Wanita berambut coklat itu menatap sendu Arletta. Ia tidak tahu bagaimana lagi ia harus berterima kasih pada Arletta. Berkali-kali wanita itu selalu menyelamatkannya dari maut dan kali ini ia akan benar-benar melepaskannya dari jerat pria b******k itu.
“Seluruh persiapan pengobatanmu di Amerika telah aku siapkan. Berjanjilah kau akan pulang dengan sembuh,” ujar Arletta saat baru saja menandatangani berkas rumah sakit.
“Arletta, terima kasih. Maaf aku belum bisa membalas semuanya,” sendu Michele.
Arletta bangkit untuk mendekati brankar Michele. Ia memeluk tubuh ringkih sahabatnya itu. “Cukup dengan sembuh untuk membalas semuanya.”
Michele memeluk tubuh Arletta. “Aku janji.”
Louis memasuki ruang rawat Michele begitu saja. “Sayang, ayo sekarang kita harus ke butik untuk fiting baju pengantin,” ajak Louis lembut.
“Berhenti memanggilku sayang. Aku geli,” tegur Arletta.
“Kamu calon istri saya, apa salahnya?”
“Terserah.”
Setelah berdiskusi dengan keluarga keduanya, Arletta dan Louis akan menikah sebulan lagi. Nicholas selaku kakak Arletta yang tinggal di Amerika juga telah kembali ke Indonesia untuk mempersiapkan pernikahan gadis itu. Selain itu, Fransisco, adik Arletta, juga kembali dari Belanda untuk Arletta.
Keluarga Louis yang berada di Jerman juga telah menemui keluarga Arletta. Mereka sepakat mengadakan acara di Indonesia saja, sementara itu dua bulan lalu Charlos telah mengumumkan ke media bahwa Adrea adalah Arletta. Jadi sekarang Arletta telah menjadi dirinya sendiri tanpa harus hidup dibalik topeng Adrea.
“Aku tinggal dulu. Kamu harus banyak istirahat,” pamit Arletta menidurkan Michele.
Setelah menyelimuti Michele, Arletta bersama Louis bergegas menuju butik untuk melakukan fiting baju pernikahan mereka. Louis adalah anak tunggal dari Smith, jadinya Smith tidak main-main menyiapkan pernikahan mereka yang nanti akan diselenggarakan sangat mewah.
Smith bahkan dengan sengaja menyewa sebuah hotel mewah untuk pernikahan mereka. Sesampainya di butik, ternyata di sana sudah ada Cassandra dan Aurora, ibu Louis. Aurora menyambut Arletta dengan senang kemudian dia menuntun Arletta di galeri butik yang telah disiapkan tiga buah gaun mewah untuk Arletta.
“Arletta, kamu pilih yang mana, Sayang?”
Arletta menatap gaun-gaun itu dengan saksama. Sebuah gaun abu-abu dengan taburan berlian dan desain yang sederhana namun terlihat sangat mewah. Aura mahalnya tidak main-main meski desain gaun itu hanya sederhana.
“Aku ingin mencoba yang ini,” pinta Arletta.
Arletta dibantu dua orang pelayan untuk mengganti pakaiannya. Sepuluh menit kemudian dia keluar dengan gaun mewah tersebut. Louis membeku, Arletta terlihat sangat menawan menggunakan gaun itu. Namun, ia tidak suka karena gaun itu mengekspos punggung putih Arletta dan potongan yang pendek membuat bahu Arletta juga terpampang jelas.
“Jelek, ganti,” titah Louis.
“Lho kenapa? Arletta terlihat sangat cantik dan gaunnya pas di badan Arletta,” ucap Aurora heran dengan anaknya.
“Justru itu, ganti.”
“Gak. Aku suka gaun ini. Aku mau pakai ini di acara resepsi nanti,” protes Arletta.
Arletta sudah menyukai gaun itu sejak pertama kali ia melihatnya, sementara Louis hanya menghela nafas pasrah saat Arletta enggan mendengarkannya. Arletta kembali mencoba gaun yang lainnya. Louis juga mencoba beberapa jas untuk pernikahan mereka nantinya.
Hari sudah mulai gelap, Arletta baru saja selesai fiting gaun pernikahannya. Saat ini mereka tengah makan malam bersama, sikap Arletta tampak dingin jauh berbeda saat Louis masih mengenalnya sebagai Adrea.
“Arletta, besok jangan lupa kita harus cari cincin dan seserahan,” peringat Louis di sela makan malam mereka.
Arletta hanya berdehem pelan dan menganggukkan kepalanya.
“Minggu depan aku akan mengantarkan Michele ke Amerika untuk pengobatannya.”
“Tidak bisakah kamu fokus ke pernikahan kita dulu?” pinta Louis saat Arletta terus saja mendahulukan Michele.
“Pernikahan kita masih bulan depan, Louis. Persiapannya juga sudah cukup matang, sementara itu kondisi Michele tidak cukup stabil, dia perlu segera di bawa ke Amerika,” terang Arletta.
“Apa setelah menikah nanti kamu juga masih akan memprioritaskan Michele dari pada saya?” tanya Louis.
“Tergantung.” Arletta menyelesaikan kunyahannya sebentar, kemudian dia menaruh pisau serta garpunya di atas piring karena ia telah menyelesaikan makan malamnya.
“Tergantung bagaimana kondisi kalian,” sambung Arletta santai.
“Suami kamu sebenarnya saya atau Michele?” protes Louis kesal.
“Aku belum punya suami,” balas Arletta enteng.
Louis mengendus kesal, entah apa yang membuat dirinya begitu terobsesi dengan wanita itu. Padahal Arletta adalah wanita yang sangat menyebalkan dan selalu membuat tensinya naik. Namun, tidak ada alasan untuk tidak mencintai Arletta. Dokter muda, cantik, pintar, mempunyai bakat, dan kaya raya sejak lahir.
Arletta memang wanita yang memiliki kehidupan yang sempurna, jika orang tidak tahu bagaimana kelamnya kehidupan gadis itu.
***
Siang yang cukup terik tidak mengurangi rasa semangat Louis. Saat ini ia tengah menjemput Arletta untuk membeli cincin nikah mereka dan beberapa seserahan untuk nantinya. Arletta telah siap dengan gaun selutut berwarna hitam di depan pintu rumahnya. Louis turun dari mobilnya untuk membukakan pintu teruntuk Arletta.
Keheningan menemani perjalanan mereka. Baik Louis maupun Arletta tidak ada yang berniat untuk membuka pembicaraan. Louis sedang fokus menyetir dan Arletta tengah memainkan ponselnya untuk mengecek beberapa berkas rumah sakit.
“Louis,” panggil Arletta memecah keheningan.
“Iya, Baby?” sahut Louis.
“Setelah menikah aku masih bisa tetap bekerja, ‘kan?” tanya Arletta memastikan.
Louis mengangguk. “Iya.”
Setengah jam kemudian mereka telah sampai di salah satu toko perhiasan ternama. Sebenarnya Louis telah memesan cincin mereka secara custom, namun ia juga tetap butuh persetujuan Arletta apakah wanita itu menyukainya atau tidak. Keduanya memasuki toko tersebut dan langsung di sambut oleh pemiliknya langsung.
“Selamat siang, Tuan dan Nyonya. Mari ke ruangan saya, saya telah menyiapkan cincin yang dipesan oleh Tuan Louis.”
Keduanya mengikuti pemilik toko tersebut. Arletta menerima sebuah kotak cincin yang berisi sepasang cincin berlian dengan namanya dan Louis terukir di belakang. Berlian berwarna dark blue itu tidak membuat Arletta tertarik. Sebenarnya Arletta menyukai desainnya, namun tidak dengan warna berlian itu.
“Apakah ini bisa di ganti dengan carbonado?” tanya Arletta.
Penjual itu menyirit, pasalnya yang terpasang itu adalah berlian chopard blue diamon, harganya bahkan berada di atas dua ratus milyar.
“Tapi Nyonya, itu adalah chopard blue diamon,” urai penjual berlian itu.
“Tapi aku lebih menyukai berlian berwarna hitam.”
“Berikan saja apa yang calon istri saya inginkan. Saya akan membayar berapa pun,” tukas Louis.
“Baik, Tuan. Saya akan mencarikan black diamond terbaik untuk Nyonya Arletta.”
Setelah selesai mengurus cincin yang diinginkan oleh Arletta, keduanya pergi ke mall untuk mencari seserahan pernikahan mereka. Tadi juga Louis telah memesan seperangkat perhiasan berlian untuk seserahan dan sekarang mereka sedang mencari seserahan yang lainnya.
“Kamu ingin apa?” tanya Louis saat keduanya tengah berkeliling.
“Aku bingung, bagaimana jika kamu membelikan aku pulau saja? Aku sudah bosan berbelanja tas, baju, sepatu, dan lain-lain,” jawab Arletta santai.
“Kamu ingin mahar sebuah pulau?”
“Jika kamu membelikannya, aku akan terima,” balas Arletta gamblang.
Louis memutar bola matanya malas. Keduanya menjelajahi salah satu toko tas branded kenamaan dunia. Arletta tampak serius memilih beberapa tas yang ia inginkan. Sementara Louis tengah melihat-lihat kaca mata.
Setelah memilih setidaknya lima tas branded, keduanya keluar dari toko tersebut. Saat ini keduanya beralih ke toko sepatu. Kedua mata Arletta berbinar saat melihat sepasang sepatu hak tinggi yang seperti sepatu kaca milik Cinderella.
“Sepatu itu sepertinya cocok untuk gaun resepsiku nanti,” gumam Arletta langsung mengambil sepatu itu.
“Aku menginginkan ini,” ucap Arletta menenteng sepatu kaca itu.
“Ambil saja nanti saya akan membayarnya,” titah Louis santai.
Sembari menunggu Arletta, Louis juga tengah melihat-lihat sepatu untuk dirinya sendiri. Hari sudah mulai sore, belanjaan mereka juga sudah sangat banyak yang dibawakan oleh para bodyguard Louis. Arletta sepertinya telah puas menghambur-hamburkan uang Louis untuk hari ini.
Keduanya berjalan santai menuju basemen untuk kembali pulang. Arletta tengah memakan es krimnya, sementara Louis berjalan di sampingnya dengan ekspresi datar dan mengawasi sekeliling Arletta untuk menjaga gadis itu.
“Arletta?” panggil seseorang yang sudah sangat lama tidak Arletta temui, bahkan ia terakhir bertemu dengan laki-laki itu tiga belas tahun lalu.
“Marchell?”