Tidak ingin membuang waktu, Louis langsung mengiyakan saja permintaan Arletta. Sebelas tahun ia kehilangan wanita itu, tidak ada yang mampu menggantikan posisinya. Sekalipun itu Michele yang setiap malam ia tiduri.
“Saya akan menerima apa pun permintaan kamu, asal kamu menjadi milik saya seutuhnya, Arletta,” putus Louis mantap.
“Kamu sudah berada di sini, jadi lebih baik kamu langsung bertemu orang tua dan keluarga saya yang lainya,” tantang Arletta.
Louis berjalan dengan gagahnya, kemudian dia menggenggam tangan Arletta yang terasa dingin itu. Louis tidak percaya bahwa setelah sebelas tahun ia tidak bertemu dan menyentuh Arletta, hari ini ia bisa merasakan genggaman tangan Arletta, sementara Arletta menatap sejenak tangan kirinya yang bertaut dengan tangan kanan Louis.
“Ayo masuk. Saya tidak sabar melamar wanita yang saya cintai sejak dua belas tahun lalu,” ucap Louis.
Arletta sadar dari lamuannya, kemudian dia masuk ke dalam mansionnya bersama dengan Louis yang menggenggamnya. Para bodyguard yang berjaga membukakan pintu utama mansion milik keluarga Charlos. Arletta tersenyum kecil saat untuk pertama kalinya kembali memasuki mansion itu.
“Sayang, kamu kok gak bilang kalau mau ke rumah,” sambut Cassandra saat mendapati putrinya itu mengunjunginya.
Cassandra membeku sejenak saat melihat pria yang menggenggam tangan putrinya tersebut, sementara Arletta yang sadar kondisi akhirnya melepaskan tautan keduanya.
“Papa ada di rumah ‘kan, Ma?” tanya Arletta enggan berbasa-basi.
“Papa ada di ruang kerjanya. Ayo duduk, kamu bawa siapa itu, Sayang?” balas Cassandra mempersilahkan keduanya duduk.
“Louis. Tolong panggilkan Papa ya, Ma. Louis ingin berbicara dengan Papa dan Mama,” ujar Arletta.
“Iya, Sayang. Louis, kamu ingin minum apa?” tawar Cassandra ramah.
“Tidak perlu repot-repot, Tante.”
“Mama panggilkan Papa dulu, sekalian suruh maid untuk membuatkan kalian minum.”
Setelah kepergian Cassandra, Louis menatap Arletta yang tengah asyik memainkan ponselnya. Sikap Arletta saat ini berbeda dengan saat pertama kali mereka bertemu. Saat masih menjadi Adrea, Arletta adalah sosok wanita yang ramah. Namun kali ini, wanita itu benar-benar seorang Arletta.
Charlos datang dengan jas rapi sama seperti yang dikenakan oleh Louis. Pria berkepala enam itu masih tampak tampan dan gagah, meski usianya tidak lagi muda. Charlos memeluk Arletta hangat, ia sangat merindukan putrinya itu.
“Selamat sore, Om,” sapa Louis sopan.
“Selamat sore, Louis. Ada apa kamu ingin berbicara dengan saya?” tanya Charlos dingin.
Louis tampak gugup. Ia memainkan jemarinya untuk mengurangi rasa gugupnya.
“Maksud kedatangan saya kemari adalah saya ingin melamar Arletta. Apakah Om Charlos dan Tante Cassandra berkenan untuk memberikan restu?” tanya Louis menatap iris mata biru milik Charlos.
Charlos cukup terkejut dengan ucapan Louis barusan. Meski Arletta sudah sempat memberitahu rencananya, namun Charlos tidak menyangka jika Arletta benar-benar melakukannya. Berat bagi Charlos melepaskan Arletta pada Louis, apalagi Louis adalah penyebab tragedi sebelas tahun lalu. Namun, putrinya yang keras kepala itu memang tidak bisa dibantah.
“Apa yang bisa kamu berikan untuk putri saya?” tanya Charlos yang mulai menginterogasi Louis.
“Saya bisa memberikan apa pun yang Arletta inginkan. Rumah mewah, mobil, hotel, bahkan perusahaan.” Charlos tertawa mendengar jawaban Louis.
“Dia bukan wanita miskin. Saya bisa memberikan lebih dari yang kamu sebutkan barusan,” timpal Charlos tersenyum miring.
Louis merutuki dirinya sendiri. Ia melupakan jika Arletta adalah anak dari konglomerat terkenal. Tentu saja hal itu biasa saja di mata Charlos karena Charlos bisa memberikan itu semua untuk Arletta.
“Saya akan memberikan cinta sepenuh hati untuk Arletta, tidak ada wanita lain di hati saya selain Arletta. Saya juga akan pastikan Arletta akan hidup bahagia dengan saya dan tidak akan kekurangan apa pun. Apa pun yang Arletta pinta, saya akan berusaha untuk memberikannya,” jawab Louis meralat jawabannya tadi.
“Jika kamu menyakiti putri saya, apakah kepala kamu bisa menjadi gantinya?”
“Jiwa raga saya siap menjadi gantinya,” balas Louis cepat.
“Saya serahkan saja semuanya pada Arletta. Namun, sekali kamu menyakiti anak saya, jangan harap kamu bisa selamat,” ancam Charlos dingin.
“Saya berjanji, Om. Saya akan mencintai, menjaga, dan mengasihi Arletta. Jika saya ingkar, Om Charlos bisa memberikan saya hukuman apa pun.”
“Arletta, kamu bagaimana?” tanya Charlos menatap putrinya yang tengah santai memakan kacang almon favoritnya.
“Aku mau jika kamu bisa menyanggupi perjanjian pranikah yang akan aku buat,” jawab Arletta santai.
“Saya pasti akan menyanggupinya,” timpal Louis percaya diri.
“Besok aku akan memberikannya. Kalau kamu setuju, dua minggu lagi kita akan tunangan.”
“Kenapa harus tunangan, bagaimana jika langsung menikah saja?” tawar Louis.
Charlos terkekeh mendengar ucapan Louis barusan. Pria itu sepertinya benar-benar terobsesi dengan anaknya, sementara Arletta memutar bola matanya malas. Sebelas tahun nyatanya tidak membuat Louis berubah. Pria itu tetaplah lelaki pemaksa dan tidak sabaran.
“Kita lihat saja besok.”
***
Sesuai perkataan Arletta, saat ini dirinya dan Louis tengah bertemu untuk Arletta menyerahkan berkas perjanjian pranikahnya. Arletta tengah santai meminum jus kiwi pesanannya, sementara Louis dengan serius membaca surat perjanjian pranikah permintaan Arletta.
“Saya tidak setuju dengan nomor satu dan dua,” bantah Louis selepas membaca perjanjian pranikah yang Arletta berikan.
Bagaimana bisa wanita itu meminta untuk tidak ingin ia sentuh sampai waktu yang tidak ditentukan. Sebenarnya untuk permintaan pertama di mana ia harus melepaskan Michele dan membiarkan Michele berada dalam genggaman Arletta itu tidak terlalu masalah.
“Kemarin kamu bilang akan menyanggupi semuanya,” sindir Arletta.
“Tapi bagaimana saya tidak menyentuhmu sementara nanti kamu adalah istri saya?”
“Hanya sampai aku siap,” balas Arletta.
“Tapi kapan?”
“Itu tugas kamu untuk buat aku siap,” ujar Arletta gamblang.
“Arletta, apa tidak ada sisa rasa kamu untuk saya?” sendu Louis.
“Bagian mana yang bisa membuat aku mencintai kamu? Aku tahu semuanya, Louis. Aku tahu bagaimana brengseknya kamu dan apa saja yang telah kamu lakukan pada Michele.”
Louis menutup map yang berisikan perjanjian itu. Dia menatap lekat manik mata milik Arletta. Manik mata itu seperti penuh sorot dendam.
“Lalu untuk apa kamu menikahi saya?”
“Untuk menyelamatkan Michele,” jawab Arletta spontan.
“Lagi. Setelah dulu kita berpacaran untuk kamu melindungi dia dan sekarang kita menikah untuk melindungi dia lagi? Apa spesialnya wanita tidak berguna itu.”
Arletta mengeram menahan amarahnya. “Kamu sudah tahu betapa pentingnya dia untuk aku, Louis.”
“Saya akan menyanggupi semua kecuali nomor dua,” putus Louis menyerahkan map itu kepada Arletta.
“Tidak ada pengecualian. Sanggupi semuanya atau tidak sama sekali,” desak Arletta.
Louis menghela nafas kasar. Ia sangat mencintai Arletta, mana mungkin ia melepaskan Arletta begitu saja setelah belasan tahun hilang dari genggamannya.
“Saya akan menyetujui asalkan setidaknya setelah menikah kita akan satu kamar,” tawar Louis sekali lagi.
Arletta masih tampak menimang. Tidak masalah baginya, jika nanti Louis berani menyentuhnya ia bisa menendang laki-laki itu. Arletta mengangguk menyetujui yang membuat senyum Louis mengembang sempurna. Tanpa ragu, Louis menandatangani surat tersebut di atas materai.
“Berarti pernikahan kita akan di selenggarakan dua minggu lagi, Sayang?” Arletta bergidik ngeri saat Louis memanggilnya sayang.
“Siapa yang bilang kita akan menikah dua minggu lagi?”
“Saya,” balas Louis tidak mau kalah.
“Aku masih punya banyak pekerjaan di rumah sakit. Lebih baik kita bertunangan terlebih dahulu.”
“Itu terlalu lama, Sayang.”
“Gak waras kamu, Louis.”
“Iya, itu semua karena kamu,” timpal Louis terkekeh melihat wajah kesal Arletta. Sudah lama ia tidak membuat kesal wanita itu.