episode 9

1358 Words
AFTER SCHOOL BAB 9 Deo membuka pagar rumahnya, suara derit pagar itu membuat Bi Mar berjalan cepat ke halaman. Tangannya memegang payung berukuran besar, menghampiri Deo dan Cindy yang sudah basah kuyup. “Astaga, mas, kenapa hujan – hujan?” Kata wanita itu sambil menudungi Deo dan Cindy dengan payung besarnya. “Nanti kalau sampai sakit, mama bisa marah, mas.” Ucap Bi Mar lagi, lalu menatap Cindy heran, “Aduh bagaimana dengan gadis ini, Bibi ngak punya pakaian yang cocok.” “Nanti biar pakai kemeja Deo, jangan beritahu mama atau papa kalau Deo bawa Cindy ke sini. Bi Mar tahu kan kemarin mama bagaimana?” “Iya, Mas, Bibi tahu. Kasian Non Cindy ini. Ya sudah, Bibi siapkan makanan dulu.” Wanita itu kemudian masuk, dan segera melangkah ke dapur. “Ayo, Cin,” Deo meraih tangan Cindy yang gemetar, membawanya naik ke lantai dua. “Ke mana?” Tanya Cindy dengan rasa sungkan. “Ke kamarku, kau harus mandi dan ganti baju, kan? Biar nanti Bi Mar yang mengeringkan seragammu.” Cindy mengangguk, menuruti apa yang dikatakan Deo. Deo membuka pintu kamarnya, kamar yang cukup luas dan tertata dengan rapi. Sangat jarang anak laki – laki remaja memiliki kamar serapi ini. “Masuk, Cin.” Cindy melangkahkan kakinya ke dalam, kamar Deo ini seukuran rumahnya! Cindy menatap ke seantero ruangan, lukisan dua ekor kuda yang terpasang indah di dinding menarik perhatian gadis itu. Sampai suara Deo membuyarkan lamunannya. “Pakai ini dulu, Cin. Kebesaran ngak papa, kan?” Deo menyodorkan t-shirt berwarna hitam itu. “Ehm, tapi...” “Kenapa?” “Bagaimana dengan pakaian dalamku?” Kata Cindy dengan pipi memerah. “Oh, astaga. Ya, mau gimana lagi? Terpaksa ngak pakai dulu, kalau dipaksakan malah nanti kamu demam.” Cindy mengambil baju itu dari tangan Deo, dan melangkah menuju kamar mandi yang letaknya juga di dalam kamar itu. Perlahan ia membuka pakaiannya, lalu menguyur tubuhnya dengan shower yang mengalir lembut dan hangat. Sesaat, ia melupakan apa yang baru saja terjadi. Ucapan Dania juga Gea yang secara tak langsung menambahi beban di hatinya. Setelah dirasa cukup, Cindy-pun keluar, matanya langsung berpapasan dengan mata Deo. Diletakkannya kedua tangannya di depan d**a. Sekalipun tubuhnya mungil, ia tetap tak bisa menyembunyikan sesuatu yang menonjol di balik baju itu. Deo yang melihat ketidaknyamanan Cindy, akhirnya membuka lemari, mengambil jaket dan memberikannya kepada kekasihnya itu. “Pakai ini juga,” kata Deo dengan senyum melengkung di bibirnya. Cindy berbalik dan memakai jaket itu, menutup kaitannya hingga ke leher. “Aku mandi dulu, ya.” Deo meraih handuk dan berjalan menuju kamar mandi itu. ................................... Cindy menoleh ketika pintu kamar itu diketuk, perlahan dibukanya pintu itu. Bi Mar tersenyum di depan pintu, ia membawa makanan yang masih panas di atas nampan. Wanita tua itupun masuk, meletakkan nampan di atas meja bulat di sudut ruangan. “Dimakan, Non, mumpung masih panas. Bibi tinggal dulu, ya, masih banyak kerjaan.” Cindy tersenyum dan sedikit mengangguk, “Terimakasih, Bi.” Bi Mar – pun keluar dan menutup pintu itu kembali. “Cin, siapa?” Tanya Deo yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Ia kemudian membuka lemari dan mengambil baju, memakainya di hadapan Cindy. Cindy yang tidak tahu apa yang harus dilakukan hanya diam terpaku, menatap kulit putih serta tubuh kekar Deo, sungguh tak ada satu titik-pun kecacatan di kulit tubuh Deo. “Cin, kok bengong?” Cindy yang terkejut segera mengalihkan pandangannya dari tubuh Deo, menatap dua mangkuk sup hangat dan dua gelas lemon hangat. “Itu Bi Mar, nganter makanan.” Cindy menunjuk meja itu, suaranya terdengar kikuk. “Oh, ayo di makan. Kemarin belum sempat nyicip masakan Bi Mar, kan?” Deo mengambil nampan itu, memindahkannya ke sofa panjang. Mengambil satu mangkuk dan memberikannya kepada Cindy. Cindy menyesap kuah sup itu, terasa hangat dan lezat. Rasa manis yang membuat pikirannya kembali tenang. “Gimana?” Tanya Deo sambil menikmati makanannya. “Enak, sangat enak.” “Bi Mar itu orang yang mengasuhku sejak aku bayi, itu sebabnya dia sangat perhatian sama aku. Dan aku juga sangat menghormatinya, sekalipun ia hanya asisten rumah tangga, tapi bagiku Bi Mar lebih dari itu. Dia yang membelaku saat mama berusaha memukulku karena aku nakal,” Deo tersenyum membayangkan masa kecilnya dulu. “Jadi dari kecil kamu lebih banyak menghabiskan waktu bersama Bibi, ya?” Deo mengangguk, “Bahkan sampai sekarang, kamu lihat, kan? Mama Papa aku jarang di rumah, mereka sibuk dengan urusan masing – masing. Cuma Bi Mar yang selalu nemenin aku. Tapi sekarang aku ngak akan kesepian lagi, karena ada kamu, Cindy.” Cindy tersenyum kecil, menatap mangkuk supnya yang masih setengah. Gadis itu meletakkan makanannya, menatap Deo dengan rasa simpati. “Kenapa liatin aku, gitu?” Deo menyesap minumannya, lalu meletakkannya kembali di meja. “Aku kadang ngak ngerti dengan hidup. Kamu yang lahir di keluarga berada dengan orangtua yang masih lengkap dan sehat, namun merasa kesepian. Begitu juga denganku, aku yang tidak pernah mengenal ayahku, begitu mengharapkan kehadiran sosok seorang ayah, ayah yang akan melindungiku juga ibuku. Sayangnya, kita ngak pernah bisa memilih di mana kita dilahirkan, seperti apa orangtua kita dan bagaimana keadaannya.” Deo menghela napas dalam – dalam, meraih jemari Cindy dan meremasnya lembut, “Ngak ada yang bisa melawan takdir, kan Cin? Aku juga ngak pernah menyangka bisa memilikimu seperti ini, bahkan sedekat ini denganmu.” Deo menangkup wajah Cindy dengan kedua tangannya, perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir gadis itu. Menciumnya lembut, sekali lagi dan lagi. “Aku sayang kamu, Cin,” Bisik Deo di telinga gadis itu. Dan perlahan Deo menyusuri leher Cindy dengan bibirnya. “Deo....” “Sedikit saja. Aku kesepian, Cindy. Biarkan aku bahagia denganmu.” Tanpa gadis itu sadari, ia melenguh ketika Deo mempermainkan telinganya dengan bibir itu. sebuah rasa yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Begitu hangat dan nikmat. Deo melepaskan kecupannya dari telinga Cindy, menatap mata gadis itu lekat. Mata gadis yang tidak menunjukkan perlawanan. “Apa kau juga sayang padaku, cin?” Cindy mengangguk lemah, “Iya, aku juga sayang kamu, Deo.” Deo tersenyum kecil, “Apa kamu percaya sama aku?” “Percaya untuk apa?” Tanya Cindy dengan kepolosannya. “Percaya kalau aku ngak akan pernah ninggalin kamu? Sekalipun seandainya waktu dan jarak memisahkan kita kelak?” Cindy mengangguk, “Aku percaya, tapi apa kamu akan pergi suatu hari nanti?” “Tidak, aku hanya bilang seandainya. Kamu cantik, Cindy.” Deo berbisik, dan perlahan jemarinya meraih kaitan jaket di tubuh gadis itu, membukanya sedikit demi sedikit. Ketika jaket itu sudah terbuka sebagian, tiba – tiba tangan Cindy menahan tangan Deo, dan itu cukup membuat Deo terkejut. “Kenapa, Cindy?” Kata Deo lirih. Cindy menelan sativanya, ragu, “Kita belum lama pacaran, kan Deo?” “Apakah cinta itu dinilai dari berapa lama waktu yang dihabiskan untuk bersama? Bukankah cinta itu ngak bisa diukur sekalipun oleh waktu? Apa cintamu untukku tidak sebesar rasa cinta yang kurasakan untukmu? Kalau begitu, aku kecewa, aku sangat kecewa, Cin.” “Tidak...tidak, bukan begitu.” “Lalu?” “Aku juga cinta kamu, Deo. Kamu adalah cinta pertamaku.” Deo tersenyum tipis, “Benar begitu? Lalu kenapa kau ragu?” “Aku hanya takut.” Jawab Cindy lirih. “Aku ngak akan nyakitin kamu, aku janji, selamanya hanya kamu yang kucintai. Kamu percaya, kan?” Cindy terdiam, ketika Deo melanjutkan membuka kaitan jaket itu hingga terbuka seluruhnya. Kini di hadapannya, ia dengan jelas melihat d**a gadis itu, sekalipun masih terbungkus t-shirt hitam. Namun tetap saja sesuatu yang bulat dan menonjol itu dapat ia lihat dengan jelas. Deo menundukkan wajahnya, sekali lagi mengecup bibir Cindy lembut. Kali ini gadis itu membalasnya, sekalipun bagi Deo apa yang dilakukan Cindy itu masih amatir. Ciuman itu bukan untuk pertama kalinya bagi Deo. Namun bercinta seperti ini, merupakan pengalaman pertama untuknya. Ya, Cindy bukanlah satu – satunya gadis yang pernah ia miliki. “Deo....” Cindy melenguh, ketika Deo meremas d**a gadis itu, perlahan dan lembut. “Kamu manis sekali, Cin.” Ucap Deo di sela – sela percintaan itu. Deo menyelipkan tangannya di tubuh Cindy, untuk sekian lama mempermainkan tubuh gadis itu. Semakin lama semakin jauh.......
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD