episode 8

1193 Words
AFTER SCHOOL BAB 8   Cindy meletakkan bukunya di atas meja, wajah gadis itu murung seperti cuaca di pagi hari ini, sejak ia masuk ke dalam kelas, tidak ada senyum di wajah gadis itu. Bahkan untuk menyapa kedua sahabatnya-pun ia enggan. Dania dan Gea saling menatap, merasa aneh dengan sikap Cindy yang tidak biasa. Gadis itu hanya diam, bahkan menatap mereka juga tidak. Dania berjalan mendekati Cindy, dan duduk di sebelahnya, “Cin,” Tegur Dania, Cindy menoleh sesaat, kemudian kembali menatap bukunya yang belum terbuka. “Ada apa, Cin? Cerita, dong?” Desak Dania, yang mendapat anggukan dari Gea. Cindy hanya diam, ia tidak tahu harus mulai dari mana, ia tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi tadi malam. Bukankah ia harus merahasiakan hubungan mereka dari siapapun? Cindy menggeleng, berusaha tersenyum, “Ngak kok, ngak ada apa – apa.” “Cin, kita kenal kamu udah lama, sejak SMP, kita tahu kamu begini setiap ada masalah. Cuma semenjak kamu dekat sama Deo, kita merasa kamu banyak berubah, Cin.” Gea terpaksa mengatakan apa yang ia rasakan saat ini. “Bener, kau kenapa, Cin?” Tanya Dania, dengan logat yang khas. “Apa ada hubungannya dengan Deo? Apa dia nyakitin kamu?” Ucap Dania mengecilkan suaranya. “Sebenarnya aku bingung harus mulai darimana.” “Cin, kamu percaya sama kita, kita janji ngak akan bocor mulut.” Dania menunjukkan dua jarinya, sebagai janji di hadapan Cindy. “Jadi, tadi malam Deo bawa aku ke rumahnya.” Kata Cindy dengan terbata. “Apaaa?” Gea yang terkejut tanpa sadar berteriak, membuat murid – murid lain menoleh ke arahnya. “Gea! Apaan, sih?” Bentak Dania. Dan Gea langsung menutup mulutnya. “Terus? Dia ngak ngapa – ngapain kamu, kan?” Gea terlihat mulai cemas, menatap Cindy lekat. Cindy menggeleng, “Deo baik banget, tapi sepertinya mamanya ngak suka sama aku, sekalipun kami cuma berteman.” “Emang dia bilang apa?” “Ya, intinya aku ngak pantas berteman dengan Deo. Aku sadar siapa aku, orang miskin yang bahkan ngak punya ayah, sekolah mengandalkan beasiswa, pekerjaan cuma pedagang kaki lima. Sedangkan Deo, rumahnya bak istana. Tapi haruskah semua itu diucapkan? Untuk mendapatkan beasiswa itu ngak mudah, aku harus mengalahkan beberapa murid agar sampai di titik itu. lalu ibuku? Apa yang salah dengan pekerjaannya? Bukankah dia sudah melakukan semua yang ia bisa?” Dania menghela napas, dengan lembut menepuk – nepuk punggung Cindy, “Ya, sebenarnya sejak awal kita ngak terlalu suka kalau kamu dekat dengan Deo, apalagi setelah tahu kalau Deo membawamu ke rumahnya. Apakah hubunganmu dengannya sudah sedekat itu?” “Hu-um, apalagi keluarga Deo adalah penyumbang terbesar di sekolah kita, kalau aku Cuma takut kamu dipermainkan, Cin. Melihat kelakuan anak itu, aku dan Dania benar – benar cemas.” Jelas Gea, yang menatap mata sahabatnya dengan sendu. “Deo baik, bahkan sangat baik. Aku ngak ngerti kenapa kalian selalu bilang kalau Deo itu playboy, hobi mempermainkan perempuan, apa kalian punya bukti?” Cindy menatap kedua sahabatnya dengan marah, ia kemudian berdiri dan pergi meninggalkan ruang kelas itu. “Cin...Cindy!” Dania memanggil gadis itu, namun rupanya Cindy terlalu marah untuk menoleh ke belakang. Dan itu cukup membuat Dania dan Gea terkejut, bagaimana tidak, Cindy yang pendiam itu tidak pernah marah sebelumnya, karakternya yang dewasa melebihi usianya seakan mulai menunjukkan sifat asli. Dan semua itu karena Deo! “Dania, aku rasa mereka....” “Hmm, aku rasa juga begitu. Anak itu benar – benar berubah.” “Mungkin karena ini pertama kalinya untuk Cindy, jadi dia belain si Deo, tuh.” Ujar Gea. “Bisa jadi, tapi kita juga belum pernah pacaran, kan?” Dania mendorong bahu Gea dengan bahunya, sambil terkekeh kecil. “Ah, aku mah ngak peduli, sekarang mau fokus sekolah dulu, setahun lagi kita lulus SMU, ngomong – ngomong kamu ingin kuliah di mana?” “Um, aku sih pengen kuliah sekretaris, siapa tahu bisa pacaran sama si bos,” Ujar Dania. “Dasar....” Dan mereka melupakan soal Cindy begitu saja. Entah pergi ke mana gadis itu...... ........................................... Cindy naik ke atas, ke balkon sekolah. Tempat yang hampir tidak pernah didatangi murid lain. Gadis itu duduk di sana, memejamkan mata sembari merasakan hembusan angin serta gerimis yang menerpa wajah. Sesaat ia membuka mata, memandang langit kelabu dengan awan – awan yang bergayut di atas sana, mempertanyakan soal keadilan Tuhan. Air matanya menetes, yang semakin lama semakin deras, bersama dengan hujan yang kini mengguyur lebat. Tubuh Cindy basah kuyup, ia tak peduli. Ia bahkan ingin berteriak sekuat tenaga, ia benci, ia benci dengan semua yang ia alami, ia benci kenapa harus dilahirkan miskin? Ia benci kenapa ia tak bisa memilih di mana ia seharusnya dilahirkan? Ia benci, ketika ia mulai tahu apa itu cinta dan seperti apa rasanya, ia justru harus menelan pil pahit itu. Sungguh, ia benci dengan kehidupan ini. “Cin...Cindy!” Deo berlari menghampiri Cindy, tubuhnya tak kalah basah kuyup dengan gadis itu. Ia meraih Cindy ke dalam pelukannya, dan seketika tangis gadis itu pecah di sana. Tubuhnya terguncang. Suara petir menggelegar, Deo memeluk tubuh Cindy semakin kuat. Perlahan membawa gadis itu menepi, di bawah atap yang tak terlalu luas. “Cin, kamu basah kuyup,” Deo mengusap wajah Cindy yang basah. Gadis itu mendongak, menatap Deo yang tak ada bedanya dengan dirinya. “Kenapa kamu ke sini?” Tanya Cindy dengan suara gemetar, tubuhnya menggigil dingin. “Aku melihatmu berlari, aku memanggil tapi kamu ngak dengar, jadi aku ikutin kamu sampai di sini. Ada apa? Kenapa kamu pergi ke balkon ini di tengah hujan?” “Aku...aku.” “Apa ini soal mamaku?” “Aku hanya kecewa, aku sedih dengan hidupku, aku merasa ini ngak adil. Deo, apa kamu benar – benar sayang aku?” Suara Cindy terdengar lirih. “Aku sayang, sayang banget. Sejak pertama lihat kamu, aku berjanji akan melindungimu. Kenapa? Apa kamu ragu?” Deo meraih tangan Cindy yang dingin, meremasnya lembut. “Aku hanya takut, apa yang mereka katakan itu benar,” Cindy menatap mata Deo lekat, menelusuri wajah tampan itu dengan bola matanya. “Apa? Apa yang mereka katakan? Kalau aku playboy? Aku suka mempermainkan gadis-gadis? Deo tersenyum tipis, menangkup pipi Cindy dengan kedua tangannya. Cindy mengangguk, “Kamu, tahu?” Deo tertawa kecil, menertawakan kebenaran tentang apa yang dipikirkan Cindy. “Aku tahu, itulah resiko laki – laki tampan dan punya banyak teman perempuan sepertiku, kan? Mungkin mereka yang menyukaiku, mereka berharap padaku. Tapi, bukankah yang paling penting adalah, bagaimana perasaanku, bukan? Yang ada di dalam sini, hanya kamu, gadis cantik dan imut bernama Cindy. Jangan dengarkan Dania dan Gea, mungkin mereka cemburu.” Cindy terhenyak, bagaimana Deo tahu jika yang mengatakan soal itu adalah Dania dan Gea? “Mereka hanya mencemaskanku,” Ucap Cindy, tak ingin Deo membenci kedua sahabatnya itu. “Tidak, bukan begitu. Mereka hanya tidak ingin kamu bahagia denganku, mereka cemburu karena aku memilihmu diantara kalian bertiga. Memang benar, jika banyak murid perempuan di sekolah ini yang menyukaiku, mereka berusaha mendapatkan perhatianku, dan mereka termasuk di dalam kumpulan itu.” “Apa?” Cindy menyatukan alisnya, tak percaya jika Dania dan Gea seperti itu. “Hmm, sebaiknya kamu jangan terlalu dekat lagi dengan mereka. Kalau mereka sahabat yang benar – benar mencemaskanmu, mereka pasti akan bahagia jika kamu bahagia, mereka tidak akan menceritakan banyak kebohongan tentang aku. Bukankah harusnya seperti itu?” Cindy terdiam, pikirannya berusaha mencerna semua ucapan Deo, dan secara logika, semua itu memang masuk akal. Terutama Dania, dia selalu menceritakan keburukan Deo, apakah Dania memang berharap ingin mengantikan Cindy? “Kamu ngak bisa pulang basah – basah begini, ibumu pasti cemas. Ayo, ke rumahku, biar Bi Mar mengurus seragammu.” “Ke rumahmu? Lagi?” “Tenang, mereka ngak di rumah. Papa dan mama ke luar kota, mungkin lusa baru kembali. Itu juga kalau mereka tepat waktu.” Deo menarik tangan Cindy lembut, membawa gadis itu turun. “Kita lewat belakang, jangan sampai murid lain melihat kita basah kuyup begini.” Cindy mengangguk, dan berjalan di sisi Deo yang masih menggenggam tangannya itu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD