Hari ini adalah hari pernikahan Louis dengan Arletta yang diselenggara ‘kan di pulau dewata. Wanita cantik itu telah siap dengan gaun berwarna putih yang indah untuk akad nikahnya. Para tamu yang hadir hanya keluarga besar kedua belah pihak dan sahabat terdekat keduanya untuk acara akad kali ini.
Para penjaga juga disiapkan untuk berjaga-jaga jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi. Tidak sembarangan orang yang diundang untuk resepsi nanti. Hanya para pengusaha-pengusaha terkenal dan petinggi pemerintah ikut serta memeriahkan acara keduanya.
Senyum manis tak pernah luntur dari wajah Louis. Ia tidak menyangka kali ini Arletta akan benar-benar menjadi miliknya. Meski gugup, namun Louis telah menyiapkan semuanya. Wanita cantik dengan gaun putih yang indah bertabur berlian memasuki pelaminan.
Arletta duduk di samping Louis, kemudian Cassandra menaruh selembar kain putih di atas keduanya untuk sebagai simbolis. Charlos sendiri yang akan menikahkan putri kesayangannya itu. Setelah kultum pernikahan dibacakan, tangan Charlos yang mulai keriput menjabat erat tangan kekar milik Louis.
“Bismilahirrohmanirrohim. Ananda Louis Smith bin Edzard Smith saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya Arletta Maysha Charlos binti Albern Brylee Charlos dengan maskawinnya berupa mansion mewah, yacht, dan uang tunai senilai dua ratus lima puluh ribu empat ratus dua puluh dua US dolar dibayar tunai.”
“Saya terima nikahnya Arletta Maysha Charlos binti Albern Brylee Charlos dengan maskawin tersebut dibayar tunai,” ucap Louis dalam sekali tarikan napas.
“Bagimana saksi, sah?”
“SAH!”
“Alhamdulillah.”
Arletta menyalimi tangan Louis, sejenak Louis memegang ubun-ubun Arletta untuk mendoakan wanita itu. Setelah itu, ia mencium kening Arletta cukup lama. Rasa bahagia tidak dapat ia tutupi, penantiannya selama belasan tahun akhirnya berbuah manis. Saat ini, Arletta telah menjadi istrinya.
“Terima kasih sudah memberikan saya kesempatan,” bisik Louis.
Arletta hanya mengangguk acuh. Mereka harus bersiap untuk rentetan acara yang masih panjang. Minggu lalu dunia dikejutkan dengan konferensi pers yang dilakukan oleh Charlos. Berita pernikahan keduanya memang bocor ke media.
Setelah kecelakaan yang dialami oleh Arletta, wanita itu memang harus menjalani operasi besar-besaran. Termasuk, ia harus mengganti bola matanya yang rusak karena kecelakaan itu. Ia juga sempat hilang ingatan selama tujuh tahun lamanya. Sampai akhirnya dia telah mengingat siapa dia yang sebenarnya.
Saat ini, gadis kegelapan itu telah tumbuh menjadi seorang wanita yang sangat cantik dan berhasil menjadi seorang dokter muda.
Arletta mengganti gaun untuk akadnya menjadi gaun resepsi. Dia harus benar-benar menyiapkan dirinya menyambut ribuan tamu undangan. Wanita cantik itu menatap dirinya yang tengah di rias kembali. Arletta tidak menyangka, ia benar-benar melakukan pernikahan ini.
“Sumpah lo cantik banget, Ar. Gue jadi pingin nikah lagi,” celetuk Alexandra yang dihadiahi jitakkan oleh Arletta.
“Aku aduin ke Aldrich mampus kamu,” balas Arletta malas.
“Hahahaha, maksud gue pingin nikah lagi sama Aldrich. Lo ada rencana honeymoon ke mana? Maldives? Eh tapi kemarin gue lihat Lake McKenzie kayanya lebih cocok buat lo. Maldives udah biasa. Kalau-,”
“Ssstttt … berisik banget. Ingat umur, Al. Udah anak dua, umur kepala tiga, masih aja lo-gue lo-gue. Gak ada honeymoon. Aku mau lanjut S2 spesialis onkologi,” potong Arletta memotong ucapan Alexandra.
“Iya-iya. Dulu kamu paling ogah disuruh ambil jurusan kedokteran, sekarang malah ketagihan. Gak capek mikir, Ar?”
“Lebih capek lagi dengerin kamu ngomel,” balas Arletta enteng.
Keduanya masih sama. Masih sering berdebat karena hal-hal kecil, masih sering melempar ucapan pedas satu sama lain, dan masih seperti Tom and Jerry saat bertemu. Setelah Arletta menyelesaikan makeupnya, Alexandra menemani gadis itu menuju gedung.
Acara siang itu benar-benar ramai dan sangat mewah. Arletta duduk di samping Louis. Ia memijat pelipisnya sejenak karena lelah. Louis merasa kasihan pada istrinya itu. Ia meninggalkan wanita itu sejenak untuk mengambilkannya minum atau camilan.
Arletta yang melihat Louis pergi hanya menatapnya datar, ia benar-benar berdoa semua segera selesai karena ia sudah sangat lelah. Louis kembali datang membawa segelas jus apel favorit Arletta.
“Minum, saya tahu kamu pasti haus.” Arletta menerima jus tersebut dan menegaknya sampai tandas.
“Haus banget, ya? Masih kuat, ‘kan?” Arletta hanya mengangguk lemah.
Mereka kembali harus berdiri dan menyalami tamu-tamu undangan yang ada. Seperti tidak ada celah untuk istirahat, sampai baskara tenggelam di ufuk barat, keduanya masih harus menampikan senyum terindah dan raut semringah.
Jarum jam telah menunjukkan pukul sebelas dini hari, akhirnya rangkaian acara telah selesai. Arletta merebahkan dirinya di kasur. Rasanya seluruh tulangnya ingin rontok saat ini juga. Apalagi kakinya sudah tidak lagi berasa karena kram terlalu lama berdiri.
“Bersihkan dirimu dulu, baru setelah itu kamu bisa istirahat,” ujar Louis saat baru saja masuk kamar.
“Kamu ngapain di sini?” heran Arletta.
“Saya suami kamu. Ini juga kamar saya,” jawab Louis enteng.
“Siapa yang bilang kita satu kamar? Bukankah kita sepakat untuk beda kamar. Baru nanti setelah pindah ke rumah baru kita akan sekamar,” urai Arletta yang masih tidak terima.
“Apa kamu tidak ingin sekamar dengan suamimu sendiri?”
“Iya,” timpal Arletta spontan.
Louis hanya merotasikan bola matanya malas. Untuk ke sekian kalinya, ia hanya memiliki rasa Arletta. Sangat sulit mendapatkan hati wanita itu. Meski ia sudah berjuang belasan tahun lamanya.
“Cepat bersihkan badanmu. Baru setelah itu kamu bisa segera istirahat.”
“Kalau gitu kamu keluar dulu dari kamarku,” protes Arletta.
“Kenapa harus keluar? Saya ‘kan suamimu.”
“Terserah!”
Arletta meninggalkan Louis begitu saja dan bergegas masuk ke kamar mandi. Saat hendak melepaskan gaunnya, ia cukup kesulitan menjangkau resleting yang berada dipunggungnya. Dewi Fortuna benar-benar tidak berada dipihaknya, saat berhasil menjangkaunya yang terjadi justru resleting itu macet dan susah untuk dibuka.
Arletta mengintip dari pintu kamar mandi melihat apakah Louis masih ada di kamarnya. Rupanya laki-laki itu tengah santai memainkan ponsel sembari menyesap kopi yang entah kapan sudah tersaji. Wanita itu benar-benar merasa dongkol karena tidak ada pilihan lain selain kepada Louis saat ini.
“Louis,” panggil Arletta dengan nada ketus.
“Ada apa? Kamu belum saja mandi sedari tadi?” tanya Louis mendekati Arletta.
“Tolong bukain resletingnya. Tapi jangan macam-macam,” titah Arletta menunjukkan resleting yang sedari tadi susah ia buka.
Louis mengangguk santai, ia membuka resleting Arletta dengan mudah dan menampilkan punggung putih bersih milik gadis itu. Merasa berhasil membukanya, Arletta bergegas kembali masuk ke kamar mandi. Louis tersenyum kecil, gadis jutek yang dulu sangat ia cintai sudah berubah banyak. Meski masih saja tetap jutek sampai saat ini.
“Tidak perlu malu seperti itu, baru punggungmu yang saya sentuh kamu sudah salah tingkah seperti itu. Bagaimana jika-,”
“LOUIS DIAMLAH! ATAU MALAM INI KAMU JANGAN TIDUR DI KAMAR INI,” potong Arletta berteriak mengancam Louis.