesai membersihkan diri, keduanya pun sepakat untuk menemui beberapa media yang memang sudah menunggu mereka sejak semalaman. "Selamat pagi, Semua. Ada apa ya pagi-pagi begini kalian sudah menunggu kami di sini?" Stella langsung bertanya. Walaupun dia sebenarnya tidak suka dengan situasi itu, tetapi Stella tetap harus menunjukkan senyuman manis dan bersahabat agar media menganggapnya sebagai seorang aktris yang humble. Bertolak belakang dengan Erlan yang menampilkan raut wajah dingin dan datar. "Stella, bisa jelaskan pada kami bagaimana kalian bisa keluar hotel bersama-sama?" Salah satu media langsung bertanya dan menyodorkan mikrofon. "Apa yang Anda lakukan dengan Erlan di hotel ini, Stella?" "Apa kalian benar-benar pacaran atau hanya sekedar bersenang-senang untuk menghabiskan malam bersama?" "Stella, apa Anda dan CEO – Bara Talent Agency memiliki project khusus sampai kalian harus bertemu secara pribadi di hotel seperti ini?" Masih banyak lagi pertanyaan dari media yang membuat kepala Stella terasa pusing. Namun, ketidakberdayaan itu hanya ditanggapi Stella dengan senyuman manisnya. Stella melirik Erlan yang hanya diam saja berdiri di sampingnya sembari memeluk pinggangnya. Sebenarnya Stella ingin meminta bantuan pria itu, tetapi sepertinya Erlan enggan memberikan penjelasan apa pun. Akhirnya Stella memilih maju untuk memberikan klarifikasi pada para media. "Tolong dengarkan, Semua! Aku ingin mengumumkan berita baik pada kalian semua," kata Stella membuat wartawan yang sudah tidak sabar menanti jawaban wanita itu jadi terdiam. Masih dengan senyuman di wajahnya, Stella kembali membuka suara setelah memberikan suatu ciuman di pipi Erlan. "Aku dan Erlan sudah sejak lama pacaran, tapi kami menyembunyikannya dari media dan sekarang, sepertinya waktu yang tepat untuk menyampaikan kabar baik ini pada kalian," ucap Stella berhasil membuat para wartawan terkejut. Namun, mereka juga terlihat ikut bahagia setelah mendengar pernyataan Stella. "Sudah sejak lama kami saling mencintai. Bahkan, Erlan terus memaksaku untuk mengumumkan berita baik ini pada kalian, tapi aku menolaknya karena masih ingin fokus pada karirku. Erlan tidak tahan dengan hubungan kami yang terus sembunyi-sembunyi dari kalian. Jadi, semalaman dia mengurungku di kamar hotel ini dan tidak membiarkanku pergi sendiri sampai kami keluar bersama pagi ini," tambah Stella, memainkan sandiwaranya dengan begitu mudah. Tentu saja bagi seorang aktris sepertinya, berakting adalah perkara yang mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Sementara itu, Erlan terlihat semakin dingin. Dia menatap Stella dengan intens demi menyiratkan sesuatu yang tidak dapat diucapkan. Namun, menurut para wartawan tatapan Erlan sangatlah romantis dan penuh cinta, walau sebenarnya, pria itu sedang mengintimidasi Stella yang sudah menambahkan sesuatu di luar pembicaraan mereka sebelumnya. "Apa karena itu Anda sampai keluar hotel menggunakan pakaian Erlan?" Pertanyaan dari salah satu wartawan berhasil melenyapkan senyuman Stella dalam sekejap. "Oh, damn! Aku lupa kalau aku masih pakai baju Erlan." Stella mengumpat dalam hati. Dia memakai kemeja Erlan sebatas paha karena tidak ada satu pun pakaian wanita di dalam lemarinya dan Erlan juga enggan memesankan pakaian untuknya. Itulah alasan kenapa Stella mengenakan kemeja kebesaran milik Erlan. "Ya, daripada aku keluar pakai baju cowok lain, lebih baik aku pakai baju calon suamiku sendiri, bukan?" Stella menaikkan kedua bahunya dengan senyuman malu-malu. Dia enggan membalas tatapan Erlan yang pasti tidak setuju dengan pernyataan tambahannya. "Calon suami? Apa yang kamu katakan, Stella? Jangan sembarangan bicara atau kamu akan tahu apa yang akan aku lakukan nanti!" bisik Erlan di telinga kiri Stella sambil mengeratkan tangannya yang sejak tadi melingkar di pinggang wanita itu. Bagi para wartawan, saat ini mereka terlihat sangat romantis, tetapi sebenarnya Erlan berhasil membuat Stella bergidik ngeri mendengarnya. "Jangan macam-macam, Erlan! Aku akan memukulmu!" desis Stella dengan suara yang sangat pelan hingga hanya mereka berdua yang dapat mendengarnya. "Aku hanya ingin memperlakukan kekasihku dengan penuh kasih sayang. Satu-satunya wanita yang aku perkenalkan di depan media." Seketika dia mengerti maksud pria itu ketika dipaksa berhadapan dan Erlan secara tiba-tiba langsung mencium bibir Stella yang ranum di depan awak media. Ciuman intens dengan sedikit lumatan jadi pemandangan yang tentu saja tidak dilewatkan oleh para media untuk mengambil foto. Mau tidak mau, Stella pun membalas ciuman Erlan dengan terpaksa. Jika dia sampai menolak, bisa-bisa para wartawan akan mengetahui kalau mereka saat ini hanya sedang bersandiwara. "b******k, kamu Erlan! Menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk mendapatkan ciumanku. Dasar pria m***m! Aku berjanji kamu tidak akan mendapatkannya lagi setelah ini," gerutu Stella dalam hati. *** Sementara itu, di sebuah apartemen mewah, tepatnya di dalam kamar, terdengar suara benda yang baru saja dilempar hingga hancur. "Kurang ajar! Beraninya dia merebut Erlan dariku! Aku tidak terima, pokoknya mau bagaimanapun juga, Erlan harus menjadi milikku, bukan kamu, Stella! Lihat aja! Aku akan membuat karirmu hancur." Wanita itu terlihat sangat marah. Sorot matanya menatap tajam layar televisi yang menampilkan wajah Erlan dan Stella di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD